Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 10



"Kita ke apartemen saya, Al..", perintah Jo ketika ia ikut masuk ke dalam kendaraan mewah miliknya dan duduk bersebelahan dengan Claudya yang berwajah ketus.


"No, no... Kau ingin aku mati, Tuan Jo? Kita ke restaurant terdekat saja, asisten Al", bantah Claudya.


Alvaro melirik Bosnya melalui sepion tengah mobil itu meminta jawaban. Richard Jo hanya mengangguk dan Alvaro paham akan anggukan itu.


"Di mana asisten menyebalkanmu itu? Aku belum memberikan pelajaran padanya", tanya Jo.


"Kamu tidak berhak memberikannya pelajaran. Hanya aku yang akan memberinya hukuman..", sahut Claudya.


"Baiklah. Hukum dia seberat-beratnya", dengus Jo yang kemudian bersandar di sandaran kursinya.


Claudya hanya mengangguk lalu menatap jalanan yang mulai padat dengan kendaraan milik pengguna jalan lainnya.


Alvaro melajukan mobil milik Bosnya dengan kecepatan sedang. Selang beberapa menit dalam perjalanan, Alvaro memarkirkan mobil itu di area parkir sebuah restaurant yang jaraknya sekitar beberapa ratus meter dari perusahaan JS.


"Pulanglah, Al. Biar saya yang menyetir setelah dari restaurant ini....!", perintah Jo.


"Baik, Tuan. Terima kasih. Anak buah saya juga sudah menyiapkan ruangan VVIP untuk Tuan dan Nona di dalam", ucap Alvaro kemudian keluar dari mobil itu lalu membukakan pintu untuk Bosnya dan Nona Claudya.


"Kerja bagus. Ingat, ranjang jangan sampai patah. Sudah 2 kali kau mengeluh harus mengganti ranjang baru dalam 6 hari ini..", Jo berkata dengan senyum.


Claudya mendengar itu menoleh heran menatap asisten kedua calon suaminya itu dengan tatapan penuh tanya.


Alvaro hanya mengangguk lalu membungkuk dan menggaruk tengkuknya karena malu akan apa yang dikatakan bosnya di depan calon istri bosnya tersebut.


Claudya yang masih menatap penuh tanya tiba-tiba saja digandeng oleh Jo dan berjalan menuju restaurant.


Setelah berada di dalam, pandangan Claudya tertuju pada sebuah meja kosong dekat jendela yang menghadap ke jalan raya.


"Aku mau duduk di sana..", ucap Claudya berlalu pergi melepaskan genggaman tangan Jo dan duduk di meja yang dimaksud.


"Tuan, bagaimana dengan ruangan yang sudah direservasi?", tanya menager restaurant karena tahu bahwa pengusaha terkenal Richard Jo dan anak dari pemilik perusahaan JS Group ada di Restaurant itu.


"Tidak jadi", jawab cepat Jo kemudian ikut duduk di meja yang dimaksud Claudya.


"Sesekali nikmati jadi orang biasa, Tuan Jo..", saran Claudya.


"Namun sayang, aku bukan orang biasa, baby..", sombong Jo.


Claudya mendengus, kemudian memesan makanan yang ingin dinikmatinya tanpa harus bertanya dulu pada Richard Jo.


"Kau tidak memesankannya untuk calon suamimu, Cla?", tanya Jo heran.


"Kau punya mulutkan? Gunanya apa? Pesan sendiri. Atau mungkin anak buahmu yang sudah memesankannya untukmu", sahut Caludya santai.


"Benar-benar.....", ketus Jo belum selesai.


"Cantik...", lanjut Claudya memotong ucapan Jo.


Huffftttt... "Aku harus punya banyak stok kesabaran" batin Jo.


"Aku akan bersenang-senang denganmu, tuan menyebalkan", Claudya hanya melirik dengan senyum smriknya.


"Kamu tidak makan?", tanya Claudya setelah semua makanan yang ia pesan sudah tertata rapih di atas meja.


"Sudah kenyang...", jawab Jo ketus.


"Makan apa?", Claudya kembali bertanya dengan terus menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Makan angin", jawab Jo kemudian tatapannya di arahkan ke luar melihat orang-orang lalu-lalang dari balik dinding kaca transparan restaurant tersebut.


Uhuk-uhuk-uhuk.....


Claudya terbatuk akan jawaban Jo.


"Kamu lucu juga, tuan Jo. Dari mana belajarnya?", setelah meminum air yang diserahkan oleh Jo dari gelasnya sendiri.


"Makan pelan-pelan. Jangan rakus begitu...", ucap Jo dengan senyum.


Jo tersenyum akan muka masamnya Claudya. Mereka pun keluar dari restaurant tersebut setelah Jo membayar semua makanan yang dimakan Claudya.


"Kita mau kemana lagi, Tuan Jo?", tanya Claudya. Sengaja mengulur waktu agar tidak terlalu lama bersama lelaki menyebalkan itu di dalam apartemennya.


"Kita langsung ke apartemenku. Jangan bertingkah seolah aku tak tahu maksudmu, baby", Jo menjawab dengan seringai.


Claudya mendengus kesal menendang dashboard mobil Jo. Pria itu hanya mengulas senyumnya.


"Kau akan menggantinya dengan tubuhmu jika apa yang kau tendang itu rusak...!!", ancam Jo.


"Kau hanya belum merasakannya dengan tongkatmu itu, tuan. Jangan lupa semalam kita sudah melakukannya. Ancamanmu itu tidak berarti untukku...!!", sahut Claudya dengan menatap tajam Jo.


"Baiklah seperti itu. Aku anggap tantangan...!!", ucap Jo kemudian melaju kencang menuju apartemennya.


"Jangan membuatku jadi janda tanpa menikah Jo. Pelan-pelan..", teriak Claudya ketika Jo melajukan mobilnya dengan kencang.


"Heh, kau belum jadi wanita. Kau masih gadis, Nona..." sahut Jo namun tetap pada laju kendaraannya.


Seketika Claudya diam dan matanya menutup dengan rapat.


,,-------_-------------


Richard Jo memarkirkan mobilnya asal di basement apartemennya, kemudian, dengan cepat bergerak ke arah pintu sebelah kiri untuk membukakan pintu bagi Claudya dan menariknya cepat berjalan menuju lift.


Setelah pintu lift menuju apartemennya di lantai 19, Jo tidak memberikan kesempatan bagi Claudya untuk bernapas dengan benar. Ia langsung meraup kasar bibir Claudya lalu mendorongnya untuk menuju pintu apartmen. milik pria itu.


Claudya yang merasa diserang tiba-tiba tentu tidak siap akan hal itu. Matanya membola, tetapi akhirnya tersadar dan mengalungkan lengannya di leher Richard Jo.


Jo tidak melepaskan pangutannya setelah pintu apartemen terbuka. Ia terus membawa Claudya menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


Mereka berdua seakan haus dan ketagihan. Claudya yang sebenarnya baru pertama merasakan gelayar aneh dalam tubuhnya.


Dan yang harus terjadi dalam ruang kamar itu terjadilah.


"Sudah cukup, Jo. Untung tidak kebablasan tadi", ucap Claudya seraya menarik selimut menyelimuti tubuhnya yang polos.


"Maaf, kau terlalu candu....", sesal Jo kemudian ikut tidur berbaring di sebelah Claudya dan melingkarkan tangannya di pinggang polos perempuan itu.


"Dua kali kita melakukan ini, Jo. Cukup malam ini. Setelah ini, aku tidak akan bertemu denganmu lagi sampai pada acara pernikahan kita", Claudya kembali berucap sambil menatap Jo yang juga sedang menatapnya.


"Baiklah. Sesuai kemauan mu...!".


"Hmmmm", gumam Claudya kemudian memejamkan matanya tidur membelakangi Jo.


Mereka berdua pun tertidur karena kelelahan.


*****


Pukul 10.30


Pintu kamar apartemen Jo diketuk. Yang tahu pin apartemen itu hanyalah ibunya Jo.


Jo dengan malas membuka pintu, tanpa memperhatikan bahwa gadisnya itu tidur dengan selimut yang sudah berserakan dan memperlihatkan semangka modernnya.


"Apa?", tanya Jo yang belum sadar sepenuhnya tentang siapa yang sedang ia hadapi di depan pintu kamarnya.


"Rich....?", tanya Sang Momy, kemudian melirik tempat tidur yang berantakan. Matanya melotot ketika melihat sang calon mantu tanpa busana sedang terlelap di tempat tidur putranya.


"Apa yang kalian lakukan....?", teriak sang ibu negara dan kemudian membuka lebar-lebar pintu kamar anaknya itu.


Mata Jo sadar sepenuhnya lalu membulat...


"Mom...???????"


Claudya dengan tiba-tiba bangun pun bodohnya juga ikut bergumam tanpa melihat siapa yang ada di depannya.


"Siapa Mom?"......