
"Kamu bisa tahu aku di sana?", tanya Cla yang penasaran ketika mereka berada di dalam mobil bersama Bryand dan Jeny berada di kursi depan.
"Aku bertemu klien di sekitar situ, melihat mobilmu sehingga aku mampir...", jawab Jo sekenanya.
"Klien?", lagi Cla bertanya, karena seingat dia, di sekitar hotel tersebut hanya terdapat sebuah sekolah menengah, juga bengkel mobil.
"Iya...", singkat Jo menjawab.
"Bengkel mobil, atau sekolahan?", penasaran Cla mengajukan pertanyaan lagi.
"Bengkel, Cla.... Dikelola temanku...!", Jo tahu arah pembicaraan Cla yang mencurigainya.
"Kau sedang tidak menipu ku kan, Rich?".
Jo menoleh. Baru pertama panggilan Rich dari orang lain (bukan orang lain sih) selain orang tuanya yang menyapanya dengan panggilan Rich.
"Apa yang kau pikirkan? Tanya saja dengan Bryand...", Jo balik menjawab dengan pertanyaan sekaligus meleparkan jawaban ke Bryand.
"Tidak...! Aku kira kau mengirim orang untuk mengikutiku...!", duga Cla.
"Aku tidak lupa dengan janjiku setelah kita menikah...", tegas Jo lalu kembali mengalihkan pandangannya ke sisi lain kendaraan yang sedang ditumpangi.
Beberapa saat dalam perjalanan, Claudya heran, karena bukan jalanan itu yang harus dilewati ketika menuju ke apartemennya.
"Kita ke mana?", tanya Claudya.
"Pulang ke rumah...", jawab Jo singkat yang masih tetap tidak mengalihkan pandangannya.
"Rumah? Keluarga Lee, atau keluarga Fernand?", lagi Claudya bertanya.
"Kau akan tahu nanti. Jangan banyak bertanya...", Jo mengucap singkat.
Mereka berdua diam dengan pikirannya masing-masing hingga tiba di tempat tujuan gerbang berwarna hitam berbaur dengan gold.
Claudya menoleh meminta jawaban yang tidak perlu menggunakan kalimat. Jo yang seakan peka dengan tatapan istrinya mengerti.
"Rumah kita. Tadi pagikan aku sudah bilang?", ucap Jo kemudian keluar dari kendaraan yang sudah terparkir di depan teras rumah tersebut.
Bergaya klasik Eropa, rumah yang dibangun sebagai hadiah pernikahan untuk Claudya terasa sangat nyaman hanya ketika berdiri dari teras depan rumah.
Hamparan rumput hijau yang memanjakan mata, juga beberapa tanaman bonsai menghiasi pekarangan depan rumah, juga tidak lupa mawar merah hati yang bergelayut di tiang kursi taman.
Claudya sejenak memejamkan matanya menghirup udara dingin namun segar di malam hari itu.
"Kamu suka?", tanya Jo yang sedari tadi memperhatikan istrinya tetap berdiri menghadap halaman rumah sambil memejamkan matanya.
Claudya menjawab dengan anggukan kemudian membuka matanya dan melirik ke arah Jo.
"Bagaimana kalau kit masuk?", ajak Jo.
Mereka berempat, Jo, istrinya, Bryand juga Jeny.
Ketika memasuki rumah tersebut, di ruang tamu sudah disambut dengan nuansa girly. Claudya berdecak kagum dengan segala interior yang ada di dalam rumah itu. Sangat pas. Sesuai dengan seleranya.
"Kamu sepertinya tahu segala sesuatu tentangku?", ucap Cla memandang suaminya.
Jo tersenyum yang sangat manis. Itulah kenapa dia dijuluki pria minim senyum, karena ketika dia tersenyum, walaupun hanya beberapa saat, akan terlihat sangat manis. Menurut para wanita.
Jeny yang melihat suami dari nyonya mudanya pun dibuat terkesima.
Bryand yang menyadari hal tersebut menyenggol lengan kekasihnya.
"Jangan berani-berani menghayal lebih...", ancam Bryand berbisik.
Jen menyengir karena tahu kekasihnya itu cemburu.
Lanjut menuju ruangan lain, Claudya lagi-lagi dibuat melongo. Segala sesuatu yang ada di dalam rumah itu sesuai dengan keinginannya.
"Kita ke kamar...". Jo menarik pelan pergelangan tangan Claudya.
Bryand tersenyum, sepertinya tuan mudanya itu memahami dirinya.
"Kamu memberikan kamar untuk asistenmu, terus bagaimana dengan Jeny?", tanya Cla yang kemudian duduk di ranjang king size milik mereka.
"Bryand tahu apa yang aku maksud..", jawab Jo kemudian mulai mendekati istrinya.
"Kamu suka kamar ini?", tanya Jo mulai mendekat ke arah istrinya.
Claudya yang paham akan maksud lain dari Jo pun sengaja menghindar.
"Pakaian kita bagaimana? Kan masih ada di apartemenku?", Claudya mengalihkan.
"Jangan kamu pikirkan itu, Cla. Semua barangmu ada di dalam lemari..", jawab Jo mulai menciumi leher Claudya.
"Aku ingin melihatnya. Siapa tahu tidak sesuai seleraku..", ucap Cla kemudian beranjak pergi dari ranjang itu menuju ruang ganti di kamar tersebut.
"Kamu sengaja, Cla...", gumam Jo pelan yang masih terdengar Cla.
Wanita itu hanya tersenyum lalu menghilang di balik tembok yang dijadikan sekat menuju ruang ganti.
Claudya membuka semua lemari yang ada di dalam ruangan itu. Lagi dia dibuat terkesan, karena segala sesuatu yang ia butuhkan, dari pakaian dan sebagainya sangat lengkap serta sesuai.
"Dia sulit ditebak..", batin Cla.
Namun, ada suatu tempat yang menurut Claudya sangat tidak ia duga. Susunan lingery seksi yang tertata rapih di lemari itu.
Claudya tersenyum penuh arti.
Singkat cerita, Claudya ingin memberikan kejutan untuk suaminya. Dia sudah sangat terlihat seksi dan wangi setelah beberapa saat menyiapkan diri.
Keluar dari ruangan ganti, Claudya berjalan pelan menuju ke arah Jo yang tidak memperhatikannya karena sibuk dengan laptopnya.
"Jo...", panggil Cla pelan.
Jo melirik, tiba-tiba tangannya yang tadi lincah di atas papan keyboard berhenti. Ia menatap wanitanya dengan intens lalu tersenyum.
Jo meletakan laptopnya di atas nakas sebelah ranjang, menarik pergelangan tangan Cla pelan.
"Kamu menggodaku, Cla?", tanya Jo menyeringai.
Claudya tersenyum.
"Biarkan aku yang bekerja...", ucap Cla dengan menggoda.
Jo hanya tertawa pelan lalu membiarkan istrinya menjalani kewajibannya.
Sedangkan di kamar bawah, Bryand pun sama. Menikmati indahnya surga dunia bersama kekasihnya.
Masih dalam gulatannya, tiba-tiba hp Bryand berdering.
Bryand bersungut karena sangat mengganggu aktivitasnya. Berhenti sejenak, Bryand menekan tombol jawab dari panggilan tersebut yang menunjukan nama id Alvaro.
"Apa? Kau menggangguku....", ucap Bryand.
"Bos ditelpon tidak angkat, jadi aku menghubungimu.. Si tuyul kecil pendek itu menyerang markas kita di Spanyol...", lapor Alvaro.
"Sial...", Bryand mengumpat.
"Tangkap si Tuyul itu lalu kirim ke markas kita di sini...", jengkel Bryand.
"Baiklah. Secepatnya..!", jawab Alvaro lalu mematikan sepihak teleponnya.
"Ada apa?", Jeny bertanya karena melihat dan mendengar kekasihnya mengumpat.
"Tidak apa-apa. Kita lanjutkan...", jawab Bryand diikuti tindakan yang tertunda.