
"Upssss... Hehehehe..... Ayo sayang, kita jalan....!", dengan cepat Regina menarik lengan suaminya menuju mobil yang sudah siap di depan halaman gereja.
"Jeng Guna, maksudnya apa ya?", tanya Elena pada besannya yang keceplosan.
"Ahhh, gak apa-apa, Jeng. Biasa masalah anak sama mamanya...", nyengir Regina lalu masuk ke dalam mobil di susul Don suaminya.
"Ayah, kok ibu jadi curiga....!", duga Elena kepada Albert.
"Palingan Jo sering protes sama ibunya, makanya dibilang dosa duluan", ucap Ayah Albert. "Ayo ke hotel...", ajak sang suami ketika melihat mobilnya sudah disiapkan asisten pribadinya.
"Yuk ahhh... Ibu juga udah lama gak ngerasain kasur empuk hotel.... Apa lagi, ini hotel menantu kita loh...", sambil berjalan sejajar dengan suaminya.
"Iya.. Ayah juga mau ngetes, itu ranjang kuat apa tidak kalau digunakan untuk bergoyang ria...", ucap Albert sambil mengerlingkan matanya pada Ellena.
"Ihhhh... Ingat, udah bau minyak urut loh... Udah punya cucu.....", sahut sang istri kesal karena ucapan sang suami tepat di depan asisten pribadi yang sedang membukakan pintu mobil untuk mereka.
"Biar bau minyak urut, yang penting ibu doyan kan?", sambil tertawa melihat ekspresi kesal sang istri.
"Awassss... Ku penyet nanti...!!", ancam sang istri sambil melirik ke arah paha sang suami.
Albert langsung merapatkan pahanya dan menutup area pangkal itu.
Ellena hanya tersenyum geli melihat tingkah suaminya. Udah tua, mesum...
Di kendaraan sepasang pengantin baru.
"Akhirnya.... Waktu kurungan telah selesai....", gumam Richard Jo menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil.
Claudya menoleh ke arah suaminya.
"Kau dikurung juga?", tanya Claudya.
"Kau juga?", bukannya menjawab, Jo balik bertanya.
"Iya...", sahut Claudya kemudian berbalik menatap ke arah jalanan.
"Hahahahhaah... Ternyata orang tua kita kompakkan ya?".
"Sepertinya mereka sepakat....", curiga Claudya.
"Hah... Orang tua itu, menyebalkan....", sungut Jo.
Mereka berdua pun terdiam beberapa saat dengan pikirannya masing-masing.
"Hmmmm, Jo.... Apa kita harus sekamar?", tanya Claudya.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu?", Jo menatap Claudya.
"Boleh ditunda?", Jo mengerutkan keningnya mendengar perkataan Claudya.
Bryand yang mendengar pertanyaan Claudya untuk Jo menahan tawa. Dikira proyek apa?
"Tidak jamin...!", jawab Jo tegas.
"Hah..? Tapi.... Aku....... Emmmmmm...", Claudya ragu.
"Apa?".
"Aku lagi datang bulan...", ucap Claudya setengah berbisik agar Bryand yang ada di depan tidak mendengarnya.
"Bulan? Bulan apa...???", tanya Jo kaget.
"Ishhhhh, bukan bulan apa..... Masa periodeku... Ngerti gak sih?", dengus Claudya.
"Oh... Haid?", tanya Jo lantang sampai membuat Bryand terbatuk.
"Bisa jadi rahasia kita gak...?", kesal Claudya sambil membuang pandangan dari Richard Jo.
Jo hanya terkekeh melihat tingkah Claudya yang menurutnya menggemaskan jika sedang marah.
"Tenang saja. Akan ku cek sendiri nanti....", Jo acuh.
"What...???", teriak Claudya di dalam mobil.
"Jangan berteriak....!!! Kau pikir aku tuli....?", balas Jo berteriak juga.
"Kau juga berteriak....!", balas Caludya jengkel.
Perang dunia dimulai, gumam Bryand dalam hati.
Jo dan Claudya terus berdebat di dalam mobil hingga tiba di depan lobi hotel yang dimaksud.
"Ayo.... Aku lelah...!", ajak Jo menarik Claudya yang masih mengenakan pakaian pengantinnya.
"Pelan-pelan. Gaun ini terlalu panjang....!", keluh Cla.
"Siapa sih yang membelikan gaun ini...!", ketus Jo melihat pengantinnya berjalan lambat.
"Tanya sama Momy...", sahut Claudya.
Mendengar kata Momy, Jo kicep. Aku tidak mau berurusan dengan Momy untuk sementara.
"Hah... Baiklah, ayo sayang...", ucap Jo lembut karena melihat keluarga mereka berdua satu persatu muncul di lobi hotel.
Claudya mengerutkan keningnya. Heran tentu, melihat lelaki menyebalkan itu berucap lembut.
Matanya mulai memindai segala arah. Memincing dan mulai mengerti.
Mereka pun bertingkah seolah saling sayang di depan keluarga yang mulai mendekat.
"Kalian mau ke kamar?", tanya Dady Don.
"Iya, Dad. Aku lelah. Begitupun istriku. Kami duluan ya?", jawab Jo kemudian melangkah meninggalkan orang tuanya di depan lobi.
Di dalam kamar hotel.
"Aku mau mandi. Kau buka sendiri gaunmu atau ku bantu?".
"Mandi sana, biar aku yang buka sendiri..!", sahut Claudya ketus.
"Yakin? Jangan menyusahkanku nanti...!!", kemudian Jo berlalu pergi menuju kamar mandi.
"Menyebalkan..!", dengus Cla.
Claudya berusaha membuka pengait gaun yang menggantung di punggungnya. Susah sekali sih.... rancau Cla dalam hati sambil menghentakkan kakinya.
Setelah setengah jam berada di dalam kar mandi, berendam dan sebagainya, Jo keluar dengan handuk putih melingkar di bawah pinggangnya, tangan kirinya mengusap rambutnya dengan handuk kecil.
Claudya menganga menatap tubuh Jo yang kekar.
"Air liurmu menetes tuh...", ganggu Jo membuyarkan lamunan Cla.
Gadis itu mengusap mulutnya.
"Sial.....!", pipinya bersemu merah. Lalu berlari membanting pintu kamar mandi dengan keras.
Jo terpingkal-pingkal melihat tingkah Cla yang menggemaskan.
"Gaunmu nanti basah...!", Jo berteriak dari depan pintu kamar mandi, karena Cla belum membuka gaunnya.
Sasaat terdiam dengan Jo yang masih sedikit terkikik, tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan.
"Emmmm, bisa membantuku melepaskan gaun ini?", pinta Cla dengan malu-malu.
"Sini. Putar tubuhmu..", Jo mengulurkan tangannya membantu membuka resleting gaun yang berada di punggung Cla.
Pelan, Jo menurunkan gaun tersebut, sambil sesekali mengusap punggung polos Cla, membuat wanita itu mulai menutup matanya merasakan gelayar aneh.
Sementara jemari Jo asik dengan permainan di punggung mulus Cla, pintu kamar di ketuk.
"Mengganggu saja....!!", dengus Jo.
"Jo, ada yang mengetuk pintu...!", ucap Claudya terbata karena posisi jari Jo sudah berada di area terlarang.
"Hm....", gumam Jo kemudian berlalu dari depan pintu kamar mandi menuju pintu kamar hotel mereka.
"Ada apa?", dengan ketus Jo bertanya dengan kesal pada Bryand yang mengganggunya siang-siang.
"Anak buah saya menemukan sesuatu yang mencurigakan...", ucap Bryand pasti.
"Apa?", tanya Jo dengan serius.
"Sepertinya, mantan kekasih nona Cla berada di dalam hotel ini juga...!", lapor Bryand.
"Terus...?".
"Dia menggunakan nama lain mereservasi kamar hotel...".
"Apa yang salah? Mungkin dia dengan seseorang?".
"Tidak, Tuan. Saya yakin dia merencanakan sesuatu".
"Awasi terus, bila perlu, hambat pergerakannya Selanjutnya kau tau apa yang harus dilakukan. Tambah anak buahmu. Dia tidak bekerja sendirian..!", ucap Jo.
"Baik, Tuan... Oh maaf, ada penyampaian dari Nyonya Besar...".
"Hm, apa?".
"Kata Nyonya, jangan dulu, nanti Nona Claudya tidak mampu berjalan normal di acara resepsi nanti...", ucap Bryand kemudian dengan cepat mundur, berbalik lalu berlari menuju lift tanpa menunggu jawaban sang Bos.
"Bryand........", kesal Jo lalu masuk kembali ke kamarnya dan membanting pintu.
Jo yang sudah kepalang tanggung saat menyentuh Cla, kini harus berusaha meredamkan hasratnya menunggu nanti malam.
Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk sebatas dada dan paha membuat Jo menelan ludah kasar. Hasratnya kembali membuncah setelah beberapa saat diredamnya.
Laki-laki dan perempuan dalam keadaan seperti itu di kamar, Taulah apa yang terjadi setelah itu.
"Kau menipuku, Cla...", ucap Jo setelah pergumulannya dengan Cla selesai.
"Aku belum siap...", aku Cla.
"Kau sudah menjadi istriku... Siap tidak siap, harus siap. Aku harus menahan hasrat untuk menggempurmu siang ini. Ahhhhhh....", Jo frustrasi. Ia harus melakukan lagi adegan seperti sebelumnya dengan Claudya tanpa memasukinya.
"Maaf... Nanti malam, ya?", rayu Claudya agar siang ini tidak lagi mereka berdebat. Dia sungguh sangat lelah, Jo seakan tidak puas hingga dirinya harus keluar berkali-kali.
"Akan ku tagih, dan tidak menerima penolakan", ucap Jo lalu berbaring memeluk tubuh polos Claudya di balik selimut.
********
Malam ini resepsi.
Aula besar hotel menjadi saksi di mana pesta akbar digelar. Pernikahan yang paling megah antara dua insan dan dua kerjaan bisnis paling disegani di negara itu.
"Banyak sekali......", ucap Claudya yang lelah berdiri karena banyak tamu yang antri bersalaman dengan mereka.
"Sabarlah. Sedikit lagi...!", sahut Jo pada Cla, namun matanya tertuju mengawasi sesuatu.
Bryand melihat Jo menatap seseorang yang bergerak gelisah di antara kerumunan orang-orang.
Alvaro yang juga sedang mengawasi seorang pria mencurigakan pun bergerak cepat sesuai instruksi sebelumnya untuk menyingkirkan calon hama itu dari kerumunan.
Claudya terus mengeluh, hingga akhirnya Jo membawa gadisnya menuju kamar hotel berbeda dari sebelumnya.
"Kita salah kamar....!", Claudya berucap ketika berada di lantai berbeda dari sebelumnya.
"Tidak...!", sahut Jo, kemudian mendorong Cla masuk ke dalam kamar pengantin yang di sulap bag kamar kerjaan dengan taburan mawar merah terang di atas ranjang.
"Mandilah. Ibu sudah menyiapkan apapun yang kau butuhkan di dalam", perintah Jo.
Claudya menurut. Ia berlalu masuk ke kamar mandi, berendam di bathtub dan sebagainya.
"Pakaian apaan ini?" gumam Cla yang melihat sekoper penuh pakaian kekurangan bahan. "Aku yakin, laki-laki itu tidak akan melepaskan ku jika aku mengenakan ini".
Cla mondar-mandir di dalam kamar mandi, sementara Jo sudah tidak sabar menggempur gadisnya.
"Cla... Aku juga butuh mandi...", Jo mengetuk pintu, karena hampir 1 jam perempuan itu berada di dalam kamar mandi.
"Pingsan atau apa sih?", batin Jo.
"Iya sabar. Aku keluar, tutup mata ya...?", jawab Cla dari dalam.
"Iya...", malas Jo menjawab, tapi tidak dilakukannya.
Claudya keluar dari kamar mandi mengenakan lingerie merah menyala, menunjukan lekuk tubuh serta bagian sensitifnya.
Jo membola. Dengan tidak sabar, Jo merangkul Claudya, menyesap bibirnya dengan rakus.
Claudya dengan tidak siap menerima serangan tiba-tiba menahan tubuh Jo.
Pria itu kemudian sadar, lalu mulai bertindak lembut.
Cla terhanyut, melingkarkan kedua tanganya di leher Jo, menikmati permainan laki-laki yang telah sah menjadi suaminya.
Sambil terus menyesap, Cla digiring ke pembaringan. Permainan tidak di jeda. Terus menyusuri gambar tubuh Cla tanpa dilewati sedikitpun.
Cla meracau. Permainan semakin panas, hingga tanpa sadar, tubuh polos keduanya terpampang.
Jo sejenak menatap Claudya. "Malam ini, kau milikku. Ingat... Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia...".
Gadis itu menatap netra Jo yang berada di atasnya. Lalu mengangguk tanda setuju.
Akhirnya.....
"Akhhhhh.........",....