Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 47



Setelah menempuh waktu perjalanan tujuh jam tujuh belas menit Soekarno-Hatta ke Seoul, pria yang bernama Richard Jo Fernand atau dikenal sebagai Mr Rick oleh dunia bawah, langsung menuju ke apartemen milik istrinya.


Jack yang bertugas mengawal Claudya dan Jeny menjemputnya di bandara Seoul Korea Selatan.


Jam setengah lima pagi, Jo tepat berada di depan pintu apartemen istrinya.


Sebelum itu, ia sudah menyuruh Jack untuk kembali ke markas mereka yang ada di Korea.


Saat akan membuka pintu apartemen istrinya, seorang pria menyapanya.


"Joesonghabnida. nuguseyo? (Maaf, anda siapa?)", tanya pria itu.


Jo memutar tubuhnya menghadap ke pria itu dan menatap dengan menaikan kedua alis matanya.


Tidak mendapatkan jawaban, pria itu kembali bertanya.


"I sigan-e yeoja apateueseo mueos-eul hasigessseubnikka? (Anda mau apa masuk ke apartemen wanita di jam begini?)".


"Jeoneun i apateuleul soyuhan yeoseong-ui nampyeon-ibnida (Saya suami dari wanita pemilik apartemen ini)", jawab Jo dengan kesal.


Jo berbalik hendak berniat membuka pintu apartemen, namun tangannya digenggam pria itu.


"Nan midji anh-a (Saya tidak percaya)", ujar pria tidak tahu menahu tersebut.


"Sial ini orang...!!!", dengus Jo menatap nyalang pria yang ada di depannya itu. "Naneun dangsin-ege amugeosdo jeungmyeonghal pil-yoga eobs-seubnida. dangsin-eun amudoibnida (Saya tidak harus membuktikan apapun kepada anda. Anda bukan siapa-siapa)", kesal Jo.


"Hal su eobs-seubnida. Geu yeojaga naui pyojeog-i doeeossda. Dangsin-eun na-ege geojismal-eul hal su eobs-seubnida. I geonmul-ui boantim-e bogohagessseubnida (Tidak bisa. Wanita itu sudah menjadi incaranku. Anda tidak bisa membohongiku. Aku akan laporkan ke security di gedung ini)", Ancam pria itu.


Darah Jo mendidih. Perjalanan yang lumayan jauh, lelah pasti, namun ia harus dihadapkan dengan pria kurang percaya itu.


Jo langsung memberi kode kepada anak buahnya yang berada di balik tembok lorong apartemen.


"Bawa dia. Usir dari sini. Saya lelah.. Urusi ini dan katakan pada security di bawah untuk jangan membiarkan pria ini berkeliaran di apartemen ini..", perintah Jo.


Anak buah Jo langsung melakukan perintah atasannya. Pria yang diketahui bernama Seong Da Min itu pun diseret pergi oleh tiga orang anak buah Jo.


"Tuan, dia pria yang bertemu dengan nyonya muda waktu itu..", lapor salah seorang anak buah Jo yang tidak ikut menyeret Seo.


"Hm...", Jo hanya mengangguk. "Jangan menggangguku seharian ini. Tetapi tetap kawal istriku jika dia keluar ke perusahaannya..", ucap Jo lalu masuk ke dalam apartemen istrinya tanpa menunggu jawaban anak buahnya.


"Kamu datang, Rich?", tanya Claudya setelah pintu di buka oleh Jo.


"Kamu sudah bangun?", Jo balik bertanya karena Claudya tepat berada di depannya.


"Aku mendengar perdebatan yang ada di luar ketika mau mengambil minum di dapur. Ternyata kamu...", jawab Claudya.


"Ohhh.. Maaf, tidak mengabarimu jika aku datang. Maksudku memberi kejutan, tapi aku yang terkejut karena kamu sudah berada di depanku... Heheheheheh", Jo tertawa kecil.


"Tidak apa-apa.. Kamu sendiri?", tanya Claudya kemudian duduk di sofa diiukuti oleh Jo.


"Yaaa.. Bryand yang mengurusi perusahaan. Aku cuti seminggu..", balas Jo lalu matanya menatap Claudya dengan intens.


"Kamu semakin cantik... Aku rindu...", membenarkan posisi duduknya lalu mencoba meraih tangan Claudya yang juga menatapnya.


Pipi wanita itu bersemu merah. Ia tak menepis tangan Jo seperti biasa jika ingin menyentuhnya.


"Perkembangan yang baik", gumam Jo dalam hati setelah merasa tidak ada penolakan dari Claudya.


Claudya menunduk. Ia juga rindu dengan suaminya, namun gengsi untuk mengatakannya.


Beberapa bulan tak bertemu, bahkan aniversary setahun pernikahan mereka tidak dirayakan, masing-masing memuaskan hasrat dengan caranya sendiri-sendiri tanpa bersentuhan membuat gelora gairah membuncah ketika bertemu.


"Boleh aku menciummu?", tanya Jo.


Claudya mendongak menatap suaminya dan mengangguk.


Pelan Jo mendekatkan bibirnya ke arah kening Claudya, mengecup mesra lalu turun ke arah kedua mata, hidung dan berakhir di bibir wanita itu. Lembut.


Jo tidak tergesa-gesa agar tidak terkesan memaksa. Bermain lama di bibir basah Claudya.


Lelah yang tadi dia rasa terbang entah kemana. Wanita itu membalas ciuman suaminya dengan menutup mata.


Permainan bibir semakin intens, kadang dilepas untuk keduanya menghirup oksigen lalu kembali beradu bibir.


Tangan Jo samakin liar. Bergerak mengelus punggung Claudya, lalu ke ujung piyama wanitanya dan membuka baju tidur itu.


Claudya menengadah, memberikan akses ke bibir Jo menelusuri leher jenjang miliknya.


"Richhhhhhhhh...".


"Kita pindah atau tetap di sini?", Jo bertanya.


"Terseeeeeeraaaahhhhhh", Claudya sudah tersulut gairah ketika bibir suaminya bermain di pucuk gunung.


Tak tahan dengan suara istrinya, Jo menggendong ala koala dan membawa istrinya ke kamar milik Claudya.


Jangan tanya bagaimana dia tahu kamar milik Claudya meski beberapa bulan tidak bertamu. Apartemen dan isinya disediakan oleh Jo dan orang-orangnya.


Lanjut.


Pergumulan mereka dilanjutkan di ranjang besar milik Claudya.


Pakaian sudah berserakan. Ada yang di sofa di luar kamar, ada yang dilantai di bawah ranjang.


Claudya menggeliat ketika lidah Jo menerobos masuk ke suatu tempat paling nikmat.


"Riccchhhhhhh... Pleeaaassseeeehhhh", tubuh wanita itu semakin terbakar.


Pagi yang panas di musim dingin.


"Jangaannnn berhenti, Riicchhhhhh".


Jo semakin cepat membuat gempa bumi di ranjang king size milik istrinya.


"Akkkuuuuuhhh keluuuuaararrrr", erangan panjang disusul dengan getaran hebat pada tubuh wanita itu.


Beberapa detik berikutnya, Jo pun tersungkur lemah di atas tubuh istrinya.


"Terima kasih...", ucap Jo tulus diikuti oleh anggukan istrinya yang terkulai lemas.


Trauma? Jo datangpun pasti dengan informasi dari Shintia. Teman psikolog dari dokter Shintia yang mengatakan bahwa Claudya sudah baik-baik saja.


"Mandi?", tawar Jo yang masih menjadikan lengannya sebagai bantal untuk wanitanya.


"Hanya mandi.. Oke? Aku tak mau lagi digempur.. Kamu terlalu kuat, Rich...", ucap Claudya.


"Sure... Hanya mandi.. Kita bisa melakukannya di lain waktu....", jawab Jo lalu membopong tubuh istrinya ke dalam kamar mandi.


Setengah jam di dalam kamar mandi mereka berdua keluar dengan bathrobe yang menyelimuti tubuh.


"Kamu ke kantor?", tanya Jo.


"Tidak.. Lututku lemas.. Kamu tidak bisa dipercaya, Rich...", dengus Cla.


Bagaimana tidak? Jo membuatnya keluar dua kali meski tanpa penyatuan (bayangkan saja caranya yaaaa... hehehhee)


"Maaf.. Aku candu dengan tubuhmu. Sangat tersiksa ketika tidak dapat menyentuhmu beberapa bulan ini.. Apa lagi kamu ketika mau tidur selalu menggunakan pakaian sexy...", ucap Jo diikuti kekehan kecil.


"Biar Jeny yang menggantikanmu di kantor. Jack akan mengawalnya...", lanjut Jo.


Claudya hanya mengangguk. Tak dapat dipungkiri juga, jika ia sangat merindukan Jo dan sentuhannya.


"Siapa yang berdebat denganmu tadi pagi?", tanya Claudya.


"Tak tahu... Si mata sipit itu sangat menyebalkan.. Untung kesabaranku terlalu banyak.. Kalau tidak, ku kirim dia ke rumah sakit...", kesal Jo membayangkan kejadian tadi pagi.


"Yakinnnn? Kau tidak tahu siapa dia?", tanya Claudya lagi menyelidik.


Bukannya dia tidak percaya, tentu ia tahu bahwa Jo tidak akan menempatkannya di apartemen itu tanpa memeriksa dulu siapa saja yang tinggal di gedung bertingkat itu.


"Iyyaaa...", sahut Jo yang masih kesal.


Claudya hanya tersenyum saja. Ia percaya Jo tidak macam-macam selama tidak bisa menyentuhnya.


Toh ada mata-mata di keluarga mereka. Siapa lagi kalau bukan kedua ibu negara, Mom Regina dan Ibu Ellena, jangan lupakan Ell, Dady Don serta Ayah Albert. Belum lagi si pemuda tampan adik satu-satunya Jo.


"Kamu mau di apartemen saja atau jalan-jalan?", tanya Jo setelah mereka beberapa saat sibuk dengan masing-masing kegiatan.


"Jika di apartemen saja tidak menutup kemungkinan kamu akan membuatku kembali tepar, bagaimana kalau kita ke pulau Jeju?".


"Seperti permintaanmu, tuan putri..", sahut Jo langsung menghubungi anak buahnya.


.


.


.


.


Di tempat lain.


Brakkkk..


Seong Da Min sangat kesal ketika masuk ke perusahaan Bram.


"Why? You look really angry....? (Kenapa? Kamu terlihat sangat marah...?)", tanya Bram setelah temannya itu duduk di sofa.


"There was a man who claimed to be the husband of the woman this morning and told his men to kick me out (Ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai suami dari wanita itu tadi pagi dan menyuruh anak buahnya mengusirku)", kesal Seo.


Bram paham siapa wanita yang dimaksud.


"Maybe it was her husband? (Mungkin benar itu suaminya?)", Bram balik bertanya.


Seo hanya mengedikan bahunya.


Bram dengan cepat menggunakan handphone miliknya untuk serach mencari nama Jo di internet. Tidak sulit, karena terpampang jelas wajah, serta perusahaan dan bisnis-bisnis pria itu. Bisnis yang legal tentunya.


"Is he the man you mean? (Apakah dia laki-laki yang kamu maksud?)", Bram bertanya sambil menyerahkan informasi yang didapat melalui handphonenya.


"Yes.. He.. So he really is her husband? (Iya.. Dia.. Jadi benar dia suaminya?)", tanya Seo.


Bram mengangguk.


"Well done.. But I'm richer.. (Mapan.. Tetapi aku lebih kaya)", ucap Seo menyombongkan diri.


Bram menggeleng. Keperayaan diri temannya itu terlalu tinggi.


"I warned you. Up to you. The point is when there is a problem, don't complain to me. (Aku sudah memperingatimu. Terserah. Ketika ada masalah, jangan mengeluh padaku)..", Ucap Bram.


"There's no way he can fight me.. My power is greater in my own country (Tidak mungkin ia bisa melawanku.. Kuasaku lebih besar di negarku sendiri...)", sombong Seo.


Bram hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


Seo lalu beranjak pergi dari ruangan Bram untuk ke perusahaannya.


Bunyi dering telepon nyaring terdengar di meja Bram setelah kepergian Seo.


"Hallo, Who's this? (Halo, siapa ini?)", tanya Bram karena tidak ada id pemanggil dari handphonenya, artinya nomor baru.


"Hello Mr Bram. I'm Bryand, assistant to Mr. Richard Jo. Sir, I invite you tonight to meet at the Xxx restaurant..(Halo, Tuan Bram. Saya Bryand, asisten dari Tuan Richard Jo. Tuan saya mengundang anda nanti malam untuk bertemu di restaurant Xxx..)", ucap orang dari seberang.


Bram mengernyit heran karena Bryand bisa mendapatkan nomor handphonenya secara pribadi. Tidak biasanya. Jika ada klien ingin bertemu, selalu melalui asisten pribadinya.


"I hope you can meet my master.. Tonight at seven o'clock. Thank you (Saya harap Tuan bisa bertemu dengan Tuan saya.. Malam ini pukul tujuh. Terima kasih. )", lalu Bryand mematikan teleponnya sepihak sebelum mendengar jawaban dari Bram.


Bram mendesah panjang.


"Shitt..."...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Mohon untuk jangan berhenti membaca yaaa.. Sangat diharapkan juga untuk komentar, kritik serta sarannya agar diperbaiki untuk bab selanjutnya.


Serta dukungan dari readers sekalian.


Salam sayang dari author...


🥰🥰🥰**