Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 11



"Siapa Mom?"....


Richard Jo dengan cepat langsung menutup pintu kamarnya ketika sadar bahwa sang calong istri yang kaget bangun dengan posisi selimut melorot tidak menutupi semangkanya.


"Richard Jo Fernand...!!!!! Segera keluar kalian atau Momy akan menyuruh Dadymu dan Om Albert untuk datang ke apartemen ini??", ancam sang ibu negara.


"Aku.. Sial... Cepat kenakan pakaianmu....", perintah Jo dengan buru-buru karena ia hanya bertelanjang dada dan masih mengenakan boksernya.


"Hah? Apa?", tanya Claudya yang masih dalam mode setengah sadar.


"Cepat, Cla....!!!", gusar Jo.


"Ah, iya-iya", sahut Claudya dengan segera turun dari ranjang kemudian mancari pakaiannya yang berserakan di lantai.


"Jo? Pakaianku?", lapor Claudya sambil memperlihatkan pakaian yang ia kenakan kemarin sudah tidak berbentuk.


"Aihhhh.... Pakai kemejaku yang ada di lemari. Ada Momy di luar...", kata Jo.


"Ha? Momy? Siapa?", tanya Claudya lagi dengan heran.


"Ya momyku. Cepat...!!!", perintah Jo lagi dengan membantu Claudya mengenakan kemeja miliknya.


"Richard Jo..... Claudya Gitta... Keluar kalian....!", teriak Momy Jo yang kesekian kalinya.


"What...? Tante..???"....


"Ayoooo.....!!!", ajak Jo yang sudah siap membuka pintu kamar miliknya.


"Sabar... Bagaimana penampilanku?", Claudya semakin gugup.


"Sudah.. Kau cantik, walau belum mandi...!", jawab Jo langsung membuka pintu kamarnya.


"Hehehehe... Selamat pagi, Momy sayang...!", sapa Jo dengan senyum paksa.


"Cla mana? Momy tidak butuh kamu....!", katus sang ibu negara kemudian kembali melirik ke dalam kamar Jo.


"Ada di dalam, Mom...", jawab Jo lesu. "Kalau butuhnya cuma gadis itu, kenapa aku juga di suruh keluar sih?", batin Jo.


"Jangan mengumpat Momy, Rich.. !!", ucap sang Momy yang seolah tahu pikiran putranya itu.


"Tidak kok Momy... Hehehehe...", sahut Jo sambile menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sang ibu kemudian memaksa masuk ke kamar Jo menggeser paksa tubuh anaknya.


"Minggir....!! Cla sayang, sini... Jangan takut...!", ucap Momy ketika sudah berada di dalam kamar Jo.


"Iya, Tante....", jawab Claudya lalu mendekat ke arah sang Momy.


"Kita berbicara di luar...!", ajak Momy Jo.


Claudya menatap Jo dengan penuh tanya, tetapi pria itu hanya mengedikan bahunya tanda tidak tahu maksud dari sang ibu.


"Rich, Minggir... Bikinin mama teh...", perintah ibunya.


"Mom? Kan ada Claudya? Kenapa menyuruhku?", tanya Jo.


"Momy perlu bicara dengan Cla. Di sini tidak ada pembantu... dan Kau tidak sedang melakukan apa-apa kan?", ucap santai Momy.


"Tapi, Mom.....", protes Jo.


"Sana....!!! Atau Momy laporkan ini pada Dady dan Om Albert?", ancam Momy.


Jo hanya mendengus lalu berjalan menuju ke pantry untuk membuatkan tiga cangkir teh bagi mereka.


"Apa yang dilakukan Rich padamu, Tante sebagai ibunya minta maaf ya, Cla...", ucap Momy iba.


"Hmmm? Tante? Tidak, ini bukan salah Tante, ini kesalahan kami berdua, Tante....", Claudya membatah sambil menggelengkan kepalanya.


"Tetap saja, pria itu tidak bisa menahan dirinya. Waktu pernikahan kalian hanya tinggal hitungan Minggu...", aku Momy Jo.


"Mom? Cla benar, kami melakukannya dengan sadar....", Jo berucap setelah meletakan gelas teh di hadapan Momy dan Claudya.


"Kau diam anak nakal...!! Momy tidak berbicara denganmu....!!!", sungut sang ibu negara.


"Hmmmm, Tante, maaf.... Kami salah. Tapi kami berjanji untuk tidak melakukannya lagi sampai kami menikah...", Claudya berucap dengan menundukkan kepalanya.


"Ha? Jadi kalian sudah melakukannya seblum ini??", tanya Momy Jo heran.


"Baru dua kali, Tante.. Itupun tidak masuk?", Claudya semakin menunduk malu.


"What? Rich? Dasar anak nakal.....!", umpat Momy sambil menjewer kuping Jo.


Jo hanya meringis sakit karena jeweran sang Momy sambil menatap Claudya yang sudah berucap dengan polosnya.


Claudya hanya menunduk sambil memainkan jari-jarinya.


"Empat hari lagi kalian menikah...", tegas Momy.


"Apa? Kau sudah menodai anak orang, emang tahan itu terongmu kalo gak masuk?" seringai sang Momy.


"Tante, apa tidak terlalu cepat?", tanya Claudya.


"Tidak-tidak.... Tante percaya dengamu, tapi tidak dengan pria nakal ini....!", jawab sang Momy.


"Tapi, Mom.....", protes Jo lagi.


"Jangan membantah. Pernikahan kalian di adakan empat hari lagi...!", tegas Momy tanpa bisa lagi di protes..


Jo dan Claudya hanya saling menatap tanpa banyak lagi protes, akhirnya mereka menganggukkan kepala setuju dengan lesu.


Sang Momy tersenyum penuh arti. Kau akan ku hukum anak nakal, gumam sang ibu dalam hati.


********


Setelah perdebatan di apartemen Jo, sang ibu langsung menuju ke rumah utama.


"Dad.......", teriak sang istri.


"Iya, Momy?", sahut sang suami dengan ikut berteriak.


"Dad...!", panggil sang istri.


"Apa lagi, sayang?", tanya sang suami.


"Jangan burung aja yang dibelai. Momy juga butuh...", gerutu sang istri.


"Sebentar ya, Mom?", sahut Dady dengan mengedipkan matanya.


"Hmmmmm... Oh ya, Momy lupa..."


"Lupa apa, sayang? Obat kuat? Dady masih kuat kok.. Tiga ronde....", goda sang suami lagi.


"Bukan itu ih..... Momy lupa kalau pernikahan anak kita dimajukan empat hari lagi...", kata Momy.


"Apa, Mom? Kenapa buru-buru sih? memangnya si es batu itu setuju?", tanya Dady Don menatap istrinya dengan heran.


"Es batu, es batu... Es batu itu juga benihmu, Don Adriand. Jangan lupakan itu", ketus Sang istri.


"Hehehehe", nyengir Dady Don. "Memangnya kenapa harus dimajukan empat hari lagi..?".


"Hemmm, lebih cepat lebih baik kan? Kita juga sudah tua, Momy pengen cepat gendong cucu...".


"Yah, yah... Terserah Momy saja.. Bicarakan dengan istrinya Albert.. ", saran Dady Don.


"Sudah, Dad. Mereka setuju....", sahut sang istri.


"Okelah.. Sudahkan?", tanya Dady Don lagi.


"Sudah, Dad. Ayo....!!", ajak Sang istri.


"Ke mana?".


"Ke kamarlah. Momy tagih janjinya. Tiga ronde ya?".


"Sabar, Mom.. Masih siang....!!!", protes Dady Don.


"Alahhhhhh. Bilang saja obat encokmu sudah habiskan?", selidik sang istri.


"Bukan begitu, Momy.. Dady butuh tenaga. Makan siang dulu yuk?", ajak sang suami.


"Gak ahhh.. Nanti saja... Ayo....!", paksa ibu negara.


"Baiklah.... Momy yang pimpin ya?", goda Dady Don.


"Hmmmmmm".


Mereka berdua terus berjalan menuju kamar utama, sesekali memamerkan kemesraan di depan para pembantunya.


+++++++++++++++


Di tempat lain.


"Jen.... Saya akan menikah.....", ucap Claudya setelah asisten setia itu menjemputnya di basement apartemen Jo.


"Iya, Nona. Saya tahu anda akan menikah. Dua Minggu lagi kan?", jawab Jeny santai.


"Empat hari lagi.....", kata Claudya dengan lirih.


titttttttttccchhtttttt..


"Empat hari lagi? Dadakan?....",....