
Richard kembali ke rumah dalam keadaan dongkol. Sekalipun salah satu musuhnya itu sudah pulang ke negara asalnya Spanyol, namun masih saja tetap mengganggunya dengan membayar kelompok lain untuk membunuhnya.
Kini yang hanya dipikirannya adalah menyerang daripada ia di serang seperti tadi.
Melangkah masuk ke dalam rumah, karena ia tidak terlalu fokus, Rich dikagetkan dengan suara berat yang dapat diduganya.
"Kamu baru pulang, Son?", tanya laki-laki bersuara berat tersebut.
"Dad?", Jo kaget karena tiba-tiba saja ayahnya berada di ruang keluarga miliknya.
"Hmmm... Kamu belum menjawab pertanyaan Dady, Rich....", lagi Dady Don bertanya.
"Ahh, iya, Dad... Aku dari bandara mengantar Claudya..", jawab Jo lalu duduk di sofa sebelah Dadynya.
"Kamu jarang berkunjung setelah menikah, Rich... Sibuk?".
"Hmmmm, begitulah... Dady ada keperluan apa?", Richard bertanya.
"Salah kalau Dady datang mengunjungi putra Dady?", Dady Don balik bertanya.
"No, Dad.. Hanya saja biasanya Momy ikut bersama Dady....", sahut Jo.
"Momy di rumah... Sedang merindukan putra pertamanya yang jarang menanyakan kabar ibunya...", sarkas Dady.
"Maaf, Dad... Rencana hari Sabtu nanti aku dan istriku menginap di rumah...", ucap Jo.
"Hmmm... Dady tahu anak Dady tidak mungkin melupakan keluarganya....", Dady Don memberikan senyuman yang menurut Jo aneh.
"Ada apa, Dad?", tanya Jo penasaran.
"Dady mendapat kabar tentang kejadian tembak-menembak di simpang sembilan (nama tempatlah) tadi...", jawab Dady seadanya.
Richard menoleh menatap ayahnya.
"Anak buah Dady yang melaporkan kejadian itu...!", lagi Dady menjelaskan karena tahu arti tatapan Jo.
"Ahhh, iya... Hanya kelompok sampah yang tidak berguna, Dady.... Tenang saja...", sahut Jo dengan santai.
"Sampah jika terlalu banyak dan menumpuk di lorong-lorong yang akan kita lalui tentu membuat kita tidak nyaman, Rich...", lagi Dady berbicara menggunakan perumpamaan.
"Aku tahu, Dad. Akan aku bereskan sisanya dengan baik agar tidak menumpuk menutupi lorong yang akan aku lalui...", jawab Jo mengerti akan ucapan Dadynya.
"Kamu bisa meminta bantuan Dady untuk mengurusnya jika kamu kelelahan...".
"Dady tahu kan berapa banyak anak buah yang ku miliki? Tentu saja sampah itu dengan mudah akan ku singkirkan...", sombong Jo.
"Yahhhh, siapa tahu kamu membutuhkan tukang pengangkut sampah yang lebih banyak....", ucap Dady.
"Dady tak perlu kuatir... Aku bisa menjaga keluarga kita dengan baik.... Percayakan padaku....!", Jo memberikan kepastian.
Dia tahu, bahwa ketika berkutat dengan dunia bawah, maka seluruh keluarganya akan menjadi sasaran karena cepat atau lambat, musuhnya pasti mengetahui segala sesuatu mengenai dirinya.
"Hmmm... Dady percaya padamu, Son....", ucap Dady Don lalu berdiri menepuk bahu putranya. "Dady pulang...! Jaga dirimu...!", pamit Dady Don.
"Hati-hati Dady... Anak buahku akan mengawal Dady sampai di rumah....!".
Dady Don mengangguk lalu pergi dari rumah besar itu dan diikuti oleh dua kendaraan milik Jo yang berisi delapan orang anak buahnya.
.
.
.
.
Jo termenung di sofa ruang keluarga itu memikirkan ucapan ayahnya.
Ia mengambil handphone miliknya dan menghubungi Alvaro.
"Halooo, Tuan....", jawab Al dari seberang telepon.
"Periksa seluruh data kelompok yang punya potensi mengganggu kelompok kita, serang markasnya, bunuh pemimpinnya... Jika ada kelompk-kelompok baru yang berdiri, ancam mereka dengan kekuatan kita agar tidak mengganggu dan merampas bisnis kita... Mari kita bersihkan sampah di lorong-lorong yang akan kita lalui....", perintah tegas Jo untuk Alvaro.
Alvaro paham perintah itu.
"Baik, Tuan... Secepatnya saya bereskan..!", jawab Alvaro dengan serius.
"Perketat keamanan yang berkaitan dengan kelompok kita. Jika bisa, rekrut anggota baru untuk menambah amunisi jika harus menyerang kelompok lain yang berpotensi menyerang kita...!", lagi Jo memerintah.
Alvaro menyanggupi permintaan bosnya.
Richard Jo mematikan panggilannya dan berjalan menuju ke kamarnya.
Di sisi Bryand.
Mendapat perintah untuk menghancurkan markas Devil tentu tidak dilakukan pelan-pelan. Malam itu juga, Bryand menyerang markas kelompok yang dengan sengaja mengahdang mereka di simpang sembilan tadi.
"Hancurkan markasnya, jangan sisakan satupun, termasuk ketuanya....!", perintah Bryand pada bawahannya dan disanggupi.
Mereka menyerang dengan tiba-tiba, sehingga kelompok Devil tidak ada persiapan untuk melawan.
Hancur...
"Sampah...!!", umpat Bryand melihat markas musuh dibakar.
Bryand memberikan laporan kepada Jo dan diterima, lalu ia kembali ke apartemen miliknya. Tentu di sana tidak ada siapa-siapa. Biasanya ia disambut kekasihnya Jeny, tetapi karena kekasihnya itu mendampingi istri bosnya ke Spanyol, akhirnya ia hanya seorang diri.
.
.
.
.
.
.
Waktu berlalu.
Claudya tiba di Spanyol. Tidak nampak lelah di wajahnya, karena sepanjang perjalanan menuju kota Madrid, ia tertidur lelap di pesawat. Toh diakibatkan Jo yang menggempurnya beberapa kali sehingga membuat tubuhnya butuh istirahat yang banyak.
"Nyonya muda, saya sudah membuat janji bertemu dengan klien kita besok siang pukul 14.00 di restaurant hotel xx...", ucap Jeny.
"Siang sekali, Jen?", tanya Claudya.
"Karena hanya itu waktu yang kosong dari klien tersebut...", jawab Jeny seadanya.
"Baiklah. Istrhatlah dulu... Besok baru kita bekerja...", ucap Claudya.
Jeny meninggalkan nyonya muda itu sendirian di kamar hotel dan kembali ke kamarnya. Sedangkan Lusia, sudah disuruh istrhat terlebih dahulu karena ia sangat lelah.
"Aku sudah sampai..", bunyi pesan yang disampaikan Claudya.
Rata-rata durasi penerbangan nonstop dari I ke Spanyol adalah 31j 50m, mencakup jarak 12.774 km. Rute paling populer adalah J - Madrid dengan rata-rata waktu penerbangan 26j 25m.
Jo tidak membalas pesan yang disampaikan istrinya melainkan langsung menghubungi melalui panggilan video.
"Kamu sudah sampai, sayang?", tanya Jo lembut.
"Hmmm, sudah.. Kamu belum tidur, Rich?", Claudya balik bertanya.
"Sebenarnya sudah, hanya saja aku merindukanmu....", jawab Jo sambil memainkan kedua alis matanya.
"Hahahaha... Kamu terlalu berlebihan...!", ucap Claudya malu-malu.
"Hahahaha,... Kamu lucu ketika pipimu bersemu merah, Cla...", goda Jo.
"Jangan menggodaku, Rich...", jawab Claudya.
"Kamu tidak lelah", Jo bertanya.
"Aku tidur terlalu banyak di pesawat... Mataku masih bisa diajak begadang....", jawab Claudya.
"Hmmmmm... Kasurku sangat dingin...", rayu Jo.
"Itu karena AC, Rich.. Kita bukan lagi anak kemarin sore yang berpacaran...", Claudya membola malas.
"Hehehehe... Kamu tidak bisa dirayu dengan kata-kata, Claudya....", ucap Jo melemah.
Jo melihat istrinya menggunakan piyama seksi yang membuat tubuhnya panas dingin.
Claudya merasakan itu. Ia melihat tatapan Jo mengarah ke belahannya karena dia di posisi bersandar di kepala ranjang.
"Apa yang kamu lihat, honey?", ucap Claudya merayu.
Richard Jo dibuat tersenyum. Panas dingin tubuhnya. Adik kecilnya butuh dimanja kini rasanya.
"Kamu merayuku, Claudya....", balas Jo dari seberang dengan berat.
"Kamu melihat ini...", lagi Claudya merayu dengan menurunkan sebelah tali piyamanya sehingga terpampang jelaslah semangka milik Claudya meski hanya sebelah saja.
Jo mulai panas. Darahnya bergerak hebat.
"Akhhh, sial....", rancau Jo yang melihat istrinya mulai merayunya.
"Atau yang ini, honey?", lagi Claudya menggoda dengan menurunkan sebelah lagi tali piyamanya sehingga dua buah semangka terpampang jelas tanpa kain penghalang.
"Claudya Gitta.... Akhhhh, aku menyerah....!", ucap Jo yang dibalas tertawa oleh Claudya di seberang.
"Atau yang lain, sayang....??", Claudya merayu lagi, ia bangun dari ranjangnya dan meletak handphone di meja TV yang berhadapan lurus dengan ranjangnya setelah itu menurunkan pakaian tidur seksinya sampai di ujung kaki.
Terpampang jelas tubuh wanita itu yang hanya mengenakan kain segitiga.
Jo semakin tidak kuat, sehingga melakukan hal yang sama seperti Claudya lakukan, tetapi bedanya, tubuhnya sudah polos.
Dari balik panggilan Video, mereka melakukannya. Self service.
Terdengar suara Cla yang berteriak panjang, juga kini Jo ikut berteriak juga...
"Akhhhhh......".......