
Di Markas Black Hunter.
"Let me go (Biarkan aku pergi)..", teriak Seo yang kini terikat di kursi penyiksaan.
"My boss will make the decision (Bosku yang akan membuat keputusan)..", jawab Jack acuh.
Seo semakin bergerak berusaha melepaskan diri dari belitan tali yang mengikat tangan dan kakinya.
"Don't mess around in my own country. You don't know who you're dealing with (Jangan macam-macam di negaraku sendiri. Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa)..", ancam Seo.
Jack hanya tertawa diikuti oleh beberapa anak buah mereka yang ada di situ.
Memang markas Black Hunter yang berada di Korea hanya sedikit anak buahnya. Apa lagi beberapa orang anak buah sudah ditugaskan di beberapa tempat, seperti di perusahaan JS Group, juga menjaga keamanan Claudya dan Jeny, serta keamanan markas mereka.
"I want to see how far you can go and get into the life of Mrs. Claudya (Saya mau melihat sejauh mana anda bergerak dan bisa masuk ke dalam kehidupan nyonya Claudya)..", ujar Jack.
"Hahahahaha. You underestimated me, ******* (Kamu meremehkan ku, brengsek)..", Seo tanpa takutnya membantah Jack.
"I warn you, stay away from Mrs. Claudia or you are dealing with people you never imagined (Saya memperingati anda, jauhi nyonya Claudya atau kamu berurusan dengan orang yang tidak pernah kamu bayangkan)..", Jack balik mengancam.
"I am not afraid of your threats. Your master is no match for me. I'm richer and can destroy his company in one phone call (Saya tidak takut dengan ancamanmu. Tuanmu itu tidak sebanding denganku. Aku lebih kaya dan bisa menghancurkan perusahaannya dalam sekali panggilan telepon)...", ucap Seo berbangga diri.
"We'll see, Mr. Seo...", balas Jack santai.
Panggilan berdering di saku jas milik Jack.
"Halo, Tuan...".
"Bagaimana pengganggu itu?", tanya Jo.
"Dia sepertinya sangat keras kepala, Tuan...", jawab Jack.
"Buatlah sedikit cedera di tulang keringnya. Katakan itu hanya peringatan kecil. Aku tidak ke sana. Istriku mau ke pulau Jeju, jadi siapkan penerbangan ke sana dan pengawalan. Urus pria sipit itu sesegera mungkin...", perintah Jo.
"Baik, Tuan. Jam berapa anda akan berangkat?", tanya Jack.
"Dini hari nanti... Sudahlah.. Aku mau berperang dulu....", ucap Jo dari seberang telepon.
"Berperang? Apa perlu bantuan ku, Tuan?", tanya Jack polos.
"Makanya menikah, supaya tahu artinya perang, Jack... Sudahlah.. Dini hari jam empat kami berangkat. Siapkan sesuai perintah...", Jo lalu mematikan panggilan sebelah pihak tanpa menunggu Jack menyahut.
Setalah panggilan berakhir, Jack bingung. Dahinya mengernyit heran.
"Ada apa, bos?", tanya salah satu anak buah.
"Tuan bilang dia ingin berperang. Tapi tidak mau mengajak kita, lalu menyuruhku menikah. Maksudnya?", Jack heran.
Anak buah tersebut tertawa mendengar keluh Jack.
"Mengapa kau tertawa?".
"Bos, Tuan Rick akan baik-baik saja... Haahhaahhaa", tawa anak buah itu semakin keras sehingga membuat Jack heran.
"Heiii, ada apa???", Jack belum mendapatkan jawaban pasti, namun anak buah itu berlalu pergi.
Bingung pasti. Jack adalah pria polos, ya tidak polos-polos amatlah, namun berurusan dengan wanita, ia adalah es batu. Tau artinya kan?
Jack yang masih bingungpun kembali menatap Seo.
"Buat tulang keringnya sedikit retak sebagai peringatan...", perintah Jack diangguki oleh anak buahnya.
Mereka bersiap dengan tongkat baseball, lalu memukul tulang kering milik Seo sehingga membuat pria sipit itu berteriak kesakitan.
" It's just a small warning from my boss... (Itu hanya peringatan kecil dari Bosku)", ucap Jack.
"Lepaskan dia, turunkan dia di jalanan, jangan lupa tutup matanya sehingga dia tidak tahu letak markas kita...".
Anak buah Jack melakukan sesuai perintah.
.
.
.
"Richhhhhh...", rancau Claudya yang lagi mendapat pelepesan kesekian kalinya.
"Sedikit lagi, baby".
Jo terus bergerak cepat. Hingga sepersekian detik ia pun berteriak panjang.
Jo selalu mengucapkan terima kasih setelah selesai bertarung.
Rasa lelah bercampur lega pastinya. Belum bertemu di beberapa bulan perpisahan, membuat kedua orang itu saling merayu juga memimpin memberikan kepuasan.
"Rich...", panggil Claudya yang berada dalam dekapan suaminya.
"Hmmm? Ada apa?", tanya Jo.
"Bagaimana ceritanya kamu bisa bergabung dengan organisasi bawah tanahmu apalah namanya itu..?".
"Black Hunter.. Mau aku ceritakan?", tanya Jo.
"Kalau boleh...".
"Baiklah.. Sebenarnya Black Hunter itu aku dan sahabatku yang membentuknya. Perusahaan Dady Don sangat besar. Kamu tahu itu. Dady memang memiliki pengawal yang sangat baik. Namun aku adalah orang yang tidak pernah puas....", jeda Jo.
"Iyaaa, kamu tidak pernah puas.. Buktinya saja, sejak kamu sampai, kita sudah melakukan berulang kali...", keluh Claudya dengan kesal.
"Tapi kamu puas dan senang kan?", goda Jo sambil mengecup bibir istrinya.
"Apaaan sih...? Lanjutkan ceritanya..", ucap Claudya.
"Saat itu usiaku sembilan belas tahun. Namanya anak muda, mau mengenal dunia luar, apa lagi dunia malam. Club menjadi tempat aku sering menghabiskan waktu mudaku bersama Bryand. Tetapi harus kau ingat, aku hanya minum, tidak menggoda wanita atau bermain dengan wanita manapun. Kamu orang pertama untukku..".
"Aku percaya padamu...", sahut Claudya.
"Aku bertemu dengan sahabatku tidak sengaja ketika aku dan Bryand pulang dari Club. Dia dikejar orang tak dikenal. Aku membantunya, juga Bryand. Akhirnya kami berteman, dan yahhh, meskipun ia lebih tua dariku, pembawaanya seperti anak seusiaku membuatku nyaman. Namanya David orang Swedia. Pengawal Dady Don kuat, tetapi aku ingin lebih kuat. Aku bercerita padanya bahwa pernah pengawal orang tuaku lalai, sehingga Momy Regina diculik oleh saingan usaha Dady, sehingga seminggu itu kami semua dibuat sangat kuatir. Akhirnya David memberiku saran untuk membentuk suatu kelompok bayangan. Aku setuju. David yang mencari orang-orang kuat untuk masuk ke kelompok kami. Awalnya hanya untuk menjadi pengawal bayangan bagi keluargaku juga David, namun kurang lebih tujuh bulan, banyak yang mengeluh karena bayaran kurang. Aku menguras tabunganku untuk membayar orang-orang itu, begitupun David.
Kami berdua akhirnya memutuskan untuk membuka usaha ilegal. Perdagangan senjata juga barang-barang antik yang harganya fantastis. David ahli dalam hal senjata juga barang antik. So, dengan bisnis itu kami bisa membayar semua orang dalam organisasi..", cerita Jo.
"Dan dari bisnis itu juga kamu memiliki banyak musuh...", sargah Claudya.
"Ya yayaya.. Aku akui itu. Namun meskipun tidak dengan organisasi itupun, musuh di dunia bisnis legal tetap ada.. Dan musuh dari Dady Don adalah musuhku juga..".
"Lalu, kenapa mereka memanggilmu Mr Rick atau namamu diganti dengan sebutan Ricky Reztath?".
"Aku menutupi identitas asliku agar musuh di dunia bawah tidak mengenalku sama sekali, sehingga ketika terjadi penyerangan, usahaku di bisnis ilegal yang jadi sasarannya, bukan JF Group.. Namun, ada pengkhianat yang berhasil mengetahui identitas asliku.. Sehingga tersebar di dunia bawah. Maklum, informasi mengenai diriku berharga mahal.. Heheheh".
"Aku ingin mengenal sahabatmu yang bernama David itu...".
"Kamu tidak bisa lagi bertemu dengannya..", guratan kesedihan terlihat di mata Jo.
"Kenapa?".
"Dia sudah di tempat paling jauh yang tidak dapat digapai oleh manusia hidup...".
"Sudah meninggal?", penasaran Claudya.
"Yaaa...", jawab Jo.
"Apa penyebabnya?", tanya Claudya lagi.
"Kami melakukan pengiriman senjata ke Afrika, David yang mengurusnya, namun terjadi serangan yang tidak kami duga. Beberapa anak buah kami menyeleneng karena dijanjikan bayaran yang besar oleh kelompok lain, sehingga dengan tidak siapnya, David tertembak tepat di jantungnya, cuma sekali.....", Jo terlihat sudah menggenang.
"Lalu?".
"Yaahh, Aku bertemu Alvaro, seorang yang paling ahli dibidang teknologi, sehingga ia bekerja padaku karena aku menolongnya dari kematian. Ia membantuku mencari dalang pembunuhan David menggunakan anak buahnya yang terlatih.. Jadi, yaaah, setelah mendapatkan sasaran kami, organisasi ku menyerang markas itu besar-besaran di Polandia. Kami tidak menyisakan satu pun orang yang bernapas. Aku marah, aku benci, juga kecewa atas diriku sendiri karena tidak berada di sisi David saat terakhirnya..".
"Bisnis ilegalmu hanya itu?", tanya Claudya penasaran.
"Yaaaa... Soal perempuan, narkoba, juga pengedaran organ tubuh itu tidak benar. Kamu bisa mengeceknya sendiri jika kamu bersedia...", ajak Jo.
"Tidak usah.. Namun aku mohon padamu, Rich.. Berhentilah mengotori tanganmu dengan darah.. Selesaikan urusanmu di organisasi itu, dan lepaskanlah jika kamu mau memiliki anak dariku. Kau tahu kan? Aku tak mau jika anakku tumbuh menjadi pembunuh, atau musuhmu lebih dulu menyakiti anakku...", ucap Claudya sungguh-sungguh.
"Tunggu waktu yang tepat. Aku harap kamu bisa bersabar Cla...", dijawab anggukan oleh Claudya.
Mereka berdua akhirnya terlelap beberapa jam sebelum berangkat ke Pulau Jeju dini hari nanti.