
Jo dan istrinya berangkat ke Pulau Jeju beserta rombongan anak buahnya.
Pulau Jeju dijuluki Samdado, "Pulau yang Berlimpah dengan Tiga Hal" yaitu, bebatuan, wanita dan angin. Karena memiliki keindahan alam dan kebudayaan yang unik, Pulau Jeju adalah salah satu objek wisata paling terkenal di Korea. Dalam catatan sejarah, Jeju disebut dalam berbagai nama, mulai dari Doi, Dongyeongju, Juho, Tammora, Seomna, Tangna atau Tamra.
Claudya terperangah melihat keindahan pulau tersebut. Berbulan-bulan tinggal di Korea, Claudya belum sekalipun menapaki kakinya di Jeju karena ia lebih sibuk menghadapi krisis di dalam perusahaannya.
Kesempatan emas. Jo mengajaknya berlibur, namun tidak membiarkan Jeny sang asisten bekerja sendiri. Bryand lah yang disuruh datang menemani, juga sekalian membuat kesepakatan dengan tuan Bram. Jo tahu bahwa asistennya itu tersiksa beberapa bulan ini karena tidak mendapat kepastian akan hubungan dengan Jeny, karena wanita itu menutup akses komunikasi yang berkaitan dengan Bryand.
"Kamu suka?", tanya Jo.
Claudya hanya mengangguk. Udara yang segar di musim dingin, serta suasana vila yang nyaman membuat wanita itu enggan beranjak dari balkon kamar mereka.
"Kita bisa beli vila ini kalau kamu mau. Mungkin kita akan datang lagi ke sini...", tawar Jo.
"Boleh? Aku setuju jika kamu membeli vila ini...", jawab Claudya.
"Hmm.. Nanti Alvaro yang akan mengurusnya... Semoga kita datang di kali berikut tidak lagi berdua..".
Claudya menaikan alis matanya dan menatap Jo intens.
"Nanti dengan anak-anak kita....", lanjut Jo yang mengerti arti tatapan Claudya.
Pipi wanita itu bersemu merah. Ia menyembunyikan wajah malu-malunya di ceruk leher suami.
"Kamu setuju kan?", tanya Jo.
Claudya hanya mengangguk saja.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita membuat adonannya sekarang? Siapa tahu hasil dari pulau Jeju ada di dalam perutmu nanti?", kekeh Jo yang tiba-tiba saja menggendong istrinya ke dalam kamar.
"Berjanjilah padaku untuk berhenti dari organisasi bawah tanahmu, Rich...", ucap Claudya dengan napas memburu karena Jo sudah bermain di pucuk semangka.
"Baiklah.....", suara berat Jo yang sudah tak tahan.
Pakaiannya dilepas begitu saja. Claudya melihat tongkat sang suami sudah berdiri tegak.
"Aku yang memimpin....", ucap Claudya.
"Boleh...", balas Jo lalu membalikan tubuhnya. Ia yang kini berada di bawah kukungan wanitanya.
Claudya menyusuri leher prianya, turun dan terus turun menuju ke area gagah sang suami.
Menyesap, mengulum, dan memberi pelumas.
"Claaaahhh, jangaannnn berhenti......".
Claudya tersedak.
Mendengar itu, tangan Jo langsung terlepas dari kepala Claudya.
"Maaf.. Aku terlalu bersemangat...".
Claudya mengangguk dan tersenyum.
"Kita ke menu utama....", ucap Claudya.
Jo mengikuti alur yang diberi istrinya.
Ia adalah pria yang dimanjakan istrinya. Hal ini juga sebagai bentuk permintaan maaf Claudya yang tidak memberikan atau jarang memberikan hak yang Jo mau.
Claudya mengekspresikan dirinya di atas Jo.
Kadang naik turun, kadang ngebor... Kadang maju mundur gesek.
.
.
.
.
.
Di apartemen Jeny.
Bryand yang sudah sampai sore hari langsung menuju apartemen kekasihnya yang berada di sebelah apartemen Claudya.
"Bry...", tubuh Jeny kaku. Ia tak menyangka jika Bryand menyusulnya ke sini.
"Boleh aku masuk?", tanya Bryand.
"Bo-boleh...", jawab Jeny gagap.
Bryand melangkah masuk dan diikuti oleh Jeny.
"Ada apa?", tanya Jeny saat Bryand sudah duduk di sofa ruang tamu yang terhubung dengan ruang nonton itu.
"Emmm, aku ada pekerjaan di sini... Kamu apa kabar?".
"Ba-baik... Kalau kamu?".
"Tidak sedang baik-baik saja.. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja...", ucap Bryand tulus sambil tersenyum.
Jeny seolah terhipnotis akan senyum Bryand. Senyum yang ia selalu di dapatkan ketika sedang bersama. Entah makan malam bersama, atau sedang merengkuh kenikmatan. Dan itu hanya untuk Jeny.
Bryand adalah manusia kaku yang jarang tersenyum sama seperti Jo. Kadang beberapa karyawan JF Group yang mencoba menarik perhatiannya pun dibuat menyerah duluan, daripada harus bertatap dengan muka datar itu.
Jeny hanya mengangguk.
"Kamu mau minum apa?", tawar Jeny.
"Apa saja.. Racun pun aku siap...".
Jeny menoleh ke arah Bryand saat ia mau melangkah menuju dapur.
"Maksudmu?".
"Kamu seperti racun, Jen. Perlahan tapi pasti akan membunuhku. Bukan ragaku, tapi hatiku...", keluh Bryand.
"Ma-af". Jeny tertunduk, namun ia kembali melangkah menuju dapur. Matanya terasa panas. Sekian bulan ia abaikan pria itu.
Sampai di dapur, ia mengusap matanya yang berair, ia tidak mau terlihat rapuh. Sudah pilihannya meninggalkan Bryand. Ia harus terlihat kuat di depan pria itu.
Namun sayang, pelukan hangat diberikan Bryand yang menyusulnya ke dapur.
Jatuh juga ia. Tubuhnya lemas. Melihat Bryand berjuang untuk menjalin komunikasi serta kedatangan Bryand sampai ke Korea meruntuhkan pertahanannya.
"Aku merindukanmu.. Sangat merindukanmu...", Bryand lirih di belakang tengkuk Jeny.
Jeny berusaha melepaskan pelukan Bryand, namun pria itu terlalu kuat.
"Ma-maaf, Bry... Kita sudahi saja. Rencana pernikahan kita batal. Aku akan berbicara dengan ayahku nanti..", ucap Jeny dengan suara bergetar.
Bryand membalikan tubuh wanita itu. Menatap dalam matanya, masih terlihat guratan kesedihan yang dipendam.
"Kenapa?", tanya Bryand.
"Kau tahu bagaimana kejadian aku dan nyonya muda di sekap. Tubuhku sudah dilihat oleh beberapa orang, bahkan aku telanjang di hadapannya. Tanganku, bibirku, bahkan merasakan milik orang lain meski itu bukan kemauanku...", kini Jeny sudah tak tahan lagi. Ia berderai air mata.
"Heiii, jangan menangis.. Kamu lupa sesuatu? Aku menerima apapun yang ada padamu..", lembut Bryand membelai pipi wanitanya.
"Tetapi aku menjijikan, Bry... Kamu tidak malu memiliki wanita bekas orang lain?", tanya Jeny.
"Untuk apa malu?? Jika kamu malu, tidak dari awal kita menjalin hubungan, Jen.. Sekarang baru kamu katakan malu? Apa karena kamu berusaha lepas dari Lucius dengan cara membuatnya bergairah lalu menggigit dan menendang selangkangannya? Atau karena dari awal aku tidak mendapatkanmu dalam keadaan utuh?", Bryand sedikit menaikan nada bicara.
"Semuanya, Bry.. Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih sempurna...", ucap Jeny berusaha melepaskan diri dari Bryand.
"Sempurna seperti apa, ha? Virgin? Tubuhnya belum pernah telanjang di depan laki-laki lain?", tanya Bryand emosi.
"Yaaa.. Itu lebih baik.. Aku pernah telanjang untuk mantan kekasihku, kamu, juga pernah telanjang di depan Lucius brengsek itu...", ia kecewa pada dirinya sendir yang tidak bisa menjaga sesuatu.
"Lalu karena itu kamu mau membatalkan rencana pernikahan kita? Hm? Begitu? Picik sekali pikiranmu...", kesal Bryand lalu pergi dari hadapan Jeny menuju ke ruang tamu.
"Bryand....", panggil Jeny mengikuti langkah prianya.
"Apa? Kamu mau aku mendapatkan yang sempurna? Tidak ada wanita sempurna di dunia ini...! Utuh? Kamu tidak utuh? ha? Tangan, kaki, atau otakmu yang tidak utuh? Aku katakan berulang kali, aku menerimamu apa adanya dirimu, Jen.. Lalu kejadian soal Lucius, itu kemauanmu? Ha?", emosi Bryand meninggi.
Jeny gemetar karena belum pernah melihat Bryand sangat marah seperti itu.
"Dengar Jen, kalau kamu mau mendapatkan yang sempurna, maka kamu pun harus sempurna. Coba sebutkan, bagian mana dari diriku yang sangat sempurna??".
Jeny membisu. Ia diam.
"Jawab...", teriak Bryand.
"Kamu belum pernah melakukannya dengan permpuan lain selain aku.. Artinya aku orang pertama bagimu, tetapi kamu bukan orang pertama bagiku.. Dari situ saja sudah tercetak jelas kepincangan antara kita berdua...".
"Aku memang belum pernah tidur dengan wanita manapun selain denganmu, lalu dari situ kamu menjadikan tolok ukur untuk hubungan kita? Bagaimana jika aku mendapatkan gadis yang masih bersegel, tetapi tidak ada cinta di dalamnya? Jangan memikirkan seolah kamu paling disakiti, atau kamu paling kotor di dunia ini...!!".
"Tapi...", Jeny menjeda ucapannya.
"Apa? Karena masalah Lucius? Batangnya masuk ke dalam milikmu? Tidak kan? Lalu apa masalahnya?".
"Kamu tidak mengerti bagaimana seorang perempuan jika sudah begitu....".
"Iya, aku memang tidak mengerti tentang perempuan, tapi aku tidak bisa menerima alasanmu untuk memutuskan sebelah pihak mengenai hubungan kita yang sebentar lagi akan menikah...".
Bryand sangat emosi. Napasnya naik turun. Ia belum mau berjalan dari apartemen itu.
"Bry....", kini Jeny berusaha untuk bersuara lembut. "Kamu tidak jijik padaku?".
"Sini, mendekat...", panggil Bryand.
Jeny masih terpaku pada posisinya.
"Kamu mau ke sini, atau aku yang ke situ dan kita berakhir di ranjang mu?", ancam Bryand.
Jeny mendekat.
"Duduk di pangkuanku...", perintah Bryand dan diikuti oleh Jeny.
"Sebelum aku memutuskan untuk menjalin hubungan denganmu sejauh ini, aku tahu kamu bukan lagi seorang gadis. Aku tahu kamu sering melakukan hal itu dengan kekasihmu. Aku paham. Itu cerita lama. Masa lalumu yang harus kamu kubur. Kamu denganku, kisah kita berbeda, meski selalu berakhir di atas ranjang.. Tetapi ingat, aku mencintaimu dengan tulus. Kamu tahu caranya bersyukur saat aku memilihmu untukku, kamu tahu caranya membahagiakan aku. Bukan hanya dengan urusan ranjang, tetapi urusan perut juga selalu menemaniku saat tuan Jo memberikan pekerjaan yang menumpuk. Mendukungku, dan menasehatiku. Kamu membuatku merasa sangat diperlukan olehmu, menempatkan aku di dalam hatimu..", ujar Jo pelan dengan tangannya bermain di pipi sang wanita yang basah.
"Tapi...".
"Stttttt... Aku tahu bagaimana perjuanganmu untuk melawan Lucius... Aku tidak masalah dengan itu, aku tahu kamu sangat menjaga nyonya muda agar tidak disentuh oleh Lucius. Kamu berandil besar dalam hal itu.. Kalau tidak, mungkin bukan hanya kamu yang dilecehkan, tetapi juga nyonya muda.. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku tetap mencintaimu dengan apa adanya kamu.. Okey? Aku tidak jijik denganmu atau apapun itu.. Aku malahan bersyukur menjadi priamu yang kau butuh.. Kita hanya harus saling melengkapi agar menjadi sempurna. Tidak ada orang yang sempurna.. Percumakan kalau aku menjalin hubungan dengan seorang gadis, tetapi ia tidak bisa menghargai aku seperti kamu menghargai aku? Lalu untuk apa? Agar mendapatkan titel bahwa aku yang membolonginya? Percuma kalau menjalin suatu hubungan dengan tidak adanya kebahagiaan di dalamnya. Jen... Aku mencintaimu, dan aku bahagia denganmu...", Bryand mengecup kening wanitanya.
Jeny menatap mata Bryand, tulus. Tidak ada kebohongan.
"Ma-maafkan aku, Bry....", ucap Jeny lalu menghambur mencium bibir prianya. "Terima kasih...".
...****************...