
"Empat hari lagi? Dadakan?", Jeny kaget dan menekan pedal rem di tengah jalan.
"Jen? Dua kali selama dua hari ini kau hampir membuatku merenggang nyawa....!!", teriak Claudya di dalam kendaraannya.
"Maaf, Nona.. Saya kaget dengan apa yang anda katakan", alasan Jeny tepat.
"Iya... Tapi tidak begini juga dong.... Untung di belakang kita tidak ada kendaraan lain... Kalau tidak? Bukan malam pertama yang aku dapatkan.....", protes Claudya sambil menendang kursi bagian belakang yang di duduki Jeny.
"Terus malam apa?", tanya Jeny bodoh.
"Ya malam-malam dia sendirian lah....!!", jawab Claudya jengah.
"Kan bisa dapat penggantinya?", ucap Jeny lagi mengundang kemarahan Claudya.
"Wah, Jeny..... Sepertinya kau bosan hidup ya?", tanya Claudya dengan seringai.
"Bukan begitu maksud saya, Nona...", sesal Jeny karena kalimat yang dilontarkan tanpa disaring dulu.
"Akhhh, sudahlah. Antarkan aku pulang ke rumah utama...", perintah Claudya.
Kendaraan yang ditumpangi mereka pun kembali dilakukan Jeny.
Di rumah utama keluarga Lee.
"Ayah....", panggil sang istri dengan nada menggoda.
"Jangan menggodaku, sayang... Ini masih siang...!", sahut Ayah Albert
"Siapa yang menggoda? Ge er....!".
"Terus? Panggilan dengan nada menggoda itu apa, Bu?", tanya Alber pada istrinya lagi.
"Cuma manggil...", jawab sang istri kemudian berlalu ke dapur.
"Ada apa??", tanya Albert lagi.
"Tidak ada..!!", sang istri terus tersenyum menyahut.
"Apa?", tanya Albert yang terus mengikuti langkah istrinya ke luar masuk dapur.
"Minggir, Yah....", keluh sang istri karena dipepeti sang suami.
"Jadi apa, Bu?".
"Tanya saja pada ikan-ikan di kolam yang tiap hari di kasih makan sampe lupa sama istrinya...", kesal Ellena sang istri.
"Kok ikan sih?", tanya ayah Albert lagi.
"Iya... Manjain tu ikan.. Sekalian tidur sama ikan sana...!!!", usir Ellena kemudian mendorong suaminya keluar dari dapur.
Para asisten rumah tangga mereka tersenyum dengan tingkah Tuan besar dan nyonya besar itu. Sangat harmonis. Jauh dari kata pertengkara. Begitulah kira-kira.
Ayah Albert tidak menyerah. Kembali ia mengganggu sang istri dengan serentet pertanyaan yang sama dan pastinya jawaban sama juga dijawab istrinya.
Claudya yang sudah tiba di rumah utama melenggang ke dalam dan melihat tingkah orang tuanya hanya memutar bola matanya malas.
"Ehemmmmm...", deheman Claudya mengganggu sepasang suami istri yang bertingkah bagaikan tom and jery. "Kalau mau mesra-mesraan, di kamar sana. Jangan membuat mata pera asisten yang jomblo itu berdosa...", saran Claudya sambil siap-siap berlari dari amukan sang ibu.
"Siapa yang bermesraan? Orang lagi bertengkar kok...!", sahut sang ayah.
"Hehhh.. Orang buta dan tuli mana yang mengatakan itu?", tanya Claudya semakin mundur siap berlari.
Asisten Jeny yang berada di belakang Claudya pun hanya terkikik geli.
Perlahan mata sang ibu mulai nyalang menatap Claudya.
"Aduhhhhh.....", pekik Claudya dan Jeny setelah jatuh bersama.
"Ngapain ada di sini sih?", tanya Claudya yang kemudian bangkit berdiri setelah di bantu asisten Jen.
"Ya, ngapain juga Nona lari?", ditanya balik oleh Jeny.
"Huhhh...", desah Claudya yang tidak sadar bahwa singa di belakangnya siap menjewer kupingnya.
"Ibu... aduh ibu.... sakit", keluh Claudya tiba-tiba saat ibunya menjewer telinganya.
"Apa yang kau lakukan sehingga Tante Regina memajukan pernikahanmu dengan anaknya?", tanya Regina tanpa melepas jeweran ditelinga anak perempuannya itu.
"Tidak ada, Bu...", sahut Claudya berbohong.
"Jadi, yang tadi ibu maksud manggil ayah itu berita ini?", tanya Albert pada sang istri.
"Hmm", jawab sang istri.
Albert kemudian menatap Claudya dengan herannya.
"Jadi? Kita akan melakukan persiapan pernikahan ini buru-buru?", tanya Ayah lagi.
"Iya....", jawab anak dan istrinya kompak.
"Cieee, kompak..", ejek sang ayah.
Ellena dan Claudya menatap Albert dengan jengkel.
"Baiklah. Tidak mudahkan? Anak buah ayah akan membantu calon besan kita mengaturnya segera...", ucap sang ayah lalu berlalu pergi menghubungi ayahnya Jeny sebagai orang kepercayaannya selama ini.
"Prim, bantu Ken untuk mengurus pernikahan putriku...!", perintah Albert tegas.
"Bukannya sudah, Tuan besar? Dua Minggu lagi kan?", tanya Primo bingung.
"Tidak...! Dimajukan empat hari lagi....", kemudian mematikan sepihak panggilan itu karena ia tahu, bahwa Primo dapat mengerti apa yang harus dilakukannya.
Di sisi lain. Keluarga Jo Fernand.
"Ken, bagaiman persiapannya?", tanya Don pada asisten kepercayaannya.
"Sudah 65 persen, Tuan Don...", jawab Kenta. "Asisten Tuan Albert pun ikut membatu, jadi kemungkinan, dua hari lagi terhitung dari hari ini semuanya siap, Tuan....".
"Undangan?".
"Beres, Tuan Don....!!", sahut Kenta lagi.
"Hubungi asisten Bryand dan Alvaro. Minta mereka mengosongkan jadwal Rich untuk dua Minggu ke depan", ucap Don kemudian berlalu pergi dari ruangan kerjanya disusul oleh Kenta.
"Sudah juga, Tuan Don...".
"Satu lagi. Suruh si es batu itu pulang ke rumah utama...!", perintah tegas dan langsung diangguki oleh Kenta.
"Momy.....", panggil Don ketika tidak melihat istrinya di rumah besar itu.
"Di mana istriku?", tanya Don saat melihat asisten rumah tangganya berada di ruang keluarga sedang membersihkan perabotan.
"Nyonya besar keluar, Tuan. Katanya menjemput Tuan Muda...", sahut asisten rumah tangga yang dikenal bernama Surti itu.
Don hanya mengangguk.
"Kau akan ku hukum es batu.....", seringa Don menyiapkan rencana untuk mengerjai anaknya nanti...