Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 60



Kegiatan Jo dan Claudya di dalam ruangannya semakin panas. Lalapan yang sudah disiapkan dibiarkan di atas meja, sedangkan mereka berdua tidak menggunakan kamar pribadi tempat beristirahat Jo yang ada di dalam ruangannya itu, melainkan meja kerja Jo yang kini sudah semakin berantakan.


Kertas berhamburan di lantai, dress yang dikenakan Claudya sudah tegelatak di layar komputer, pakaian dalam wanita itu entah sudah berada di mana. Jangankan Claudya, Jo pun sudah tidak peduli dengan kancing kemeja kerjanya ketika dibuka paksa oleh Claudya.


Pakaian berhamburan, alas kaki entah kemana perginya.


Des@@han semakin kuat. Sejak hamil, gairah Claudya semakin meningkat. Ia kadang meminta lebih dulu atau menggoda Jo yang kadang sedang sibuk. Bahkan jika Jo pulang larut malam pun, Claudya sudah menyambutnya di atas ranjang kamar mereka tanpa sehelai benangpun yang melekat. Belum bisa tidur kalau belum keluarrr.


"Terussss, Cla... Iyaaaa, begitu.. Babby.....", rancau Jo ketika Claudya kadang menaik-turunkan bergerak cepat tubuhnya di atas Jo yang terbaring di meja kerjanya.


Claudya suka memimpin permainan. Ia paham siapa seorang Jo. Pria itu lebih suka kalau sang wanita agresif terhadap dirinya. Itu hanya berlaku untuk wanita yang ada di atas tubuhnya sekarang ini.


"Babbyyyyhhhh....", suara Jo semakin kuat karena kini posisi tongkatnya dilepas dari lembah lembab dan masuk ke dalam goa bergerigi milik wanitanya.


Jangan tanya sebelum itu. Selama pemanasan pun Claudya sudah keluar dua kali dan ketika dipimpin Jo, wanita itu pun sudah keluar berkali-kali. Ini yang disenangi Claudya. Jo selalu membuatnya melayang berulang kali.


Sesapan Caludya semakin kuat. Posisi Jo sedang berdiri bersandar di pinggiran meja kerjanya, dan Claudya sedang berlutut di hadapan prianya itu.


Alasan wanita ini kuat. Selama hamil pun ia tidak boleh lengah. Menolak untuk diajak ke nirwana dunia oleh suaminya adalah hal yang paling ia hindari. Alasannya satu, takut Jo jajan, meskipun pernah berbulan-bulan selama ia di Korea mereka tidak melakukan itu dan Jo sangat menjaga dirinya agar tidak bermain perempuan di luar sana.


"Terusshhh, sayang... Sedikit lagi.....", Jo menengadah.


Wanitanya sangat agresif. Terus mengulum dan menghisap meski ia tahu bahwa laki-laki yang sedang berdiri di depannya sangat tahan lama.


"Aku keluarrrrrrr", teriak Jo menekan kepala sang istri. Air kehidupan tumpah di dalam mulut wanitanya dan beberapa tetes menetes dari mulut hingga ke dagu wanita itu, dan yang lain, sudah di dalam kerongkongan.


Muntah? Tentu tidak. Kejadian itu sudah berulang kali untuk Claudya. Kadang ia menelan seluruh air ajaib milik Jo dalam mulutnya.


"Terima kasih....", ucap Jo tersenyum pada istrinya dan membantu wanita berperut besar itu untuk berdiri. Mengecup keningnya, serta memeluknya.


Napas tersengal terdengar dari deruan keduanya.


"Ke kamar mandi?", tawar Jo.


"Aku lapar, kita makan dulu...", jawab Claudya lalu beranjak ke sofa yang ada di ruangan suaminya dalam keadaan tak berhelai benang.


Jo tersenyum. Claudya bukan tipe pemalu seperti wanita pada umumnya. Toh suaminya sudah sering kali melihatnya dalam kondisi seperti itu, apa lagi yang harus ia tutupi?


"Aku ambilkan selimut dulu...", ujar Jo lalu bergerak ke dalam ruangan istirahatnya melakukan hal yang ia bicarakan.


Mereka berdua duduk di sofa mengunyah makanan dengan tubuh ditutupi selimut.


Jo menyuapi istrinya. Ia tahu, bahwa tangan sang istri pasti lelah, karena tadi bekerja keras.


Makan siang sambil bercanda ria. Tertawa dan membahas hal-hal yang absurd seperti apa yang baru mereka lakukan tadi.


"Nanti malam lagi?", tanya Jo.


Claudya paham arah pembicaraan itu.


"Entalah... Jika aku tidak tidur duluan. Kamu sibuk hari ini?", Claudya balik bertanya.


"Tidak juga, aku pulang tepat waktu.. Jadi?", tanya Jo memastikan.


"Emmm, kita lihat nanti malam...", jawab Claudya tersenyum menggoda.


.


.


.


.


Lain di dalam ruangan Jo, lain lagi dengan Bryand dan Jeny. Kedua asisten yang merupakan pasangan suami-istri itu sedang berdebat hebat di restaurant Padang.


"Mana ada paha ayam berlemak, sayang?", tanya Jeny.


"Ada... Ini.. Kamu lihat aku pisahkan, yaaa?", Bryand tidak mau salah.


"Mana? Itu isi, bukan lemak.. Yang kau pisahkan sedikit itu kulitnya, Bry...".


"Bukan, ini lemaknya.....", sahut Bryand tidak mau kalah.


"Kulit..".


"Itu tetap saja kulit.... Kamu ini bagaimana sih?", tanya Jeny.


"Iya, tapi ada lemak jugakan?".


"Hmm, terserah kamu...", dengus Jeny kesal. "Cepat habiskan.. Aku harus menjemput nyonya muda lagi untuk kembali ke kantor. Ada pertemuan dengan klien penting setelah jam makan siang...".


"Sebentar lagi pasti kamu akan kerepotan membuat jadwal ulang untuk pertemuan itu.. Percaya deh...", balas Bryand.


Ia tahu bahwa Pasangan aneh yang ada di kantornya itu pasti melakukan sesuatu lebih dari sekedar makan.


Belum lewat beberapa menit, tebakan Bryand benar.


tring-tring-tring..


"Halo, nyonya muda...", sapa Jeny.


"Akhhhhh, yaaaaahhh, Ha-haaaloo... Uhhhhh... Jennnn, attttturrrr u-u-ulanghhhhh pertemuan, akhhhhhhhh, per-oertemuan dengan klien.... Richhhhhhhhh, akhhhhh...".


Jeny mengernyit heran. Bryand yang samar-samar mendengar suara laknat itu pun tersenyum.


"Benarkan?", gumam Bryand pelan yang masih di dengar Jeny.


"Baik, nona... Selamat bersenang-senang....", Jeny tahu apa yang harus ia kerjakan.


"Heran.. Lagi begituan pun telepon... Bikin merinding... Iiiiihhhhh....", Jeny geram.


Ia lupa, bahwa Jo sering telepon tidak tahu waktu saat ia dan Bryand pun melakukan hal yang sama. Antara bos dan asisten tidak ada bedanya.


"Kita juga.. Ayoooo...", Bryand langsung menarik tangan Jeny yang belum siap apa-apa.


"Ke mana?", tanya Jeny yang jalannya ditarik oleh suaminya. Sepertinya laki-laki itu sudah dalam tegangan tinggi.


"Hotel dekat sini....", jawab Bryand.


Mereka berdua tentu tidak lupa bayar. Makanannya tak seberapa bayarannya, Bryand mengeluarkan tiga lembar uang merah taruh di atas meja makan itu.


.


.


.


.


Wijaya Group.


"Sonya, atur pertemuan dengan tuan Jo..", perintah Cantika.


"Pertemuan apa, nona?", tanya sang asisten.


"Atur saja. Di Royal restaurant...", lanjut Cantika.


Sonya hanya mengangguk. Ia tidak tahu rencana apa yang akan dilakukan majikannya itu.


Baru tadi pagi bertemu, sekarang harus membuat pertemuan baru lagi.


Beberapa saat.


"Maaf, nona.. Seminggu ke depan Tuan Jo akan ke Spanyol.. Jadi kata sekretarisnya belum bisa jika dalam waktu dekat ini...", lapor Sonya setelah menghubungi sekretaris Ve.


"Spanyol? Kapan berangkat?", tanya Cantika.


"Kurang tahu, mungkin besok atau lusa...", jawab Sonya.


"Siapkan tiket. Kita susul Tuan Jo di sana tiga hari lagi...", Cantika tersenyum.


Kesempatan. Ia harus memanfaatkan kesempatan yang ada.


"Apa yang anda rencanakan, nona?", tanya Sonya heran.


"Aku akan membuatnya bertekuk lutut di bawahku.. Kita lihat saja pria dingin itu akan merengek meminta dipuaskan olehku...", jawab Cantika dengan seringai di wajahnya.


"Anda bisa jadi tumis kangkung kalau anda gegabah, nona....", batin Sonya.