Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 33



Sangat mudah bagi Frank Cole untuk mendapatkan nomor kontak Claudya, hanya saja ia mau bermain pelan, agar tidak adanya rasa risih dari sang perempuan.


"Sudah kau hubungi asisten wanita itu?", tanya Frank pada orang kepercayaannya.


"Sudah, Tuan.... Namun jadwal mereka beberapa hari ke depan sangat padat di sini, apalagi JS Group akan membuka cabangnya di negara ini...!", lapor asisten itu.


"Desak mereka...! Katakan bahwa kerjasama kita harus segera dilaksanakan.. Ku tahu kau pintar mencari alasan..", perintah Frank lagi.


"Saya sudah mengatakan sebaik mungkin, Tuan.. Hanya saja mereka tetap menolak untuk bertemu secepatnya...!", jawab Asisten itu.


"Baiklah, biar aku yang berbicara langsung dengan wanita itu..!", ucap Frank lalu mengirim pesan kepada Claudya.


Ting...


Bunyi pesan masuk ke handphone Claudya.


"Kau mau tahu siapa suamimu? Atau apa yang disembunyikan darimu?", isi pesan Frank.


Claudya yang membaca pesan tersebut mengernyit heran. Nomor baru.


"Siapa?", balas Claudya.


"Kau akan tahu nanti.. Temui aku di Sain Restaurant, ruangan VIP nomor 5", jawab Franks melalui pesan.


"Kapan?", lagi Caludya membalas dengan penasaran.


"Besok sore, pukul 16.00 waktu setempat...", balas Frank kemudian tersenyum penuh arti.


Claudya hanya membalas "oke", lalu pergi ke kamar mandi menyelesaikan ritualnya sambil berpikir.


Benar selama ini ia penasaran akan apa yang pernah terjadi padanya, lalu siapa suaminya sehingga lebih banyak musuh daripada saingan bisnis perusahaan suaminya.


"Apa yang kau sembunyikan, Rich? Aku mencoba membuka hati untukmu, namun banyak pertanyaan tentangmu yang belum ku ketahui meski kita sudah melakukan hal lebih untuk suami istri. Namun aku belum mengenalmu sepenuhnya..", gumam Claudya pelan di dalam kamar mandi.


Keesokan harinya.


Richard Jo tiba di Spanyol pagi-pagi buta, langsung menuju hotel tempat istrinya menginap tetapi memesan kamar berbeda. Ia ingin tahu, atau lebih tepatnya jadi penguntit untuk istrinya.


"Al, hubungi aku jika ada yang penting. Tetap awasi pergerakan istriku. Aku ingin istirahat...", ucap Jo lalu masuk ke kamar yang dipesannya.


Al mengangguk lalu ikut masuk ke kamar di sebelah kamar tuannya.


Jo tidak ingin menyadap handphone milik Claudya, karena baginya itu adalah privasi, namun cincin pernikahan mereka terdapat GPS sebagai penentu posisi yang terhubung ke handphone milik Jo.


Gelap berganti pagi.


Claudya tentu sibuk dengan segala aktivitasnya karena perusahaannya mau membuka cabang baru di negara itu.


Mulai dari mengecek gedung, barang-barang, dan surat-menyurat untuk membangun sebuah perusahaan baru. Semuanya dicek langsung oleh anak kedua pemilik JS Group tersebut.


Tak terasa sebentar lagi pukul 16.00 waktu setempat, sehingga membuat Claudya mencari cara agar bisa bertemu dengan orang yang mengiriminya pesan semalam secara pribadi.


"Jeny, kembali ke hotel duluan, aku ingin ke suatu tempat...", ucap Claudya.


"Tapi, nyonya...?", jeda Jeny mau melanjutkan perkataannya namun disanggah oleh Claudya.


"Jangan membantahku, Jen.. Pulanglah bersama Lusia, ada Jack yang menjagaku..!", lagi Claudya berucap tidak ingin dibantah.


Jeny mengangguk, lalu mengajak Lusia pergi dari tempat itu.


Lusia bingung, seharusnya mereka terus bersama-sama agar bisa saling menjaga, namun apalah daya, ia hanya seorang bawahan sehingga tidak mampu untuk membantah.


Sebelum keluar, Jeny hanya mengangguk pada Jack.


Jack paham artinya anggukan tersebut, karena ia juga mendengar apa yang dikatakan oleh Claudya.


Sedangkan Jo, masih mengawasi dari jauh gerak-gerik istrinya.


"Ke mana dia?", tanya Jo pada Alvaro.


"Saya kurang tahu, Tuan...", jawab Alvaro sekenanya.


"Ikuti..!", perintah Jo kemudian Alvaro melajukan mobil yang mereka gunakan mengikuti Claudya bersama pengawalnya.


"Jeny, ke mana Nyonya muda?", tanya Jo ketika handphonenya terhubung melalui panggilan kepada Jeny.


"Saya kurang tahu, Tuan... Nyonya hanya mengatakan ia ingin sendirian ke suatu tempat...", jawab Jeny.


"Baiklah, kalian akan diantar anak buahku yang lain ke hotel..", ucap Jo lalu mematikan teleponnya.


Mereka kemudian berhenti di sebuah restaurant mewah. Saint Restaurant.


"Untuk apa dia ke sini?", gumam Jo penasaran.


Richard Jo dan Alvaro masuk ke dalam restaurant hotel itu mengikuti Claudya yang ternyata meninggalkan Jack di salah satu meja pengunjung sedangkan dirinya menuju ruangan VIP lantai paling atas restaurant tersebut.


"Jack, kenapa kau di sini?", tanya Alvaro mengahmpiri Jack.


"Tuan...", sapa Jack yang kaget karena kedatangan kedua tuannya itu tanpa sengetahuan dirinya.


"Hmm. Ada apa?", tanya Jo dingin.


Jack yang mendengar suara berat Jo berkeringat dingin. Ia tahu, sebentar lagi ia akan dihukum oleh Jo karena tidak mengikuti perintah tuannya.


"Nyonya muda bersikeras untuk tidak mau saya ikuti sampai ke dalam Tuan...", jawab Jack ketakutan.


"Ke mana?", lagi Jo bertanya dengan dingin.


Di dalam ruangan VIP nomor lima.


"Kita bertemu lagi, nona Claudya.. Atau ku panggil nyonya muda?", sapa Frank Cole sambil berjabat tangan dengan Claudya.


"Tuan Frank. Ternyata anda yang menghubungiku semalam..", balas Claudya tersenyum.


"Anda cantik ketika tersenyum, nona Claudya..", goda Frank.


"Jangan menggodaku, Tuan Frank. Anda tahu status saya istri siapa..!", ucap Claudya.


Frank tersenyum. "Seperti yang diceritakan orang, anda tidak mudah tergoda dengan rayuan..!", kata Frank sambil mempersilahkan Claudya duduk di depannya yang di batasi dengan meja.


"Silahkan bicara, tuan Frank.. Saya tidak punya banyak waktu...", Claudya to the point.


"Kita makan dulu, baru berbicara, nona...", ucap Frank.


"Sepuluh detik anda tidak berbicara, saya tinggalkan tempat ini...!", ancam Claudya.


"Wouwww.. Santai, Nona Claudya.. Baiklah saya akan langsung berbicara...", ucap Frank sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat yang besar kepada Claudya.


"Apa ini?", tanya Claudya heran.


"Di sana, ada beberapa data mengenai suami anda, Tuan Richard Jo, atau biasa kami sapa dengan Mr. Rick..", jawab Frank tersenyum.


Claudya mengernyit heran. Ia pernah mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan Mr Rick pada suaminya.


"Jelaskan...!", perintah Claudya setelah membaca beberapa data mengenai suaminya.


Frank tertawa.


"Suami anda adalah musuh beberapa kelompok bawah.. Seperti yang anda lihat, informasi itu berisi bisnis apa saja yang dilakukan oleh suami anda di dunia bawah sehingga ia terlihat sangat kaya raya...", ucap Frank menjelaskan.


"Maksudnya..?", Claudya semakin penasaran. Dadanya sudah naik turun karena merasa ditipu oleh seluruh anggota keluarga suaminya.


"Suamimu adalah pemimpin sebuah organisasi bawah tanah, Black Hunter... Bisnisnya mencakup seluruh aspek ilegal yang dilarang...!", ucap Frank menambah-nambah.


"Ilegal?", lagi Claudya penasaran.


"Yupsss.. Anda tahu, narkoba, senjata, permpuan, organ tubuh... Semua bisnis itu dijalani oleh suami anda...", sahut Frank sambil mengambil kembali dokumen yang ada di tangan Claudya.


"Apakah suami seperti itu yang anda harapkan, nona?", tanya Frank mulai tersenyum menyeringai ketika melihat Claudya yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh lelaki di depannya itu.


"Jangan membohongiku...", bantah Claudya.


"Saya tidak membohongi anda, nona.. Apa anda lupa jika saya pernah menyapa suami anda ketika kita bertemu di negara anda?", tanya Frank lagi.


Claudya menghela nafasnya panjang lalu membuangnya. Ia terlihat sangat emosi.


"Anda jug termasuk orang seperti itu...!", ucap Claudya lalu bangun dari duduknya.


"Maksudnya..?", Frank bertanya tanda tak paham.


"Anda dan suami saya berurusan di dunia yang sama.. Jadi anda tidak berbeda dari suami saya.. Dan satu yang anda ingat, kerjasama kita batal, Tuan Frank..", sahut Claudya lalu berjalan ke arah pintu ruangan itu.


"Anda tidak lupakan pinalti yang harus anda bayar jika kerjasama kita dibatalkan?", teriak Frank yang dari tadi berpikir bahwa Claudya akan menangis tersedu-sedu, padahal nyatanya, Claudya berdiri tegar menghadapi kenyataan itu.


"Saya akan membayarnya sesuai perjanjian.. Permisi...", jawab Claudya lalu membuka pintu dan keluar dari ruangan VIP itu.


Di depan pintu, sudah berdiri suaminya.


"Kamu baik-baik saja, Cla?", tanya Jo yang ingin memegang lengan istrinya tetapi ditepis.


"Jangan menyentuhku..!", balas Claudya kasar. "Dan satu lagi, jangan pernah mengirim anak buahmu atau apalah untuk mengawasi ku...!".


"Ada apa sebenarnya?", tanya Jo yang tidak semakin tidak paham ke mana arah pembicaraan mereka.


"Jangan pura-pura tidak tahu, Tuan Jo.. oh tidak.. atau tuan Ricky Reztath?.. Ternyata saya menikahi iblis...!", sarkas Claudya lalu meninggalkan Jo yang ada di situ.


Jo melirik sekilas ke dalam ruangan itu dan napasnya mulai naik turun ketika melihat siapa yang ada di dalamnya.


Frank pun kaget dan ketakutan, karena ia tidak tahu Jo berada di situ juga.


"Sial, anak buahku tidak memberiku informasi...", gumam Frank pelan.


Jo memberi kode agar Jack mengikuti istrinya, tetapi tidak boleh diketahui oleh istrinya, sedangkan pria itu kini duduk di depan lawannya.


"Lama tidak bertemu, Frank...!", sapa Jo menyeringai.


"Rick......", sahut Frank gugup.


"Kenapa? Anak buahmu tidak memberimu informasi mengenai kedatanganku?", tanya Jo.


"Sial....", maki Frank.


"Al, urusi dia.. Bawa ke markas.. Jangan biarkan satu orangpun menyentuhnya sebelum aku datang..!", perintah Jo pada Alvaro yang ada di sampingnya.


"Kau tidak akan bisa menangkap ku, Rick..", balas Frank yang berusaha kuat.


"Anak buahmu tidak akan bisa menyerang ku di sini...", balas Jo menyeringai dan meninggalkan bogeman mentah ke wajah Frank lalu pria itu pingsan.


Alvaro mengurusi Frank, sedangkan Jo yang sudah mendapat laporan mengenai keberadaan Cla langsung menuju ke tempat itu.


"Jangan gegabah, Claudya.....", gumam Jo sambil menyetir dengan kecepatan tinggi, karena Claudya berada di sebuah bangunan tua pinggir kota untuk menenangkan diri namun berdiri di balkon atas paling ujung.


...****************...