Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 35



Rumah Sakit Universitario La Paz, Madrid- Spanyol, pukul 09.43 PM.


Jo terbaring di ruang operasi. Pisau yang menancap ditemukan luka di bagian usus halus, sehingga usus halusnya harus dipotong sepanjang 40 cm.


Beberapa anak buah Jo yang mengantarnya pun masih berdiri dan harap-harap cemas akan kondisi bos mereka.


"Bagaimana keadaan Tuan Rick?", tanya Alvaro yang baru sampai di rumah sakit itu.


"Tuan Rick sedang dioperasi, Tuan...", jawab salah satu anak buahnya.


"Ahhhh, sial.... Yaaaa, Bryand.... Aku harus menghubunginya...!", gumam Alvaro.


Tut, Tut, Tut....


"Hmmm, ada apa?", Bryand menjawab panggilan tersebut.


Jarak waktu lima jam pun tidak dihiraukan oleh Alvaro guna menyampaikan kabar.


"Tuan Jo di rumah sakit....", lapor Alvaro langsung.


Bryand yang matanya masih sayup pun tiba-tiba langsung membola.


"Apa kau bilang? Ulang", sahut Bryand kaget.


"Tuan Jo di rumah sakit. Beliau terkena tusukan oleh Frank sehingga sedang dioperasi...!", lagi laporan panjang Alvaro sampaikan.


"Sial....! Aku segera ke sana...!", lagi Bryand menjawab.


"Buat apa? Sepertinya pemulihan Tuan Jo akan memakan waktu sebulan, jadi anda tetap di situ menjaga perusahaan. Biar saya yang menjaga Tuan di sini...!", sanggah Alvaro.


"Hmmm, baiklah... Laporkan perkembangan Tuan padaku setiap jam...", Bryand berucap.


"Memangnya anda tidak tidur atau bekerja jika anda hanya menunggu laporan dari saya setiap jam?", tanya Alvaro seperti orang bodoh.


"Bukan begitu, Al... Ahhh, sudahlah... Laporkan seperti apa yang aku katakan..", sahut Bryand lalu mematikan sepihak panggilan teleponnya.


Alvaro di seberang sana bingung. "Apa yang salah ya?", gumamnya dalam hati.


Tiga jam setelah operasi, Jo dipindahkan ke kamar VVIP di rumah sakit tersebut dengan penjagaan ketat.


Orang-orang di rumah sakit pun bingung, banyak orang berjas yang berjaga di sekitar kamar inap Jo.


"Disculpe las molestias, doctor (Maaf atas ketidaknyamanannya, dokter)", Alvaro menggunakan bahasa Spanyol.


Jangan bertanya bagaimana ia mampu berbahasa Spanyol dengan fasih, itu karena belajar.


"Está bien. ¿Parece que es una persona importante tan protegida de esta manera (Oh, tidak apa-apa. Sepertinya beliau orang penting sehingga banyak yang berjaga)", jawab Dokter yang menangani Jo.


"Él es nuestro amo, por lo que se debe mantener su seguridad y comodidad. Por favor entiende (Beliau adalah tuan kami sehingga keselamatan serta kenyamanannya harus terjaga. Harap anda maklumi)", Alvaro memberi penjelasan.


"Está bien, lo entiendo (Baiklah, saya paham)", jawab dokter tersebut kemudian memeriksa keadaan Jo yang masih belum sadar pasca operasi.


"¿Cómo está usted, doctor? (Bagaimana keadaannya, dokter?)", tanya Alvaro setelah dokter selesai.


"Tuvimos que cortar cuarenta centímetros de su intestino delgado porque el pinchazo le dio en el intestino (Kami harus memotong empat puluh centi usus halusnya karena tusukan yang beliau dapat mengenai usus tersebut)", dokter memberi penjelasan untuk dipahami oleh Alvaro.


Pria itu melirik sekilas Jo yang sedang terbaring dengan beberapa alat medis masih melekat di tubuhnya.


"¿Cuándo se despertó? (Kapan ia siuman?)", lagi Alvaro bertanya seperti wartawan.


"Esperaremos hasta mañana por la mañana. Si sigue inconsciente, tomaremos medidas adicionales. Entonces me disculparé, todavía tengo un paciente que tratar (Kita tunggu sampai besok pagi. Jika dia masih belum sadar, berarti kita akan ambil tindak lanjut. Kalau begitu saya permisi, masih ada pasien yang harus saya tangani)", jawab dokter sekaligus permisi pergi dari ruangan itu.


"Gracias, doctor (Terima kasih, dokter)", ucap Alvaro membiarkan dokter itu pergi.


Alvaro pun ikut ke luar dari ruangan dan menghubungi Bryand karena asisten satu yang berada di negara seberang sedang menunggu berita darinya.


"Bagaimana?", tanya Bryand to the point setelah panggilan dari Alvaro ia terima.


"Tusukan Frank mengenai usus halus Tuan Jo, sehingga ia menjalani proses pemotongan usus sebesar empat puluh sentimeter", lapor Alvaro panjang lebar.


"Tetapi Tuan Jo baik-baik saja kan?", panik Bryand.


"Hm.. Sejauh ini baik-baik saja. Tuan masih belum sadar. Kata dokter kita harus tunggu sampai besok pagi waktu setempat..", Alvaro menjelaskan.


"Menurutmu, harus kita laporkan pada Tuan besar dan Nyonya besar?", Bryand minta pendapat.


"Untuk urusan itu saya serahkan kepada anda, Tuan. Kalau begitu saya matikan teleponnya..", jawab Alvaro tidak mau banyak berpikir.


"Heeee, asisten menyebalkan, aku minta pendapatmu...!", kesal Bryand.


"Menurut saya, tunggu sampai Tuan Jo sadar baru kita laporkan pada Tuan dan Nyonya besar", saran Alvaro.


Bryand pun setuju lalu mematikan sepihak teleponnya.


Pagi tiba.


Jo perlahan mulai sadar. Pria itu membuka matanya namun penglihatannya masih kabur karena masih menyesuaikan cahaya di ruangan itu.


Alvaro yang tertidur larut dikagetkan dengan gerakan Jo yang menjatuhkan gelas di samping nakas ranjangnya.


"Tuan....", sapa Alvaro kaget. "Anda sudah sadar? Apa yang harus saya lakukan? Bagian mana yang sakit, Tuan?", tanya Alvaro seperti berlari maraton. Kaget bercampur senang.


"Ssstttttt...", Jo hanya mengeluarkan sedikit suara dan memberikan tanda diam dengan menggunakan bibir dan jari telunjuknya.


"Anda mau minum, Tuan?", lagi Alvaro bertanya dengan pelan.


Jo mengangguk.


Asisten kedua Jo itu langsung bergerak cepat mengambil gelas baru yang berada di dalam laci nakas, menuangkan air minum, meninggikan sandaran tempat tidur Jo, lalu membantu tuannya minum.


"Terima kasih....", ucap Jo. "Berapa lama aku tidak sadarkan diri?", tanya Jo kemudian.


"Kira-kira 12 jam, Tuan...", jawab Alvaro sekenanya, padahal dia juga tidak menghitung.


"Hmmmm. Claudya bagaimana?", Jo bertanya lagi.


"Nyonya muda sudah berangkat tadi malam pukul sebelas, Tuan..", jawab Alvaro.


"Laporkan ketika mereka sudah tiba di mensionku..!", ucap Bryand lalu kembali menutup matanya.


Alvaro hanya mengangguk lalu menghubungi Bryand sesuai dengan apa yang Bryand perintahkan.


.


.


.


.


.


Sesaat sebelum pesawat take off.


"Saya sudah menemukan organisasi swasta penyewa bodyguard seperti yang anda minta, nona...", ucap Lusia sedikit berbisik agar Jeny tidak bisa.mendengarnya.


"Mana?", Claudya meminta tab yang dipegang oleh Lusia.


"Ini nyonya. Semua data ada di dalamnya..", sahut Lusia lalu menyerahkan tab yang berisi file tentang bodyguard yang akan disewa oleh bosnya.


"Centinental? Sepertinya tidak asing...", gumam Claudya.


"Benar, nona. Organisasi ini biasanya disewa oleh beberapa pejabat publik serta pengusaha kaya raya di Negera kita..", Lusia memberikan penjelasan.


"Legalitasnya ada kan?", tanya Claudya.


"Ada nona. Di situ sudah tertera legalitasnya. Di sahkan oleh kementrian terkait..", jawab Lusia yang sudah memeriksa data tentang organisasi itu selama perjalanan mereka dari hotel menuju bandara.


"Baiklah. Hubungi orang yang punya organisasi itu. Aku akan bertemu dengannya langsung setelah tiba...", perintah Claudya.


Lusia langsung melakukan kontak dengan orang yang dimaksud.


.


.


.


.


"Tuan, ada yang ingin menggunakan jasa kita, hanya saja orang itu mau bertemu langsung dengan anda...!", lapor asisten yang bernama Paul Lasiantar.


"Siapa?", tanya sang pemilik organisasi yang dikenal dengan panggilan Lucius.


"Orang yang menghubungiku adalah sekretaris dari nona Lee Claudya..", jawab Paul.


"Lee Claudya dari keluarga Lee pemilik JS Group?", tanya Lucius sekali lagi.


"Benar, Tuan...!", jawab Paul.


"Menarik... Interesting... Hahahahhahahaha", Lucius tertawa.


"Mengapa anda tertawa, Tuan?", tanya Paul heran.


"Lee Claudya Gitta adalah istri dari Richard Jo Fernand, atau nama lainnya dikenal di dunia bawah dengan panggilan Mr. Rick..", gumam Lucius dengan senyum smirk.


"Maksud anda, pemimpin organisasi bawah Black Hunter itu, Tuan?", tanya Paul lagi.


"Yuptsss.. Jika wanita itu meminta organisasi kita untuk melindunginya, berarti Black Hunter sedang tidak baik-baik saja....", sahut Lucius.


Paul tetap belum konek dengan apa yang disampaikan oleh bosnya. Ia hanya mengangguk tanda mengerti agar tidak terlihat bodoh.


"Jadwalkan pertemuanku dengan Lee Claudya segera..!", perintah Lucius langsung dikerjakan oleh Paul.


"Sudah, Tuan. Ia masih dalam perjalanan dari Spanyol... Saya akan jadwalkan lusa jam delapan malam di retaurant milik anda..!", lapor Paul.


"Baiklah, lebih cepat lebih baik.....", gumam Lucius.


...----------------...


Tetap stay di sini yaaa... Juga jangan lupa, share, vote, like sebanyak-banyaknya. Tuhan memberkati para readers sekalian...


☺️☺️☺️