
Bryand keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa merapihkan pakaiannya.
"Nikahi anak orang, Bry....", nasihat Jo ketika berhadapan dengan Bryand.
Jeny yang keluar juga dengan malu, langsung menunduk. Ia berdiri di belakang Bryand, karena teringat kejadian kemarin akibat kelalaiannya juga.
"Kamu mau dipake terus tapi tidak dinikahi, Jen? Aku akan berbicara pada ayahmu...!", ancam Claudya yang berada di sebelah Jo.
Mereka berdua ibarat tersangka yang sedang diadili, eh bukan. Memang mereka tersangka.
"Nikahi Jeny dalam bulan ini, Bryand. Tidak ada kata tunda, atau apapun itu...!", tegas Jo.
Bryand dan Jeny sudah berencana untuk menikah, namun keadaan di sekeliling mereka belum memungkinkan untuk melangsungkan pernikahan.
"Tapi, tuan.....", jeda Bryand dengan menatap Jo.
Jo yang paham arti dari tatapan itu pun mengangguk.
Jeny langsung pergi ke depan rumah megah itu karena sebentar lagi Claudya akan berangkat ke kantornya.
"Hati-hati..", ucap Jo sambil mengecup singkat bibir Claudya karena wanita itu akan berangkat duluan ke JS Group.
Bryand yang melihat itu melongo. "Kemarin perang, hari ini tenang....!", gumam pria itu dalam hati.
Jo melangkah menuju ruang kerjanya, juga diikuti oleh Alvaro dan Bryand.
"Laporkan...", perintah Jo.
Alvaro paham. Dia melaporkan situasi yang terjadi.
"Perusahaan utama Frank dijaga ketat, Tuan. Database perusahaannya sangat sulit ditembus...".
"Bukan berarti tidak bisa kan?", tanya Jo.
"Saya akan berusaha, tuan. Dan satu lagi. Ada pergerakan bawah tanah oleh kelompok baru, Tuan. Penyamaran mereka menyamai kita..", lapor Alvaro lagi.
Jo dan Bryand menaikan kedua alisnya.
"Maksudnya? Menggunakan tipe taktik kita dalam penyamaran atau menggunakan atribut sama seperti yang kita gunakan?", tanya Bryand penasaran.
"Mereka menggunakan atribut kita, Tuan. Namun ada satu orang di antara mereka yang lengah...", ucap Alvaro lalu menyerahkan beberapa lembar bukti foto yang ia dapatkan dari anak buahnya.
Jo dan Bryand menelisik foto tersebut, dan menemukan sesuatu.
"Di lehernya terdapat tato yang bertuliskan BT?", duga Jo.
"Benar, Tuan. Dan ini, arti dari tulisan tersebut. Black Trust..", jawab Alvaro.
"Siapa pemimpinnya?", tanya Jo penasaran.
"Orang yang tidak kita duga. Dia teman anda sewaktu kuliah di London...", Alvaro memberikan data pemimpinnya.
"Samuel Lincoln?", eja Jo.
"Benar, Tuan. Lelaki cupu berkaca mata itu...", jawab Alvaro. "Dia anak pertama dari Tuan Libert Lincoln, namun sepertinya Tuan Lincoln tidak mempercayai anak pertamanya itu untuk memimpin CIG Group, sehingga dilimpahkan ke anak keduanya, Alaves Lincoln", jelas Alvaro panjang lebar.
"Kamu mendapatkan data ini dalam semalam?", tanya Bryand kagum.
Alvaro hanya mengedikan bahunya, berlagak sombong.
Tentu data tersebut dengan muda didapatkan, karena setiap rekan bisnis yang bekerja sama dengan JF Group selalu mendapatkan pengawasan yang ketat, serta gerakan beberapa anak buah terpercaya mereka sangat cepat untuk mendapatkan informasi mengenai dunia bawah tanah.
"Kerja bagus, Al...", puji Jo.
Alvaro yang mendapatkan pujian dari bosnya semakin girang melebarkan senyum menampilkan deretan giginya, serta sedikit menggoyangkan pinggulnya.
"Kamu diliburkan hari ini... Bisa ajak Verena untuk quality time berdua...", lanjut Jo lalu bangun dan melangkah keluar ruang kerjanya menuju mobil yang sudah berada di depan rumahnya.
Alvaro menggoyangkan pinggulnya semakin menjadi, sekaligus meledek Bryand, karena apabila dia dan Verena diliburkan, otomatis pekerjaan Bryand menumpuk.
Bryand sangat dongkol dengan tingkah Alvaro, sehingga membuatnya ingin menjitak kepala asisten kedua itu.
"Bryand.........", panggil Jo.
Bryand pun berlari buru-buru ke mobil, sedangkan Alvaro menjulurkan lidahnya mengejek Bryand.
"Panggil si Kancil ke markas...", ucap Jo kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil yang ditumpanginya.
"Siap, Tuan...", jawab Alvaro segera menjalankan mobilnya sekaligus menghubungi si Kancil.
"Kode 5", ucap Bryand setelah panggilannya terhubung ke orang yang dimaksud.
Kode 5 artinya bos memanggil ke markas.
Markas milik Black Hunter terdapat di dalam hutan, dan hanya satu jalan menuju markas itu. Tidak ada orang awam yang dapat masuk ke jalur itu, karena itu dikhususkan untuk anggota Black Hunter. Seluruh wilayah hutan yang luasnya mencapai 1000 hektar adalah wilayah milik Black Hunter, sehingga markas itu terbebas dari urusan pemerintah. Toh uang dapat membicarakan segalanya.
Jo tiba di markas. Pria itu di sambut ratusan anak buahnya yang berada di situ, karena Jo jarang sekali datang ke markas setelah ia menikah. Lebih sering Bryand atau Alvaro. Musuh-musuh Jo pun disekap di situ, atau bahkan dihabisi di markas itu.
Si Kancil masuk ke ruangan Bosnya.
"Tuan Rick...", sapa pria yang seumuran dengan adiknya.
"Hm..", Jo hanya membalas dengan deheman saja. "Apa yang kau dapat?", tanya Jo langsung.
Jo menaikan sebelah alisnya karena informasi itu.
"Sudah saya bereskan , Tuan Rick....", jawab si Kancil karena paham apa yang Jo maksud.
"Apa lagi?", tanya Jo.
"Hari ini Frank kembali ke Spanyol, Tuan...", lapor si Kancil lagi.
Jo tersenyum. Frank harus kembali, karena perusahaannya membutuhkan dirinya. Anak buah Alvaro gencar meretas data perusahaan cabang milik Frank, mau tidak mau, ia harus pulang ke perusahaan utamanya, membiarkan perusahaan yang lain di sini hancur.
"Juga, kelompok baru itu, mereka semalam mengirim satu kontainer besar berisi anak perempuan. Sekitar 85 orang", lapor si Kancil.
Jo meradang. Ia juga punya kelompok gerakan bawah tanah, tetapi tidak menjual belikan manusia atau organ manusia.
"Ke mana?", tanya Jo memastikan.
"Las Vegas, Tuan Rick...", jawab si Kancil. Informasi itu dia dapatkan dari anak buah BT yang ia tangkap dan sekap di sebuah gudang tidak jauh dari pelabuhan itu.
"Bryand.. Gunakan helikopter, bawa beberapa anak buah, yang lain menggunakan kapal kita untuk mencegat pengiriman itu...", perintah Jo.
Bryand paham, dan langsung bergerak cepat.
"Tetap awasi pergerakan musuh juga orang-orang yang tahu tentangku...!", perintahnya pada si Kancil.
Si Kancil mengangguk lalu pergi meninggalkan Jo di dalam ruangan itu sendiri.
"Baiklah, sekarang aku ingin bermain dengan si Tuyul...", gumam Bryand dalam hati lalu menuju ke penjara tempat si Tuyul dikurung.
"Hei, Tuyul...", panggil Jo dari balik jeruji.
Mendengar suara orang yang ingin ia habisi, laki-laki itu langsung meradang.
"Richard Jo, brengsek......!!", maki orang itu.
"Apa, Tuan Thomas?", jawab Jo santai.
"Lepaskan aku....! Ku bunuh kau...!", umpat Thomas.
"Hahahahhaha.. Kau ingin membunuhku? Lihat saja dirimu, Thom? Tinggi dua gelas, mau menghabisi ku?", tanya Jo santai.
"Sialllll.. Jangan memandangku secara fisik, bangsat...!", maki Thomas.
"Terus? Nyali? Alasan ku memanggilmu Tuyul karena kau, pendek, nyalimu juga pendek, bos...", hina Jo lagi.
Muka Thomas memerah menahan amarah. Tidak dapat disembunyikan ekspresi itu meski tubuhnya terlihat kotor, juga darah yang mengering.
"Lepaskan aku, kita bertarung, maka kau akan melihat bagaimana aku membunuhmu...!", geram Thomas sambil memegang jeruji besi dan menggoyangnya.
"Baiklah, kau yang memintanya...", ucap Jo lalu memberikan kode kepada anak buahnya yang berjaga di situ.
Perkelahian terjadi.
Jo dengan santai menghindari segala serangan Thomas.
"Mau tangan kosong atau bersenjata, bos?", tanya Jo meremehkan, memancing amarah Thomas.
Jo memerintah anak buahnya untuk memberikan senjata pada Thomas berupa sebuah lembing, sedangkan Jo dengan tangan kosong melawan Thomas.
Ketika Thomas akan melakukan penyerang, Jo memberikan kode, untuk bersabar.
"Sabar.... Jas dan kemejaku mahal, aku buka dan letakan dulu....", ucap Jo santai.
Anak buahnya yang menonton pertandingan tersebut dibuat melongo, tetapi Jo tetap santai. Membuka seluruh bajunya (hanya baju ya..) dan memberikannya kepada salah satu anak buahnya.
Tubuh Jo terlihat sangat sempurna. Bidang dan impian kaum hawa.
"Ayo, mulai....", ajak Jo pada Thomas.
Mereka berdua mulai kembali perkelahiannya. Serang Thomas dihindari oleh Jo, sehingga laki-laki itu terlihat sangat kelelahan.
"Lelah?", tanya Jo tersenyum remeh.
Thomas yang melihat itu semakin emosi, sehingga pada serangan berikutnya, ia dibuat jatuh dengan sekali tendangan Jo.
Lelah, juga tubuhnya terasa sakit, membuat Thomas tidak lagi dapat berdiri. Jo menendang jauh lembing yang digunakan Thomas sebagai senjata. Antisipasi.
"Kau tahu, aku bukan Richard Jo Fernand yang kau kenal, Thomas. Aku Ricky Reztath, dan hanya itu namaku yang harus diketahui oleh kaum seperti kita....", ucap Jo lalu pergi dari tempat itu.
Sebelum keluar dari ruangan penyekapan, Jo memberi perintah pada anak buahnya.
"Buang dia ke kandang singa..!!!."...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
......................
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
......................