Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 6



"*Berperang?",....


"Ya. Siapkan dirimu nanti malam*", ucap Jo kemudian mematikan panggilan.


"Wahhh, ini laki-laki menyebalkan.. Selalu saja begitu...", sungut Claudya.


"Bagaimana, Nona? Jadi?", tanya Jen.


"Jadi, Jen. Hanya saja pria itu mengajakku berperang. Maksudnya? Baru bilang DP lagi. Memangnya berperang itu butuh DP ya?", heran Claudya.


"Nona kurang berpengalaman", senyum Jeny. "Artinya ya begitulah, Nona".


"Begitulah apa? Yang jelas dong, Jen..!!", jengkel Claudya.


"Ya urusan laki-laki dan perempuan yang berpasangan, Nona...".


Claudya diam setelah mendengar jawaban Jeny. Diam sesaat kemudian...


"Ihhhhhh... Gila kali tu orang? Belum apa-apa sudah minta yang aneh-aneh", Claudya bersungut sambil meremas bantal sofa yang sedang ia pegang.


"Iya, Nona. Seperti yang Nona pikirkan..", Jen berucap.


"Tapi saya penasaran, Jen. Senikmat apa itu?", tanya Claudya.


"Yah, tergantung... Kalau menurut saya pria seperti Tuan Jo sangat tidak menyenangkan. Lihat saja perawakannya...", nilai Jen.


"Menurutku juga begitu, Jen. Jadi malam ini, siapkan gaun yang paling seksi. Saya mau menantangnya. Bisa apa dia nanti", seringai Claudya.


"Baik, Nona", jawab Jen.


-------------- 20.00 di Restaurant Cristall Glass..


"Kamu cantik", puji Jo setelah duduk di depan Claudya yang berbatasan dengan meja di ruangan VVIP restaurant tersebut


"Terima kasih,... Kamu tampan" Claudya berucap dengan senyum.


"Tetapi pakaianmu sepertinya kekurangan bahan, Nona Claudya Gitta", seringai Jo.


"Ah, benarkah? Sepertinya matamu harus dioperasi Tuan Richard Jo....", jawab Claudya.


"Ya, benar... Coba perhatikan? Dadamu sepertinya akan menyembul keluar dengan pakaian itu...", tunjuk Jo dengan dagunya.


"Anda sangat perhatian, Tuan. Tenang saja, pakaian ini saya hanya gunakan di depan anda dan di dalam ruangan tertutup seperti ini..", ucap Claudya.


"Berarti anda dengan maksud menggodaku, Nona Cla?", tanya Jo.


"Bagaimana menurutmu?", Claudya balik bertanya. "Apakah pantas disebut menggoda jika mengenakan pakaian dengan potongan dada rendah seperti ini?".


"Yah, tergantung. Niat anda tidak saya tahu, Nona. Bagaimana jika kita mulai makan malam ini?", saran Jo.


"Ah ya, saya hampir lupa. Silahkan.....!!", ajak Claudya.


Makanan pun disajikan kemudian mereka mulai memakannya. Claudya diam-diam mencuri pandang pada pria yang ada di hadapannya.


"Sangat-sangat tampan. Tetapi sayang, sangat menyebalkan. Kita lihat saja Tuan Richard Jo Fernand, anda atau saya yang akan menang dalam perang ini?", gumam Claudya dalam hati.


Richard Jo tetap santai mengunyah makanan sambil kadang tersenyum licik. "Lee Claudya Gitta , anda ternyata sangat cantik, namun sepertinya anda salah jika harus menggodaku. Lihat saja, sesuai ucapanku, akan ku dapatkan DP malam ini", Jo berucap dalam hati.


"Setelah ini kita ke mana, Tuan? Ada rencana?", tanya Claudya.


"Menurutmu? Kita ke hotelku..!", tanpa basa-basi Jo menjawab.


"Hotel, Tuan Jo? Anda serius?", tanya Claudya lagi dengan tangan kirinya sudah meremas gaun yang dipakainya.


Claudya hanya diam sambil berpikir bagaimana caranya bisa lolos dari pria menyebalkan itu.


"Ayo, Nona. Kita berangkat...!", ajak Jo yang kemudian menggenggam tangan kanan Claudya yang terletak di atas meja.


"Tapi, Tuan.....?", Claudya ragu melangkah.


"Akan kita bicarakan setelah sampai di hotelku nanti", ucap Jo sambil terus menarik Claudya berjalan keluar dari ruangan VVIP restaurant tersebut.


"Tunggu, Tuan...!!".


"Apa lagi nona Cla?", tanya Jo setelah melepaskan genggaman tangannya dari Claudya.


"Jaketku ketinggalan. Apakah anda mau semua orang direstaurant ini melihat saya berpkaian seperti ini?", kata Claudya.


"Kenakan cepat jaketmu, lalu kita pergi!!", perintah Jo tegas dan dengan cepat Claudya mengambil Jaket yang dikenakan menutup pakaian yang digunakannya sejak datang ke restaurant tadi kemudian sedikit berlari ke arah Jo dan kembali menggenggam tangan kiri Jo dengan tangan kanannya.


"Terima kasih, Tuan", tulus Claudya berucap.


Sampai di depan pintu restaurant.


"Antarkan saya dan nona Claudya ke hotel. Setelah itu, suruh asisten wanita itu pulang..", perintah Jo pada Bryand.


"Baik, Tuan", jawab Bryand.


45 menit perjalanan menuju hotel milik Jo, Claudya merasa tidak tenang. Sesekali ia menatap jalan yang dilewati kendaraan itu dengan membuang napas kasarnya.


Jo menyadari itu, kemudian tersenyum.


Sampai di hotel tepatnya kamar milik Jo, Claudya tidak diberi kesempatan untuk berbicara.


Jo dengan cepat mengapit Claudya di depan pintu kamar setelah pintu kamar itu ditutup Jo kemudian menyambar bibir Claudya dengan buas.


Seketika Jo sadar bahwa ini kali pertama Claudya berciuman, tiba-tiba ciumannya berubah lembut sampai Claudya pun ikut terhanyut dengan ciuman itu dan membalasnya namun terasa sangat kaku.


Jo menyeringai, "Bernapaslah Cla. Jangan ditahan...".


Jo membelai pipi Claudya dengan lembut, kemudian kembali mencium Claudya. Perlahan tangan Jo mengikuti naluri naf*sunya. Pelan namun pasti, Jo perlahan membuka jaket yang sedang dikenakan Claudya, lalu gaun seksi yang dikenakannya juga diturunkan oleh Jo.


Claudya terhanyut dengan ciuman itu mengalungkan lengannya di leher Jo.


Jo menuntun Claudya menuju ranjang king zisenya kemudian merebahkan perlahan Claudya tanpa melepaskan belitan lidahnya di dalam rongga mulut Claudya.


Tangan Claudya yang melingkar di leher Jo pun terlepas dan membantu membuka kancing kemeja Jo.


Jo semakin menyeringai melihat gerakan Claudya. Tubuh Claudya kini tinggal pakaian dalamnya saja sedangkan gaun dan jaketnya entah kemana dibuang Jo. Begitupun juga Jo.


Kini mereka berdua tinggal pakaian dalamnya saja. Jo tidak berhenti bermain di rongga mulut Claudya. Kamudian perlahan lidah Jo menyapu dan menghisap leher jenjang Claudya hingga meninggalkan bekas.


Samakin turun, Jo kembali membuka pengait kaca mata milik Claudya dan bermain di pucuk cokelat kemerahan dengan rakus, menyesap dan menghisap seperti kehausan.


Claudya semakin menggeliat dan mengeluarkan desa***han yang sedari tadi ditahannya.


Jo semakin bersemangat hingga tangannya terus turun menyusup di kain segitiga penutup lembah dan bermain di situ. Claudya semakin bergerak liar seperti ulat menggeliat kepanasan...


Tangan Jo terus bergerak, hingga Claudya mendesah panjang sambil mencengkram bahu Jo.


Jo semakin menyeringa setelah Claudya terus meronta meminta lebih, hingga tangan Claudya diarahkan Jo ke naga miliknya.


Mata Claudya membulat sempurna....


"Apa itu?"...........