Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 16



Swedia. 08.00 am.


"Kau sudah rapih mau ke mana?", tanya Cla yang merasa terganggu tidurnya dengan aktivitas sang suami.


"Aku ada meeting pagi ini. Kau tidurlah...!", sahut Jo yang sudah bersiap untuk pergi.


"Kita ini mau bulan madu atau kerja sih?", ketus Cla kemudian bersandar di kepala ranjang.


"Ya, bulan madulah...!!! Sambil menyelam minum anggur...!!", ucap santai Jo.


"Minum air, Tuan...!".


"Hehehehe... Baik-baiklah di sini... Kalau bosan, suruh asisten sengklek itu temani...".


"Siapa? Bryand?", tanya Cla.


"Bukan, si perempuan sableng...!", kemudian mengecup kening Cla, lalu sedikit meremas semangka milik wanita itu.


"Jeny? Oh aku lupa kalau ada si betina itu...!".


"Hm... Aku pergi...!".


Jo berlalu ke luar kamarnya.


"Tuan John sudah menunggu di restaurant, Tuan...!", lapor Bryand yang sedari tadi menunggu di depan kamar Jo dan Cla, lalu menyerahkan sebuah tablet berisi pekerjaan.


"Baiklah, kita pergi...!".


…......………


"Huhhhh... Dia seperti singa....!", keluh Cla setelah Jo keluar dari kamar mereka. "Haaaa.. Tapi sangat-sangat memuaskan...!".


tok-tok-tok


"Iya...? Sebentar....", Cla beranjak dari ranjangnya, mengenakan pakaian tidur minim kemudian membuka pintu kamar.


"Kau, Jen?", setelah melihat siapa yang mengetuk pintu kamar tersebut.


"Iya, Nona. Saya.... Nona mengharapkan siapa?", sambil mengamati sang majikan yang berdiri di depannya.


"Pikir suamiku...!", senyum Cla.


"Kalau suami, tidak mungkin mengetuk pintu kan?", tanya Jeny.


"Ah iya. Kau benar... Masuk, Jen..!", ajak Cla.


Mereka berdua masuk ke kamar itu. Jen melihat setiap sudut kamar yang berantakan apa lagi pakaian Jo masih berserakan di lantai kamar.


"Wah, Tuan Jo ganas ya?", Jeny bertanya lagi setelah memperhatikan kamar itu.


"Jangan berani membayangkan apapun, Jen..!!", ancam Cla.


"Tidak nona...", Jen menunduk.


"Pesan sarapan...!", perintah Cla. "Saya mau ke kamar mandi...", kemudian berlalu pergi ke kamar mandi.


"Baik, Nona..".


Sarapan yang dipesan Jeny beberapa saat lalu telah berada di kamar, sementara Cla baru selesai mandi.


"Nona, sarapan anda..!", ucap Jeny.


"Hm..". Jeny hanya bergumam, kemudian duduk di meja bundar yang ada di kamar itu berhadapan dengan Jeny.


"Apa tidak berganti pakaian dulu?", Jeny menyarankan Cla, karena melihat majikannya itu hanya mengenakan handuk sebatas paha dan dada serta rambutnya dibungkus.


"Aku lapar. Pria itu sangat-sangat kuat. Aku butuh tenaga..", Cla menyahut tanpa tahu malu.


"Baik, Nona...".


"Sudah, Nona, di Restaurant hotel ini tadi..".


"Setelah ini aku ingin jalan-jalan. Temani aku nanti..", ucap Cla dengan terus mengunyah makanan.


Beberapa saat sarapanpun selesai. Cla berganti pakaian, kemudian melenggang pergi keluar hotel diikuti oleh Jeny.


"Siapa dia?", tanya Cla ketika mendekati mobil yang akan ditumpangi terdapat seorang pria berpenampilan formal.


"Pengawal yang disiapkan, Tuan Jo..", jawab Jeny.


"Apa perlu?", sungut Cla.


"Tidak ada salahnya...".


Cla mendengus tetapi tetap menggunakan pengawal untuk menjadi supirnya ditemani Jeny.


Cukup banyak uang yang dihamburkan wanita itu bersama asistennya. Bukan uangku kan?.


Sedangkan di tempat lain, Jo semakin menyeringai ketika melihat begitu banyak notifikasi yang masuk ke hp miliknya.


"Aku akan menagihnya nanti. Kau pikir semuanya gratis?", Jo bergumam dalam hati.


"Oke Mr. John, I think we have a deal about this project..", ucap Jo pada kliennya.


"I think so, Mr Jo...", sahut Tuan John kemudian mereka berjabat tangan dan urusan lainnya.


"Kita pergi... Kirim beberapa anak buahmu untuk mengawasi proyek di kota ini. Aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti di Berlin lalu..!", perintah Jo lalu berjalan pergi meninggalkan restaurant.


"Baik, Tuan....", sahut Bryand.


"Hubungi pengawal itu, suruh bawa istriku kembali ke kamar...", Jo memberi perintah lagi dan berjalan menuju kamarnya.


Bryand melakukan seperti yang diperintahkan. Tiba-tiba, handphonenya berdering setelah selesai menghubungi anak buahnya yang sedang menemani nyonya muda itu.


"Ada apa, Al?", Bryand menjawab setelah melihat Id pemanggil.


"Kita kecolongan..!!", lapor Al.


"Maksudmu?".


"Mantan kekasih nyonya muda ternyata mampu mengelabui kita..".


"Artinya dia menyusul ke sini? Bagaimana mungkin? Kita sudah menutupi kepergian Tuan dan Nyonya dari siapapun...", heran Bryand.


"Ada orang dalam yang ku curigai. Mereka bekerja sama..!".


"Siapa?", penasaran Bryand.


"Sudah ku kirim ke emailmu. Aku akan menyusul secepatnya..".


"Bagaimana dengan perusahaan jika kau ikut menyusul?", tanya Bryand.


"Tuan Besar Don yang sementara akan ambil alih. Mantan kekasih nyonya muda bekerja sama dengan komplotan mafia yang sangat-sangat tidak kita duga...".


"Baiklah. Tetap tutupi ini dari Tuan Besar Don. Aku akan memberitahukan ke Tuan Jo".


Tanpa menunggu jawaban dari Alvaro, Bryand mematikan sepihak panggilan teleponnya lalu sedikit berlari ke kamar Jo.


"Tuan, ada masalah.....", Bryand berucap setelah Jo membuka pintu kamar yang diketuk asisten satu itu.


"Apa?", Jo yang sedari tadi merasa lelah tiba-tiba hatinya menclos begitu saja mendengar ada masalah.


Sedangkan di posisi Cla dalam perjalanan pulang ke arah hotel.


*Ckittttttt... Brakkkkkkkkk..


"Jooooooooo*.....".