
Seminggu berlalu.
Cantika. Ya perempuan itu masih saja terkurung di rumah mewah ayahnya. Bukan kesalahannya juga jika menginginkan pria beristri seperti Richard Jo Fernand. Tampan dan mapan. Cukup untuk berkhayal lebih.
Handphone wanita itu terus berbunyi sejak beberapa hari lalu. Tentu siapa lagi kalau bukan pria yang bersamanya di hotel waktu itu.
"Ada apa sih pria brengsek itu meneleponku?", geram Cantika.
Dibiarkan saja telepon terus berdering dan getar. Mau disilent atau dinonaktifkan? Itu tentu tidak mungkin. Penggemar di medsosnya begitu banyak, juga ia harus mengetahui informasi mengenai Jo meskipun ia tidak mendapatkan apa-apa.
"Hmm, ada apa?", tanya Cantika ketus ketika ia memutuskan untuk menerima panggilan dari pria itu.
"Kamu mau lari dari tanggungjawab mu? Mengapa sekarang pekerjaan yang kamu handle kini digantikan dengan kakak laki-lakimu, haaa..?", pria itu bertanya dengan kesal.
"Ayahku yang menggantikannya.. Kalau kau mau protes, protes saja pada ayahku...!!", Cantika lalu mematikan panggilan sepihaknya.
Ting.
Satu pesan masuk ke hp Cantika.
"Sial... Bangsat ...!!", maki Cantika ketika melihat isi pesan tersebut.
"Kau tidak mau kan video asusilamu tersebar di media sosial? Apa lagi semua orang tahu bahwa kamu adalah putri seorang pengusaha ternama?", isi pesan tersebut diiringi dengan sebuah video yang memperlihatkan ia sedang menikmati lollipop berurat milik seorang pria.
"Kau mau apa sebenarnya?", Cantika menghubungi pria itu.
"Masih seperti yang dulu.. Dekati Richard Jo Fernand, jebak dia, dan sisanya aku yang urus...!", perintah laki-laki itu.
"Aku sudah tidak punya kendali apa-apa terhadap pembangunan hotel yang ada di Bali..", Cantika beralasan.
"Gunakan otakmu.. Waktumu hanya seminggu...", ancam pria itu lalu mematikan panggilan teleponnya.
"Brengsekkkk.... Pria brengsekkkk.. Akan ku buat kau bertekuk lutut padaku....!!", maki Cantika. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?", gumamnya lagi.
"Sonya... Ahhhh.. Asisten itu...!", idenya jalan.
Beberapa saat menghubungi Sonya, asistennya itu sedang sangat sibuk, karena kerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Cantika, malah dihandle olehnya.
"Maaf, nona.. Saya sibuk jadi baru kembali menghubungi anda...!", ucap Sonya yang menelpon balik Cantika.
"Cari cara agar aku bisa keluar dari rumah ini. Apapun itu... Aku tidak mau tahu.. Dua puluh empat jam waktumu..!", karya Cantika seenak jidatnya lalu memutuskan panggilan sepihak tanpa perlu mendapat jawaban dari asistennya.
Hari itu tepat pengeluaran produk baru JS Group yang dipimpin oleh Claudya sehingga Jo dan istrinya kini sudah berada di hotel tempat pelirisan produk baru.
"Jangan terlalu lelah, oke? Tinggal hitungan Minggu kamu melahirkan, bisa juga hitungan hari sesuai HPL yang dokter katakan..!", Jo memperingati istrinya yang kini sedang di-make up oleh MUA.
Claudya hanya mengangguk.
Tampak pancaran wajahnya sangat cerah. Produk yang digadang-gadang akan sukses besar adalah impiannya kini. Tentu bukan produk abal-abal, namun bisa dinikmati oleh orang-orang berkantong pas-pasan juga berkantong tebal.
Claudya terus tersenyum senang dan bergelayut manja di sisi Jo.
Ucapan selamat dan sebagainya diterima wanita itu.
"Ayah bangga padamu, Nak...", ucap tulus sang ayah. Begitu pula sang ibu.
El dan istrinya turut serta memberikan selamat meski ia adalah CEO JS Group, namun ide serta jalannya produksi dan sebagainya diawasi langsung oleh adiknya itu.
"Kamu bisa juga.. Oma kira kamu hanya jadi beban untuk kakakmu...!", ujar sang Oma yang duduk dikursi roda itu.
"Benarkan? Wanita bukan hanya bertugas di kasur, Dapur dan Sumur seperti yang Omo bilang. Tapi juga bisa berkarier seperti aku sekarang...!", sombong Claudya.
"Ya ya ya... Hanya saja kamu menikah hampir dua tahun baru dikarunia anak.. Artinya setahun yang lalu kamu masih belum mengurus suamimu dengan baik...", ketus sang Oma.
"Suamiku tidak keberatan kok... Malahan ia memberiku kebebasan untuk aku berkarya.... Dan hasilnya Oma hadir di sini...!", balas Claudya.
Pemikiran kolot Omanya yang membuat sang ibu hanya di rumah saja waktu itu. Bahkan untuk bekerja pun sang ibu tidak diperbolehkan padahal lulusan terbaik di kampusnya dulu.
Claudya berbeda. Ia keras kepala seperti ayahnya, mewarisi kecantikan sang ibu.. Maka jadilah ia sekarang. Wanita yang gila kerja, wanita yang penuh kesibukan namun tidak lupa, wanita yang memuaskan suaminya di atas ranjang.
Perdebatan itu terjeda ketika Jo melihat Tuan Wijaya ada di sebuah meja bersama rekan bisnisnya yang lain.
Menarik lengan istrinya pelan menuju ke meja itu.
"Tuan Wijaya terima kasih sudah hadir di sini...", ucap Jo.
"Ahh, Tuan Jo.. Selamat atas pencapaian istri anda..", balas Aleksander Wijaya sambil menjabat tangan pasangan suami istri di depannya.
"Produk perusahaan anda luar biasa, nona Claudya.. Saya juga mengucapkan terima kasih karena anda mau bekerjasama untuk produk yang akan datang..", tulus Tuan Wijaya berujar.
Claudya hanya mengangguk dan tersenyum.
"Oh ya, mengapa tanggung jawab pembangunan hotel di Bali itu diganti oleh putra anda?", tanya Jo.
Bukan ia tidak tahu, bahkan orang yang Alvaro tangkap membeberkan bahwa ia disuruh oleh Cantika mengganggu pembangunan hotel di Bali itu.
"Ahh itu, ada sedikit insiden keluarga, sehingga putri saya diganti. Namun sesuai keinginan anda, pembanguan itu sekarang berlanjut...", jawab Alkesander Wijaya tenang.
"Iya... Namun lain kali anda harus lebih bijaksana dalam memilih orang-orang untuk bertanggung jawab pada proyek yang sedang berlangsung agar tidak terjadi lagi hal seperti ini...", telak Jo menyindir.
Tuan Wijaya tersenyum canggung.
"Rich, aku ke sebalah sana sebentar, ya?", bisik Claudya menunjuk ke arah Jeny yang sedang berdiri bersama Bryand.
Jo mengangguk. Ia membiarkan istri sendirian berjalan, namun matanya tetap memperhatikan.
"Saya tahu yang sedang anda alami, Tuan Wijaya. Saya ingatkan saja bahwa anda harus berhati-hati...!", pesan Jo lalu menepuk pundak Tuan Wijaya.
Meskipun lebih tua darinya, namun Jo tidak segan-segan memberi peringatan.
Acara masih berlanjut dengan jamuan dan lain sebagainya.
"Nona, Cantika.. Terima kasih anda sudah bersedia datang ke acara kecil-kecilan ini...!", ucap Claudya.
"Tentu.. Saya harus datang karena ingin belajar untuk menjadi wanita karier seperti anda...", balas Cantika.
"Hahahaha.. Anda terlalu memuji.. Silahkan menikmati hidangan yang disajikan..".
Cantika mengangguk lalu pergi dari situ.
Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Ketemu. Pria yang ia cari sedang berbincang dengan beberapa orang.
Sengaja berjalan sempoyongan mendekati Jo. Lalu menabrak pria itu hingga minuman yang dipegang Cantika tumpah di kemeja Jo.
"Ahhh, maaf, Tuan Jo....", pura-pura Cantika meminta maaf dan memperlihatkan aktingnya.
Beberapa orang di sekitar situ kini memperhatikan mereka.
"Sekali lagi maaf, Tuan.. Saya tidak sengaja. Kepala saya tiba-tiba pusing...", ucapnya sambil memegang bahu Jo.
Risih, itu pasti namun menjaga image di depan kolega harus.
"Tidak apa-apa.. Anda baik-baik saja?", tanya Jo.
"Tolong bantu saya duduk di kursi itu... Istirahat sebentar pasti akan baik-baik saja...", bergelayut manja di lengan Jo dan sengaja kepalanya berada di sekitar dada pria itu.
Aroma maskulin tercium dan membuat Cantika membayangkan yang tidak-tidak.
Jo memapah, meski risih, namun ia harus menjaga kesopanan apa lagi ini acara orang.
Claudya memperhatikan.
"Jen.. Kau lihat? Ulat itu bertindak...", Claudya berujar sambil meminta Jeny untuk melihat adegan di depan mereka.
"Nona cemburu?", tanya Jeny.
"Aku akan cemburu kalau tidak tahu niat wanita itu...", jawab Claudya cuek.
Kembali ke meja sebelah.
"Sudah, terima kasih...", Cantika sengaja menahan Jo untuk beranjak dari sisinya.
Jo hanya tersenyum lalu mengangguk. Pria itu memberi kode kepada sang asisten untuk mengurusnya, sehingga sesat kemudian datang seorang pria kekar yang lumayan tampan berdiri di sampingnya.
"Ada apa?", tanyanya pelan pada Jo.
"Periksa wanita ini.. Kalau perlu bawa ke apartemenmu.. Katanya ia pusing...", bisik Jo pada dokter tersebut.
"Makanan untukku?", tanya pria itu.
"Hmmm...", jawab Jo dengan deheman.
"Anda akan diperiksa oleh dokter ini, nona.. Tenang saja, anda akan aman... Saya permisi dulu...", ucap Jo lalu langsung pergi tanpa peduli wanita yang sedang menatapnya.
"Mari nona, kita ke tempat yang lebih nyaman agar anda diperiksa...", ajak sang dokter.
"Ahhh, tidak perlu... Saya sudah baik-baik saja...", jawab Cantika.
"Jika pria itu sudah bertitah, maka saya harus laksanakan, kalau tidak maka pekerjaan saya yang jadi sasarannya, nona... Mohon anda paham posisi saya..", balas pria itu beralasan.
Cantika sejenak berpikir lalu mengangguk. Rencananya untuk membuat Claudya cemburu sepertinya berhasil. Ia sengaja menyajikan adegan itu agar Claudya marah pada Jo dan seterusnya.
Sang Dokter berjalan ke area yang lebih sepi pengunjung. Bukan berarti tidak ada orang.
Mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya yang berisi sebuah ramuan.
"Silahkan minum dulu...", pria itu memberikan minuman yang entah apa isinya.
Cantika meminumnya.
Pingsan.
"Good... Terima kasih, Tuan Jo.. Anda pengertian...", senyum smirk diperlihatkan.
Bungkus dan bawa entah kemana.
Jangan tanya asisten dari Cantika Wijaya. Ia sedang kasmaran dengan anak buah Jo yang behati batu. Eh ralat, sekarang anak buah itu sudah jadi batu rapuh, soalnya Sonya sudah membuatnya jadi jinak. hahahahhahaha..
.
.
.
.
"Mandi... Bersihkan tubuhmu sampai sabun ini habis...", perintah Claudya ketika mereka sudah berada di kamar hotel karena Jo tidak mau wanitanya lelah jika harus pulang.
"Cla... Aku tidak sengaja tadi...", Jo memelas.
"Mandi atau tidur di luar?", ancam Claudya.
"Habis mandi nengokin adek ya???", tawar Jo.
"Mandi dulu.. Urusan itu nanti.. Sekarang mandi... !", usir Claudya.
Jo menuruti karena tidak mau membuat sang istri lebih marah lagi.
"Dasar rumput gatal......", gerutu Jo mengingat kejadian tadi di acara.
"Sabar ya, Boss... Sebantar lagi kamu akan bersarang kok....", ucapnya pada jagoannya di bawah sana...