
"Jadi ini perusahaan JS Group?", tanya Cantika setelah berada di lobi perusahaan besar itu.
"Benar, nona.. Tunggu sebentar... Saya ke resepsionis dulu..", jawab Sonya kemudian diangguki oleh Cantika.
"Aku mau lihat secara langsung seberapa cantik sih Claudya itu sehingga bisa memikat pria tampan seperti Jo Fernand..?", batin Cantika.
Ya, selang beberapa hari perintah Claudya pada Jeny dilaksanakan, munculah ulat bulu berkedok perempuan seksi yang kini berada di lobi JS Group.
Tatapan para karyawan pria menatap lapar, namun Cantika tetap santai. Berbalut rok span dan kemeja putih pas tubuh membuat lekuk tubuh bak gitar spanyol itu terekspos jelas. Laki-laki mana yang tidak suka melihat perempuan pencuci mata itu.
"Sudah?", tanya Cantika setelah Sonya kembali berada di sisinya.
"Sudah.. Ruangan nona Claudya berada di lantai 19..", sahut Sonya kemudian mereka berdua berjalan beriringan memasuki lift yang akan mengantar mereka ke lantai di mana ruangan Claudya berada.
Setelah mengatakan maksud kedatangan pada sekretaris Claudya, mereka berdua dipersilahkan masuk.
"Halo, selamat pagi, nona Claudya...", sapa Sonya sambil menunduk.
"Oh, iya selamat pagi... Silahkan masuk...", Claudya mempersilahkan dua wanita itu masuk ke ruangannya.
Jeny yang berada di dalam sana pun seakan menatap jengkel ke arah Cantika. Tentu mereka tahu yang mana Cantika dan yang mana Sonya. Letak perbedaannya sangat jelas.
"Saya Sonya sekretaris sekaligus asisten pribadi nona Cantika dan ini....", belum selesai Sonya memperkenalkan diri, Claudya memotongnya.
"Nona Cantika Wijaya, Putra dari Tuan Alexander Wijaya kan?", Claudya berusaha akrab sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan mengawali perkenalan.
"Jadi ini istri dari Presdir termuda JF Group? Biasa saja.. Apa lagi dengan perut besarnya itu? Sungguh Jo Fernand salah dalam memilih pendamping hidup...", gumam Cantika dalam hati sambil bibirnya menyunggingkan senyum.
"Salam kenal, Nona Claudya...", sambung Cantika.
"Oh iya, kenalkan ini asisten pribadi saya, Jeny...", Claudya pun memperkenalkan Jeny yang sejak tadi berada di antara mereka.
Acara perkenalan selesai.
"Saya sudah menerima revisi proposal yang anda ajukan ke Wijaya Group, nona Claudya.. Namun pertanyaan saya, mengapa anda memilih saya untuk menangani proyek ini?", tanya Cantika.
Mereka berempat kini duduk berhadapan di sofa dalam ruangan Claudya.
"Maaf sebelumnya.. Awalnya CEO JS Group yang akan menangani proyek ini, namun beliau melimpahkan kepada saya, apa lagi proyek ini berhubungan erat dengan perempuan makanya ketika saya baca kesepakatan kerjasama antara JS Group dan Wijaya Group, ada sedikit bagian yang kurang, sehingga saya tambahkan juga saya meminta kalau bisa yang menangani proyek ini adalah perempuan...", jawab Claudya menjelaskan.
"Baiklah, saya paman dengan apa yang anda katakan.. Bagian kosmetik adalah urusan perempuan, meski tidak semuanya harus perempuan, namun ya saya rasa kita yang paling mengerti apa yang dibutuhkan oleh konsumen...", balas Cantika.
Wijaya Group juga salah satu perusahan besar yang ada di Indonesia. Perusahaan itu begerak di bidang kosmetik, fashion, desain interior dan property . Tidak salah mengajak Wijaya Group untuk bekerjasama karena JS Group juga melebarkan sayapnya untuk merambah ke dunia kecantikan.
Dua perusahaan bekerjasama, juga dua wanita cantik dengan auranya masing-masing yang terlibat di dalam proyek ini.
Meski Cantika Wijaya baru dalam dunia bisnis, namun pamornya sudah ada sejak menjadi selebgram, sehingga banyak pengikutnya di media sosial meski masih kalah dengan Lee Claudya Gitta.
"Aduh, lihat lemak di lengan dan pahanya? Mengerikan.. Putih sih iya.. Namun umur segini sudah ada kerutan di bagian-bagian tersembunyi...", Claudya membatin setelah menelisik seorang wanita di depannya.
"Jadi kita sepakat dengan proposal yang kami ajukan atau ada yang perlu diubah, nona Cantika?", tanya Claudya setelah beberapa saat mereka berempat membaca dokumen yang terletak di depan mereka.
"Saya rasa proposal yang diajukan oleh JS Group dapat kami terima dan tidak perlu ada perubahan apapun lagi.. Bisa kita tanda tangani sekarang kontrak kerjanya...", jawab Cantika.
Mereka melakukan hal yang perlu mereka lakukan lalu berjabat tangan.
"Kau lihatlah Jeny? Ia menyembunyikan wajah tuanya di balik make up tebal dan juga kau perhatikan bagian tubuhnya tadi?", tanya Claudya pada Jeny setelah pertemuan mereka bubar.
"Aku memperhatikannya, nonya muda.. Dengan Tubun segitu pikir mudah apa merayu Tuan Jo? Mungkin sebelum ia merayu lebih jauh, Tuan Jo sudah menendang pantatnya yang seperti bebek itu...", jawab Jeny sambil menyunggingkan senyum meremehkan.
Ingin saja ia menjambak atau pun menampar wajah perempuan itu tadi, namun ia tahan karena ia ingin bermain-main terlebih dahulu dengan Cantika Wijaya sok cantik itu.
di sisi lain.
"Perut besar dan penuh lemak itu merasa dirinya cantik sekali... Aku ingin muntah melihatnya. Palingan Jo tidak akan puas di ranjang ketika mereka bermain... Benarkan, Nya?", tanya Cantika ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang ke Wijaya Group.
Sonya hanya mengedikan bahunya.
"Kau kenapa, Nya? Benarkan? Laki-laki itu cenderung tidak puas ketika istrinya sedang hamil. Mereka tidak akan bebas berekspresi juga berfantasi ketika sedang bermain karena resikonya adalah bayi di dalam perut istrinya.. Akan ku gunakan kesempatan itu untuk menggoda Jo.. Dijadikan yang kedua pun tidak masalah, intinya aku bisa merasakan belalai milik Jo juga tubuh kekarnya... Hahahahhaa", panjang lebar kalo kurang bagi Cantika menghayal, membuat yang ada di bawah kain segitiganya berkedut.
Sonya hanya fokus menatap jalanan yang sedang ramai. Mungkin sudah waktunya makan siang. Ia diam dalam hati berdoa agar ia tidak kena imbas ketika terjadi sesuatu yang buruk.
"Atur pertemuanku dengan Jo, aku ingin membahas proyek kita yang di Bali.. Usahakan di club langganan kita ya.. Dan dia harus hadir...", perintah Cantika.
Sonya hanya mengangguk. Dia tidak bisa memastikan, karena menatap Jo maupun asistennya itu sama-sama membuat bulu kuduknya berdiri ketakutan. Kalau bulu-bulu itu bisa lari sendiri, maka mereka akan memilih lari meninggalkan tuannya. Hahahahha..
Mereka berdua tiba di ruangan Cantika.
Cantika bertugas sebagai wakil CEO sama seperti Claudya.. Dia diberi tugas untuk mengerjakan proyek dalam negeri, untuk proyek luar negeri, kakak Sulungnya yang bertugas. Alasannya karena baru belajar maka dari itu, Sonya yang sudah bekerja lebih dulu di Wijaya Group menjadi aspri dan sekretaris Cantika dijadikan tutor untuk membimbing anak bungsu keluarga Wijaya itu.
"Jangan membiarkan satu orang pun masuk ke dalam ruangan ku selama beberapa jam ke depan sekalipun ayah....", perintah Cantika.
Sedari tadi membayangkan tubuh Jo ia sudah gelisah.
Pergaulan bebas di UK membuat wanita itu menginginkan sentuhan, apa lagi setelah kembali ke tanah air, ia seakan diawasi oleh keluarganya, sehingga untuk sekedar mencari kepuasan pun ia harus sembunyi-sembunyi dan mengorbankan Sonya sebagai temengnya.
"Akhhhhh... Johhhhhhhhh...", rancauan terdengar dari dalam kamar istirahat perempuan itu.
Masih mengenakan pakaian kantornya, tetapi bagian bawahnya sudah polos. Terawat pasti. Bulu-bulu halus yang tumbuh membuatnya semakin terbakar ketika diusap.
Permpuan itu tidak tahu malunya membayangkan suami orang sementara jemari tangannya bergerak di bawah sana mencari goa lembab.
Masuk-keluar, namun sesekali diusap keliling goa itu. Bergetar. Ya meski tidak bisa dipuaskan secara langsung, Cantika masih menggunakan metode PTS (pakai tangan sendiri) apalagi dibantu alat yang kalian tahulah apa itu.
Teriakan semakin kencang ketika teteasan air muncrat keluar. Kebanyakan memang hanya mengalir, namun ini muncrat, sampai tubuhnya seperti cacing kepanasan.
di lain tempat.
Jo merasa telinga berdengung. Ia menggesekkan telapak tangannya ke telinganya.
"Siapa sih yang membicarakan ku siang-siang begini....", batin Jo namun masih menggerakan tangannya di area kupingnya.
"Al, katakan pada anak buah kita untuk tetap berjaga-jaga.. Bisa saja mereka mengirimkan mata-mata ke dalam Black Hunter sehingga pergerakan kita diketahui oleh kumpulan kelinci-kelinci pengecut itu...", perintah Jo.
"Sudah, Tuan.. Bahkan beberapa anak buah kita juga sudah menjadi mata-mata dalam kelompok musuh.. Saya akan memperketat penjagaan di sekitar tuan dan nyonya muda serta keluarga kita...", jawab Alvaro.
"Bryand, segera sabotase segala perusahaan yang mengalirkan dana ke kelompok itu.. Ketika dana mereka terbatas, mereka akan semakin kepepet dan juga secara terang-terangan menunjukan diri.. Saat itu sergap satu per satu..", Bryand mengangguk paham.
"Kenapa kita tidak sergap mereka secara bersamaan?", tanya Alvaro.
"Bisa jadi, dalang yang sebenarnya bersembunyi jika kita menangkap mereka bersamaan.. Jika satu persatu, maka mereka semua akan menetap di satu tempat sehingga dengan mudah pergerakan mereka terbaca, meski anak buah kita sudah menjadi mata-mata di dalamnya. Laporan yang terkahir kau berikan katanya mereka berpindah dari satu markas ke markas yang lainkan? Maka dari itu, kita buat agar mereka terperangkap hanya di satu markas saja dan tidak bisa lagi berpindah-pindah..", Jo menjelaskan panjang lebar, dan hanya diangguki oleh Alvaro.
"Aku menjelaskan padamu, dan kamu hanya mengangguk, Al?", tanya Jo mulai menampakan wajah marahnya.
"Maaf, Tuan.. Lalu saya harus apa?", tanya Al seperti orang bodoh.
"Alvarooooooooo.....", teriak Jo kesal di dalam ruangannya.