
Hari-hari berjalan seperti biasanya.
Sebulan sudah waktu yang disepakati bersama ayahnya dan mertuanya.
Jo membuktikan ucapannya dengan membawa seorang pria muda yang sangat berwibawa. Ia adalah anak dari Sea.
Mereka kembali berkumpul di rumah utama keluarga Jo Fernand.
Claudya dan ibunya serta ibu mertuanya berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Bagaimana?", tanya Dady Don.
"Dad, apa tidak ada kata tanya yang lain kah selain bagaimana? Basa-basi dikit atau apalah begitu..?", ketus Jo yang merasa Dadynya terlalu to the point.
"Kalau begitu apa?", Dady Don balik bertanya.
Ayah Albert dan David hanya saling menatap memperhatikan kedua orang di depannya. Sangat bertolak belakang ketika mereka berada di depan banyak orang. Dingin, minim senyum, terkesan angkuh dan sombong namun berwibawa dan berkharisma.
"Aisssshhh, sudahlah... Ini kenalkan David.. Dia yang menjadi penggantimu di organisasi bawah tanah...", ucap Jo sekaligus memperkenalkan pemuda yang ia bawa.
"Nice to meet you all. I'm David San Jose. Dav San Jose's son, my mother's name is Sea Paraswati. I will replace Mr. Rick (Senang bertemu kalian semua. Saya David San Jose.. Anak dari Dav San Jose, ibu saya bernama Sea Paraswati.. Saya yang akan menggantikan Tuan Rick.)..", David memperkenalkan namanya.
"Rick?", kini Ayah Albert membuka suara setelah menerima uluran tangan pemuda itu.
"Itu nama samaranku di dunia bawah, Yah..", sahut Jo menjelaskan dan hanya diangguki oleh ayah Albert.
"How old are you? Seems very young? (Berapa usiamu? Sepertinya masih sangat muda)", tanya Dady Don penasaran.
"Nineteen years, Mr. Fernand...(Sembilan belas tahun, Tuan Fernand)", jawab David.
Ayah Albert dan Dady Don pun mengangguk.
"Jadi kesepakatan kita sebulan lalu tidak berlaku lagi.. Aku sudah menepati janjiku.. Sekarang aku menikmati kebersamaan ku dengan istriku dan tidak boleh kalian para tetua memonopoli wanitaku...", ujar Jo langsung.
Mereka mengangguk saja. Padahal hukuman untuk Jo sebenarnya menunggu. Memanfaatkan Claudya yang sedang hamil, dan bekerja sama agar waktu Claudya hanya saat malam bersama Jo. Hal itu sudah direncanakan bersama Claudya dan juga para istri orang tua itu.
"Satu lagi, anak buahku yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawal keluarga kita akan tetap berjalan sesuai tugas mereka.. David yang akan mengatur itu semua.. Aku hanya mengawasi tindakannya dan tidak berhubungan langsung dengan Black Hunter.. Kekuasaan sepenuhnya saat David berusia dua puluh lima tahun...", Jo memberikan penjelasan lanjutan agar semua paham posisi mereka sekarang ini.
Semua setuju dengan apa yang diucapkan Jo. Setidaknya, jika ada musuh, David yang akan berhadapan langsung, bukan Jo. Terdengar seperti mengorbankan anak muda itu, namun Jo tidak akan lepas tangan, apa lagi tim pengawal yang diberi nama The Shadow (dulu milik Lucius bernama The Centinental yang berganti karena Jo mengakuisi tim itu) bekerja di belakangnya.
.
.
.
.
.
Jeny dan Bryand sudah menikah di Minggu ke tiga setelah Claudya dinyatakan hamil. Artinya sebelum kekuasaan Jo berpindah tangan ke David (Nanti diceritakan di novel lainnya yaaa khusus Jeny dan Bryand).
.
.
.
.
Keposesifan Jo semakin terlihat.
Pria itu meminta El untuk mengurangi pekerjaan istrinya di perusahaan, serta tidak menerima klien yang berjenis kelamin batang. Claudya pun demikian.
Jika Claudya akan meeting di luar kantor, Jo yang mendampingi.
Sibuk tentu pasti. Membagi waktu antara tugasnya sebagai Presdir JF Group, juga kesana kemari sebagai pengawal istrinya sendiri. Bukan tidak percaya pada anak buahnya, namun Jo lebih memilih mengawal sendiri istrinya. Claudya tidak masalah dengan itu semua.
Selama kehamilan Claudya, Alvaro yang diuji kesabarannya, apa lagi ketika Jo sedang ngidam. Bisa-bisa ia tidur di jalan karena kemauan Jo. Bayangkan saja, pernah sekali Jo memintanya membeli papeda dari Papua langsung, hanya untuk melihatnya, bukan disantap malahan Alvaro yang diminta untuk makan papade itu.
Jika akhir pekan, para orang tua akan mengganggu waktu Jo bersama istrinya. Dengan kata lain, selalu saja ada yang diminta Claudya saat akhir pekan.
Hari Sabtu bulan kedua usia kandungan Claudya, wanita itu meminta ayahnya juga ayah mertuanya untuk memasak, sedang istri para orang tua itu diminta untuk menemaninya belanja. Jo yang ingin ikut tidak boleh, alasannya Claudya mual melihat wajahnya. Terkesan dibuat-buat, namun itulah hukuman untuk Jo.
Kesal? Ya pastilah. Jatah berkurang setiap malam, kini akhir pekannya yang ingin dihabiskan dengan mengurung Claudya di kamar selalu saja diganggu para orang tua.
Akhirnya, yaaa Alvaro atau Bryand yang jadi tempatnya melampiaskan kekesalan.
"Al, di mana?", tanya Jo setelah teleponnya tersambung.
"Di apartemen, Tuan.." jawab Alvaro. "Akhhhh, Ve... Terus....", gumamnya lanjut.
"Kau gila? Ini jam sepuluh pagi, tidakkah ada waktu lain untuk bergelut? Nikahi anak orang woeeee..!!", kesal Jo karena Alvaro secara tidak sengaja mengeluarkan suara laknat yang tentu membangkitkan gairahnya. Sayangnya, istri tidak di rumah, malahan para pria tua Bangka yang berkutat di dapur untuk memasak.
"Tanggung, Tuan.. Nanti saja menikahnya.. Oh ada apa?", tanya Alvaro yang mungkin saja sudah selesai berenang dalam lautan kenikmatan bersama kekasihnya.
"Ke rumah. Sekarang...!", langsung Jo mematikan panggilan teleponnya.
Sekarang Bryand.
"Kau di mana?", tanya Jo ketika tersambung lewat udara dengan Bryand.
Panasalah sudah telinganya dan juga gairahnya. Sial, Claudya sedang di sita oleh para perempuan yang dijuluki ibu negara.
"Ke rumah sekarang....", perintahnya langsung memutuskan panggilan. Bisa-bisa harus bersolo karier jika terus bertahan mendengar rintihan asistennya itu. Kan aneh? Sudah beristri, tetapi masih bersolo karier. Orang yang pacaran saja sudah bisa dipuaskan pasangannya, lah ini? Kan harga diri turun drastis itu.
.
.
.
Kedua asisten itu berada di depannya dalam ruang kerja.
"Bisa tidak, kalau lagi bergelut jangan mengangkat telepon atau mendesah saat menelpon? Ha?", geram Jo melihat kedua asistennya yang datang bersamaan itu.
"Tidak bisa, Tuan...", jawab Bryand dan Alvaro bersamaan.
"Kalian...?", geramnya. Kedua asistennya itu tampak santai saja. "Huffffsss... Duduk.. Temani aku bermain kartu...!", mereka berdua langsung ikut duduk. Tidak biasanya, namun apa lagi yang harus dilakukan? Bekerja? Tidak konsen, meminta jatah? Bisa habis digilir para orang tua. Pasrah adalah jalan terbaik.
"Kalau cuma main kartu biasa tidak ada sensasinya, Tuan..", Bryand mengajukan pendapat.
Jo dan Alvaro langsung menatap Bryand mengernyit.
Ditatap sedemikian membuat Bryand menimbang mau lanjut pembahasan, atau berhenti di situ. Perjudian bukanlah ranah mereka bertiga, namun ya hidup di dunia bawah tentu Taulah artinya taruhan.
"Maksudmu? Kita bertarung begitu?", Jo bertanya dan diangguki oleh Bryand.
Alvaro sih setuju saja.
"Baiklah, apa yang kita pertaruhkan?", tanya Jo lagi.
"Bagaimana kalau mobil, Tuan?", Alvaro menimpali.
"Oke... Bry, mobil mana yang kau pertaruhkan?".
"McLaren 570S Coupe..", jawab Bryand.
"Emmm, aku McLaren 570GT saja...", Alvaro melanjutkan.
"Baiklah, McLaren 570S Spider milikiku yang ada di garasi jika kalian bisa mengalahkanku..", kini Jo mengeluarkan taruhannya.
Jangan tanya kenapa ketiga orang sengklek itu memiliki mobil yang sama jenisnya, toh dibeli pada hari yang sama dan pada satu showroom saja.
Mereka bertiga pun kini semangat dan bersungguh-sungguh untuk saling mengalahkan. Permainan remi untuk mencari poin tertinggi yang sedang mereka mainkan. Mencapai 2000 poin baru bisa dikatakan jadi pemenang.
Tanpa sadar, waktu sudah menunjukan pukul 13.06. Asik bermain kartu, ketiga wanita muda, milik masing-masing pria itu pun masuk memberi kejutan.
"Astaga.....", Bryand kaget pertama kali, karena sebuah tangan yang dikenalnya melingkar di area lehernya.
Kekagetan Bryand diikuti oleh dua orang pria yang ada di situ. Istri dan kekasih mereka berada dalam ruang kerja milik Jo.
"Kalian kenapa bisa ada di sini?", tanya Jo.
"Karena ingin menemani para pria yang sedang bertarung di sini...", jawab Claudya santai sambil mengunyah cemilan yang dipegangnya.
"Apa yang kalian pertaruhkan?", tanya Jeny penasaran.
"Cuma mobil yang tidak dipakai..", sahut Alvaro santai.
"Mobil? Yang mana, sayang?", tanya Verena.
Jeny dan Verena diminta Claudya ikut juga berbelanja, dan akhirnya di situlah mereka.
"Milikku McLaren 570GT yang jarang dipakai..", jawab Alvaro.
"Ap-apa? Itukan mobil mahal? Apa lagi di sama ada bekas percintaan kita...", gumam Verena yang masih bisa didengar oleh semua orang di ruangan itu.
Seketika pandangan beralih ke arah Alvaro dan Verena.
"Ahhh, tidak jadi.. Itu ada bekasnya dan Verena... Batalka saja...", Jo mulai lesu karena mobil yang dipertaruhkan Alvaro. Bryand pun sama.
Ketiga pria itu langsung berhenti main kartu. Tidak ada taruhan, tidak ada pemenang, mereka tidak jadi melanjutkan.
"Jangan-jangan mobilmu juga, Bry?", tanya Jo menelisik.
Bryand gelagapan. Jeny juga begitu. Semua mobil yang pernah dipakai Bryand menjadi saksi percintaan mereka.
Jo menggeleng.
"Hanya aku yang belum pernah bercinta di dalam mobil?", Jo mengasihani dirinya sendiri.
Alvaro dan Bryand pun serta pasangan mereka tertawa melihat tingkah Jo.
"Cla, nanti kita coba yaaa..?", pinta Jo.
"Coba apaaa?", Claudya sudah melotot karena merasa malu pembahasan sudah merembes.
Kicep. Pria yang dikenal dingin itu langsung kelabakan karena tatapan horor istrinya.
"Hahahahahahahhaah",.... tawa pecah di dalam ruang kerja Jo.