
Pasangan pengantin lama rasa baru itu pun segera keluar dari kamar mereka menuju lantai satu.
"Di mana asisten menyebalkan itu?", gumam Jo yang masih bisa didengar oleh Claudya.
"Siapa? Bryand?", tanya Cla.
"Iya... Di kamarnya mungkin, ya?", duga Jo.
Ia terus melangkah menuju kamar milik asistennya yang ada di rumah itu.
tok-tok-tok..
cklekk.
"Kamu kenapa?", tanya Jo.
"Kenapa apanya Tuan?", Bryand balik bertanya.
"Itu? Ada lingkar hitam di matamu...", jawab Jo.
"Ohhh ini? Eyeshadow, Tuan...", sahut Bryand.
"Ngapain kamu pakai yang begituan? Jangan-jangan...Siang kamu jadi Bryand, malam kamu jadi Bianca yaaa??", canda Jo dan ia tertawa sendirian.
Bryand yang melihat itu mendengus kesal. Bagaimana tidak begitu? Singapore-Indonesia-Korea-Indonesia dalam 24 Jam. Rekor yang luar biasa.
"Kimchi pesanan anda ada di dapur, Tuan..", ujar Bryand.
"Antarkan aku dan istriku ke rumah sakit...", perintah Jo.
"Sekarang?", tanya Bryand seolah jadi bego.
"Besok lusa... Ya sekaranglah...".
Claudya yang merasa tidak enak dengan Bryand pun menengahi.
"Kamu istirahat saja, Bry.. Biar kami diantar Jack...".
"Terima kasih atas pengertian anda, nyonya muda... Saya istirahat dulu..", ucap Bryand langsung menutup pintunya tanpa menunggu Jo untuk mengomel lanjut.
"Lahhhh.. Kokkk..".
"Bryand cape, Rich.. Kasihan dia.. Biarkan dia tidur sebentar... Jack ada kan? Ayooo..", ajak Claudya sambil menarik tangan Jo.
"Ehhh, tapi.. Itu....", belum selesai Jo berucap, Claudya sudah lebih dulu menariknya.
.
.
.
.
Rumah sakit St Cornelius.
Akhirnya Jack yang mengantar kedua orang itu, karena Bryand sudah sangat lelah dan butuh istirahat.
"Mengapa kita ke sini? Kamu yang sakitkan?", tanya Claudya heran ketika berada di depan ruang dokter obygin.
"Masuk dulu..", ajak Jo lalu mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh dokter.
"Tuan Jo dan nyonya Claudya.. Selamat datang..", sapa Dokter itu.
"Ehhh, iya dokter...", Claudya yang menjawab.
"Dokter Shintia sudah menyampaikan kepada saya, jadi kita langsung saja ya, Tuan dan Nyonya..?".
Claudya hanya mengangguk.
"Silahkan nyonya Claudya berbaring di ranjang. Suster tolong dibantu..", perintah dokter itu.
"Sabar dulu.. Kok saya? Kan yang sakit itu suami saya, dok?", cegah Claudya.
"Turuti saja, Cla...", pinta Jo.
"Tapi...", Claudya ingin membatah, namun tatapan Jo langsung membuatnya menurut.
Dokter mengoleskan jel ke perut wanita bersuami itu.
Kini Claudya paham apa yang terjadi dengannya. Sebelum Claudya mengeluarkan suara, dokter lebih dulu berucap.
"Selamat.. Ada calon baby di dalam perut anda..".
"Saya ha-hamil, dok?", tanya Claudya terbata.
"Iyaa.. Anda hamil, nyonya Claudya.. Selamat tuan.. Sudah tiga Minggu usia kehamilan anda..!", mata dokter kembali menatap Claudya.
"Jadi benar istri saya hamil?", Jo memastikan.
"Benar, Tuan.. Ini bintik hitam kecil ini adalah janin anda..", dokter memberi penjelasan.
"Kok kecil, dok? Ini mirip biji apa yaaa?".
Dokter itu tersenyum.
Claudya ikut tersenyum. Presdir JF Group yang terkenal dengan segala kesempurnaannya terkesan bodoh di hadapan dokter dan perawat yang menangani istrinya.
"Masih jalan tiga Minggu, jadi masih sangat kecil, Tuan..".
"Apa dia baik-baik saja?", Jo bertanya lanjut. Baru kali ini Claudya melihat suaminya banyak bicara dengan orang asing yang baru dikenalnya.
"Janin dalam perut istri anda sangat baik dan sehat.. Tetapi harap menjaga kesehatan ibunya, serta asupan gizi yang cukup untuk keduanya ya, Tuan..", dokter memberi saran.
Jo hanya mengangguk. Ia paham.
Claudya turun dari berangkar pasien dan duduk kembali bersebelahan dengan Jo.
"Saya resepkan vitamin untuk ibunya.. Bisa ditebus diapotek rumah sakit.. dan ini obat pereda mulanya, Tuan.. Kata Dokter Shintia kemarin anda yang mengalami gejala kehamilan simpatik..".
"Saya beberapa hari ini memang mual dan muntah serta lebih suka makanan yang tidak biasa saya makan sebelumnya...", jelas Jo.
"Itu membuktikan bahwa ikatan batin antara anak dan ayahnya sangat kuat... Ini biasanya berlaku sampai usia kehamilan bulan ketiga, bisa juga di trisemester kedua maupun terakhir...", Dokter yang diketahui nama Yuliana itu pun berujar.
"Dengar, Cla... Dia akan jadi anak Dady yang hebat...", sombong Jo.
Claudya yang tadi tersenyum langsung memasang wajah cemberut.
"Jangan lupa, dia ada karena kerjasama ya, Tuan Richard Jo Fernand...", kesal Claudya berucap.
"Hehehehe... Oh ya, dok... Ehhhhmmm, kalau lagi hamil gini, bis melakukan hubungan suami istri?".
Claudya yang mendengar itu langsung memerah pipinya. Begitupun suster yang ada di samping sang dokter.
"Karena janin istri anda kuat, sehat dan baik-baik saja, hubungan suami istri bisa dilakukan, Tuan.. Hanya saya sarankan untuk melakukannya pelan-pelan, serta posisi yang nyaman untuk si ibunya. Juga jangan digarap setiap hari atau tiga kali sehari ya, Tuan.. Usia kehamilan di trisemester pertama ini sangat rentan akan keguguran, jadi anda mungkin bisa paham apa yang saya maksud...", dokter memberi penjelasan panjang lebar.
Jo mengangguk paham.
"Suasana hati istri anda juga harus dijaga. Kadang wanita hamil itu emosinya tidak stabil, juga tingkat sensitifnya sangat tinggi. Jadi mohon perhatiannya ya...", dokter melanjutkan.
"Baik, Dok.. Terima kasih atas penjelasannya..", sambung Claudya agar Jo jangan lagi banyak bertanya.
"Kamu senang?", tanya Cla saat mereka menuju ke lobi rumah sakit.
"Tentu... Sepertinya dia Made in Jeju island...", jawab Jo bangga.
"Hahahaha.. Sepertinya begitu...", balas Claudya.
Jo kemudian berhenti di lobi rumah sakit, berlutut dan mengusap perut istrinya.
"Sehat terus yaa anak Dady.. Jangan bikin Mommy kesusahaan.. Kalau mau dibuat susah, Dady saja.. Uang Dady banyak kok.. Bahkan uang Mommy tidak sebanding dengan uang Dady... Anteng-anteng di dalam perut Mommy..", ucap Jo.
Claudya menunduk menatap suaminya yang kini menatapnya.
"Iyaa, Dady.. Nanti aku nyusahin Dady aja, jangan mommy..", Claudya ikut mengusap perutnya.
Mereka jadi bahan tontonan, bahkan ada yang memvideokan kejadian itu.
#KeromantisanPresdirJFGroupdanIstrinya.
#DevenisiCowokBucin_PresdirJFGroup.
Dan masih banyak lagi devenisi tersebut.
.
.
.
.
Ting-ting-ting...
Bryand dibuat kerepotan, karena banyaknya panggilan yang ada.
Ia diminta memberi keterangan akibat tuannya yang tidak tahu tempat.
Waktu istirahatnya kembali terganggu.
"Bisa gak, sehari saja si bos menyebalkan itu tidak berulah...?", kesalnya yang diikuti oleh Jeny di dalam kamar.
Tentu bukan Bryand saja yang menjadi sasaran. Jeny pun ikut terserat, karena banyak media yang menghubunginya untuk mengkonfirmasi akan kebenaran berita kehamilan sang queen keluarga Lee tersebut.
"Al, bereskan apa yang sedang terjadi..", perintah Bryand saat Alvaro sudah terhubung lewat sambungan telepon.
"Iyaaa... Namun tentu yang menghubungimu tidak akan berhenti.. Selamat mengatasinya, asisten satu... Hahahahaha", canda Alvaro. Ia tahu, meski beritanya dihapus, tentu para pencari berita akan terus berusaha mecari klarifikasinya.
"Sialll....", jengkel Bryand lalu mematikan teleponnya.
"Sudahlah, Bry.. Resiko kita kan? Nanti reda dengan sendirinya...", bujuk Jeny yang ada di situ.
"Kegiatan kita terganggu kan akhirnya? Mana tadi sudah di ubun-ubun...".
"Kan bisa dilanjutkan, sayang... Sudah.. Ayooo... Biar aku yang mimpin kali ini...", Jeny meluluhkan emosi Bryand.
"Ayoooo... Kamu paling mengerti....", gombal Bryand.
Dan yang terjadi, ya terjadilah.
.
.
.
Di dalam mobil Jo dan Claudya.
"Jack... Kau tahu, kecebongku berhasil tembus.. Aku dan istriku menduga ini hasil dari Pulau Jeju...", ucap Jo.
Claudya yang mendengar itu langsung malu dan mencubit pinggang suaminya.
"Jangan begitu, kasihan Jack.. Dia belum punya kekasih...", Claudya berujar.
"Siapa suruh jadi kenebo kering? Sana Jack, carilah kekasih... Aku memberimu libur seminggu mulai besok...", perintah Jo.
Jack hanya tersenyum di balik kemudi. "Terima kasih, Tuan atas liburannya..", jawab Jack seadanya.
"Iya, tapi setelah itu bawa kekasih menghadapku setelah pulang dari liburan..", lanjut Jo lagi.
Jack langsung menoleh ke belakang melihat Tuannya.
"Tidak jadi libur juga tidak apa-apa, Tuan... Saya ikhlas tidak ada libur tahun ini, intinya tidak diminta mencari kekasih...".
Jo dan Claudya saling pandang lalu tertawa. Mereka hanya menggoda Jack agar tidak ada keheningan di dalam mobil.
Mereka bertiga menuju ke rumah utama keluarga Fernand. Jack tahu itu, karena Jo yang memerintahkan tadi setelah adegan romantis di lobi rumah sakit.
"Mommmmyyyyyy....", panggil Jo saat tiba di ruang tamu rumah utama sambil memeluk pinggang istrinya.
Mommy Re mendengar itu langsung berlari menuju ke arah anaknya dan menantunya.
Brakk...
Jo terhuyung di nakas kecil samping pintu ruang tamu.
"Aduh...", rintih Jo.
Momy Re tidak peduli. Claudya yang melihat itu pun tidak bisa apa-apa karena ibu mertuanya memeluknya.
"Dadddyyy...", kini giliran Momy Re yang berteriak. Claudya langsung sakit telinga sepertinya.
"Selamat sayang... Uhhh.. Akhirnya Momy akan punya cucu....", ucapan selamat dari Momy Regina sambil mendekap Claudya dan berjalan menuju ruang keluarga.
"Terima kasih, Mom...", ucap tulus Claudya diiringi senyuman.
"Dady...".
Dady Don langsung bangkit dan memeluk anak menantunya, dan mencium kening Claudya..
"Selamat sayang... Dia sehatkan?", tanya Dady setelah dekapannya lepas.
"Puji Tuhan sehat, Dad...", jawab Claudya.
"Mana Rich?", tanya Dady lanjut karena tidak melihat putranya, padahal ia mendengar suara bass putranya yang memanggil sang istri.
"Rich? Yaaa, ampun...", langsung Momy Re teringat akan anak sulungnya.
"Mommyyyyyy...."..
*Nahhhhh...
Nahhhhh..
Nahhhh...
Ahhaahhaha...
Siapa yang berteriak memanggil*?