Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 29



Thomas berakhir di kandang singa. Mungkin dia sedang bermain atau sedang menjadi santapan singa lapar yang Jo pelihara sedari binatang itu kecil.


Jo tidak peduli. Dia hanya ingin pulang merebahkan dirinya di ranjang, lalu terlelap bermimpi indah. Sesederhana itu. Toh JF Group miliknya, jadi suka-sukalah. Mau masuk atau tidak, terserah bos.


.


.


.


.


Bryand yang diperintahkan untuk mencegah penjualan manusia pun masih dalam pertarungan melawan beberapa anak buah dari BT (Black Trust).


"Kenapa sih banyak kumpulan yang namanya awalan hitam? Menjengkelkan...!", gumam Bryand yang sedang beradu tembak di atas kapal melawan musuhnya.


"Mungkin karena dunia hitam, tuan??", jawab salah satu anak buahnya yang sedang berlindung dari hujan tembakan ketika mendengar Bryand menggerutu.


"Tapi tidak harus Black juga kan? Cari nama yang lebih kreatif kenapa sih?", kesal Bryand sambil menyerang dari balik tempatnya berlindung.


"Sudah takdirnya, tuan...", ucap anak buah lain yang ada di situ.


"Ahh, jawabanmu tak asik....!", gerutu Bryand lagi sambil berlari dari tempat persembunyiannya menyerang musuh.


dor.....dor....dor.,... (Anggap saja begitu yaaa)..


Anak buah Black Thrust pun terus membalas sehingga membuat Bryand jengah. Tadi pagi belum masuk sudah di ancam (tau lah apa yang terjadi), akibatnya kepalanya sakit karena tidak tersalurkan.


"Sisa kan satu untuk kita bawa sebagai makanan Jacky..", perintah Bryand melihat anak buah BT sudah mulai pasrah akan keadaan. Kalah tentunya.


Mendengar itu, anak buahnya semakin bersemangat melumpuhkan anggota BT yang ikut dalam pengiriman itu. Syukurnya, kapal kargo tersebut belum menyebrangi perbatasan negara, sehingga mereka dengan mudah menemukamnya juga membuat kapal itu berbalik arah ke pelabuhan terdekat.


"Mengapa nama kelompokmu itu Black Thrust?", tanya Bryand ketika salah satu anak buah BT menjadi tawanan. Yang tewas lainnya sudah dikumpulkan menjadi beberapa tumpukan dan dibuang ke laut dengan pemberat, sehingga mereka akan tenggelam tanpa harus mengapung lagi.


Anggota BT itu bingung.


"Kenapa bingung? Suruh tuanmu cari nama yang enak didengar...!", lagi Bryand mendumel. "Kau tahu, aku sedang sakit kepala...!".


Anggota BT itu semakin bingung. Anak buah Bryand pun bingung dengan gerutuan bos mereka.


"Tuan, curhat yaaaa?", akhirnya anak buah yang sebentar lagi jadi santapan so Jacky singa yang selalu lapar itu bersuara.


Mendengar itu Bryand memukulnya dengan keras sehingga pria itu jatuh begitu jauh dari tempatnya tadi.


"Seret ke sini...!", perintah Bryand.


Anggota Bryand menyeret pria itu kembali dekat.


"Duduk. Kau tahu bermain catur? Karena kita sedang di atas kapal, bagaimana kalau kita bermain catur?", ajak Bryand.


Anggota Bryand heran. "Ada apa dengan, tuan?", begitulah kira-kira mereka saling menatap dan berbicara.


Bos yang dingin, penuh wibawa dan aura pembunuh menjadi seperti itu akibat hasratnya tidak tersalurkan dengan baik.


"Saya tahu...", jawab anak buah BT yang ditahan itu.


"Bagaimana kalau kita taruhan? Kau kalah, ku putong salah satu jarimu, jika kau menang, ku potong semua jarimu?", ajak Bryand bertaruh.


???


Anggota itu diam. Bagaimana mungkin ada taruhan seperti itu? Kalah atau menang sama saja.


"Jawab aku..! Atau ku suruh kau menyelam mencari teman-temanmu yang ku buang tadi?", ancam Bryand.


Tentu saja, anggota Black Hunter tersenyum. Belum pernah ada yang mengalahkan Bryand dalam hal bermain catur. Sekalipun itu Alvaro. Tetapi jika dengan Tuannya Jo, Bryand belum pernah mencobanya.


Anak buah BT semakin gemetar, menatap Bryand dengan aura membunuh. Kedengarannya lucu, namun di balik itu, ada sesuatu yang mengerikan jika ia menyiksa tawanannya.


"Hubungi tuanmu, katakan padanya bahwa bisnisnya hari ini digagalkan olehku..", ucap Bryand.


Pria itu langsung dengan cepat menghubungi bosnya. Tetapi ketika panggilannya terhubung, ia menatap Bryand.


"Siapa nama, Tuan?", tanyanya bodoh.


Anak buah Bryand mendengar itu langsung tertawa. Tentu Bryand menjadi emosi tingkat tiga.


"Jangan tertawa,....! Ku dengar satu saja bersuara, dia ikut ku tenggelamkan...!", ancam Bryand pada anak buahnya.


Mereka diam. Mengheningkan cipta mungkin.


Bryand meraih handphone milik anak buah BT langsung berbicara pada tuan yang dimaksud.


"Eh, cupu, ganti nama kelompokmu dengan nama yang kreatif. Kalau tidak, ku ratakan semuanya dalam sekali kedip...!", ucap Bryand.


"Kau siapa?", tanya pria di balik telepon.


"Aku? Orang yang sedang berada di dalam kapal kargo bermuatan delapan puluh lima anak perempuan...!", jawab Bryand mulai menyeringai.


"Sial... Brengsek kau...!", maki dari seberang lalu mematikan panggilan tersebut.


Bryand tertawa.


"Suruh Alvaro menyerang markas si cupu itu. Perintahnya pada salah satu anak buahnya yang terpercaya.


Jack mengangguk tanda paham lalu menghubungi orang yang dimaksud.


Sedangkan di seberang sana.


"Apa?", tanyanya dengan malas, karena saat itu ia sedang beradu skill melawan kekasihnya Verena.


"Tuan Bryand memerintah anda untuk menghancurkan markas si cupu, Tuan..", jawab Jack.


"Jack, tidak bisakah sebentar lagi kau menelpon?", tanya Alvaro malas.


Bryand meraih handphone milik Jack dan berbicara.


"Kau melawan perintahku, Al?", Bryand bertanya dengan tegas.


"Tidak, Tuan Bry.. Akan saya laksanakan perintah anda secepat mungkin..!", jawab Al lalu bangkit berdiri meninggalkan Verena yang tanggung di bawah kukungannya.


"Bagus. Besok pagi laporkan padaku...!", ucap Bryand lalu mematikan teleponnya.


Di sisi Alvaro.


"Kau meninggalkanku seperti ini, Al?", tanya Verena yang kemudian menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Maaf, sayang. Nanti kita selesaikan. Aku pergi...!", jawab Alavaro lalu mencium sebentar kekasihnya itu.


Alavaro berjalan cepat keluar dari apartemen miliknya sembari menghubungi anggotanya yang lain.


"Kita markas Black Thrust...!", katanya lalu mematikan panggilan itu.


Malam hampir selesai (dini hari).


Alvaro dengan ratusan anggotanya menyerang markas BT yang ia ketahui.


Di bagi menjadi empat kelompok, Alvaro menyerang markas itu dari segala penjuru. Utara, Timur, Selatan, Barat.


Markas Black Thrust terkepung, hanya saja orang yang diincar tidak ada. Si Cupu itu dengan cepat melarikan diri dan bersembunyi.


Markas itu dibakar beserta anak buah yang tewas di dalamnya.


Alvaro menyeringai, karena tugasnya selesai dengan mudah.


"Ah, aku merindukanmu, Ve", batinnya.


Ia ingin cepat pulang dan menyelesaikan urusannya yang tidak selesai dengan kekasihnya.


Sedangkan Si Bos besar, Richard Jo, mengisi amunisi di pagi buta bersama istrinya. Bermandi peluh, meski AC sudah paling dingin disetel.


Hingga saatnya kedua insan manusia suami istri itu tepar dengan lelahnya.


"Ku harap kamu cepat mengandung...", ucap Jo pelan sambil mengelus dan mencium perut rata istrinya...


...****************...


*Jangan berhenti membacanya.


Tetap dukung karya ini.... Tuhan memberkati...☺️*