Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 56



"Mommyyyyyy.....", teriak Jo memanggil sang ibu negara dalam keadaan sebelah tangannya memegang pinggang karena terbentur nakas kecil di ruang tamu tadi.


"Ehhhh, anak Momy... Sehat?", tanya Momy Re dengan senyum menyengir.


Jo mendengus kesal.


"Encokkk dah dia.... Hahahahhaha", Dady Don tertawa terbahak melihat anaknya yang memegang pinggang.


"Ehhh, apaan encok? Dady tu yang encok.. Sudah tua masih saja membajak sawah....", ucap Jo yang masih kesal dengan tingkah sang ibu.


Claudya hanya menggeleng melihat Jo seperti itu. Lelaki bengis, pemilik organisasi bawah tanah yang disegani, ternyata berlaga seperti itu di rumah.


"Darimana Dady dan Momy tahu kalau Claudya hamil...?", tanya Jo setelah duduk di sofa single.


"Ini...", Sang ibu memberi handphone miliknya untuk dilihat Jo.


"Wahhh apa ini? Kok bisa sih? Aku harus menuntut dia yang menyebarkan video seperti ini..", dengus Jo.


"Dady yakin Bryand sudah bekerja sebelum kau menyuruhnya...", duga sang ayah.


"Boro-boro dia kerja, Dad.. Semenjak ada Jeny di rumah, kerjaannya dikurung di kamar melulu tuh si Jeny...", Jo menyahut.


"Buktinya, berita tentangmu sudah hilang.. Dady tidak menyangka... Pria dingin sepertimu bertindak demikian di lobi rumah sakit...", seringai sang ayah.


"Asal Dady tahu, yaa... Buatan luar negeri itu yang ada di perut istriku...", bangga Jo.


Claudya yang mendengar itu pun malu. Bagaimana bisa-bisanya sang suami berkata demikian.


"Buatan mana? Seoul, Korea saja sombong... Tuh adikmu, buatan negeri paling romantis, Prancis...", Dady Don pun tak kalah menyombongkan diri.


"Apa sih, Dad...? Kan kasihan Jo yang cuma buatan dalam negeri...", sang ibu negara membuat Jo semakin kesal.


Claudya tertawa terbahak-bahak mendengar guyonan keluarga Fernand itu.


"Jangan tertawa, Cla.. Itu usaha terbaik dariku yang menyekapmu di kamar seharian saat di Pulau Jeju...", Jo pun menyerang sang istri dengan hal tersebut.


Claudya membola. Ia mendengus kesal karena Jo membawa dirinya masuk ke dalam candaan keluarganya.


"Ohh berarti Made in Jeju, ya sayang??", tanya Momy Re menatap Claudya yang duduk di sampingnya.


"Momy, lihatlah, anak kita sudah memerah pipinya.. Awas, si singa mengamuk nanti kalau tidak dapat jatah sebentar malam...", Dady Don semakin memanasi.


Melihat itu Jo memutar bola matanya malas.


"Intinya jadi.. Hebatkan, Dad?".


"Apanya yang hebat? Momy dan Dady baru dua bulan menikah sudah isi perutnya Momy.. Lebih jago mana?", tanya Dady Don.


Jo seketika mati kutu. Claudya pun tertunduk malu karena memang apa yang dikatakan oleh ayah mertuanya secara tidak langsung menyinggung dirinya.


Setahun lebih menikah dengan Jo, baru sekarang ia dinyatakan hamil anak pertama mereka berdua.


"Aku dan Cla kan sama-sama sibuk, Dad...", Jo beralasan.


"Sudah-sudah.. Mau lama atau cepat, intinya ada kan? Semoga tetap sehat sampai melahirkan ya sayang? Jangan pikirkan apa yang dikatakan oleh Dady... Tuhan punya rencana untuk kalian berdua. Toh dari awal pernikahan kalian itu dijodohkan..? Beda sama Momy dan Dady yang memang saling mencintai sebelum menikah..", ucap Momy Regina menengahi.


"Maafkan Dady ya, Cla... Dady hanya bercanda tadi.. Pernikahan Dady dan Momy berjalan enam bulan baru ada nih laki-laki satu dalam perut Momy.. Tadi Dady hanya memanasi suamimu itu...", lembut Dady Don berucap.


Claudya hanya mengangguk dan tersenyum. Dady Don dan Momy Regina langsung memeluk erat menantunya.


"Mom, Dad.. Jangan erat-erat.. Nanti anakku sesak di dalam perut momynya...", larang Jo langsung menarik Claudya untuk berdekatan dengannya.


Dady Don dan Momy Re hanya bertatap mata lalu tertawa.


Jo akan jadi pria yang lebih posesif dari sebelumnya.


"Apaan sih?", Claudya risih karena Jo memeluknya erat di hadapan mertua. Malu.


"Mau makan apa?", tanya Jo.


Claudya menggeleng.


"Kamu mau makan?", tanya Cla.


"Iyaa... Sate ayam... Sepertinya enak...", sesi ngidam Jo mulai.


"Mau cari di mana siang begini??", Claudya bertanya lagi.


Jo seketika melihat sang ayah.


Dady Don yang ditatap seperti itu mengernyit heran.


"Aku mau Dady dan Ayah Albert yang membuatnya....", seringai jahat Jo.


Momy Regina yang melihat itu pun langsung menatap sang suami.


"Ayo Dad... Telepon besanmu sekarang.. Kasihan Jo.. Nanti anaknya ileran...", Momy Re pun mendukung apa yang minta oleh Jo.


Claudya merasa tidak enak karena ia tahu ini adalah balas dendam Jo terhadap ayahnya yang selalu memanas-manasi, namun apalah daya.. Kalau sudah bawa-bawa jabang bayi, mau tidak mau.


.


.


.


.


Singkat cerita Dady Don Dan Ayah Albert dibuat kelabakan karena ayamnya harus dipotong dan dibersihkan sendiri setelah itu dimasak sendiri pula.


Momy Re dan Ibu Ellena hanya menjadi penonton, sedangkan Jo jangan ditanya. Pria itu asik bermain-main dengan gunung kembar sang istri dikamarnya. Kalau makanan sudah jadi baru dipanggil.


"Jadi bagaimana?", tanya Dady Don ketika Ia, Jo dan Ayah Albert berada di ruang kerja milik Dady Don, sedangkan para wanita bercerita di ruang keluarga.


"Apa yang bagaimana, Dad?", tanya Jo.


Ayah Albert pun dibuat heran akibat pertanyaan dari besannya. Ia tak mengerti apa-apa.


"Kau tahu apa yang Dady bicarakan. Katakan yang sebenarnya di depan ayah mertuamu, Son...", perintah Dady Don.


"Maksudnya apa, Don?", tanya Ayah Albert heran karena ia tak mengerti apa yang dibicarakan oleh ayah dan anak tersebut.


"Biarkan menantumu yang menjelaskannya, Al...", jawab Dady Don.


Jo seketika mengerti apa yang ingin ditanyakan oleh Ayahnya.


"Aku sudah berbicara dengan Cla, dan menunggu waktu yang tepat untuk meninggalkan organisasi itu..", sahut Jo seadanya.


"Organisasi? Organisasi apa, Jo?", Ayah Albert semakin dibuat bingung.


"Emmm, sebenarnya aku punya sebuah kelompok kecil yang bergerak di bawah tanah.. Ayah pasti paham...", ucap Jo.


"Maksudnya? Organisasi bawah tanah? Seperti Mafia?", tanya Ayah Albert.


Jo hanya mengangguk lalu menunduk.


Wajah ayah Albert yang tadinya santai dibuat memerah seketika.


"Jadi? Selain kamu menjadi Presdir JF Group, kamu juga memimpin sebuah organisasi bawah tanah?", kini Albert semakin menaikan nada bicaranya.


"Iya, ayah...", jawab Jo pelan.


"Tenang dulu, Al.. Kita lihat bagaimana ia bertindak setelah tahu bahwa istrinya mengandung...", pinta Dady Don.


"Aku mempercayakan anakku padamu, Jo.. Dengan kau masuk ke dalam organisasi bawah tanah, artinya secara tidak langsung kau juga menyeret istrimu dan keluargaku di dalamnya..!!", bentak Ayah Albert.


"Aku tahu aku salah, ayah.. Aku sudah berniat meninggalkan organisasi itu...", Jo masih dalam keadaan tenang untuk menjelaskan.


"Kapan? Sampai musuhmu tahu bahwa Claudya istrimu? Atau Claudya telah hamil anakmu? Ha?".


"Musuhnya sudah tahu bahwa ia adalah Richard Jo Fernand, sekaligus istrinya Lee Claudya Gitta..", bukan Jo yang menjawab tetapi Dady Don yang mengatakannya.


Albert tiba-tiba berdiri hendak meninggalkan ruang kerja Dady Don karena marah.


"Duduk dulu, Al.. Kita selesaikan di sini, agar para wanita yang ada di luar tidak kuatir..", pinta Dady Don dengan lembut.


"Bagaimana bisa tenang, Don? Dia sudah menyeret anakku, juga keluargaku dalam hal ini...!".


"Lalu? Dengan kau keluar dalam keadaan marah, istrimu akan semakin kuatir.. Biarkan istrimu tidak tahu, juga El dan keluarganya. Rich sudah melakukan sesuatu untuk melindungimu dan keluargamu selama ini...", balas Dady Don masih dalam keadaan santai.


"Maksudnya?", tanya Albert tidak mengerti.


"Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk mengawal dan menjaga keluarga kita, Ayah.. Seluruhnya. Bukan hanya Claudya, melainkan Ayah dan Ibu, juga El dan istrinya serta anak-anaknya...", jawab Jo.


Ayah Albert langsung menatap menantunya itu.


"Juga perusahaanmu dilindungi oleh Jo dan anak buahnya sehingga aman dari serangan musuhmu dalam dunia bisnis...", lanjut Dady Don menjelaskan.


"Kamu tahu?", tanya Ayah Albert.


Don hanya mengangguk lalu sengaja mengecek handphonenya.


"Kau tentu tahu kan berita mengenai anak mantumu itu hari ini? Bagaimana ia bertingkah di lobi rumah sakit, lalu berita itu dalam sekejab hilang dari peredaran?", tanya Dady Don.


Albert mengangguk.


"Itu ulah anak buahnya yang menghapusnya.. Aku tahu bahwa itu bisa dilakukan oleh pengusaha mana saja, termasuk dirimu, namun dengan secepat itu, aku rasa tidak mungkin, Al...", Dady Don menjelaskan.


"Okey... Lalu soal organisasi bawah tanah itu? Tentu musuh yang dimiliki oleh Jo semakin banyak...", geram Albert yang melihat besannya itu duduk santai.


"Dia bilang akan berhenti, jadi kita pegang kata-katanya.. Dalam waktu satu bulan belum ada laporan bahwa ia sudah tidak menjabat lagi sebagai ketua organisasi itu, artinya dia tidak menginginkan Claudya dan anaknya berada di sisinya. Terserah padamu untuk lakukan apa saja terhadap anak itu...", Dady Don mengajukan sebuah kesepakatan dengan ayah Albert.


"Termasuk membawa Claudya pergi dan tidak mengizinkan anakmu bertemu dengan keluarganya?", tanya Ayah Albert memastikan.


"Deal...!", sahut Dady Don.


Jo yang melihat itupun tertegun. Yang punya istri dia, yang berurusan segala sesuatu dia, lah ini kesepakatan antara ayahnya dan ayah Claudya.


"Dad? Ayah?", panggil Jo dengan menatap keduanya.


"Apa?", sahut kedua orang tua itu bersamaan.


"Sepakat, atau Claudya tidak diizinkan untuk bertemu denganmu mulai hari ini?", tanya Dady Don yang berisi ancaman.


Jo hanya mengangguk pasrah. Melawan dua orang tua tentu akan membuatnya menderita. Apa lagi sekarang istrinya lagi dalam keadaan hamil.


"Good Boy...", ucap Dady Don setelah melihat anaknya mengangguk.


"Ehhh, Al, by the way, Claudya dulu Made in apa sih?", kini pembahasan Made in kembali dibicarakan guna mencairkan suasana yang sedikit tegang.


"Hemmm, kira-kira Jepang kalau tidak salah.. Soalnya waktu bulan madu kedua, kami ke Jepang waktu itu, dan pulang dari sana beberapa Minggu setelahnya istriku dinyatakan hamil... Memangnya kenapa?", tanya Albert bingung.


"Hahahahha... Kasihan... Ada yang Made in Indonesia sendirian nih eee...", hina Dady Don pada Jo yang terlibat wajahnya sudah masam.


"Ohhhhh, jadi anak pertamamu ini Made in Indonesia? hahahhahaha", kini Albert ikut tertawa ketika tahu kemana arah candaan Dady Don.


"Iyaaaa, aku yang made in indonesia.", dengus Jo kesal.


Dady Don dan Ayah Albert kembali dibuat tertawa dengan respon pasrah Jo.


"Hahahahahahhaahah"......