
"Rick....".
"Kau sudah sampai? Apa kabar?", Jo bertanya.
"Ya.. Kau sudah melihatku di sini.. Kabarku baik. Kau bagaimana?".
"Seperti yang kau lihat...", jawab Jo.
"Ada apa?".
Sea yang baru datang dari Swedia langsung menuju markas Black Hunter milik Jo.
"Seperti yang telah ku bicarakan lewat telepon kita kamrin....".
"Rick, sudah aku katakan, hidupku sudah tenang. Kau tahu kan suamiku meninggal karena apa? Kini kau meminta anakku menggantikanmu?", tanya Sea.
"Kau tentu tahu, organisasi ini yang mendirikannya adalah suamimu juga aku. Kalau bukan keturunanmu, lalu siapa lagi? Aku belum memiliki anak, Sea, dan mungkin sulit.....", Jo berujar dengan lirih.
Sea menaikan alis matanya.
"Dia baru sembilan belas tahun, Rick....", balas Sea.
"Yaaaa, dan dia sudah sangat tangguh kalau kau lupa...", sargah Jo.
"Aku hanya tidak ingin nasibnya seperti suamiku.. Kau tahu tentu tahu itu..".
"Aku tahu, makanya aku akan menempatkan orang-oramg terlatih untuk mendampinginya dan membuatnya lebih kuat lagi...", jawab Jo.
"Terserahlah... Aku kembali ke hotel...", pamit Sea lalu beranjak pergi.
"Alvaro akan mengantarmu... Dan terima kasih...", ucap Jo.
Sea hanya mengangguk lalu pergi.
Setalah malam berbicara dengan Claudya dan sambil mengeluarkan air yang mengasikan, Jo berpikir untuk meninggalkan organisasi bawah tanahnya dan menyerahkan pada anak dari sahabatnya.
Terlalu banyak beban yang ia pikul. Perusahaannya kian lebar, apa lagi setelah mengakuisisi perusahaan milik Lucius.
Ia sudah membicarakannya dengan Sea mengenai organisasi itu sehari sebelum kedatangan Sea dari Swedia.
Meskipun yang terjadi pada istrinya adalah karena kekesalan Lucius terhadap wanita itu di Club malam tidak berkaitan dengan organisasi milik Jo, namun ia harus mewanti-wanti jika kejadian yang sama terjadi karena musuhnya ingin menjatuhkannya.
Yahhh, waspada. Meski ia tahu bahwa meskipun ia meninggalkan organisasi itu, tetap saja, musuh lama yang merasa dihancurkan akan menyerangnya.
.
.
.
.
Seoul, Korea Selatan.
Claudya berjalan pulang dari sebuah Minimart yang yang ada di sekitar apartemennya.
Tiba-tiba saja ada seorang pria mendekat padanya.
"Annyeong... (Halo)..", sapanya.
Claudya menoleh, ia menatap pria yang menyapanya itu.
"Ye?", jawab Claudya.
Claudya mengernyit.
"O... Dowadeulilkkayo?", tanya Claudy datar.
"Seongham-eul al su iss-eulkkayo? (Boleh saya tahu nama anda?)", tanya pria itu.
"Kita tidak sedekat itu.. Joesonghabnida. dol-agaya habnida..(Maaf, saya harus kembali)", balas Claudya setengah Indo setengah Korea.
Laki-laki itu hanya menatapnya setelah melihat Claudya pergi.
"Heungmiloun..(Menarik)", seringai Pria itu.
Pria itu adalah Seong Da Min. Seorang pengusahaan real estate yang terkenal di Korea. Memiliki banyak properti juga beberapa perusahaan cabang yang tersebar di beberapa kota di Korea, juga beberapa negara Asia.
Ia sengaja mendekati Claudya, karena ia sebenarnya tahu, bahwa wanita itu adalah direktur perusahaan JS Group yang juga. Berusaha mendekati, kalau bisa mengambil hatinya agar perusahaannya yang bergerak di bidang yang sama dengan JS Group semakin berkembang pesat.
Perusahaan cabang JS Group juga termasuk perusahaan besar di Korea yang menduduki urutan nomor tiga perusahaan terbaik di negara itu.
Sebanarnya, Pusat JS Group ada di Korea. Pendiri perusahaan ini adalah Kakeknya, ayah dari ayahnya, Lee Ju Sung. Berpindah ke Indonesia, karena ayah Lee Albert Sung menikah dengan ibu Ellena yang notabene orang Bandung, Indonesia, sehingga memindahkan perusahaan ini ke negara asal Ellena.
Jack yang sedari tadi melihat interaksi antara nyonya muda dan pria itu pun langsung melaporkan apa yang terjadi pada Jo.
"Al, selidiki pengusaha bernama Seong Da Min asal Korea Selatan dan cari celah perusahaannya agar kita juga menjadi pemegang saham di perusahaan itu...!", perintah Jo melalui telepon.
"Baik, Tuan..", jawab Al dari seberang.
"Sepertinya aku harus mengunjungi istriku", batin Jo.
Di tempat lain (Masih di Korea Selatan).
"It seems that woman is not easy for you to subdue, Mr. Seo.. (Sepertinya wanita itu tidak mudah anda tundukan, Tuan Seo)", ucap seorang pria yang menjadi teman dari Seong Da Min.
"Just so you know, Mr. Bram, no woman dares to reject me even though she is already very rich. (Asal anda tahu, Tuan Bram, tidak ada wanita yang berani menolakku sekalipun ia sudah sangat kaya.)", balas Seo pada temannya itu.
"But this woman is different from the women you cheated on (Tetapi wanita ini berbeda dari para wanita yang pernah anda tipu..)", sahut pria itu.
"Why? Even if he is already married, I will get that woman and then use her for my benefit (Meski dia sudah menikah, aku akan mendapatkan wanita itu lalu memanfaatkannya untuk kepentinganku..)".
"Yes.. But you should know, that a woman's husband is very influential in the business world, even you could be bankrupt by him (Ya.. Namun harus kau tahu, bahwa suami wanita itu sangat berpengaruh di dunia bisnis, bahkan anda bisa saja dibuat bangkrut olehnya)", pria itu memberi penjelasan sekaligus peringatan karena ia mengenal betul siapa Richard Jo Fernand.
"Hahahahaha.. You take it easy, Mr. Bram. I'm sure her husband wouldn't dare touch me in my territory. And that woman, besides I can trick her for the sake of my company, I can also f***ck her (Hahahahaha.. Kau tenang saja, Tuan Bram. Aku yakin, suaminya tidak akan berani menyentuhku di wilayah kekuasaanku. Dan wanita itu, selain aku bisa menipunya untuk kepentingan perusahaanku, aku juga bisa menidurinya)", tawa nyaring terdengar di sebuah apartemen mewah yang berada di depan apartemen milik Claudya.
"It's up to you, Mr. Seo. I warned you. I'm sorry. And thank you for the invitation tonight (Terserah padamu, Tuan Seo. Aku sudah memperingatimu.. Aku permisi.. Dan terima kasih atas undangannya malam ini)..!!", ucap Bram lalu pergi dari apartemen pria Korea itu.
Richard Jo yang sudah memerintahkan Alvaro untuk menyelidiki mengenai Seo Da Min pun bersiap untuk melakukan penerbangan menuju Seoul.
Ia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan istrinya meski tidak bisa bersentuhan tubuh secara langsung, namun menatap wajah ayu istrinya dengan kedua matanya sendiri pun terasa sudah cukup.
Apa lagi ia sudah mendengar laporan dari Jack mengenai pria yang berinteraksi dengan istrinya tadi siang.
Jack tidak mungkin salah dalam menilai tindakan seseorang. Ia adalah seorang mata-mata, juga pengawal yang kerap kali bertemu dengan banyak orang. Pria pembaca situasi dan gerak tubuh yang sangat baik.
"Bryand, urusan kantor kau urusi sementara. Aku akan ke Seoul menemui istriku...!", ucap Jo ketika sampai di bandara.
"Baik, Tuan...", jawab Bryand. Ia ingin ikut, tetapi tugasnya sebagai asisten tidak dapat ditinggalkan, apa lagi ada Sea yang datang dari Swedia sebagai tamu tuannya tidak mungkin ia biarkan begitu saja.
"Katakan pada Sea untuk menungguku kembali, dan usahakan anaknya sudah berada di Indonesia setalah aku pulang...", ucap Jo lagi lalu berlalu pergi tanpa mendengar jawaban dari asisten satu itu.
"Istriku, I'm coming...", gumam Jo setalah kakinya menapaki tangga pesawat pribadi miliknya.