
Jo memacu mobilnya cepat, menuju pinggiran kota tempat istrinya berada.
Lelaki itu menapaki anak tangga menuju balkon paling atas dari gedung yang dituju di mana Claudya berdiri menatap kota yang kian gemerlap karena malam perlahan menyapa.
"Cla...", panggil Jo lirih.
Cla menoleh dengan tersenyum sinis.
"Anda sangat cepat mengikutiku ke sini, Tuan Jo..!", ucap Claudya dengan tekanan.
"Maaf... Bukan maksudku menyembunyikannya, hanya saja aku belum bisa mengatakannya...", perlahan Jo berucap sambil mendekat ke arah Claudya.
"Hahahahaha.. Alasan klasik, Tuan... Saya tidak menyangka, menikahi seorang manusia iblis...!", Claudya tertawa.
"Apa yang dikatakan Frank?", tanya Jo penasaran.
"Pembunuh, pengedar, serta melakukan tindakan prostitusi..! Lucu sekali.. Ternyata bisnis anda tidak semuanya berasal dari JF Group...!".
Jo mengernyit heran. Prostitusi dan pengedar? Jo membatin.
"Kamu salah, Cla. Aku tidak melakukan itu. Organisasi yang ku pimpin tidak melakukannya...", sanggah Jo.
"Penipu kalau mengaku, penjara penuh...", sarkas Claudya.
"Aku bersumpah, Cla. Tidak melakukan itu..!", sekali lagi Jo membantah istrinya.
"Hahahha, anda lucu, Tuan Jo... Bukti yang disodorkan oleh Frank itu nyata...!".
"Tidak.. Percaya padaku...!", bujuk Jo yang kini bersuara lembut.
"Aku akan mengurus perceraian kita setelah kembali dari sini...!", ucap Claudya lalu kembali menengadah ke hamparan kota.
"Aku tidak akan menceraikanmu, Claudya.. Jangan sesekali berbicara soal perceraian...!", tegas Jo lalu menarik pksa lengan Claudya untuk menghadapnya.
"Kenapa? Apa karena ungkapamu sebelum pertama kali menyetubuhiku?", balas Claudya sambil melepaskan cekram Jo pada lengannya.
"Agama kita dan keluarga kita menentang perceraian..".
"Hahahaha... Jangan membawa agama dalam kasusmu, Tuan Jo.. Jika anda beragama dengan benar, tentu anda paham bahwa apa yang anda lakukan itu salah...".
"Aku minta maaf jika tidak jujur padamu selama ini...", perlahan Jo mulai menyentuh pipi istrinya yang kini sudah basah karena air mata.
"Aku kecewa dengan, aku kecewa dengan keluargamu yang telah membohongiku dan keluargaku...", Claudya menepis tangan Jo yang menyentuh pipinya.
"Jangan membawa keluargaku, Cla.. Mereka tidak tahu apa-apa..!", sahut Jo.
"Waowww... Anda hebat, Tuan Jo... Anda menyembunyikan siapa anda dengan baik dari keluarga anda sendiri...!", lagi Claudya merasa sinis.
"Aku minta maaf, Claudya..", sekali lagi Jo berucap maaf.
"Kau tahu, dalam pernikahan harus ada keterbukaan, ada rasa saling percaya, dan sebagainya.. Tetapi kau membohongi semua orang dengan penyamaranmu itu...!", Claudya berpendapat.
"Aku hanya belum sempat mengatakannya, Cla...", lagi Jo melemah untuk mendapatkan maaf.
"Maaf..? Kau menjual perempuan muda untuk dijadikan budak nafsu para lelaki di luaran sana, kau mengedar barang haram agar generasi yang menikmatinya semakin terperosok dalam jurang kehancuran, kau membunuh banyak orang yang tidak mau bertekuk lutut terhadapmu... Kau brengsek, Jo...!", maki Claudya panjang lebar.
"Aku tidak melakukan hal yang kau tuduhkan, Claudya...", Jo membatah dengan nada suara semakin tinggi.
"Apa? Kau juga mau menyingkirkan ku setelah aku tahu yang kau lakukan selain mengurus JF Group? Ha?", Claudya pun tidak kalah tinggi dan menantang.
"Cla.. Kau salah paham... Akan aku jelaskan...!", lagi Jo melunak.
"Percuma... Seribu kali pun kau menjelaskan atau meminta maaf, tidak akan mengubah pandanganku yang sekarang tentangmu...!", ucap Claudya sinis.
"Aku harus bagaimana agar kau percaya?", Jo bertanya dengan gusar pada istrinya itu.
"Jauhi aku, jangan ikut campur mengurusi kehidupan pribadiku dan juga pekerjaanku, jangan pernah mengirim satu orang pun anak buahmu untuk mengawal atau apalah, jangan pernah mengusik kehidupanku...", jawab Claudya pasti.
"Artinya kau tetap mengajukan perceraian, Cla?", tanya Jo yang semakin sulit membujuk Claudya.
"Tidak.. Tetapi menghukummu dengan caraku sendiri...!", ucap Claudya lalu pergi dari tempat itu.
Jo hanya pasrah, ia akan kembali menjelaskan pada Claudya tentang apa yang sebenarnya ia lakukan setelah emosi wanita itu mereda.
Anak buah Jo yang berada di sekitar situ pun meminta pendapat setelah melihat nyonya muda mereka mulai menjauh.
"Haruskah saya awasi nyonya muda, Tuan?", tanya Jack.
"Hmmm.. Jadi pengawal bayangannya saja. Jangan terang-terangan, seperti biasa...", jawab Jo sekaligus sebagai perintah untuk Jack.
Sedangkan di tempat lain, Claudya sudah kembali ke hotel tempatnya menginap lalu menghubungi Lusia melalui telepon.
"Cari tiket untuk penerbangan pulang ke negara I malam ini, atau paling lambat besok pagi subuh. Kita pulang..", perintah Claudya.
"Bukannya kita menggunakan jet pribadi milik Tuan Jo, Nona?", tanya Lusia heran.
"Jangan membantahku, Sia... Lakukan apa yang aku perintahkan..! Satu lagi, cari kelompok pengawal atau apalah bodyguard untukku...", perintah Claudya langsung memutuskan panggilan sepihak dengan Lusia.
Lusia bergerak cepat untuk bekerja sesuai perintah atasannya, dan mendapatkan penerbangan paling akhir di waktu setempat untuk kembali ke negara mereka.
"Nona, kita berangkat pukul sebelas malam ini.. Penerbangan paling akhir...", lapor Lusia setelah pintu kamar dibuka oleh Claudya.
"Bereskan barang-barangmu, juga sampaikan pada Jeny.. Oh ya, soal bodyguard, sembunyikan itu dari Jeny..!", ucap Claidya dan diangguki oleh Lusia.
Jack yang bersembunyi di balik tembok mencuri dengar apa yang disampaikan Claudya sehingga membuat laporan ke Richard Jo.
"Al, kawal istriku sampai bandara. Jangan diketahui olehnya. Intinya pastikan mereka bertiga baik-baik saja...", perintah Jo langsung disanggupi oleh Alvaro.
"Hai, Frank Cole... Mari kita bermain...!", seringai Jo ketika melihat musuhnya sudah terikat di sebuah kursi.
"Kau berani karena banyak anak buahmu yang mengelilingi..!", remeh Frank.
"Sedangkan kau, hanya jadi pengecut yang tidak mampu langsung berhadapan denganku, melainkan harus menggunakan perempuan untuk menghancurkan ku...!", sahut Jo enteng tetap dengan senis.
"Sial kau...!", maki Frank.
"Hahahahaha... Bernard, mana filenya?", pinta Jo pada anak buahnya yang bertugas sebagai ahli Tehknologi itu.
"Ini, Tuan Rick..!".
"Kau lihat baik-baik file ini ...!", ucap Jo pada Frank yang kini sudah membaca beberapa kalimat dengan mengeram gigi yang kuat.
"Biadabbbb..", maki Frank lagi.
"Sangat mudah bagiku mengakuisisi perusahanmu, Frank.. Aku hanya ingin melihat sejauh mana kau berani mengacau selama ini. Dan ternyata.. hahahahhaha", Jo tertawa dengan keras. Kesa, marah dan rasa bersalah menjadi satu ketika melihat istrinya tidak lagi menghiraukannya.
"Kembalikan perusahaanku, brengsek...!", umpat Frank yang masih terikat di kursi itu.
"Bebaskan dirimu sendiri, lawan aku.. Jika aku kalah, akan ku serahkan seluruh asetmu kembali, juga asetku....!", ucap Jo menantang.
"Berikan dia pisau...", perintah Jo pada anak buahnya yang lain.
Mereka melakukan seperti apa yang diperintahkan.
"Gunakan pisau itu untuk melepaskan diri.. dan lawan aku...!", ucap Jo pada Frank.
Frank berusaha dengan sekuat tenaga untuk memotong tali yang mengikat tubuhnya dengan susah payah.
Jo menyeringai ketika melihat sedikit lagi pria itu akan berhasil, lalu memerintah anak buahnya untuk menjauh dengan memberikan kode melalui sebelah tangannya.
"Cepat, waktuku tidak banyak....!", lagi Jo berucap untuk membuat Frank merasa panas.
"Ku bunuh kau....!", lagi Frank mengumpat setelah merasakan ikatan pada tubuhnya mulai kendor.
Secepat kilat ia berlari menerjang Jo namun pria itu malah menusuk angin karena Jo mampu menghindar dengan santai.
"Cuma segitu? Kau tidak pantas menjadi pemimpin jika gerakanmu seperti perempuan. Pantas, kau menggunakan perempuan untuk mengacaukan pikiranku...", umpan Jo dengan kalimat yang membuat Frank semakin emosi.
Pria itu kembali menyerang Jo dengan menggunakan pisau yang ia peroleh dari anak buah Jo.
Lagi-lagi Jo menghindar. Lalu pria itu tertawa.
"Lemah...!", hina Jo.
"Sial...!", lagi Frank mengumpat karena serangannya tidak kena.
Ketiga kalinya Jo mampu menghindar, namun lengannya sedikit teriris sayatan pisau Frank.
"Hahahaha.. Kau kenal...!", tawa Frank setelah berhasil melukai Jo.
Richard Jo pun ikut tertawa..
"Sudah? Giliranku sekarang....!", ucap Jo kemudian menyerang membabi buta ke arah Frank yang sulit menghindar.
Bogeman mentah mendarat tepat di rahang pria itu, lalu Jo menyerang lagi menggunakan tendangan dan telah mengenai dada Frank. Batuk mengelurkan darah.
"Akhhhh... Brengsek...!", lagi-lagi Frank emosi karena ia terkena serangan Jo.
"Tubuhmu tak punya daya tahan.. Baru serangan pertama saja sudah berdarah... Hahahahha", hina Jo memancing amarah Frank.
Frank kembali menyerang, namu dengan satu kali pukulan tepat di dada, Pria itu ambruk.
Frank berlutut karena kini ia sudah berdarah melalui mulutnya.
Jo mendekat, dan menunduk memegang bahu kiri Frank dan meramasnya.
Frank menyeringai kesakitan.
"Kau lemah, Frank... Anak buahmu akan ku ambil alih...!", ucap Jo dengan senyum di wajahnya.
Namun, beberapa saat kemudian, karena kurang memperhatikan, sebuah beda tajam menusuk ke arah perut Jo.
Frank lalu perlahan bangkit berdiri dengan sisa tenaganya.
"Kau tamat, Rick..!", ucap Frank karena melihat Jo masih menunduk memegang ganggang pisau yang seluruh isinya sudah masuk ke area perut Jo.
Tetapi siapa sangka, Jo berdiri dengan mencabut pisau itu, lalu menusuk leher Frank yang berdiri tepat di depannya.
Frank rubuh, Jo ambruk.
Diam, keheningan..
Mata Jo mulai buram, tetapi masih saja melihat lawannya yang bersimbah darah.
Frank mati di tempat.
"Aku mencintaimu, Claudya...", ucap Jo sebelum kesadarannya benar-benar hilang...
...****************...
*Buat yang nanya, ke mana kok Frank gak punya anak buah untuk menyelamatkan pimpinannya.
Jawabannya adalah sementara Frank menunggu istri Jo untuk bertemu dengannya, anak buah bayangan Jo sudah mengurusi anak buah milik Frank yang ada di situ, tanpa sepengetahuan Jo, karena mereka diperintahkan jika melihat sesuatu yang mencurigakan, bereskan tanpa harus menunggu perintah atasan. Lalu, anak buah Jo yang lain, mengurusi akuisisi perusahaan milik Frank. Begitu loh....
Belum ngerti? nanti di Flashback yaaaa di episode berikutnya*.