Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 52



Seminggu di pulau Jeju bisa dibilang honeymoon bagi pasangan suami istri tersebut. Bercerita di mana saja, bercinta kapan saja. Bebas tanpa harus berkutat dengan pekerjaan yang menyita waktu bersama. Toh, Jo hanya akan memeriksa email yang masuk setelah Claudya terlelap lelah karena percintaan mereka.


"Semoga Made in Jeju Island bisa membuahkan hasil...", begitulah harapan sang suami setiap kali menatap istrinya yang sedang terlelap.


Pukul 10.15 tiba di Seoul.


"Kamu mau kemana?", tanya Claudya yang melihat Jo sudah bersiap dengan pakaian casual.


"Ada urusan sebentar.. Kamu beristirahatlah.. Jeny akan kemari menemanimu... Okey?".


"Hmmm.. Bawakan aku kimchi jika pulang nanti...", pinta Claudya.


"Iya...", lalu mengecup kening istrinya. "Aku pergi dulu..", pamit Jo.


Pertemuan hanya berlangsung satu jam membahas rencana menjebak Seo, serta kerjasama antara Jo dan Bram dilakukan di restaurant tempat pertama kali mereka bertemu.


"Thank you for the information... I hope our plan goes well, Mr. Bram and of course our business cooperation (Terima kasih atas informasinya... Semoga rencana kita berjalan lancar, Tuan Bram dan tentu saja kerjasama bisnis kita)...", ucap Jo.


"You're welcome, Mr. Richard...", balas Bram lalu mereka berdua berpisah arah.


"Bry, katakan pada Jack untuk longgarkan pengaman pada istriku.. Minta Alvaro cari bukti kecurangan ayah dan anak itu (Seo dan Ayahnya) agar sekali dayung berpulau-pulau kita lampaui...", rencana Jo.


"Baik, Tuan..", jawab Bryand dan pergi lebih dahulu dari tempat itu.


"Cari kimchi di mana? Atau kupesan saja dari restaurant ini..? Mungkin ada...", gumam Jo.


Setelah mendapatkan apa yang dimaksud, Jo bergegas pulang ke apartemen istrinya.


Tiba di apartemen, ia disambut sang istri yang sudah menyiapkan makan siang.


"Kamu yang masak?", tanya Jo.


"He'emmm... Ayoo makan... Pesananku?".


"Ini....", jawab Jo menyerahkan pesanan Claudya.


"Bisa buncit perutku.. Aduh.. Mana kenyang lagi.. Tapi kalau tidak makan yang ia masak, jatahku berkurang dong...", batin Jo.


Jo terpaksa ikut makan bersama Claudya. Meskipun kekenyangan, ia tentu harus menghargai sang istri demi kelanjutan nagabonarnya.


"Kamu sepertinya sangat lapar?", tanya Jo ketika melihat Claudya yang cukup banyak makan. Apa lagi ditambah kimchi yang ia beli tadi.


"Aku butuh tenaga ekstra untuk melayani suamiku yang tidak ada kata lelahnya...", sarkas Claudya.


Jo tertawa. Ia merasa tersindir, karena seminggu ini sudah menguras banyak tenaga Claudya untuk melayaninya. Pagi-siamh-sore-malam.. Maupun jam berapapun.. Entah itu dini haripun Jo tidak membiarkan ia bisa tidur nyenyak.


"Tetapi istriku sangat suka...", sahut Jo tersenyum ke arah Claudya.


"Karena suamiku sangat memuaskan....", balas Claudya.


Mereka berdua makan sambil bercanda. Entah itu cinta atau apa, yang jelas, Jo merasa sangat senang akan perubahan Claudya meskipun ada yang belum berubah, yaitu gila kerja, makanya selama seminggu, Jeny dilarang untuk mengirimkan email apapun kepada Claudya. Jika ada masalah mengenai perusahaan cabang itu, silahkan hubungi Bryand. Hahahaha...


"Bagaimana kalau beberapa ronde kita lakukan siang ini?", tanya Jo menyeringai setelah melihat air minum tandas dari gelas istrinya.


"Bukankah selalu beberapa ronde jika kita bertarung, Tuan Rich?", Claudya balik bertanya.


"Aku anggap jawabanmu, iya, nona Claudya..".


"Baiklah.. Aku bereskan piring-piring kotor ini dulu...", ucap Claudya lalu bangkit membereskan piring kotor yang digunakan oleh mereka berdua.


"Biar aku yang membersihkannya.. Kamu bersiap-siaplah untuk seranganku.. Hahahahha", Claudya ikut tertawa mendengar tuturan Jo.


Wanita itu membiarkan prianya untuk membersihkan meja makan, serta mencuci piring yang mereka gunakan tadi.


Teng-teng-teng...


Jo yang sedang sibuk mencuci piring dibuat kaget, karena ada tangan yang ia kenal melingkar di perutnya.


"Kamu sudah tidak sabar rupanya...", ucap Jo.


"Hahahhaahaha.. Aku hanya ingin memeluk suamiku yang sedang mencuci piring...".


"Tetapi suamimu merasa panas saat ada tangan cantik yang melingkar di perutnya...".


"Bagaimana kalau tangan cantik ini lebih turun ke bawah?", tanya Claudya yang kemudian menggeser sebelah tangannya ke area bawah.


Jo tertegun. Kedua tangannya bertumpu di tempat cuci piring itu.


Claudya bermain pelan. Meski masih di luar, sebagai laki-laki normal, Claudya membangkitkan sesuatu.


Jo ingin memutar badannya menghadap istrinya, tetapi Claudya melarang.


"Tetap seperti ini, Rich...".


Jo menurut. Belt yang digunakan Jo sudah terlepas. Celana kainnya semakin bergerak turun diiukuti oleh sebelah tangan Claudya yang kini sudah bergerlya di Nagabonar.


Maju-mundur. Pastinya.. Sepertinya pembalasan dendam Claudya karena ia dibuat posisi yang sama waktu mereka di restaurant Pulau Jeju.


"Claaaaa.....", panggil Jo tertahan.


"Iyaaaaa.....", jawab wanita itu sensual yang membuat gairah pria semakin tinggi.


"Aku masihhhh men---cu----ci, pi-----akhhhhh", ucapan Jo tidak selesai.


"Selesaikan, by.....".


Jo menggeleng. Bagaiman bisa selesai kalau seperti itu..? Sama saja akan membuat piring terbang melayang dan pecah kan?


Jo tiba-tiba menggenggam tangan wanitanya yang bermain di nagabonarnya dengan erat.


"Kita selesaikan di atas meja itu....", ajak Jo menarik tangan istrinya ke arah meja makan yang tadi mereka gunakan.


"Sabar, By.... Aku yang bekerja, kamu berbaring...", pinta Claudya.


Jo mengernyit heran, namun tetap ia lakukan.


Setengah tubuh Jo sudah tak berbenang bagian bawahnya.


"Claaaahhh....."...


"Maaf, suamiku, sepertinya untuk sementara kamu tidak bisa berkunjung, karena sedang ada palang merah... Hahahhaaha", Claudya tertawa lagi dan kemudian memasukan kembali nagabonar prianya di gua bergerigi itu.


Jo sudah tidak konsen dengan ucapan Claudya. Yang ia rasa adalah nikmat.


Naik-turun.. Kadang tangan yang bekerja.


Hingga akhirnya, bibir kehidupan tumpah di dalam mulut Claudya, karena Jo menekan kepala wanita itu agar sesap lebih dalam.


"Uhukkk-uhukkkk", Claudya batuk dan memberikan air kehidupan kembali keluar dari mulutnya.


"Nikmat....", lalu ucap wanita itu.


"Kamu curang, Cla...", dengan napas tertahan Jo protes.


"Kamu belum bisa bertemu dengan goa lembab, by... Maaf... Baru tadi pagi sebelum kita pulang dari pulau Jeju ia datang..".


Jo kini paham yang dimaksud. Ia mengangguk lalu membenahi celananya yang melorot.


.


.


.


.


Mereka berdua menghabiskan siang itu dengan saling bercerita dan menyusun rencan menjebak Seo.


Claudya pun setuju hanya memberi syarat kepada suaminya.. "Jangan dibunuh.. Diasingkan saja...".


Jo menurut. Ibu negara yang memerintah.


.


.


.


Jo mendapat laporan bahwa Seo akan kembali ke apartemennya yang berada satu lantai dengan apartemen Claudya dan Jeny. Sekaligus laporan bahwa ada yang berusaha meretas data perusahaan induk milik Jo di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan si mata sipit manusia plastik tersebut.


Alvaro tentu bergerak cepat mengatasi itu, dan menyerang balik mereka yang mencoba meretas data perusahaan milik Jo.


Rencana berlangsung.


"Besok kamu akan pulang?", tanya Claudya yang bergelayut manja di lengan Jo. Sengaja pintu apartemen tidak ditutup rapat agar Seo mendengar apa yang mereka bicarakan di dalamnya. Toh karena apartemen pria sipit itu berada di depan apartemen Claudya.


"Iya, Baby.. Soalnya perusahaanku sedang bermasalah di sana.... Apa kamu mau ikut pulang?".


"Maaf, Rich, perusahaan di sini masih membutuhkanku dan Jeny...", ucap Claudya.


"Okelah.. Hati-hati di sini...", pesan Jo.


Seo yang berada di balik pintu itu pun mendengarnya. Tentu ia belum paham bahasa yang digunakan oleh Jo dan Claudya.


"Bogosipda.. Naeil jib-e josimhi wa.. Mos-waseo mianhae.. (Aku akan merindukanmu.. Besok pulang hati-hati.. Maaf aku tidak bisa ikut..)", sengaja Claudya menggunakan bahasa Korea agar pria yang berada di balik pintu mengerti.


"Ne.. Oneul ohucheoleom gyesoghaneun geon eottaeyo? (Ya.. Bagaimana kalau kita lanjutkan seperti tadi siang?)..", umpan Jo.


Claudya mengangguk.


Jo sengaja mendesah, padahal mereka tidak berbuat apa-apa di sofa itu.


Seo sengaja mengintip, melihat Claudya yang duduk di lantai, sedang Jo d Sofa dan mengangguk kepala Claudya naik-turun seperti yang readers bayangkan.. Hanya dibayangkan yaa.. Jangan dilakukan bagi yang belum halal... Cuma tergantung pribadi masing-masing...


Gairah memuncak. Pria itu semakin bertekat mendapatkan Claudya. Lalu ia berjalan masuk ke apartemennya dengan panasa.. Ada sesuatu yang harus dituntaskan.


Mendengar bunyi tanda pintu terkunci, Claudya dan Jo tertawa tebahak-bahak..


"Hahahaha.. Kuncing masuk kandang jebakan... Kita lihat besok...", tawa Claudya.


"Hahahahah... Ya.. Ya.. Ya.... Pria yang sangat bodoh...", Jo ikut tertawa.


Mereka berdua pun akhirnya menuju kamar, mengistirahatkan tenaganya untuk jebakan berikutnya, namun bukan Jo kalau namanya harus tidur biasa.


Ia meminta Claudya hanya mengenakan bawahannya saja. Atasnya polos agar ia bisa bermain dengan semangka matangnya. Sedang tangan Claudya harus memanjakan Nagabonar prianya.


Meski tersiksa ya lebih baik begitu kan? Daripada dianggurin tinggal tidur?


Pillow talk yang aneh... Namun mendekatkan..


.


.


.


Alvaro di Indonesia.


"Mau bermain-main dengan JF Group? Salah pilih lawan mereka...", ucap Alvaro sendirian.


Ia bergegas memberikan balasan karena berani mencoba membobol data JF Group. Apa lagi di kantor pusat yang notabene adalah tanggung jawabnya.


Tangannya bergerak lihai di depan layar monitor canggih. Seorang anak buah yang dipercayainya pun bekerja dengan baik, sehingga mendapatkan bukti-bukti kejahatan Seo dan Ayahnya.


Yuptsss...


Perusahaan yang dibanggakan akan hancur besok.


Tidak ada lagi nama Yin Group. Yang ada tentu, akuisisi dari Jo terhadap perusahaan itu. Tunggu besok....