
Maaf adegannya kurang dramatis..
Soalnya udah mau ending.. Kaya lagi gak mood buat nulis..
Tapi semoga kalian suka ya
“June !! Apa yang kau lakukan ?!”
Disisi lain, Kaylie berada di mobil milik June, dengan kondisi kedua tangan dan kakinya terikat, tapi wanita itu masih dalam kondisi sadar dan menatap tajam ke arah June yang ada di sebelahnya, sementara lelaki itu hanya terkekeh pelan seakan tidak takut dengan tatapan tajam itu, justru malah senang dengan reaksi penolakan dari Kaylie.
“Tidak ada, aku hanya ingin meraih seseorang yang aku cintai.” Ujarnya membelai lembut rambut Kaylie, meskipun tidak terlihat memberontak atau menolak, tapi raut wajah Kaylie sudah memperlihatkan ketidaksukaan karena sentuhan dari June itu.
Disisi lain..
“Apakah masih jauh jarak kita ??”
“Tidak tuan.”
Mobil milik Davide masih berusaha mengejarnya, bermodalkan alat pelacak yang sudah terpasang di mobil June. Sepertinya Davide akan memberikan bonus lebih kepada para anak buahnya yang sangat pintar dan cekatan itu, jikalau tidak ada alat pelacak kemungkinan Davide akan kehilangan jejak kemana istrinya pergi.
Dan dengan begitu, Davide bisa bersiap membawa banyak anak buahnya mengikuti mereka, untuk membawa kembali Kaylie yang berada di tangan June.
Davide beruntung melewati jalan pintas, yang tidak melalui daerah perkotaan atau daerah yang terdapat pemukiman warga, karena dengan begitu dia bisa berjalan dengan lebih cepat dan ngebut. Tidak ada polisi yang berjaga, membuat Davide semakin bebas untuk menaikkan kecepatan, tapi Davide adalah orang yang cerdik. Dia masih mampu untuk mengendalikan mobil yang berjalan dengan cepat.
Hingga mobil mereka tepat berada di belakang mobil June, dengan segera Davide memberikan kode kepada para anak buahnya untuk menembaki mobil di depannya.
“berhati-hatilah, lebih baik kalian fokus pada ban mobilnya, karena Kaylie masih berada di dalam mobil, jangan mengenai kaca mobilnya.” Ujar Davide memberikan perintah sekaligus peringatan kepada para anak buahnya itu.
“Baik, Tuan.”
Mereka segera melakukan perintah tuannya itu, tembakan mereka tepat mengenai ban mobil di depannya, hingga mobil di depannya itu kehilangan kendali dan hampir menabrak pembatas jalan.
Setelah itu, Davide perlahan menginjak pedal rem dan memberhentikan mobilnya, dia keluar bersama anak buahnya, sempat terjadi penembakan atau serangan kecil antara anak buah dari Davide dan June, sementara mata Davide sendiri mencari kemana June pergi, hingga dia melihat ke arah June yang tengah membawa Kaylie pergi dari kerumunan untuk bersembunyi, tapi sayangnya Davide mengetahui itu dan segera mengarah ke arah June.
“June !!”
June kemudian membalik badan, dan melihat ke arah Davide yang menatapnya dengan tajam. Sementara June sendiri tengah menyandera Kaylie dengan menodongkan senjatanya kepada Kaylie, Davide yang melihat itu semakin kesal.
“Ah~ Davide.. Kau benar-benar memiliki insting yang kuat, bukan ?? Untuk menyelamatkan istrimu.” Ujar June menyeringai licik.
“Aku tidak suka berbasa-basi, kau tahu.” Celetuk Davide memutar matanya malas, tapi fokusnya tetap pada ke arah mata Kaylie istrinya, yang berusaha untuk melepaskan kedua tangannya dari ikatan tali yang mengikatnya.
“Baiklah, aku akan berterus terang. Aku menginginkan Kaylie.”
“Setelah mendapatkan Mira, kau juga menginginkan Kaylie ?? Yang benar saja.”
“Aku tidak pernah menginginkan Mira sejak awal.”
“Yaa..yaa.. Yaa.. Kau bisa mengatakan itu setelah Nicholas lahir, setelah Mira bercinta denganmu.”
“Aku juga tidak pernah menginginkan anak itu.”
Melihat June tampak sibuk berbicara dengan Davide, membuat Kaylie berusaha untuk melepaskan diri secara perlahan tanpa di ketahui oleh June. Tapi belum sempat dirinya melepaskan diri, tiba-tiba suara tembakan terdengar.
Dor !!!!
Kaylie segera menutup matanya, takut jika June yang melepaskan tembakan itu, tapi nyatanya bukan. Bahkan Davide masih berdiri di sana melihat ke arah depan dengan tidak percaya, dan sedikit tidak puas. Kaylie merasakan tangan June tidak lagi memegangnya dengan erat, hingga dia menyadari jika seseorang menembak June dari belakang, tepat mengenai jantungnya.
“Woahh.. Beruntung aku bisa tepat, mengenai jantungnya..”
“Darel ?? Sedang apa kau disini ??” Tanya Davide masih tidak percaya dan bingung.
“Sedang makan. Apa kau tidak melihat jika aku menembak musuhmu ?! Kau seharusnya senang.” Ujar Darel sedikit sinis.
Ya, siapa yang tidak sinis. Dirinya sudah berlagak bak pahlawan, dan di berikan pertanyaan yang tidak masuk akal, setidaknya bertanya keadaan atau kondisi, atau berterima kasih untuk pertolongannya.
“Ya.. Terima kasih.” Celetuk Davide dengan sedikit ketus, sementara tangannya melepaskan ikatan di kedua tangan Kaylie.
Setelah wanita itu bebas, dia langsung memeluk ke arah Davide. Tapi hebatnya, Kaylie tidak mengalami ketakutan yang sangat berlebihan, setidaknya dia sangat senang dan bahagia karena dirinya dan Davide tidak terluka sedikitpun. Darel hanya menggelengkan kepalanya.
“Semua sudah beres ??” Tanya Darel.
“Siapa yang bilang ?! Persidangan perceraianku dengan Mira masih belum selesai, di tambah pembunuhan Damian dan penyiraman air keras masih harus berjalan.” Ujar Davide tidak terima dengan perkataan dari Darel.
“Iya, kakakku.. Bersantailah.. Kau terlalu emosian.” Celetuk Darel saat mendengar Davide menaikkan nada bicaranya, kenapa Davide malah terdengar begitu marah, padahal yang dimaksud adalah permasalahan Davide dan June.
Tidak lama, pihak kepolisian datang. Tidak.. mereka tidak menahan atau menangkap Darel, karena Darel masuk dalam perhitungan sedang menyelamatkan Kaylie. Dan tentu saja laporan penculikan Kaylie sudah terdengar oleh para pihak kepolisian, dan tersangka sendiri sudah tertulis namanya di laporan. Jadilah Darel di anggap, telah menyelamatkan Kaylie dari penculikan.