
“Jadi.. Bagaimana keadaan suami saya ??” Tanya Marlina yang berada di depan ruangan Martin.
Wanita itu mendapatkan telfon dari kantor yang menyatakan jika suaminya jatuh pingsan di ruangannya, langsung saja dia bersama Mira yang kebetulan mendengarkan kabar itu langsung ke rumah sakit, dan di sana ada June juga. Ketiganya menunggu di ruangan Martin, dan kebetulan terdapat dokter yang baru saja keluar setelah memeriksa suaminya, langsung saja wanita itu mendatangi dokter itu dan bertanya, tapi jawaban dokter itu membuatnya hampir tidak kuasa menahan tangis.
“Maaf, suami anda ternyata memiliki penyakit jantung yang sudah cukup kronis. Tolong keluarga korban untuk bisa lebih menjaganya, dan jangan memberikan kabar buruk, karena itu bisa membuat sakitnya semakin parah.” Ujar dokter itu menjelaskan.
June dan Mira yang mendengarkan semuanya terkejut bukan main, penyakit jantung ?! Marlina hanya bisa menahan dirinya, dia tidak boleh terlihat menangis atau mengeluarkan ekspresi dan air matanya itu.
“Baiklah, terima kasih dokter.” Ujar Marlina mencoba untuk tetap tenang.
“Baiklah saya permisi dulu.”
Lalu dokter itu kemudian meninggalkan mereka, Mira langsung memeluk Marlina dengan erat. Sementara June hanya memutar matanya malas, melihat tingkah Mira yang semakin membuatnya jengah. Di tambah melihat suasana dramatis membuat June hanya merasa jengah, dan bosan.
Tidak adakah, drama yang lebih baik daripada ini ?! Batin June dengan emosi meskipun wajahnya terlihat menunduk seakan dirinya ikut khawatir dan takut.
“Jangan khawatir, mah. Aku disini.”
“Mira.. Aku beruntung bertemu sosok perempuan baik sepertimu.. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi tanpamu. Kedua putraku kini meninggalkan aku, dan..”
“Kau tidak sendirian, aku akan selalu ada bersamamu.” Ujar Mira memeluknya dan mencoba untuk menenangkan sosok perempuan tua yang terlihat sangat panik dan khawatir itu.
Setelah itu, ketiganya memilih untuk masuk ke dalam kamar Martin yang berada di kamar nomer 27. Daripada menunggu di luar, toh sebenarnya dokter tidak melarang mereka masuk, dan memperbolehkan mereka untuk masuk dan menjenguk, hanya saja Martin mungkin masih belum sadarkan diri, mereka melihat di sana Martin berbaring lemah dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya, alat bantu pernafasan, dan alat pendeteksi detak jantung juga ada disana.
Semua terlihat normal dan baik-baik saja.
“June.. Apa yang sebenarnya terjadi ?? Kenapa sampai suamiku seperti ini ??” Tanya Marlina dengan nada pelan di dalam kamar menatap ke arah June.
Barulah lelaki itu mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Di dalam perusahaan, di dalam kantor bahkan terkait dengan pihak kepolisian.
Di luar kamar, terlihat sosok lelaki membawa beberapa bungkus makanan, buah dan sebuket bunga di tangannya, lelaki itu, Davide sedang mencari kamar yang di beritahu oleh Alisha, kamar yang ditempati oleh istrinya, Kaylie.
Davide benar-benar sangat panik, mendengarkan perkataan dari Alisha melalui teleponnya kalau Kaylie masuk ke rumah sakit. Ini adalah anak pertama mereka, dan Davide tentu sangat khawatir dengan apa yang terjadi kepada Kaylie dan juga kandungannya nanti. Beruntung saja, tempat kerja Davide sangat dekat dengan rumah sakit tempat Kaylie di rawat. Jadilah dia bisa dengan segera mendatangi Kaylie, dan membawakan beberapa makanan kesukaan dan juga buket bunga kesukaannya.
Setelah melangkah cukup jauh, maka Davide segera memasuki kamar nomer 35, dan melihat Kaylie berbaring di sana dengan lemah tapi sadarkan diri. Di sana juga ada Alisha yang menggendong Drowny, dan Nicholas. Sebenarnya Kaylie ingin menggendong Drowny, tapi dilarang oleh Alisha karena gadis itu melihat kakaknya sangat lemah dan lemas. Bisa-bisa Drowny malah terjatuh, saat berada di gendongan kakaknya.
Davide menaruh makanan, dan buah di meja, lalu mendekati istrinya sembari menyerahkan sebuket bunga, Davide bahkan mengecup kening istrinya dengan lembut.
“Apa yang terjadi sayang ?? Kenapa bisa begini ??”
Kaylie terkekeh pelan, “Tidak apa, dokter hanya berkata aku sedikit kelelahan tidak ada yang perlu di khawatirkan.”
Davide menghela nafasnya, “Haruskah aku menyewa perawat untuk merawat mu ??”
“Hey, aku ini masih bisa melakukan aktivitas ?! Kau kira aku lansia !” Ujar Kaylie cemberut mendengarkan perkataan dari suaminya itu, yang benar saja kenapa Davide malah berfikiran untuk mempekerjakan seorang perawat.. Untuknya ?! Hahh...
Alisha hanya tertawa kecil melihat perilaku dari Kaylie dan juga Davide, terkadang pertengkaran keduanya sangatlah konyol dan tidak masuk akal, tapi anehnya mereka berdua benar-benar bisa bersatu, padahal sifat mereka sangatlah berbeda jauh. Kak Kaylie yang terkadang galak dan tidak penurut, dengan Davide yang terkadang konyol, usil dan jahil.
Alisha membayangkan apakah dirinya dan Darel menikah bisa seperti Kaylie dan Davide ?? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu jawaban atas semuanya itu.
“Oh iya, Darel juga akan datang nanti.”
“Benarkah ??”
“Ya.. Jam makan siang.. Oh tunggu ini sudah jam 11, sebentar lagi.” Ujar Davide melihat ke arah jam tangannya.
“Baguslah, aku tidak akan menjadi obat nyamuk disini.” Ujar Alisha, membuat Davide sedikit terkekeh.
~Saat jam 12 siang~
“Aduh.. Nomer berapa kamarnya ya ??”
Tepat jam 12 siang, saat makan siang, Darel benar-benar menyusul Davide ke rumah sakit, dan dia melupakan dimana dan nomer berapa kamar Kaylie berada. Dia hanya mengingat lantainya saja tapi tidak dengan nomer kamarnya.
“Aku telfon aja deh.” Ujar Darel mengeluarkan handphone dari sakunya, berniat untuk menelfon dimana Davide berada saat ini, semoga saja ada sinyal Batin Darel, memeriksa handphonenya, tapi..
“Darel ??”
Darel menolehkan kepalanya melihat siapa yang ada di sana, dan terkejut bukan main melihat Marlina, Mira, dan June ada di sana. Astaga gawat !! Gila !! Bajingan !! Kenapa harus ketemu mereka disini sih ?! Batin Darel merana, padahal dia berdoa agar mendapatkan sinyal bukan mendapatkan pertemuan yang tidak dia inginkan ini.
Tapi Darel, tetaplah Darel. Dia memasang ekspresi dan wajah datar dan tenang, bahkan tidak terlihat terkejut dengan kedatangan mereka sedikitpun, anggap saja dia memasang wajah dinginnya.
“Oh.. Kalian.. Ada apa ??” Tanya Darel menaikkan alisnya sedikit penasaran.
“Kau sendiri sedang apa disini ??” Tanya Mira dengan bingung.
“Temanku kecelakaan dan dia di rawat disini.” Ujar Darel dengan singkat, ya terpaksa dia harus berbohong tidak mungkin dia berkata, jika Kaylie yang berada dan di rawat disini.
“Dimana Davide ??” Tanya Marlina dengan sedikit dingin, Darel hanya memberikan ekspresi bingung.
“Davide ?? Aku tidak tahu ?? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya.”
“Jangan berbohong !!”
“Apanya yang berbohong ?! Aku memang dekat dan bersama adik dari Kaylie, tapi aku tidak bertemu dengan Davide ?! Lagipula kalau kau punya nomernya, hubungi saja dia !!” Ujar Darel ketus di bagian akhir.