
“Jadi.. Aku sudah menyelidiki semuanya, dan mendapatkan bukti ada seseorang di balik semua ini.”
“Begitu ?? Aku sendiri mendapatkan penyerangan, dan surat ancaman dari mereka.”
“Baguslah, itu hanya akan memberatkan posisi mereka.” Ujar sosok lelaki bernama Rendra yang merupakan pengacara yang cukup terkenal cerdik dan pintar.
Rendra cukup cerdik menangani kasus seperti yang terjadi pada Davide, di fitnah dan di panggil ke pengadilan bukanlah sesuatu yang baru bagi Rendra. Bahkan untuk kasus ini si pelaku cukup bodoh dan gila karena mengirim surat ancaman dan di sertai nama di bawahnya. Davide sendiri tidak merasa ragu, karena dirinya memang tidak melakukan kejahatan apapun di sana.
Dia bahkan tidak tahu apapun yang terjadi pada keluarganya sendiri setelah dirinya memutuskan hubungan dengan mereka, kecuali telepon dari Valen yang mendapatkan pesan dari pihak kepolisian sendiri. Dan anehnya, mereka dengan penuh percaya diri membawa nama Davide ke pengadilan bahkan tanpa alasan yang tepat, ini benar-benar gila dan bodoh.
“Aku tidak mengerti, kenapa pihak mereka bisa membawa kasus tanpa bukti yang jelas ke pengadilan ??”
“Pemalsuan bukti sudah terjadi beberapa kali, dan aku tidak kaget dengan kejadian ini. Tapi baru kali ini, aku menemukan pelaku yang begitu bodoh, dan aku kaget ketika tahu jika pelapor dari Keluarga Florian.”
“Ya.. Aku juga.. Aku sendiri memang salah satu keluarga mereka, tapi.. Aku tidak menyangka mereka akan memberikan tuduhan keji seperti ini.. Aku memang meninggalkan keluargaku tapi aku tidak mungkin akan membunuh ayahku sendiri.” Ujar Davide dengan sedikit sedih, meskipun dirinya terkenal begitu dingin dan acuh, tapi tidak menutup kemungkinan dirinya merasa sakit, karena ayahnya meninggal dan dirinya di tuduh melakukan pembunuhan hanya karena Davide meninggalkan mereka.
“Mungkin ada orang di balik semua ini, entah siapa aku juga tidak tahu.” Ujar Rendra menghela nafasnya berat, dia mengerti perasaan orang yang tertuduh, ada beberapa dari mereka muncul di media sosial dan mendapatkan hinaan padahal bukti dari pelapor semuanya palsu. Hingga Rendra yang membongkar semua kasus itu, hingga si pelapor masuk ke penjara.
...
Suasana rumah duka begitu terasa sangat menyedihkan. Marlina tidak berhenti menangis melihat suaminya berada di peti mati, Mira mencoba menenangkannya dan sedikit tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi, sementara June menundukkan wajahnya hingga tidak ada yang melihat ekspresinya apakah dirinya bersedih atau menangis, entahlah tidak ada yang tahu.
Sang pendeta kemudian mulai membacakan beberapa doa untuk mengenang sang suami yang sudah tiada, Marlina bahkan tidak sanggup untuk bisa mengikuti doa yang ada di sana. Tidak hanya itu, di sana terlihat Meghan, dan Putra yang menundukkan wajah mereka berduka meskipun dalam hati mereka merasa janggal akan kematian dari Martin sendiri.
Kedua pasangan itu yakin, ada seseorang yang sengaja membunuh Martin malam itu. Karena mereka melihat sosok orang yang secara memasuki kamar Martin malam itu.
Flashback
“Marlina.. sebaiknya kau pulang saja, kau perlu istirahat. Biar aku dan Putra yang akan menjaganya.” Ujar Meghan melihat wanita itu begitu lelah dan mengantuk, bahkan beberapa kali Marlina hampir ketiduran dengan posisi sangat tidak nyaman di sofa.
“Tapi..”
“Tidak apa, lihatlah Mira juga sudah kelelahan. Pulanglah bersama Mira, aku dan Putra yang akan berada disini.” Ujar Meghan memotong ucapan dari Marlina.
“Benar, ucapan Meghan. Biarkan aku dan Meghan disini, menjaga Martin. Toh, aku juga adiknya, tidak ada salahnya, bukan menjaga kakakku sendiri ??” Ujar Putra.
“Baiklah.. Aku duluan, ayo Mira.”
Lalu keduanya pulang terlebih dulu, sementara Meghan dan Putra mereka terdapat sebuah ruangan untuk menginap. Memang ada ruangan itu, karena ruangan Martin termasuk ruangan Unit Gawat Darurat, beberapa penunggu pasien di sediakan sebuah kamar tersendiri yang memang sedikit jauh dari ruang pasien, tapi banyak suster atau perawat di sekitar ruangan jadilah tidak perlu khawatir.
Sebenarnya Marlina ingin berada di ruangan penginapan rumah sakit, tapi wanita itu tidak tahan dengan bau obat yang menyengat hidungnya, mungkin untuk menjaga suaminya dia bisa tahan dengan aroma itu, tapi untuk tidur di sana. Marlina sangatlah tidak tahan dengan aroma obat, lagipula keadaan Martin sudah sedikit membaik meskipun dia masih belum sadar sepenuhnya. Dokter mengatakan kemungkinan selama 2 – 3 hari lagi, Martin di perbolehkan untuk kembali pulang.
Jadilah Marlina tidak harus berjaga selama 24 jam di rumah sakit. Setelah kedua wanita itu pergi, Meghan dan Putra kemudian berbicara satu sama lain.
“Haruskah kita memberitahu Davide mengenai ini semua ??” Tanya Meghan kepada suaminya.
“Sebaiknya jangan, kondisi Martin sudah sedikit membaik. Kita beritahu semuanya, jika Martin sudah keluar dari rumah sakit, dan membiarkan Davide datang ke rumah dan masalah akan dibicarakan dengan baik-baik.”
“Apa.. Kau yakin ??”
“Aku akan membantu Davide untuk membicarakan ini semua dengan Martin dan Marlina.” Ujar Putra, berharap masalah Davide dengan kedua orang tuanya bisa selesai dengan baik.
“Baiklah, ayo kita kembali ke ruangan kita. Ini sudah jam sepuluh malam, belum tentu perawat mengijinkan kita untuk masuk ke dalam ruangan Martin.”
Kedua suami istri itu akhirnya kembali menuju ke ruangan yang memang disediakan untuk pasien yang menginap di sana, karena jaraknya cukup jauh keduanya kemudian berjalan melewati sebuah lorong panjang, karena sudah cukup malam dan jam jenguk sudah habis, lorong rumah sakit terlihat lebih sepi, hanya ada dua atau tiga perawat mendorong kereta berisikan beberapa obat dan alat kesehatan medis lainnya.
Pada jam 2 pagi.
Meghan terbangun dan merasa ingin ke kamar mandi. Wanita itu melihat suaminya tampak tertidur pulas, enggan membangunkan suaminya, Meghan memilih untuk ke kamar mandi sendirian. Dirinya sudah terbiasa bangun pada tengah malam hanya untuk pipis ataupun mengambil minuman seperti air gelas.
Membuka pintu secara perlahan, kemudian melihat jika suasana malam masih begitu gelap, dengan lorong yang di hiasi beberapa lampu, meskipun begitu kesan dari kesunyian malam masih terasa dan dinginnya udara malam masih menusuk tubuhnya. Tidak ada yang aneh bagi Meghan untuk suasana ini, sudah hampir 4 hari berada di rumah sakit, membuatnya tidak takut pada apapun, tapi sesuatu terdengar aneh dan mencurigakan bagi Meghan mendengarkan percakapan antara kedua orang, yang satu berpakaian perawat lelaki dan satunya adalah OB.
Anehnya, Meghan tidak pernah sekalipun melihat perawat lelaki dan OB lelaki itu selama di rumah sakit, tapi Meghan berfikir jika keduanya adalah orang baru yang mungkin baru masuk bekerja atau perawat baru di sana. Tapi percakapan keduanya begitu mencurigakan, hingga Meghan memutuskan untuk bersembunyi dan mendengarkan secara diam-diam percakapan itu.
“Sesuai rencana semula.”
“Ya.. Rencana semula, kamar nomer 27. Sesuai awalnya, bukan ??”
“Dan ingat, pesan dari Tuan Andrews untuk tidak meninggalkan jejak apapun di ruangan.”
“Tentu saja.”