Mistress And Jerk Boss

Mistress And Jerk Boss
chapter 39



“Meghan !! Putra !!”


Kedua pasangan itu sedang asyik menikmati acara teh pagi hari mereka, hingga seseorang datang kepada mereka. Meghan tahu siapa orang itu, dia adalah kakak dari Putra, suaminya. Ayah kandung Davide, yaitu Martin Florian.


Martin, Marlina, dan disana ada Mira juga. Meghan dan Putra hanya tersenyum dalam hatinya, melihat wajah emosi mereka, sudah yakin mereka mengetahui informasi mengenai pernikahan Davide dan juga Kaylie. Kedua pasangan itu sudah yakin, tidak mungkin mereka tidak mendengarkan kabar apapun mengenai apa yang dilakukan oleh Davide.


“Iya ??” Ujar Putra dengan santainya, dia tidak memperdulikan status Martin yang merupakan kakak kandungnya, Putra sudah lelah menghadapi kakaknya itu.


“Kau.. Kau tahu dimana Davide saat ini, bukan ?!”


“Ada apa ?? Bukankah kalian adalah orang tua Davide, kenapa menanyakan anak kalian kepada orang lain ??” Ujar Meghan menanggapi dengan santai.


“Begitukah perilaku kalian, setelah menjadi wali pernikahan Davide yang kedua ?!”


Meghan terkekeh pelan, “Santailah dulu, kemarilah, duduk dan nikmati teh hangat ini. Lagipula kami di undang sebagai wali saja, setelah itu bukan urusan kami juga kemana Davide pergi.”


Marlina menatap tajam ke arah Meghan, “Dan kau datang sebagai wali dengan santainya ?! Perempuan itu adalah ****** yang merebut Davide dari Mira, dan kalian mau menjadi wali mereka di pernikahan ?!”


Meghan kini tertawa pelan, dia bahkan tidak bisa lagi menahan tawanya. Putra sendiri hanya menggelengkan kepalanya.


“Davide, sudah membuat kesalahan besar kepada Keluarga Florian, bukan ?? Kenapa tidak, kalian lepaskan saja Davide ??” Ujar Putra dengan santainya.


“Apa maksud ucapan mu ?! Kau pikir aku akan melepaskannya begitu saja ??”


“Lalu apa yang akan kau lakukan ?? Kau tidak lihat, betapa keras kepalanya dia ?? Jika kalian merasa sebagai orang tua, maka seharusnya biarkan Davide datang kepada kalian meminta belas kasihan kalian, bukan kalian yang sibuk mencari Davide.” Ujar Putra memutar matanya malas.


“Apa yang dikatakan suamiku benar, bukankah Perusahaan Florian milik kalian ?? Jikalaupun Davide keluar dari keluarga, maka dia tidak akan mendapatkan apapun, justru dialah yang akan datang meminta bantuan kepada kalian.” Ujar Meghan dengan santainya, sembari menyeruput teh hangat di gelasnya.


Marlina dan Martin memikirkan perkataan dari kedua pasangan itu, ada benarnya juga. Kenapa tidak membiarkan saja Davide pergi, jikapun Davide membutuhkan bantuan, dia pasti akan datang merangkak kepada mereka.


“Lagipula, selama ini Davide selalu kalian manja, tidak membutuhkan waktu lama. Dia pasti akan datang kepada kalian.” Lanjut Meghan memberikan penjelasan.


“Kau benar..” Ujar Marlina memikirkan perkataan Meghan.


“Dan Mira, kau seharusnya senang. Marlina dan Martin sudah menganggapmu seperti anak, kau pantas mendapatkan bagian dari perusahaan Florian juga, bukankah selama ini Mira yang selalu di sakiti oleh Davide ??” Ujar Putra menunjuk kepada Mira yang juga ada di sana, perkataan itu membuat ketiga orang itu sibuk dengan pikirannya sendiri.


Tanpa menyadari seringaian licik dari kedua pasangan itu, lalu dengan cepat merubah ekspresi mereka dan tersenyum dengan tatapan mata merasa iba.


“Baiklah jika seperti itu, lagipula perkataan kalian benar. Sudah pasti, Davide tidak akan bisa bertahan hidup begitu lama.” Ujar Martin.


Akhirnya ketiga orang itu yang tadinya marah pun kemudian kembali tenang, dan mereka berpamitan lalu keluar dari rumah itu. Setelah kepergian ketiganya, ekspresi keduanya kembali berubah.


“Pantas saja Davide tidak betah dengan mereka.” Ujar Meghan menanggapi perilaku ketiganya.


“Well, aku lebih kasihan dengan Davide saat ini, tapi aku yakin mereka tidak akan pernah mencari Davide lagi.” Ujar Putra meminum tehnya dengan santai menikmati kembali suasana yang kini menjadi tenang kembali.


“Mereka bahkan tidak mengingat Darel sedikitpun.” Ujar Meghan mengingat adik dari Davide yang sepertinya keberadaannya sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka.


“Aku ingin sekali mengadopsinya sejak kecil, sayang kakakku tidak pernah mau melepaskannya.” Ujar Putra yang juga mengingat bagaimana perilaku kakaknya terhadap keponakannya yaitu Darel.


...


Davide menelfon seseorang sembari duduk dengan wajah begitu senang saat ini.


“Begitu kah ?? Jadi hari ini semua berjalan lancar ??”


“......”


“Terima kasih banyak Valen, sepertinya aku akan memberikan banyak bonus untukmu.”


“Baiklah.”


Lalu telefon di matikan, sementara Kaylie yang sedang duduk sembari memangku Drowny, dan di sebelahnya juga terdapat Nicholas di sana menatap ke arah Davide dengan rasa penasaran.


“Ada apa ??” Tanya Kaylie dengan bingung.


Davide tersenyum, “Well, bisnis sampinganku mengalami kenaikan yang melesat. Aku berfikir aku benar-benar tidak membutuhkan Perusahaan Florian lagi.” Ujar Davide dengan senang.


Lelaki itu tidak pernah merasa takut atau khawatir, karena bagaimanapun otak cerdik Davide tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun, jadilah lelaki itu tidak sedikitpun merasa berat melepaskan diri dari Keluarganya sendiri. Davide bahkan hendak mengganti marga keluarganya sendiri, dan tidak pernah mau kembali ke sana. Apalagi dengan adanya Mira di sana, membuat Davide merasa tidak nyaman untuk tinggal bersama orang tuanya.


“Kau... Benar-benar tidak masalah meninggalkan keluargamu ??”


Davide menggelengkan kepalanya, “Kau belum tahu seperti apa kehidupan keluargaku Kaylie, jika kau tahu, kau mungkin juga tidak akan ragu untuk melepaskan diri dari mereka.”


Perkataan itu membuat Kaylie sedikit terpana, Kaylie dan Alisha memiliki keluarga kecil yang begitu bahagia, tapi Tuhan memiliki rencana lain, Dia mengambil ayah dan ibunya dalam sebuah kecelakaan tepat setelah pernikahan Kaylie, lalu kemudian satu bulan kemudian, Tuhan kembali mengambil suaminya, dan kecelakaan yang membuat Drowny kecil kehilangan penglihatannya. Tapi lihatlah kondisi Davide, memiliki orang tua lengkap, anak yang sehat dan sempurna, tapi hidupnya begitu rumit dan penuh dengan masalah.


Awalnya Kaylie merasa sebagai sosok yang hancur karena takdir, tapi rupanya ada yang jauh lebih parah dan lebih tertekan daripadanya, bahkan Nicholas sendiri sama sekali tidak betah dengan keluarganya dulu.


“Maafkan aku..”


“Tidak apa, aku hanya.. Hanya berfikir kenapa aku bisa dilahirkan dalam keluarga seperti ini. Aku hanya ingin keluarga yang bahagia, tanpa permasalahan, tanpa mengejar label sempurna, tanpa paksaan, dan hidup dengan keinginan dan jalan kita sendiri.”


“Kalau begitu ayo kita ciptakan keluarga seperti itu.”


“Eh ??”


“Kalau bukan dari kita, siapa lagi yang akan memulainya ?? Jika kita hanya berharap tanpa melakukannya, tidak mungkin harapan kita akan terwujud.” Ujar Kaylie dengan tersenyum dan memberikan semangat kepada Davide, Nicholas yang mendengarkan itu juga sangat senang.


“Yeayyy !! Keluarga bahagia dengan Kak Kaylie !!!” Ujar Nicholas dengan senang.


“Baiklah, tapi.. Eh iya, kan Nicholas udah umur 5 tahun, kok belum sekolah ??”


“Mulai besok dia akan sekolah, aku sudah berbicara dengannya semalam.” Ujar Davide.


“Besok Kak Kaylie anterin Nicholas ke sekolah ya ??”


“Oke.. Nicholas harus rajin belajar lho..”


“Siap Kak Kaylie..”