
"Ini dokumen nya, sudah selesai- awh !!"
"Kaylie, kau baik-baik saja ??"
Kaylie mengangguk perlahan, sementara Valen yang melihat wanita itu merasa sakit saat akan berdiri dari kursi hanya untuk menyerahkan dokumen pekerjaan yang sudah selesai dia kerjakan. Saat masuk tadi pagi, Valen sebenarnya sudah merasa penasaran dan bingung karena Kaylie tampak kesakitan di bagian pinggangnya, dan cara berjalannya sedikit lebih lambat dari sebelumnya, mungkinkah kakinya terkilir ??
"Jangan khawatir, ini bukan masalah besar."
Valen mengangguk, meskipun sebenarnya Valen merasa ingin membantu nya, tapi Valen tahu jika Kaylie bukanlah tipe perempuan yang bergantung pada orang lain, jadilah dia hanya menuruti ucapan Kaylie, tapi kemudian sesuatu menghantam ingatannya, dan membuat Valen membalik badan dan berkata.
"Oh iya, ada seseorang yang ingin menemui mu."
"Siapa ??"
"Dia-"
"Maafkan aku, Nona Kaylie. Akulah yang mencari anda." Seorang lelaki kemudian membuka pintu ruangan Kaylie dan masuk, Kaylie mengenali sosok lelaki itu.
"June ?? Maksud saya.. Tuan June ??" Kaylie hendak berdiri dari kursinya memberikan hormat, tapi kemudian dirinya merasakan kakinya merasa sakit dan hampir terjatuh, beruntung Kaylie langsung berpegangan tangan pada meja, dan mampu menahan tubuhnya.
Valen tadinya ingin berlari membantunya, tapi melihat Kaylie mampu berdiri sendiri, membuatnya mengurungkan niatnya.
"Nona Kaylie.." June memandang kaget dan juga sempat terkejut dengan Kaylie yang hampir saja terjatuh.
"A.. Ma..Maafkan aku, tadinya aku ingin memberikan hormat kepada anda." Ujar Kaylie menahan rasa sakit di bagian kaki dan juga pinggangnya itu, ah sialan memang. Rasanya pinggang nya benar-benar remuk redam.
"Tidak.. Tidak apa, anda baik-baik saja ??"
"Ya.." Ujar Kaylie tersenyum kaku, meskipun sebenarnya merasa sedikit tidak enak, tapi sialnya Davide semalam benar-benar liar dan menggarapnya hingga beberapa ronde di atas kasur.
"Aku hanya akan berbicara dengan anda, bisakah ??"
"Tentu, duduklah di kursi, Tuan."
Valen merasa sepertinya dirinya tidak lagi di butuhkan di ruangan ini, dia kemudian berpamitan keluar dari sana. Lagipula dia masih harus menyerahkan beberapa dokumen ke ruangan milik Davide, jangan sampai atasannya itu marah karena menunggunya terlalu lama.
"Baiklah, aku keluar dulu."
"Tentu, terimakasih Valen."
Setelah perempuan itu keluar, barulah June kemudian duduk di hadapan Kaylie dan berbicara pada perempuan itu dengan sedikit lebih rileks dan santai. Sementara Kaylie hanya merasa sangat kebingungan, meskipun begitu dia tetap tersenyum ramah dan berbicara dengan sopan.
"Jadi, ada apa kedatangan anda kemari ??"
"Aku ingin, kau bisa menjelaskan lebih detail mengenai kerjasama perusahaan, di meeting kemarin."
"Oh.. Bukankah anda bisa langsung menemui Tuan Davide untuk bertanya lebih lengkapnya ??" Ujar Kaylie dengan tanpa mengurangi rasa sopan.
"Tidak apa, aku hanya ingin bertanya penjelasan lebih lanjut dari meeting kemarin, jika kau tidak keberatan."
"Sama sekali tidak."
DISISI LAIN..
Davide duduk di kursi nya, dan memandang bingung karena yang datang dan memberikan beberapa dokumen bukanlah Kaylie melainkan Valen sendiri, lelaki itu berfikir apakah Kaylie benar-benar membencinya hingga wanita itu enggan menemuinya ?? Tapi jawaban dari Valen membuatnya sedikit merasa lega.
"Benar tuan, tapi dia mengatakan jika kakinya terkilir dan sakit." Ujar Valen menjawab pertanyaan dari bosnya, sementara Davide hanya menghela nafasnya berat, sepertinya dia keterlaluan semalam. Tapi itu bukan sepenuhnya salah, tubuh Kaylie terlalu indah untuk bisa di tolak.
"Baiklah, biarkan aku menemuinya." Ujar Davide hendak berdiri dari kursinya tapi kemudian perkataan dari Valen menghentikan niatnya.
"Maaf tuan, ada tamu yang sedang menemui Kaylie di ruangannya."
"Tamu ?? Siapa ??" Davide berfikir jika tamu yang di maksud adalah Alisha, adik dari Kaylie, karena biasanya tamu pengusaha akan langsung menemuinya, bukan menemui Kaylie.
"Tuan June, dia datang menemuinya."
Davide menatap penuh curiga, "June siapa ??" Semoga saja, bukan orang yang dia maksud.
"Tuan June Andrews, dari Perusahaan Tsania."
Davide langsung membulatkan matanya, Apa yang akan dilakukan bajingan itu menemui Kaylie ?! Batin Davide dengan gelisah.
Segera saja, Davide bangkit dari kursinya dan melangkah keluar ruangan dengan sedikit cepat, Valen yang melihat itu, berharap semoga saja Tuan June tidak melakukan apapun yang akan membuat masalah baru dengan Tuan Davide. Karena keduanya baru saja memulai hubungan kerjasama yang baik, apakah akan terjadi permusuhan lagi diantara keduanya ??
Davide melangkah dengan cepat, sehingga membuat karyawan yang berada di sekitarnya hanya menatap bingung dengan tingkah bos mereka. Padahal mereka berfikir ingin menyapa Tuan Davide, tapi melihat lelaki itu seperti sedang terburu-buru jadilah mereka mengurungkan niat mereka.
Davide kemudian membuka pintu ruangan Kaylie, dengan tiba-tiba membuat Kaylie dan June yang ada di dalam ruangan terkejut, tapi pandangan Davide berfokus pada tangan June yang memegang tangan Kaylie di sana. Lelaki itu terlihat kesal dan emosi, tapi dirinya menahan diri untuk tidak melempar June keluar dari jendela ruangan, mengingat mereka berada di lantai 4.
"Tuan.. Davide.. Sedang apa anda kemarin ??" Ujar Kaylie sedikit kaget dan bingung, June langsung melepaskan pegangan tangannya dengan Kaylie.
Davide masuk ke dalam ruangan dan tersenyum, "Tidak ada, maafkan aku. Aku mendengar jika Kaylie sedang sakit, jadilah aku kemari dengan cepat." Ujar Davide memberikan alasan kenapa dirinya langsung membuka pintu ruangan Kaylie, padahal lelaki itu khawatir jika Kaylie terlalu dekat dengan June.
"Oh, tidak ada masalah tuan.. Aku hanya terkilir, itu saja." Ujar Kaylie tersenyum.
"Dan.. Tuan June.. Ada urusan apa anda kemari ??" Ujar Davide dengan nada sopan tapi terdengar sedikit tidak suka, dengan keberadaan June di ruangan milik Kaylie.
"Maafkan aku, Tuan Davide.. Aku hanya ingin membahas masalah meeting kemarin dengan Nona Kaylie."
"Begitu ?? Kau bisa bertanya padaku, jika ada sesuatu hal."
"Tidak perlu, aku sudah jelas semuanya. Dan aku ingin melanjutkan kerjasama kita."
Davide mengangguk, "Kalau begitu ayo kita ke ruangan ku, akan ada banyak hal yang harus kita bahas di sana."
"Tentu saja, Tuan Davide dengan senang hati."
Kaylie bersumpah, dirinya sempat melihat tatapan kesal dari Davide kepadanya. Apa yang salah ?! Kenapa lelaki itu terlihat sangat tidak suka ?! Apakah karena dirinya tidak mengantarkan dokumen kepadanya ?! Bukankah ini salahnya juga yang telah membuatnya menjadi pincang. Tapi Kaylie hanya berdiam dan tidak menggubris tatapan itu.
June kemudian keluar dari ruangan Kaylie, sementara Davide sempat mendekati Kaylie, dan berbisik dengan nada perlahan tapi dia masih bisa mendengarnya.
"Hukuman nya nanti malam, anak nakal."
Hukuman apalagi ?! Batin Kaylie, belum sempat perempuan itu bertanya, Davide sudah melangkah keluar dari ruangannya. Kaylie menghela nafas kesal, kenapa sih sebenarnya dengan lelaki itu.
"Ah sudahlah, aku lebih baik memeriksa dan melanjutkan pekerjaanku sendiri." Ujar Kaylie pada dirinya sendiri, dan berfikir tidak ingin mengurusi perkataan dan tindakan absurd dari bosnya itu.