
Meghan berhasil kembali ke kamarnya, tanpa di ketahui kedua lelaki tadi, tapi dia masih mengingat dengan jelas rupa dan wajah mereka, meskipun sedikit tertutupi dengan masker dan topi, tapi Meghan masih melihat sisi wajah yang sama sekali tidak tertutupi olehnya.
“Ada apa ??” Tanya Putra yang melihat reaksi istrinya, lelaki itu terbangun dengan suara langkah kaki Meghan yang terdengar sedikit tergesa-gesa dan wajah istrinya sedang takut ?? Atau bingung ?? Entahlah, tapi tatapan itu memperlihatkan istrinya sedang gelisah.
Meghan berfikir untuk tidak mengatakan apapun terlebih dahulu, dia berfikir mungkin dua lelaki itu sedang membahas orang lain, atau mungkin mengenai obat atau peralatan medis untuk Martin, tapi.. Keduanya tampak sangat mencurigakan.
“Kelihatannya, ada sesuatu yang kau ketahui. Ada apa ??” Ujar Putra memandang curiga, Meghan hanya bisa terdiam. Dia lupa dirinya tidak akan pernah bisa menipu suaminya, di tambah sosok lelaki itu pandai dalam membaca pergerakan wajah atau raut seseorang.
Meghan hanya bisa menceritakan sedikit dari apa yang dia lihat barusan, dan percakapan mencurigakan dari keduanya.
“Atas nama Andrews ?? Bukankah itu nama dari June, yang dikatakan sebagai saudara Mira ??” Tanya Putra dengan tatapan curiga penuh tanda tanya.
“Davide.. Dia mengenal June.. Aku rasa, dia pernah membahas masalah nama itu, dan Davide menyebutnya sebagai partner di perusahaan Florian.”
“Jika itu benar, kenapa Marlina sama sekali tidak tahu akan hal itu ??”
“Setelah perusahaan di serahkan kepada Davide, Martin dan Marlina sama sekali tidak mau ikut campur dan menyerahkan segalanya kepada Davide.” Ujar Meghan, membuat Putra hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
Memang Davide yang bertanggung jawab, tapi sebagai orang tua, seharusnya mereka juga sedikit tidaknya terlibat dalam hal kecil, bukan semuanya di tanggung oleh Davide. Pantas saja, saat Perusahaan mengalami rugi, Davide rela memberikan uang hasil pribadinya untuk perusahaan, karena kedua orang tuanya sudah tidak peduli sama sekali.
“Masalah perusahaan mereka tidak mau ikut campur, tapi masalah rumah tangga mereka paling maju pertama hanya untuk membela menantunya.” Celetuk Putra sedikit mencela kakaknya itu.
“Hush.. Aku tahu kau marah, tapi sekarang bukan waktu yang tepat.” Ujar Meghan mengingatkan, meskipun sebenarnya mereka juga kesal dengan tingkah Martin dan Marlina yang terlalu ikut campur urusan pernikahan Davide dan Mira tanpa mengetahui alasan atau sesuatu di balik pertikaian sepasang suami istri itu. Mereka hanya menyalahkan Kaylie yang hadir sebagai orang ketiga.
Putra hanya mengangguk, meskipun sebenarnya dalam hati masih tidak terima perlakuan kakak dan istrinya kepada Davide yang memang sudah dia anggap sebagai putranya sendiri. Keduanya kemudian memutuskan untuk kembali tertidur.
Paginya..
“A..apa ?? Apa maksudmu dokter ?! Kau bilang dia akan baik-baik saja ?! Suamiku, dia tidak mungkin !!”
Meghan dan Putra yang juga ada di sana, terkejut bukan main. Paginya, saat Marlina, Mira, dan June datang. Sebuah kabar tidak enak terdengar. Dokter mengatakan jika Martin secara mendadak kehilangan nyawanya, dan anehnya sang pasien tidak sekalipun memencet tombol bel yang memang sudah di terpasang di jarinya, jikalau jari Martin bergerak sedikit saja, sebenarnya bel berbunyi dan memanggil perawat. Tapi bel sama sekali tidak berbunyi, dan Martin sudah kehilangan nyawanya.
“Bagaimana bisa terjadi ??” Kali ini Mira yang berbicara karena Marlina terlihat menangis shock dan histeris mendengar kabar mendadak ini.
“Nyonya.. Aku rasa.. Ada seseorang yang melakukannya secara sengaja.. Bel yang sudah kami sediakan untuk pasien di rusak, sehingga tidak berbunyi. Dan kematiannya sangatlah tidak wajar.” Ujar dokter itu menjelaskan mengenai peristiwa yang terjadi dengan misterius. Kali ini, dokter itu tidak menutupi apapun, dia memberikan kesaksian mengenai apa yang di lihatnya, dan apa yang terjadi pada kamar pasien.
“Dokter.. Bisakah kau memanggil polisi untuk melalukan penyelidikan mengenai semua ini ??” Tanya Mira lagi, perempuan itu terlihat shock dan juga bingung. Dia kaget dengan kabar dadakan, tapi dia juga harus mengurus Marlina yang masih histeris itu.
Dokter mengangguk, “Sayangnya.. Cctv sengaja di rusak di sekitar ruangan pasien. Aku akan mencoba cara lain.”
Meghan masih tidak percaya dengan semua ini, tapi dia masih mencurigai peristiwa malam itu. Secara perlahan, mata Meghan sedikit melirik ke arah June yang namanya di sebut oleh kedua orang itu. Meghan berani bersumpah sekilas dia melihat senyum sinis di wajah lelaki itu, meskipun tidak berlangsung lama karena June cukup cerdik menyembunyikan ekspresi dan berakting munafik pada siapapun.
Flashback off
Meghan juga mengingat sosok orang yang di curigai dan dipukuli oleh para polisi saat di interogasi tidak sekalipun menyebut nama Andrews, ataupun June. Melainkan nama Davide, dan kebohongan yang sebenarnya Meghan tahu jika itu bukanlah fakta, tapi dia sengaja berdiam diri, karena dia tidak memiliki bukti apapun untuk bisa menyalahkan saksi itu, sementara sang pelaku memiliki bukti transaksi dan di atas nama Davide.
Flashback lagi..
“Kenapa ?! Kenapa kau membunuh suamiku ?! Apa salah suamiku padamu !!”
Marlina hampir saja marah dan memukuli salah satu dari lelaki itu dengan kesal, tapi Mira berhasil menenangkan ibu mertuanya itu, Meghan dan Putra sedikit takjub, bahwa pembunuh itu langsung mengakui perbuatannya dan mengakui jika itu adalah mereka, ya meskipun harus di berikan sedikit pukulan oleh polisi hingga wajah mereka babak belur, tapi Meghan masih bisa mengetahui siapa sosok itu.
“Nyonya.. Kami sudah mendapatkan semua informasinya.. Jelaskan kepada mereka semua.” Ujar polisi itu menenangkan sekaligus memberikan perintah kepada kedua lelaki yang merupakan korban pelaku pembunuhan itu.
Padahal malam itu, mereka tidak terlihat tertekan sama sekali, bahkan cenderung senang. Tidak mungkin si dalang pembunuhan itu tidak memberikan uang sedikitpun, dan hanya mengancam. Jika benar hanya ancaman, betapa bodohnya orang itu.
“Siapa ??” Tanya Mira kali ini bertanya dengan sangat penasaran.
“Tua..tuan Davide..”
Pernyataan itu membuat semua yang ada di sana langsung terkejut bukan main. Marlina langsung terdiam dan hampir tidak percaya... Tidak mungkin Davide, putranya bukan ?? Davide tidak mungkin berani menyentuh ayahnya sendiri ?! Anaknya yang lemah dan selalu tidak berdaya, hanya menunduk saat dirinya menamparnya karena telah menyakiti Mira.. Membunuh suaminya ?! Ayahnya sendiri ?!
“Tidak mungkin... Tidak mungkin Davide putraku..”
“Davide siapa ?? Di dunia ini nama Davide tidak hanya satu atau dua orang saja.” Ujar Putra penuh penekanan karena merasa kesal dan geram, kenapa tidak langsung mengatakan apapun.
“Tuan Davide... Davide Enzo Florian..”
Meghan memiringkan kepalanya tidak percaya, sementara semua yang ada di sana, kecuali polisi dan Putra hanya bisa terdiam tidak percaya dan kaget. Putra yakin itu hanya akal-akalan dari si pelaku mengkambinghitamkan orang lain sebagai dalang pembunuhan. Itu hal yang biasa terjadi di dunia kriminal seperti ini.
“Apakah.. Anda memiliki bukti untuk memperlihatkan jika Davide yang menyuruh anda ??” Tanya Meghan dengan penuh penekanan dan menatap tidak percaya.
“Ya.. Ada..”
Meghan semakin curiga dengan gerak-gerik dari kedua pelaku, pasalnya saat menyebutkan nama Davide, mereka sesekali melirik ke arah June seakan meminta sedikit bantuan. Kenapa June ?? Bukankah yang menyuruh adalah Davide ?? Kebohongan besar macam apa ini.