Mistress And Jerk Boss

Mistress And Jerk Boss
Chapter 41



Kaylie membaringkan Drowny kecil di atas kasur yang sudah di berikan banyak tatanan kain dan juga perlak bayi. Kaylie memang belum berani memasukkan Drowny ke dalam bak mandi karena, mereka belum membelikan bak mandi untuk bayi kemarin, Jadilah Kaylie memilih untuk mengelap tubuh putranya dengan kain dan air hangat yang sengaja dia siapkan.


Dengan perlahan tangan Kaylie mengelap seluruh tubuh putranya yang memang sudah tidak mengenakan apapun. Drowny tampak begitu tenang menikmati sentuhan lembut ibunya, di tambah air hangat membuat tubuh bayi menjadi lebih rileks. Setelah selesai, Kaylie segera mengeringkan tubuh Drowny dengan handuk lembut khusus bayi.


“Nah, Drowny kecil udah bersih, sekarang pakai baju ya..” Ujar Kaylie menatap gemas ke arah putranya itu, seketika dia teringat kenangan yang mungkin membuat hatinya merasakan sakit.


 


Flashback


 


“Putraku benar-benar sangat tampan dan manis.”


Kaylie menoleh mendengar suara itu dan tersenyum, “Lho, Damian ?? Kau sudah pulang ??”


Lelaki itu, suaminya, Damian tersenyum mengangguk, “Kau tahu Kaylie.. Bosku berkata memberikan beberapa hari untuk libur, dia bilang jika ini sudah satu bulan Drowny. Dia khawatir jika aku bukanlah ayah dan suami yang baik, karena tidak mengantarkan istri dan anakku ke dokter bayi.” Ujar Damian dengan sedikit berceloteh kesal, tapi ada rasa senang.


Bagaimana bisa, bosnya berfikir Damian bukanlah sosok lelaki yang baik, dan memberikan libur padanya untuk menemani istri dan anaknya itu. Tapi disisi lain, dia senang, karena dia selama ini selalu khawatir akan keadaan istri dan anaknya itu. Damian mendekati putranya dan menatap gemas ke arah Drowny.


“Lucunya jagoan ayah kecil ini, pakai baju sama ayah aja ya..”


Drowny tersenyum sejenak melihat wajah ayahnya itu, Damian menggendong Drowny dan mengambil pakaian yang sudah di siapkan Kaylie untuk bayinya.


Kaylie senang melihat interaksi dekat Drowny dan juga Damian, keduanya benar-benar sangat lucu.


 


Flashback off


 


Mengingat masa lalu, hanya akan menambah rasa sakit dalam hati Kaylie, tapi nyatanya kenangan itu sangat sulit sekali untuk hilang. Satu bulan usia Drowny adalah masa-masa kebahagiaan Kaylie tapi juga masa tragis dalam hidupnya. Kaylie tidak boleh menyerah, demi putranya dia benar-benar harus kuat.


Kaylie kemudian memulai aktivitas kembali dengan memakaikan pakaian Drowny. Setelah selesai semuanya, barulah kegiatan seperti biasanya, yaitu menyusui Drowny kecil, sepertinya anak itu sudah sangat kelaparan dan haus untuk saat ini.


“Lihat, sudah aku bilang.. Masih ada bagian yang tersisa untuk Drowny kecil.”


Kaylie hanya menghela nafas mendengarkan suara gila itu kembali, dia menoleh dan melihat Davide berdiri di depan pintunya dan menatap ke arah Kaylie saat ini.


“Kenapa kau ini hanya datang di saat seperti ini ?! Benar-benar lelaki mesum !!”


“Apalagi salahku, sayang ??”


“Berhenti berbicara seperti itu !!”


Kaylie melihat Drowny kecil yang masih menghisap dengan lahap, dia membelai rambut tipis putranya sembari berbicara lembut kepadanya.


“Drowny sayang, saat besar nanti, jangan seperti papamu yang gila dan mesum itu ya..”


“Hey !!”


“Lihat, dia sudah menyakiti mama, dan membuat mama pincang dan sakit.”


“Dia lelaki, sudah pasti dia akan mesum, mana ada lelaki yang tidak mesum.”


“Berhentilah berbicara seakan seluruh lelaki di dunia ini mesum !!”


“Memang benar kok, kalau tidak mesum, bagaimana perempuan bisa melahirkan anak ?? Awh !!”


Kaylie yang kesal, melemparkan bantal kecil ke arah wajah Davide, membuat lelaki itu terkejut tapi dia tidak merasa sakit sedikitpun, teriakannya itupun hanya karena di buat-buat.


...


“Makasih ya, bibi Alisha, udah nganterin Nicholas ke sekolah.”


“Iya.. Nicholas belajar yang rajin ya..”


Lalu Nicholas memasuki sekolahnya, Alisha dan Darel melambaikan tangan mereka dan tersenyum senang. Rupanya Nicholas begitu bersemangat dan senang dengan sekolah barunya, Davide benar-benar pintar dia bahkan mengajak Nicholas saat akan mendaftarkan anak itu, agar Nicholas bisa memilih sekolah mana yang dia inginkan. Meskipun masih TK, tapi Davide sudah mengajarkan Nicholas untuk bisa memilih keinginannya sendiri.


“Kak Davide benar-benar sangat cerdik dalam memilih sekolah.” Celetuk Darel melihat sekolah yang di pilih Davide, benar-benar indah dan yang pasti mahal.. Karena sekolah internasional.


“Kau benar, sepertinya Nicholas sudah tidak terlihat lagi.”


Darel mengangguk, “Ayo kita segera pergi dari sini.”


“Iya..”


Keduanya membalik badan dan hendak kembali menuju ke kampus, untuk mengantarkan Alisha. Tapi sebuah suara menghentikan langkah kaki mereka.


“Darel ??”


Saat Darel menolehkan kepalanya terkejut bukan main.


Aduh.. Kenapa malah ketemu mama sama Mira disini sih Batin Darel melihat ibunya dan Mira sedang berjalan disini, dan sepertinya tidak sengaja menatap mereka berdua. Darel langsung berkata kepada Alisha.


“Alisha, kamu ke mobil dulu ya..”


“Oke..”


Darel tidak mau Alisha terkena masalah apapun, sebaiknya wanita itu kembali ke mobil dan menunggunya. Darel juga akan memastikan agar tidak terlalu lama berada di sana dengan kedua perempuan itu. Setelah Alisha pergi barulah, Darel menghadap ke arah ibunya dan Mira.


“Ya ??” Darel bertingkah sok tidak memiliki masalah apapun, dan bertingkah santai.


“Siapa dia ?? Kenapa Nicholas memanggilnya dengan sebutan ‘bibi’ ??” Ujar Mira dengan rasa penasaran tapi juga sedikit sinis di sana, tapi Darel bisa menjawabnya dengan ketus.


“Kenapa ?? Apa ada yang salah dengan panggilan itu ??” Ujar Darel dengan santainya.


“Dan kenapa kau ada disini ??” Ujar Marlina, membuat Darel malah bingung, kenapa masih bertanya tentang tujuannya.


“Jika mama dan Mira mendengarkan perkataan Nicholas dengan jelas, aku yakin penglihatan kalian juga bisa melihat Nicholas masuk ke dalam sekolah.” Celetuk Darel dengan sedikit ketus dan kesal, tidak adakah perkataan lain selain bertanya seperti itu.


“Dimana Davide ??”


“Untuk apa kalian mencari anak yang melarikan diri dari rumah dan pekerjaannya ??”


“Apakah benar Davide menikah dengan ****** itu ??”


“Perempuan itu punya nama Kaylie, dan itu semua bukan urusan kalian. Davide juga sedang mengurus surat perceraian denganmu, Mira.” Ujar Darel tanpa berbasa-basi.


Boleh gak sih, aku tinggalin aja mereka disini, biar bengong sendiri gitu ?? Kasihan Alisha Batin Darel menggerutu dalam hatinya, tahu begitu tidak Darel layani kedua perempuan itu sejak awal. Apalagi pertanyaan yang mereka ajukan sangatlah tidak masuk akal sama sekali.


“Apa maksudmu-”


“Sudahlah aku sibuk, jika mau berbicara dengan Davide.. Telfon saja nomernya, aku permisi.” Darel langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan tatapan kedua wanita itu kepadanya.


“Darel !! Begitukah caramu berbicara dengan orang tua ?!”


“Oh, baru sekarang, aku di sebut anak oleh mama ?! Udah telat !!” Ujar Darel terakhir kalinya dengan penuh emosi dan melangkahkan kakinya semakin menjauh dari keduanya.


Urusannya sama Kak Davide yang diinterogasi malah aku, kenapa gak telfon aja sih nomernya ?! Batin Darel dengan kesal berjalan kaki menuju ke mobilnya.


Lalu masuk ke dalamnya dengan sedikit kesal, Alisha yang duduk di kursi depan menatap ke arah Darel yang masuk dengan ekspresi kesal.


“Siapa mereka ??” Tanya Alisha.


“Bukan siapa-siapa, bukan orang penting juga.”