
“Anda memanggil saya ??”
“Perawat, bisa aku meminta tolong padamu ??”
“Tentu saja, apa kau masih merasa sakit ?? Ataukah kau membutuhkan obat ??” Perawat itu datang ke ruangan tempat dimana Mira di rawat, karena mendengarkan suara bel yang di tekan oleh Mira, maka perawat itu mendatangi pasien perempuannya itu.
Tanpa di duga, Davide juga melewati dan tanpa sengaja mendengarkan percakapan keduanya. Di tambah, perawat itu lupa untuk menutup pintu ruangan jadilah suara mereka terdengar hingga luar ruangan, Davide sengaja berhenti di depan pintu hanya untuk mendengarkan percakapan mereka, lelaki itu yakin jika Mira sedang merencanakan sesuatu saat ini, apalagi June berhasil melarikan diri, maka Davide tidak akan membiarkan Mira melarikan diri sebelum wanita licik itu mempertanggung jawabkan perbuatannya.
“Bisakah anda memindahkan aku ke rumah sakit lainnya ??”
“Ta..Tapi kenapa ??” Perawat itu merasa bingung dengan perkataan Mira, memindahkan pasien dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya, hanya di perlukan saat rumah sakit tidak mampu mengatasi kondisi atau kesehatan pasien, maka barulah mereka di pindahkan ke rumah sakit lainnya. Tapi Mira terlihat baik-baik saja.
“Sebenarnya keluargaku ingin agar aku dipindahkan ke rumah sakit yang lebih dekat dengan rumah keluargaku.”
“Maaf, tapi memindahkan pasien dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya, memerlukan alasan yang pasti dan itupun jika kondisi pasien melemah, anda terlihat sangat kuat, bahkan besok saja anda bisa kembali ke rumah.” Ujar perawat itu menjelaskan, membuat mata Mira sedikit berbinar tapi pikirannya terus bekerja. Apakah bisa besok dia melarikan diri dari sini dengan segera mungkin ??
“Jadi.. Besok aku bisa pulang ??”
Perawat itu mengangguk, “Ya.. Anda bisa berbicara pada keluarga anda untuk menjemput anda kemari.”
“Baiklah, kalau begitu.. Terima kasih..”
“Kalau tidak ada lagi, saya akan keluar agar tidak menganggu istirahat anda.. Jika ada sesuatu yang diperlukan lainnya, anda bisa menekan belnya.” Ujar perawat itu dengan sopan, dan Mira mengangguk.
“Tentu saja..”
Perawat itu kemudian keluar dari ruangan, tanpa mengetahui Davide duduk di sana menyamar sebagai orang yang sedang menunggu sembari membaca koran. Padahal di balik kertas koran itu, Davide menyeringai dengan licik.
Kau pikir bisa melarikan diri dari perbuatan mu, Mira ?? Heh !! Lihat saja, aku akan membuatmu membayar 10 kali lebih, dari perbuatan mu Batin Davide dengan licik.
Niat hati mengunjungi ibunya, Davide malah mendengarkan rencana licik dari Mira yang sepertinya hendak melarikan diri dari cengkeraman pengadilan. Dasar bodoh, apakah dia berfikir Davide akan berdiam diri menunggu pengadilan begitu saja ?? Atau hanya sekedar menatapnya yang mencoba pergi dari sana ?? Yang benar saja, Davide bahkan akan membuat Mira tidak mampu melarikan diri lagi darinya.
“Heh.. Ini sudah lebih dari 10 menit, aku lebih baik kembali ke ruangan Kaylie dulu, untuk ibu lebih baik aku tidak perlu menjenguknya sekarang.” Celetuk Davide melihat ke arah jam tangannya.
Davide kemudian mengalihkan dirinya dari ruangan itu, melangkah menjauhi ruangan ibunya yang dekat dengan ruangan Mira, tanpa menyadari jika Marlina dengan kursi rodanya keluar dari ruangan dan melihat Davide yang mengalihkan arah jalannya dari kamarnya.
“Meghan.. Kemana Davide ?? Bukankah kau sudah memberitahukan letak ruangan kamarku ??” Ujar Marlina, sementara Meghan yang mengetahui arah langkah kaki Davide, membulatkan mata mengetahui kemana arah Davide berlalu.
Meghan dengan terpaksa menjawab, “Dia bilang, dia sibuk dan tidak bisa kemari.. Mungkin dia sedang mengunjungi seseorang.” Ujar Meghan berharap jika Marlina tidak melakukan tindakan bodoh, tapi kemudian jawaban Marlina jauh dari apa yang di harapkan oleh Meghan.
“Meghan.. Apa kau keberatan jika membantuku, mengikuti kemana Davide pergi ??”
Meghan tidak bisa menjawab tidak, karena jika dia menjawab maka Marlina mungkin akan curiga dan mengetahuinya, tapi setidaknya dengan begini Marlina tahu jika Davide bahagia dengan keluarga barunya, dan mungkin Marlina tidak akan lagi terus memaksa Davide untuk bertahan dengan Mira. Semoga saja..
“Tentu saja.”
Dengan perlahan kursi roda Marlina yang di dorong oleh Meghan berjalan mengikuti Davide dari belakang. Sementara sosok Davide sendiri sibuk bertelepon dengan seseorang di handphonenya, jadi tidak menyadari ada yang mengikutinya.
Kebetulan ruangan kamar milik Mira dan Marlina juga berada dalam lantai 3 jadilah Davide tidak perlu repot-repot untuk menaiki lift atau apapun itu. Hanya saja perjalanan sedikit jauh, karena ruangan kamar pasien biasa dengan bagian dokter spesialis berada di sisi yang berseberangan. Ruangan Marlina di sisi timur sementara ruangan spesialis di sisi barat. Tapi dengan perlahan, mereka bisa mengikuti Davide.
Hingga beberapa menit, Meghan berusaha menempatkan posisi Marlina agar tersembunyi tapi tetap mampu melihat dengan jelas. Keduanya melihat bahkan Darel, Alisha, Nicholas menunggu di depan sebuah ruangan dokter spesialis mata, lalu Davide menemui mereka dan mematikan sambungan teleponnya.
Tanpa perlu mengetahui pembicaraan mereka, Marlina bisa melihat wajah bahagia Nicholas dan semuanya yang ada di sana, bahkan termasuk Davide. Lalu keluarlah sosok perempuan dari ruangan dokter mata itu, Kaylie bersama dengan anak di gendongannya, terlihat senang dan bahagia.
Meghan awalnya merasa sedikit gelisah dan panik, saat melihat Marlina mengepalkan tangannya, entah marah atau kaget atau apa saat melihat ke arah Kaylie. Meghan hanya takut jika Marlina marah dan mengamuk, atau bahkan menuding Kaylie di saat seperti ini, maka hubungan keduanya akan semakin renggang. Dan Davide semakin membenci Marlina, ibunya sendiri.
Kembali ke pasangan Davide dan Kaylie.
“Bagaimana hasil pemeriksaannya ??” Tanya Davide kepada Kaylie.
“Dokter mengatakan, jika efek dari air keras itu menyebabkan kerusakan begitu parah pada sel bola matanya dan-”
“Air keras ??” Davide bertanya dengan sedikit curiga, Kaylie menghela nafasnya, dia memang belum membahas sedetail itu masalah apa yang terjadi kepada Drowny sehingga anak malang itu kehilangan penglihatannya.
“Ya.. Saat Damian di tembak malam itu, orang-orang itu berhasil menyiram mata Drowny dengan air keras. Karena itu dia kehilangan penglihatannya.”
Mendengarkan itu, Davide menahan emosi dalam dirinya. Orang rendahan mana yang malah melibatkan bayi atau anak-anak dalam melakukan aksinya ?! Dan menggunakan air keras, apakah orang-orang itu sudah gila ?! Segila-gila Davide yang menodongkan senjata ke arah Drowny dulunya, dia tidak pernah sedikitpun memiliki keinginan untuk menyakiti bayi mungil nan menggemaskan itu, dia hanya menggunakannya untuk memaksa Kaylie mengiyakan keinginannya.
“Tapi dokter mengatakan satu-satunya cara adalah dengan pendonor mata.” Lanjut Kaylie.
“Tapi kau terlihat senang dan tersenyum. Aku pikir mendapatkan kabar baik.” Celetuk Darel.
“Well, kabar baiknya itu tidak mempengaruhi sel syaraf lainnya, hanya bagian bola mata saja. Untuk otak dan lainnya masih bekerja dengan baik.”
Darel mengangguk, “Setidaknya setetes informasi baik untuk mengobati kabar buruk lainnya.”
“Benar.”