
“Bawakan bunga kesukaannya.”
“Hmmm....”
“Jangan lupa untuk buah dan hadiahnya.”
“Hmm..”
Kaylie menoleh ke arah Davide, yang sepertinya sangat tidak mood karena Kaylie memaksanya untuk menjenguk ibunya. Bukan apa-apa, Davide yakin pasti ibunya tidak akan pernah mau menerima Kaylie di sana, dan dia semakin enggan untuk datang karena Mira juga di rawat di sana.
“Davide..”
“Huft.. Ya ??”
Kaylie tidak tahu harus berkata apalagi, Davide terlihat seperti enggan untuk pergi ke rumah sakit. Mungkin tuntutan dari Marlina juga mempengaruhi nama baik Davide di perusahaan, karena itu suaminya semakin membenci ibunya, yang memfitnahnya tanpa alasan yang jelas. Ataukah..
“Tidak apa..” Ujar Kaylie begitu ragu untuk mempertanyakan sesuatu di dalam hatinya, dia sebaiknya mengurungkan niatnya itu.
“Perlengkapan Drowny sudah semua ??” Davide mencoba mencairkan suasana, dia melihat Drowny di gendongan Kaylie, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
“Sudah.. Kau tidak perlu khawatir.. Aku sudah mempersiapkan semuanya.”
“Baguslah.. Oh iya, di rumah sakit nanti aku juga sudah memberikan kejutan untukmu.” Ujar Davide dengan senang, seakan melupakan masalah sebelumnya.
“Benarkah ?? Apa itu ??” Kaylie memandang bingung dan penasaran dengan perkataan Davide.
“Kau akan tahu nanti.”
Meskipun penasaran, tapi melihat ekspresi senang dari Davide membuat Kaylie juga sepertinya mendapatkan firasat jika kejutan kali ini adalah sesuatu yang sudah dia persiapkan sejak lama. Kaylie tidak mau mempertanyakan mengenai kejutan itu, dan memilih untuk diam saja, dan membayangkan seperti apakah kejutan yang di siapkan oleh Davide untuknya.
...
Disisi lain, suasana berbeda dengan seorang perempuan menelfon seseorang dengan nada suara emosi, beruntung saja ruangan di rumah sakit di kelilingi oleh dinding kedap suara.
“Apa-apaan ini, June ?! Kenapa kau malah melibatkan aku ke dalam masalah ini ?!”
“Haahh ?? Ada apa lagi ?? Tidakkah kau lihat aku sibuk ?!”
“Cepat kemari !! Masalah semakin besar, bahkan rekaman mengenai kau memerintah dua orang untuk membunuh Martin, dan melibatkan namaku ?! Apa-apaan itu ?!”
“Well, karena ada namamu, maka kau juga harus ikut memberikan kesaksian, bukan ?!”
“A..apa ?! Aku tidak pernah mengatakan perintah bodoh seperti ini !! Jangan tinggalkan aku sendirian disini, bodoh !!”
“Hah.. Astaga.. Sudah aku katakan, aku sibuk !! Oke ?!”
“Oh... Atau kau sengaja melarikan diri, setelah tahu jika bukti tersebar, dan kau sengaja menyebutkan namaku ?! Jawab aku June !!!”
“Sampai jumpa.”
Sambungan telepon di tutup, membuat Mira merasa geram. Dia bahkan membanting handphonenya sendiri, masalah benar-benar semakin menjebaknya dan mencekiknya sedemikian rupa, dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Bahkan June menjebaknya, dia harus melakukan berbagai cara untuk bisa lepas dari masalah ini..
Ya, dia harus berusaha melarikan diri dari semua yang terjadi kepadanya..
...
Mobil milik Davide dan Kaylie akhirnya sampai di rumah sakit, setelah memarkirkan mobilnya. Davide dan Kaylie keluar dari mobil, Davide mengeluarkan beberapa barang seperti bunga dan juga buah yang memang sudah di siapkan.
Kaylie awalnya ingin membantu membawakan, tapi di tolak halus oleh Davide.
“Tidak perlu, kau menggendong Drowny.. Aku saja yang membawa semuanya.”
“Tapi itu banyak.”
“Tidak apa, aku masih kuat.”
Kaylie mengangguk, setelah mengeluarkan beberapa barang, Davide menutup bagasi mobil, menguncinya dengan remote. Keduanya kemudian melangkah ke pintu ruangan rumah sakit. Di depan ada banyak orang menunggu duduk di kursi depan, sementara orang yang menjenguk akan melangkah ke arah lift untuk menuju ke kamar yang mereka cari.
“Jadi, lantai berapa ??”
“Kita ke lantai 3 dulu.”
“Oke..”
Meskipun sebenarnya Kaylie merasa sedikit curiga. Dia mengetahui rumah sakit ini, dan di lantai tiga adalah ruangan beberapa dokter spesialis untuk mata, telinga, hidung, paru-paru dan lainnya. Kenapa Davide mengajaknya ke lantai 3 ?? Apakah Marlina, ibu kandung Davide mengalami penyakit dalam sehingga membutuhkan dokter spesialis ?? Pikiran Kaylie merasa bingung dan kalut.
Tapi pikiran itu kemudian menghilang, setelah sampai di lantai 3, Davide mengajaknya ke ruangan dokter spesialis mata untuk anak-anak, Kaylie menatap ke arah Davide yang tersenyum dan menjelaskan.
Mata Kaylie membulat sempurna, lalu kemudian terpancar sebuah sinar kebahagiaan di bola mata wanita itu, dia begitu bahagia dan senang. Davide yang melihat itu juga sangat senang, inilah kejutan untuk Kaylie.
Tidak lama, dari dalam seorang perawat keluar dan menyebutkan nama dari Drowny.
“Untuk pasien bernama Drowny Ava Florian.”
Mata Kaylie melirik ke arah Davide, saat mendengarkan nama di bagian akhirnya.
“Kau menikah denganku, jadi nama terakhir Drowny juga harus berganti menjadi margaku. Masuklah, jangan membuat dokter menunggu.”
“Kau harus memberikan penjelasan setelah ini.”
“Siap ratuku.”
Lalu Kaylie kembali ke arah perawat di depannya, “Iya, itu nama anakku.”
Perawat itu mengangguk, “Dokter Andreas sudah menunggu anda di dalam.”
Kaylie mengangguk bersama perawat dan Drowny, sementara Davide setelah melihat istrinya masuk ke dalam. Lelaki itu sedikit menjauh dari ruangan, kemudian mengeluarkan handphonenya dan berbicara dengan seseorang di sana.
“Halo, jadi bibi.. Bagaimana ??”
“Kau.. Mau akan mengunjungi ibumu, bukan ??”
Davide terdiam sejenak, “Awalnya aku tidak mau.. Kedatanganku kemari, hanyalah untuk Drowny.”
“.....”
“Tapi aku akan mengirimi bunga dan buah, melalui perawat.”
“Dia ingin bertemu denganmu.”
“Huft.. Baiklah, tapi tidak lama, hanya 10 menit saja.”