
Suasana cukup ramai tapi teratur, semua tamu berbicara satu sama lain, tidak ada musik keras karena beberapa tamu yang datang ada yang membawa anak-anak, hanya saja mereka menyediakan makanan yang sangat banyak.
Davide duduk sembari menggendong Drowny, dan secara perlahan menyuapkan sesendok sup cream ke dalam mulut Drowny. Bahkan sebelum memberikannya pada anak itu, Davide meniup kuah sup di sendok nya barulah memberikan secara perlahan. Drowny menyukai rasa asin dan gurih yang masuk ke dalam mulutnya, bahkan menjilati bagian bibirnya.
“Pintarnya~ beruntung Kaylie membolehkan aku memberikan makanan lain selain susu ASI. Lihat dia sangat menyukainya.”
“Aku tidak tahu, jika kau bisa menjadi sosok ayah.”
“Hey, aku tersinggung ! Lihat saja, Drowny bahkan tenang di gendonganku.” Ujar Davide dengan bangga, bahkan dia sempat mengecup kening bayi itu dengan penuh rasa sayang. Sepertinya Davide juga menyayangi Drowny seperti putranya sendiri.
Darel duduk di sebelahnya memandang interaksi unik dan lucu antara kakaknya dan Drowny, keponakan barunya itu. Sementara Kaylie bersama dengan Nicholas saat ini, ikut berbicara dengan Meghan dan lainnya.
“Jangan terlalu bersedih, aku hanya bercanda.. Kau jangan terlalu galau.” Ujar Davide melihat wajah adiknya itu.
Yang benar saja, karena ucapannya yang menakuti Darel. Dengan mengatakan jika Yudha mungkin jatuh hati dan mencoba menarik perhatian Alisha, membuat lelaki itu hanya duduk dan memperhatikan Davide dan Drowny di kursinya. Padahal Davide berfikir jika dengan perkataan itu, maka Darel akan berusaha mendapatkan Alisha, tapi nyatanya.. Adiknya malah patah semangat seperti ini.
“Kau seharusnya berusaha untuk mendapatkan hati perempuan.”
“Seperti mengancamnya, dan memberikan obat perangsang ke minumannya ??”
“Hey !! Kau mau mengambil hatinya atau tubuhnya ?!”
Darel memutar matanya malas, “Kakak yang awalnya mengincar tubuhnya saja bisa mendapatkan hatinya.”
Davide menghela nafasnya berat, “Tapi bukan berarti kau mengikuti caraku juga.. Kreatif sedikit !!”
Darel hanya terdiam, dan tidak menjawab ucapan Davide kepadanya. Sementara Davide kembali menyuapkan sup ke arah Drowny lagi, sepertinya Davide masih senang-senangnya mendekatkan diri dengan Drowny kecil.
“Kau masih belum kenyang. Kau benar-benar akan tumbuh besar dan menjadi jagoanku.” Ujar Davide dengan senang ke arah Drowny, dia bahkan membelai rambut Drowny dengan perlahan.
Sepertinya pesta ini menjadi kebahagiaan bagi keluarga kecil Davide saja, kecuali Darel yang sepertinya masih bimbang dan gelisah, apalagi melihat kedekatan dari Yudha dan juga Alisha, membuatnya semakin dilema dan bimbang.
...
Sejak pulang dari pesta, Kaylie merasakan badannya tidak enak. Dia bahkan sering merasa mual dan ingin muntah setiap mencium aroma yang begitu kuat.
“Jangan-jangan.. Kamu hamil sayang ??”
“Gak mungkinlah !! Drowny masih terlalu kecil untuk punya adik !!”
Yup, sudah 2 hari begitulah terkadang perkataan dari Davide kepada Kaylie. Davide selalu berfikir jika Kaylie kembali hamil, padahal usia Drowny masih 6 bulan, ya semua terasa begitu cepat berlalu, bukan ?? Kaylie saja merasa waktu berlalu begitu cepat, tapi tetap saja Drowny masih belum waktunya memiliki adik.
Tapi Kaylie sendiri juga merasa was-was, dia sendiri sering merasa mual dan lainnya, terkadang pusing dan bahkan hampir terjatuh jika tidak ada Alisha di sana. Bahkan Alisha sempat menawarkan diri untuk mengantarnya ke dokter guna memeriksa kesehatan Kaylie.
“Kalau gak segera di cek, malah tambah parah nanti..” Ujar Davide, dia sebenarnya kesal dengan tindakan Kaylie yang terkesan keras kepala. Padahal Davide hanya ingin memeriksa kesehatan saja, tapi selalu di tolak oleh wanita itu.
“Kamu tenang aja, paling cuma kecapekan.”
Tiba-tiba handphone berbunyi, Davide yang mengenali suara handphone nya sendiri, kemudian mengeluarkan dari saku dan melihat siapa nama yang menelfonnya, dan lagi-lagi.. Nama yang sama menelfonnya.
Ini sudah 20 kali, nomer itu menelfonnya. Semenjak Davide mengirimkan surat perceraian kepada Mira, dan sengaja di kirimkan ke rumah di hadapan kedua orang tuanya. Membuat handphone Davide benar-benar akan meledak karena di telfon berulang kali oleh 3 nomer secara bergantian. Tapi Davide hanya terkekeh pelan, tidak ada satupun yang di terima kecuali kemarin.
Saat ayahnya menelfon dan mengatakan dirinya enggan di ganggu oleh mereka, jadilah Davide mengatakan.
“Jika tidak ada yang penting jangan telfon aku. Aku sedang sibuk, urus saja dan tanda tangani perceraian itu segera. Aku tidak akan meminta bagian apapun, serahkan saja kepada siapapun, terserah kau saja.”
Hanya itu ucapan terakhir Davide kepada ayahnya. Setelah itu, Davide enggan menerima telefon dari Martin, Marlina, dan Mira sekalipun.
“Siapa ?? Kenapa kau tidak menerimanya ??” Tanya Kaylie dengan rasa penasaran.
“Bukan siapa-siapa kok, hanya nomer asing. Palingan salah sambung.” Ujar Davide menutup handphonenya, dan kali ini sengaja mematikannya hingga tidak ada suara dari nada dering.
Davide mendekati Kaylie dan tersenyum ke arahnya, “Kamu mau apa ?? Aku beliin.”
“Gak usah.”
“Banyak makanan di kulkas kok, udah sana berangkat kerja.”
“Aku berangkat dulu sayang, dan juga Drowny sayang.”
Davide berpamitan kepada Kaylie dan Drowny yang berada di pangkuan Kaylie. Davide kemudian mengecup kening istrinya itu dan pergi. Sepertinya Kaylie sudah mulai terbiasa dengan tindakan Davide kepadanya, mulai dari mencium kening, memeluknya dan lain sebagainya.
Awalnya, Kaylie masih merasa aneh dan tidak nyaman, tapi setelah beberapa lama, dia akhirnya bisa menerima tindakan Davide kepadanya.
DISISI LAIN..
“Akhirnya aku bisa menyelesaikan tugas-tugasku.. Kamu kenapa Darel ??”
“Eh.. Enggak papa..”
“Kok diam terus.. Semenjak pulang dari pesta kemarin, kamu kaya cemberut ??”
“Biasa aja.. Kamu sama Yudha deket ya..”
“Gak terlalu sih, lagian aku sama siapa aja deket kok.” Ujar Alisha dengan acuh dan tidak mengetahui arti rasa cemburu dari Darel, disisi Darel sendiri merasa gemas.
Harus dengan apa dia menjelaskan kepada Alisha jika dia cemburu ?? Benar ucapan Kak Davide, jika mau mendapatkan seseorang, aku harus segera berbicara dan menyatakannya. Tapi.. Bagaimana jika dia menolak ?? Apakah Darel harus memakai ancaman seperti Davide kepada Kaylie ??
Darel kemudian meminggirkan mobilnya ke tepi jalan, dan kemudian berhenti. Alisha yang melihat mobil mereka berhenti bingung, dan memandang ke arah Darel dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Lho ?? Mobilnya kenapa ?? Rusak ya ?? Bensinnya habis ?? Atau harus ke tambal ban ??”
“Alisha..”
“Ya ??”
“Kamu beneran gak ada sesuatu sama Yudha ??”
“E...enggak.. Enggak ada.. Kenapa ?? Kak Darel suka ya sama Kak Yudha ??”
Darel seketika menepuk keningnya sendiri, padahal dia sudah sangat dekat. Kenapa Alisha masih belum peka sih ?! Astaga !! Mana ada dia menyukai sepupunya sendiri ?! Dan lagi, keduanya sama-sama cowok !! Yang benar saja Alisha, Darel itu masih normal ?!! Darel terkekeh pelan.
“Bukan.. Aku masih normal.. Aku suka sama cewek.” Ujar Darel kesal tapi juga tertawa dengan perkataan dari Alisha.
“Lha terus kenapa ??”
“... Kamu masih gak sadar ??”
Alisha menggelengkan kepalanya dan mendekati Darel, “Memang ada apa ??”
Darel menghela nafasnya berat, dia bisa.. Dia pasti bisa !! Dia harus bisa !!
“AkusukasamakamudanakucemburukamudeketsamaYudha.”
“Hah ?? Ngomong apa ?? Coba ngomongnya pelan-pelan. Aku gak tau.”