Mistress And Jerk Boss

Mistress And Jerk Boss
chapter 54



“Kak Davide.. Mereka sudah menerima surat persidangan cerai, dan Kak Mira juga sudah menandatangani surat itu, haruskah aku membantu mencari pengacara untukmu ??” Tanya Darel berbicara dengan Davide di sana.


Davide tersenyum dengan puas, akhirnya hari yang dia nantikan datang juga, jadilah sekarang dirinya bisa terbebas dari hubungan toxic dengan Mira, dan bisa hidup dengan bebas. Davide bahkan berencana akan tinggal di luar negeri bersama Kaylie, jika urusan sudah selesai semuanya. Tapi tetap saja, permasalahan masih sangat panjang baginya.


“Tidak perlu, aku sudah mempersiapkan pengacara dan semuanya. Aku sudah berkata akan melakukan persidangan 20 hari ke depan.” Ujar Davide dengan santai, Darel mengangguk sepertinya kakaknya benar-benar menginginkan hal ini terjadi, hingga dia sudah mempersiapkan semuanya, bahkan hanya menunggu tanda tangan dari Mira saja.


“Sepertinya kau sangat senang.”


“Tentu saja, aku menunggu saat-saat seperti ini, dan sekarang sudah waktunya. Setelah ini aku bisa hidup dengan bebas dan tinggal di luar negeri bersama Kaylie, Nicholas, dan anak-anakku.” Ujar Davide tersenyum membayangkan hidup enak dan santai hanya akan terjadi dalam beberapa hari saja.


“Bagaimana dengan Drowny ??”


“Bukankah aku menyebut kata anak-anakku ?? Drowny dan Nicholas juga anakku.”


“Well, hanya memastikan.”


“Hey !! Meskipun aku adalah ayah tiri, aku bukan ayah bodoh dalam cerita-cerita !! Aku bukan ayah yang akan memukuli anaknya sendiri saat mendapat nilai jelek, atau melakukan kesalahan !! Pekerjaanku memang kotor tapi aku bukan ayah yang kotor.” Ujar Davide menjelaskan.


“Yeah.. Kau.. Tidak ingin menjadi seperti dia. Bukan ??”


“Tidak sama sekali, mereka bukan orang tua yang baik. Tapi aku adalah orang tua yang baik, aku bukan mereka.”


Darel mengangguk, dia juga berharap tidak akan melakukan kesalahan seperti kedua orang tuanya jika sampai menikah dan memiliki anak dengan Alisha besoknya. Darel berfikir cukup dirinya yang di anggap sebagai anak pembawa sial, anak yang di acuhkan dan tak dianggap, tapi tidak dengan anaknya ke depan nanti. Darel berjanji akan hal itu.


“Kau benar, mereka tidak pantas mendapatkan apapun, kecuali kasih sayang dan cinta dari orang tuanya.”


 


...


 


Disisi lain.. Di perusahaan Florian yang dimana para karyawan berusaha keras untuk kembali membangkitkan perusahaan di dalamnya. Mereka berusaha bekerja dan memutar otak mereka hanya agar perusahaan kembali berjaya. Karena keluarnya Davide benar-benar mempengaruhi perusahaan begitu besar dan bahkan membuat beberapa partner kerja menghentikan kerjasama mereka. Davide benar-benar membawa keberuntungan besar dalam perusahaan, tapi membawa kehancuran besar saat keluar dari sana.


Martin dan June berada di sana membahas hal apa saja yang harus mereka lakukan untuk mengatasi semuanya, tiba-tiba seseorang mendatangi mereka, mengetuk pintu ruangan dan kemudian masuk ke dalam.


“Tuan Martin, Tuan June.. Ada polisi yang datang ingin menemui anda.” Ujar salah satu karyawan tersebut dengan sopan dan menundukkan kepalanya.


“Kenapa ??” Tanya Martin dengan penasaran, apakah ini masalah hutang lagi ??


“Dia tidak mengatakan apapun, tapi dia ingin menemui anda.”


“Suruh dia masuk.” Ujar June, membuat karyawan itu mengangguk, kemudian keluar dari ruangan yang ada di sana.


Martin dan June berpandangan satu sama lain dengan merasa heran dan bingung, lalu tidak lama sosok polisi yang dimaksud kemudian datang dengan sopan tapi juga dengan tegas.


“Maaf menganggu kenyamanan kalian, tapi Tuan Martin, dan Tuan June, kalian berdua bisa ikut saya ke kantor sebentar.” Ujar polisi itu tanpa mengurangi rasa sopannya.


“Tunggu.. Apakah ada masalah ??” Tanya June semakin bingung.


“Tuan Martin, saya mendapatkan laporan jika perusahaan ini melakukan pencurian ide bisnis, sehingga kalian bisa datang ke kantor polisi untuk menjelaskan semua ini.” Ujar polisi itu menjelaskan.


“Siapa.. Yang melaporkan ??” Tanya Martin dengan penasaran, dia tidak pernah merasa melakukan pencurian ide bisnis kepada siapapun.


“Davide.. Davide Enzo Florian.”


Mendengar nama anaknya sendiri, membuat Martin langsung tak berdaya di tempat, dia benar-benar tidak habis pikir apa yang sebenarnya terjadi kepada putranya sehingga benar-benar berbalik arah dan bahkan melakukan hal sekejam ini kepadanya. Kesadaran tiba-tiba menghilang begitu saja, Martin tiba-tiba tak sadarkan diri di tempat, June langsung menolong tubuh Martin yang ambruk, polisi itu juga langsung menelfon ambulan sebagai pertolongan pertama.


Suasana semakin genting dan semakin tidak terkendali, beberapa karyawan masuk dan menolong untuk mengangkat tubuh Martin yang benar-benar ambruk dan tidak sadarkan diri.


 


...


 


“Itu hanya pikiran negatifmu saja..” Ujar Alisha mencoba menenangkan kakaknya.


“Jangan terlalu banyak berfikir, itu tidak baik dengan kandunganmu.” Lanjut Alisha mengingat kakaknya itu sangat over thinking. Dia bahkan pernah tidak tidur seharian karena pikirannya begitu berat dan tidurnya tidak bisa tenang.


Kaylie mengangguk, semenjak mereka tinggal bersama dengan Davide. Kaylie sering kali merasa ketakutan berlebihan, apalagi hubungan Davide dan kedua orang tuanya begitu terpisah. Di tambah Mira yang sepertinya adalah sosok yang nekad dalam melakukan apapun, meskipun belum pernah Mira meneror Kaylie, tapi tetap saja rasa takut dan khawatir pasti ada. Apalagi Drowny kehilangan penglihatannya karena teror orang-orang, yang melukai bayi mungilnya dengan air keras.


Kaylie tersentak, dia menurunkan sendok makanan di tangannya, dan mulai memegang bagian perutnya. Ada sensasi rasa nyeri dan sakit yang mulai terasa di bagian perutnya, awalnya Kaylie masih bisa menahan dan mengelusnya secara perlahan, tapi rasa sakit itu semakin kuat dan menjadi-jadi.


“Kak.. Kak Kaylie.. Kau baik-baik.. Saja ??”


“Sa..sakit !! Perutku sakit sekali !!”


Ucapan itu membuat Nicholas langsung sigap memandang ke arah Kaylie yang duduk sembari memberikan ekspresi dirinya kesakitan.


“Mama Kaylie.. ??”


“Nicholas !! Panggil pelayan !! Suruh mereka kemari dan telfon ambulan !!” Ujar Alisha yang mendekati Kaylie, sementara Nicholas langsung berlari menuruti perkataan dari Alisha.


Suasana semakin genting, saat Drowny yang sepertinya merasakan rasa sakit ibunya, menangis dan berteriak. Membuat Alisha merasa kebingungan, harus memilih Drowny atau menemani kakaknya ?!


“Ka..kau urus.. Drowny.. Akh !! Aku.. Aku baik-baik saja..” Ujar Kaylie menahan rasa sakit dalam perutnya, tidak biasanya reaksi dalam kandungannya terasa sangat sakit seperti ini.


Alisha kemudian menuruti perkataan dari Kaylie, tidak lama beberapa pelayan perempuan itu datang masuk ke dalam kamar, satu orang pelayan berkata.


“Aku sudah menelfon ambulan, sebentar lagi mereka akan datang.”


“Baguslah.” Ujar Alisha dengan sedikit lega, dia kemudian berusaha mengendong dan menenangkan Drowny kecil.


“Bibi Alisha !! Haruskah aku menelfon papa ??” Ujar Nicholas melihat kondisi dari Kaylie yang terlihat sangat kesakitan, anak itu ingin ayahnya datang dan membantu Mama Kaylie nya agar terbebas dari rasa sakit.


“Biar bibi yang menelfonnya nanti, kau temani Mama Kaylie saja dulu.” Ujar Alisha berusaha menenangkan Nicholas yang terlihat sangat panik.