
"Apa maksud, Kak Davide ?! Nicholas.. dia.."
Darel langsung berdiri dari kursinya dan mulai berbicara kepada kakaknya itu dengan tatapan tidak percaya kepadanya. Apa-apaan itu sebenarnya ?! Bagaimana bisa.. Padahal Davide tidak pernah mengatakan apapun mengenai hal ini, bahkan Davide tidak sedikitpun membicarakan mengenai Nicholas, dan dia mendapatkan sebuah kabar seperti ini.
"Nicholas.. Bukan anak kandungku.. Tapi aku tetap akan mengurus dan membawanya. Lagipula ayah kandung nya adalah lelaki yang payah dan pecundang, aku hanya akan kasihan pada Nicholas jika dia tinggal bersama ayah kandungnya.. Mungkin dia hanya akan tinggal di kolong jembatan." Davide sedikit menyindir selingkuhan Mira di bagian akhir, dan mencibir betapa pecundang nya lelaki itu, meskipun Davide tahu siapa lelaki yang dia sebutkan.
"Jaga bicaramu !!"
"Oh, kenapa ?? membela pacarmu ?? Hahahahahaha asal kau tahu, Mira.. Dia bisa berdiri saat ini hanya dengan bekerja sama denganku. Jika aku memutuskan hubungan dengannya, maka dia akan berada di ambang kehancuran." Ujar Davide dengan menyeringai licik, inilah rencananya selama ini.
Davide berusaha keras agar perusahaan ini menjadi besar dan kuat, dengan begitu menarik beberapa pengusaha kecil bekerjasama dengannya, bahkan selingkuhan dari Mira sekalipun, dan setelah itulah dia akan menunjukkan kekuatan sesungguhnya kepada orang-orang di sekitarnya. Bahkan Davide bisa menghancurkan orang itu, jika dia mau.
"Kau lupa, jika kau masih berada di bawah kontrol orang tuamu.." Mira menatap tajam ke arah Davide seakan masih belum mempercayai apa yang dia dengar dari Davide.
"Hahahahahaha.. kontrol mereka.. Kau salah besar.. Akulah yang mengontrol mereka, Akulah yang kini menguasai perusahaan ini, bahkan jika kau mau melemparku keluar dari sini, maka ku pastikan.. perusahaan ini.. akan hancur di tanganku." Ujar Davide dengan nada licik dan rendah, seakan memberikan ancaman yang tidak main-main kali ini.
"Kau.. lihat saja !!"
Mira keluar dari ruangan dengan kesal, sementara Davide masih tertawa puas di sana. Tidak ada yang menyadari apa yang sebenarnya di rencanakan oleh Davide, bahkan Darel adiknya sendiri. Melihat kakaknya seperti memiliki rencana besar dan berbahaya, bahkan sampai menyerang kedua orang tua mereka sendiri, maka sepertinya Darel harus terlibat untuk bisa mengendalikan emosi dari kakaknya yang bisa begitu berbahaya.
"Apa sebenarnya rencana, kakak ??"
Davide menyeringai licik, "Banyak."
"Apa kau berencana membunuh ayah dan ibu ??"
"Tidak.. Tapi mungkin.."
…
"Nicholas, mau ambil apalagi ??"
"Udah itu aja."
Berbeda dengan di suasana ini, Kaylie yang menggendong Drowny dengan kain, juga Nicholas tengah berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan yang ada di kota. Ya, Kaylie memilih pusat perbelanjaan yang lebih lengkap, meskipun harganya sedikit lebih mahal. Toh dia mendapatkan uang dari Davide juga, biarkan saja.
Nicholas kecil sangat senang, saat dia pergi bersama Kaylie, berbelanja kebutuhan Drowny, di tambah anak itu sangat aktif membantu Kaylie mengambil barang dan menyerahkannya pada wanita itu. Setelah itu, Kaylie membiarkan Nicholas untuk mengambil jajanan apa saja. Hingga anak itu memilih untuk mengambil susu kotak, kripik kentang, snack rumput laut, dan juga ice cream.
Mereka kemudian menuju ke arah kasir, untuk membayar beberapa barang belanja mereka. Nicholas benar-benar memiliki kesenangan tersendiri di sini, anak itu tidak berhenti menggandeng tangan Kaylie dengan senang gembira.
Kaylie menawari anak itu ice cream yang di ambil, setelah di scan dengan alat pembayaran. Nicholas mengangguk, kasir itu memberikan ice cream kepada Nicholas dengan tersenyum senang.
"Anak nyonya sangat cantik." Puji kasir itu, membuat Kaylie terkejut.
"Dia.. Dia bukan-"
"Terima kasih, mama ku memang sangat cantik." Ujar Nicholas memotong ucapan Kaylie dan tersenyum senang.
Perkataan itu membuat Kaylie menghela nafasnya berat, Tidak anak tidak ayah sama saja.. Beruntung Nicholas masih kecil dan juga manis, lagipula perilakunya adalah cerminan ayahnya yang kurang ajar Batin Kaylie berfikir memarahi Davide karena memberikan ajaran tidak-tidak kepada putranya.
Tidak hanya kasir, beberapa pengunjung lainnya juga sangat memuji betapa dekatnya Kaylie dengan Nicholas, terlihat benar-benar seperti seorang anak dan ibu, di tambah Nicholas begitu bahagia saat bersama dengan Kaylie dan terus menempel seakan khawatir akan tersesat jika berpisah dengan wanita itu. Beberapa pengunjung bahkan merasa iri karena hubungan Kaylie dengan Nicholas bahkan jauh lebih baik daripada hubungan mereka dengan anak mereka.
Setelah itu, mereka keluar dari pusat perbelanjaan dan melangkah melewati taman, satu tangan Nicholas memegang tangan Kaylie sementara tangan lainnya memegang ice cream. Beruntung Kaylie membawa sebuah tas ransel yang memang dia sediakan jika begitu banyak barang belanjaan, sehingga dia bisa membawa sedikit sisa barang dengan plastik menggunakan satu tangannya, jadi Kaylie tidak merasa keberatan menggandeng tangan Nicholas.
Di tengah jalan, mereka bertemu dengan seseorang yang sepertinya mengenali Kaylie. Dan menyapa wanita itu, Nicholas menatap tidak suka dengan orang yang menemui mereka dan menyapa Kaylie, seperti seorang anak yang tidak suka ada orang asing tiba-tiba menempel dan akrab dengan ibunya.
"Hey !! Kamu Kaylie, kan ??"
"Tunggu sebentar.. Anda June ??"
Lelaki itu mengangguk dan tersenyum, "Iya benar, kau ternyata mengingatku ya.."
Kaylie memandang ke arah wajah June, lalu melirik ke arah Nicholas di sebelahnya. Aneh, kenapa wajah Nicholas sekilas mirip dengan wajah dari June ?? Di bandingkan dengan Davide, meskipun sifatnya 100% mirip dengan June, dan Kaylie belum mendapati adanya sifat dari ibunya pada anak itu, apakah karena Kaylie tidak dekat dengan istri Davide ?? Tapi Kaylie juga ogah mendekati wanita jadi-jadian yang gila itu.
"Sedang apa kau disini.. ?? Dan.. Bukankah dia putra dari Pak Davide ??" Ujar June menunjuk ke arah Nicholas dengan rasa penasaran.
"Err.. Ya.. Dia menitipkan putranya padaku untuk hari ini, dan kebetulan ini jatahku untuk cuti." Ujar Kaylie sedikit kaku dan gugup, berharap saja June tidak mengetahui jika secara diam-diam Kaylie memperhatikan wajahnya.
June mengangguk, "Begitu kah ?? Oh iya.. Err.. Kaylie.. Apakah kau ada waktu ?? Aku ingin membahas beberapa hal mengenai kerjasama itu."
Kaylie mengangguk, "Tentu saja, kita bisa bertemu besok di perusahaan."
"Ah, tidak.. Maksudku.. Aku ingin membicarakan secara pribadi denganmu. Sebenarnya pada meeting kemarin aku ingin meminta nomer telefon mu, tapi kau sudah tidak ada di sana."
"B...Boleh ?? Hanya saja.. Bukankah lebih baik jika Tuan Davide mengetahui juga ?? Aku memang sekretarisnya, tapi aku adalah orang baru di perusahaan, jadi aku tidak terlalu mengetahui kerjasama itu." Ujar Kaylie dengan curiga mengenai gerak-gerik dari June yang sepertinya begitu mencurigakan, bahkan untuk apa June meminta nomernya ?! Ini benar-benar mencurigakan dan sedikit creepy.
Apakah semua client dari Davide juga sama sifatnya dengan atasannya ?? creepy, mesum, dan bejat ?! Ini benar-benar gila !!