
“Lagipula.. Kenapa kalian mencarinya ?? Aku pikir masalah sudah selesai.” Ujar Darel melihat mereka sepertinya tidak terlihat emosi saat tadi, meskipun mereka sedikit tidak puas dengan jawabannya, tapi Darel tentu saja tidak mau membuka mulutnya sedikitpun.
“Sebenarnya ada sesuatu yang harus kita bicarakan dengan Davide.” Ujar Mira dengan serius, membuat Darel mengangkat alisnya merasa bingung apa yang sebenarnya terjadi, kenapa mereka terlihat sebegitu mendesak Davide ?? Apakah ada terjadi sesuatu.
“Begitukah ?? Coba kalian hubungi nomernya.”
“Sudah, berulang kali dan dia tidak mau mengangkatnya.” Ujar Mira menjelaskan, membuat Darel mengangguk, seakan-akan dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa.. Kau yakin tidak mengetahui apapun.. ??” Tanya June dengan tatapan curiga, Darel justru malah berbalik tanya.
“Tentu saja, aku tidak tahu apapun, jika kau tidak mengatakannya. Memang ada apa ?? Lagipula percuma saja jika kau mencurigaiku, aku bahkan tidak tahu masalah kalian.” Ujar Darel sembari memutar matanya malas, ada apa dengan mereka sebenarnya ?!
“Dimana Davide tinggal saat ini ??!” Tanya Marlina secara langsung membuat Darel merasa semakin curiga, karena tatapan ibunya tampak sangat emosi, apakah Kak Davide sudah memulai rencananya ??
Apalagi rencana mu Kak Davide ?? Tidakkah kau tahu Kaylie sedang sakit, dan kau sepertinya membuat masalah cukup besar. Apakah kau tidak memikirkan kondisi Kaylie saat ini Batin Darel, tapi dia tidak menunjukkan ekspresi apapun, dia hanya memberikan ekspresi terkejut dan kagetnya, seakan dia terkejut dengan pertanyaan dari ibunya itu.
“Tempat tinggal Kak Davide- Eh, tunggu sebentar.” Belum sempat menjawab, Darel tiba-tiba melihat ponselnya berbunyi, membuat lelaki itu kemudian mengangkat saluran telepon dari handphonenya, dan mulai berbicara.
“......”
“Eh iya.. Maafkan aku, aku akan segera ke kamarmu.”
“.......”
“Cerewet !! Kau bahkan belum memberitahu nomer kamarmu !!”
“........”
“Oh.. Oke, aku akan segera kesana.”
Setelah itu, dia mematikan teleponnya, dan menatap ke arah ketiga orang itu dengan ekspresi berubah seperti sedang terburu-buru. Dia lalu berpamitan.
“Maafkan aku, temanku menelfonku. Aku harus segera pergi, waktuku menjenguk tidaklah lama, hanya sampai jam makan siang. Sampai jumpa.” Ujar Darel segera pergi berlalu dari sana, berlari kecil dan terburu-buru.
Sebenarnya perubahan karakter dari Darel membuat ketiganya merasa curiga, hanya saja sepertinya lelaki itu benar-benar terburu-buru bahkan, dia berlari meskipun mereka sedang berada di rumah sakit, seakan dirinya benar-benar sedang di kejar oleh waktu.
Kalau begitu aku akan mencari tahu sendiri semuanya Batin Marlina melihat sepertinya dia tidak bisa berdiam diri begitu saja kali ini, dia harus melakukan sesuatu rencana.
Disisi lain..
“Dasar pelupa ?! Padahal aku sudah memberikan informasi melalui pesan, dan dia berkata melupakan nomer kamar ini ?!”
“Sudahlah, Davide.. Mungkin dia terlalu sibuk sampai melupakannya.”
Davide merasa kesal, karena menunggu adiknya terlalu lama untuk datang, begitu di telfon dia malah terkena marah dari Darel, adik kurang ajar memang !! Batin Davide menggerutu mendengarkan perkataan dari adiknya itu.
Alisha kini menyuapi Nicholas yang menikmati buah yang di bawakan oleh ayahnya, setelah memakan makan siangnya. Sementara Kaylie duduk di kasurnya sembari menyusui Drowny. Karena kondisi Kaylie tidak pusing dan hanya bermasalah di kandungannya karena kelelahan, jadi dia tidak harus selalu berbaring di atas tempat tidurnya.
Tidak lama Darel datang, membuka pintu kamar dan menutupnya. Awalnya Davide ingin sekali emosi, tapi dia mengurungkan niatnya, di tambah Darel sengaja menutupi jendela dan juga kaca dari pintu dengan sebuah korden. Darel terlihat sedikit panik dan khawatir, setelah memastikan tidak ada yang bisa mengintip dari luar, barulah Darel masuk ke dalam kamar itu.
Oh iya, kamar milik Kaylie, adalah salah satu ruangan VIP yang sangat mewah dan memiliki kamar seperti hotel berbintang. Bahkan di jendela dan kaca di pintu juga terdapat korden khusus agar tidak ada yang melihat atau mengintip dari luar.
“Ada masalah, Darel ??” Tanya Davide dengan penuh tanda tanya.
Darel mengangguk, “Ibu, Mira berada di sini, dan mereka terlihat sangat marah.”
Semua yang ada di sana sedikit terkejut mendengarkan perkataan dari Darel. Beruntung di kamar itu, dindingnya dilapisi kedap suara, jadi mau ada yang menguping tidak akan mendengarkan suara apapun, meskipun itu di depan pintu sekalipun.
“Bagaimana bisa.. ??” Tanya Kaylie dengan kaget dan penasaran.
Davide menggelengkan kepalanya, “Tidak ada, hanya sidang perceraian itu saja.”
Darel hanya menghela nafasnya berat, “Ibu bahkan terlihat emosi dan kesal, dia bahkan menanyakan tempat tinggalmu. Beruntung kau menelfon jadi aku memiliki alasan untuk menghindari mereka.”
“Dan apa alasanmu berada di rumah sakit ini ??” Tanya Alisha yang sedari tadi terdiam mendengarkan percakapan antara Davide dan Darel.
“Menemui temanku.”
“Jangan bilang, kau di depan mereka saat aku telfon ??” Ujar Davide menyipitkan matanya melirik ke arah adiknya, dan Darel mengangguk mendengarkan perkataan kakaknya itu.
“Yeah, itulah kenapa cara bicaraku aneh.”
Semua yang ada di sana terdiam, kemudian mereka berfikir atau berfokus pada urusan mereka masing-masing, Alisha masih memikirkan keadaan dan kondisi kakaknya yang sakit, dan mendapatkan masalah seperti ini, sementara Kaylie memeluk Drowny dan menatap Nicholas yang menikmati buah dengan lahap, dia bersumpah akan melindungi kedua anak itu dengan segenap hatinya, juga bayi dalam kandungannya, jangan sampai ibu dari Davide ataupun Mira berani menyentuh ketiga anak itu. Davide kemudian memikirkan sesuatu rencana gila.
“Haruskah aku menemui mereka ??” Ujar Davide dengan berharap mendapatkan jawaban atas ide gila itu.
“Boleh, tapi jangan disini. Kau harus ingat, Kaylie sedang sakit, Nicholas dan Drowny ada disini. Mungkin Alisha dan aku bisa menjaganya, tapi kami bukan malaikat yang selalu sedia sepanjang hari.” Ujar Darel menjelaskan kepada kakaknya itu, jangan sampai kegilaan kakaknya malah membuat masalah besar kepada kehidupan Kaylie dan anak-anaknya nanti.
“Tidak, aku tidak segila itu untuk membiarkan hidup keluargaku dalam bahaya.”
“Aku bersyukur kau masih memiliki kewarasan sedikit.”
“Hey !! Sopan lah sedikit kepada kakakmu ini !!”
“Iya.. Kakakku tercinta..” Ujar Darel memutar matanya malas, Alisha dan Kaylie hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua kakak beradik itu, padahal baru saja mereka mengalami ketegangan kenapa malah berakhir dengan candaan seperti ini ?! Astaga.
“Papa, aku suka buahnya !!” Ujar Nicholas memberikan pendapat berbeda, sedari tadi dia malah menikmati buah kesukaannya yaitu pepaya dan juga melon. Sepertinya Davide sengaja membelikan kedua buah itu lebih banyak dari buah lainnya, karena dia pasti mengenali anaknya dengan sangat baik.
“Aku akan membelikannya lagi, ya sayang.”
“Yeayyy !!”
Alisha, Kaylie, dan Darel terkekeh pelan. Yeah, Nicholas benar-benar menjadi penghibur bagi mereka di kala sedang mendapatkan banyak masalah. Sosok polos nan lugu itu benar-benar membuat mereka merasa senang.