
Tenang, gak ada kekerasan fisik dalam cerita ini kepada anak-anak.
Tapi mungkin kalian bakalan ikutan emosi.
Oke, lanjut..
“Karena nilaimu tidak sesuai yang sudah aku katakan, maka kau tidak akan mendapatkan makan malam untuk hari ini !”
“Tapi, ayah-”
“Tidak ada tapi-tapian !! Ulangan besok kau harus mendapatkan nilai yang sudah aku berikan !!”
“Turuti perkataan ayahmu, Davide.”
“Baik, ayah.. Ibu..”
Davide kecil berjalan keluar ruangan kedua orang tuanya dengan lesu, membawa kertas ulangan yang dia tertulis nilai 97. Davide memang mendapatkan kesalahan hingga berkurang 1,5 score. Davide di haruskah mendapatkan nilai sempurna yaitu 100, jika tidak maka hukumannya adalah dia tidak boleh mendapatkan makan malam.
Davide sudah terbiasa terkadang seminggu dirinya tidak mendapatkan makan malam, beruntung yang di kurangi adalah jatah makan malam, tapi makan siang atau pagi, hanyalah makanan sisa yang diberikan kepada Davide.
Itu semua adalah hukuman yang diberikan jika tidak mendapatkan nilai sempurna. Tapi Davide pasti gagal mendapatkan nilai 100, kenapa ?? Karena dia terkadang merasa kelelahan dan terkadang dia mengajari Darel dalam belajar. Karena itu, dia pasti mendapatkan sebuah kesulitan di satu soal.
Tidak, Davide tidak pernah menyalahkan adiknya itu, malahan Davide begitu dekat dengan Darel. Sosok anak itu melangkah melewati beberapa pelayan yang berbisik melihat anak itu.
“Kasihan dia.. Sepertinya dia tidak boleh makan malam.”
“Malang sekali nasibnya, berbeda dengan anakku. Meskipun mendapatkan nilai 80, aku selalu memberikan makanan kesukaannya.”
“Tentu saja berbeda, kita orang tua yang waras.”
“Ssttt.. Jangan keras-keras, nanti mereka mendengarmu.”
“Kalau keuanganku tidaklah kurang, maka aku ingin mengajaknya lari, dan tinggal bersamaku.”
“Benar, dia anak yang pintar.”
Bisikan para pelayan terdengar dengan jelas, terkadang membuat Davide merasa sedih. Andai dia anak dari salah satu pelayan yang tidak memprioritaskan nilai, maka dia akan hidup dengan nyaman. Dibanding disini, hidup dengan makanan mewah, tapi begitu melakukan kesalahan maka hukuman tidak akan main-main.
Tuhan.. Jika aku hidup tanpa harta, apakah aku akan mendapatkan hidup lebih baik ?? Batin Davide selalu bertanya kepada Tuhan mengenai kehidupannya itu, dia benar-benar merasa sangat tertekan tapi dia tidak bisa melakukan apapun.
Satu-satunya obat bagi dirinya adalah adiknya sendiri, karena itu Davide selalu mendatangi kamar adiknya, dan mengetuknya. Tidak lama, Darel akan membuka pintu kamar dan melihat kakaknya.
“Kak Davide ??”
“Aku.. Aku ingin tidur disini.. Bersamamu.”
Darel mengangguk, dia membuka pintu kamarnya dan memperlihatkan kamar yang berbeda dengan kamar milik Davide. Kamar Davide benar-benar mewah dan begitu indah, dengan cat biru dan hiasan lainnya. Sementara kamar Darel benar-benar sangat biasa, dan terkesan lebih kecil, tapi anehnya Davide lebih suka tidur dengan adiknya dibanding tidur sendiri di kamar.
Terkadang keduanya menghabiskan waktu belajar bersama hingga tertidur di atas lantai hingga pagi harinya. Dan semuanya benar-benar terasa lebih menyenangkan.
“Jadi.. Kau tidak.. Mendapatkan makan malam lagi ??”
Davide menggelengkan kepalanya, Darel memperlihatkan wajah murungnya.
“Maafkan aku.. Sebagai gantinya.. Aku akan memberikanmu makanan.”
“Eh ??”
Darel mengeluarkan isi dalam tasnya, berisikan makanan snack cokelat, dan beberapa permen di sana. Ada roti juga, yang sengaja dibeli oleh Darel untuk mengisi waktu luang di dalam kamarnya.
“Well, saat kau, ayah, dan ibu pergi aku disini sendirian. Membantu pelayan berbelanja di supermarket dan membeli beberapa makanan snack dan roti untukku, menyimpannya disini. Karena ayah dan ibu tidak pernah mengecek dalam kamar, jadilah aku aman disini.
Terkadang Davide iri dengan adiknya, Darel anak yang tidak pernah dianggap, selalu diabaikan, Darel di ajak pergi hanya saat acara keluarga, sementara saat liburan hanya Davide yang di ajak, Darel di biarkan di rumah. Saat ada acara reuni, hanya Davide yang dibanggakan sementara Darel di katakan sebagai anak pelayan.
Saat makan malam, pelayan terkadang mengambil sebagian masakan, dengan alih-alih untuk makan malam pelayan, padahal mereka juga sengaja memberikan makanan daging kepada Darel secara diam-diam, dan semua berjalan lancar, karena seluruh pelayan membantu Darel. Disana lah yang membuat Davide merasa iri, Darel tanpa orang tuanya bisa bahagia dan bebas, sementara dirinya harus hidup di dalam kurungan yang penuh aturan ini-itu mendapatkan hukuman yang tidak selayaknya, membuat Davide merasa.
Apakah sebenarnya mereka menyiksaku dan membebaskan Darel ?? Atau mereka menggunakan istilah anak kesayangan kepadaku agar bisa mengontrolku ?? Batin Davide setiap melihat perilaku berbeda kedua orang tuanya kepada Darel dan juga Davide.
“Tapi.. Bagaimana denganmu ??”
“Gampang, pelayan akan mengantarkan makan malam untukku dan.. Hey, bagaimana jika kita makan sepiring berdua ?? Biasanya mereka memberikan jatah makanan cukup banyak untukku, cukup untuk kita berdua.”
Kebaikan Darel, yang membuat rasa iri dalam diri Davide terkadang menghilang dan tidak memiliki niatan jahat kepada adiknya. Padahal Davide bisa saja mengadu yang aneh-aneh kepada orang tuanya untuk mengusir Darel, tapi Davide tidak melakukan itu semua. Rasa iri dalam dirinya hanyalah sebatas keinginan untuk hidup bebas seperti Darel, bukan menghakimi adiknya itu. Davide mengangguk.
“Jika kau tidak keberatan.”
“Sama sekali tidak, apa kau yakin bisa belajar fokus tanpa makan ??”
Tidak lama ketukan di pintu kamar terbuka, Darel menyuruh Davide untuk tidak berbicara apapun atau bersembunyi dari pelayan. Lalu Darel membuka pintu kamarnya, dan melihat seorang pelayan memberikan makanan cukup banyak untuknya.
“Ini terlalu banyak.” Ujar Darel berbisik dengan lembut.
Pelayan itu tersenyum, “Karena aku tahu, kau tidak sendiri. Aku menyiapkan dua sendok untuk kalian.”
Darel terkejut dengan perkataan itu, tapi gadis pelayan itu mengedipkan matanya dan memberikan kode agar tetap diam.
“Terima kasih banyak.” Celetuk Darel menerima dengan riang, pelayan itu hanya tersenyum senang melihat kebahagiaan Darel di sana.
Darel kemudian kembali mengucapkan terima kasih, dan masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian menaruh nampan dengan sebuah piring besar berisikan nasi, dan mangkuk besar berisikan sayuran. Davide terkejut dengan porsi makanan di sana.
“Banyak sekali, apa kau makan sebanyak ini ??”
Darel menggeleng, “Mereka (pelayan) tahu kau ada disini, karena itu mengambil lebih banyak porsi untuk kita.”
“Eh ?? Aku pikir mereka akan mengadu kepada ayah dan ibu.”
“Jika itu mereka lakukan, maka aku pasti sudah dihabisi sejak lama oleh ayah. Kau tahu, betapa bencinya mereka kepadaku, apalagi mengetahui aku diam-diam mendapatkan makanan enak ini dari mereka.” Celetuk Darel memutar matanya malas, membuat Davide secara hatinya kasihan kepada adiknya.
Betapa hidupnya sangat menderita sejak kecil, tanpa alasan yang jelas Darel dilupakan dan di tinggalkan begitu saja, padahal Darel termasuk siswa teladan dan baik, dia bahkan mendapatkan nilai cukup pintar tapi ayah dan ibunya tidak begitu menginginkan Darel dalam kehidupan mereka.