
Suara dari kertas di tarik menjadi satu-satunya yang mengisi kekosongan dari ruangan milik Kaylie. Perempuan itu begitu sibuk dan serius menata, membaca, dan bahkan mengerjakan beberapa tugas dokumen di atas meja tanpa memperhatikan sekitar, dia tidak mau membuang waktu untuk memikirkan hal tidak penting lainnya kecuali pekerjaan.
Hingga..
"Kau benar-benar bekerja dengan serius dan bersungguh-sungguh, aku akan memberikan bonus tambahan untukmu."
"Kyaaa !!!"
Kaylie terkejut bukan main mendengar sebuah suara yang terdengar di sana, dia menolehkan kepalanya dan melihat Davide berada di sampingnya melihat ke arah meja tepatnya dokumen di depannya itu. Kaylie tidak pernah menduga, sejak kapan bosnya berada di samping nya ?? Dan kapan dia masuk ke ruangan ??
"Se..sejak kapan kau datang kemari ??"
"Eh, kau terlihat sangat serius, padahal aku sudah berada di sini sedari tadi."
Kaylie menenangkan dirinya sendiri, kemudian mulai menata nafasnya sendiri dan tatapan tajam dan kesal mengarah ke Davide.
"Bos, bisakah anda bersifat sedikit sopan saat masuk ke ruangan ?! Dan apa tujuanmu kemari ??"
Davide malah terkekeh pelan, "Aku sangat kagum denganmu, sayang~"
"Sekali lagi, kau memanggilku sayang, maka aku akan melempar mu dengan sepatu high heels ini !!"
Bukannya takut, Davide malah semakin menyukai Kaylie yang sepertinya tidak takut lagi padanya. Padahal Davide menikmati tatapan penuh ketakutan Kaylie awalnya, tapi sepertinya Davide mempermainkannya terlalu jauh dan malah membuat sisi Kaylie yang pemberani itu keluar dan marah kepadanya. Oh apakah ini juga karena ulah Mira ?? hah, Sepertinya Davide akan sangat berterimakasih kepada istri silumannya itu.
"Jangan se-kasar itu padaku, oh iya makan siang nanti kita-"
"Tidak !!"
"Dan aku tidak menerima penolakan."
Kaylie mengusap wajahnya kasar, "Sampai kapan kau akan terus mengejar ku ?! Tidakkah kau lihat, istrimu melabrak dan memarahiku hampir 2 jam ?! Dia benar-benar gila."
"Kalau begitu, bantu aku menyingkirkan wanita gila itu."
"Lalu, kau akan membebaskan ku dari perjanjian gila mu itu, bukan ??"
Davide hanya mengangkat bahunya acuh, "Entahlah kita lihat saja nanti. Oh iya, makan siang nanti aku akan mengajakmu pergi, dan menyeret mu jika kau menolak."
Kaylie tidak percaya dengan atasannya itu, dia baru saja terkena masalah dengan istrinya, dan lelaki itu dengan gila mengajaknya makan siang bersama ?! Sepertinya otak atasannya itu perlu di setrum atau menjedukkan kepalanya ke dinding. Davide melangkah hendak keluar dari ruangan, tapi suara Kaylie menghentikannya.
"Hey, tunggu sebentar !!"
Davide membalik badannya menatap Kaylie, "Merindukan ku, sayang ??"
"Najis !! Aku hanya ingin bertanya, apakah kau benar-benar CEO atau orang gila yang lepas dari rumah sakit jiwa ?!" Ujar Kaylie dengan kesal, karena rasa percaya diri Davide. Padahal dirinya ingin bertanya, apakah Davide akan benar-benar menyeretnya atau tidak, tapi tingkah lelaki itu membuat Kaylie merasa kesal sendiri, dan mengalihkan pembicaraan awalnya dengan sedikit kritikan pedas.
"Well, aku tidak tahu.. Sepertinya aku sudah gila."
"Baguslah, kalau kau menyadari-"
"Dan aku semakin gila tanpamu sayangku."
Davide kemudian tertawa mengejek sembari melangkah keluar dari ruangannya, mendengarkan perkataan tajam dan sinis dari Kaylie yang semakin membuatnya terhibur. Ternyata melihat perempuan marah sangat menyenangkan, wajah mereka semakin cantik dan imut jika sedang marah, dan Davide memiliki hobi baru saat ini.
Sementara Kaylie sendiri memijat keningnya, baru satu hari bekerja sudah membuatnya gila. Bukan karena tugas banyak bertumpuk, tapi karena perilaku bos atau atasannya yang membuatnya pusing. Mulai dari pertikaian rumah tangga, hingga godaan basi Davide kepadanya. Demi Tuhan, meskipun Davide terlihat mengerikan dengan senjata, tapi dia terlihat sangat menyebalkan dengan rayuan itu.
"Seminggu bekerja disini, aku benar-benar bisa gila." Ujar Kaylie pada dirinya sendiri, tiba-tiba dia teringat Valen yang mengatakan pernah mendapatkan masalah yang sama. Kaylie merasa heran, kenapa perempuan itu malah terlihat betah bekerja di tempat aneh ini.
"Jika sudah memasuki satu bulan full, apakah aku bisa keluar dari sini ??" Ujar Kaylie pada dirinya sendiri, sebenarnya perempuan itu ragu untuk bertahan bekerja disana.
Bagaimanapun Davide bukan lelaki murahan yang bodoh dan gila, saat dia mengancam dan mengetahui data pribadinya dan mengetahui mengenai putranya, membuat Kaylie semakin takut jika perilakunya berdampak kepada putranya itu.
…
"Anda membuatnya takut, tuan."
Davide hanya terkekeh pelan, mendengarkan informasi dari Valen di kantornya itu, sementara Darel dan Nicholas yang ada di sana hanya memandang aneh ke arah Davide.
"Apalagi sebenarnya rencana mu, kak ?!" Ujar Darel menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari kakaknya itu.
"Apakah ayah berencana menjadikan kakak itu sebagai ibu baruku ??" Ujar Nicholas dengan senang.
Davide sedikit bingung dengan perkataan Nicholas putranya, sementara Darel menepuk dahinya. Tidak ayah, tidak anak sama saja !! Batinnya dalam hati, bagaimana bisa Kaylie dalam satu kali bertemu mampu mengait hati ayah dan anak sekaligus ?? Astaga sihir apa yang digunakan oleh Kaylie dalam melakukan aksinya itu.
"Dia bertemu dengan Kaylie saat perempuan itu sedang dalam panggilan interview. Nicholas benar-benar menyukainya dan ingin kakak itu sebagai ibunya." Ujar Darel menjelaskan, yang mana membuat Davide merasa senang dan tersenyum dengan cerah.
"Aku pastikan kakak itu akan menjadi ibu baru bagimu."
"Yeayyy !!"
"Ugh- astaga, sayang bawa aku ke rumah sakit, aku benar-benar gila menghadapi tingkah kakak dan keponakanku sendiri." Ujar Darel berbicara pada Valen, yang mana membuat perempuan itu tertawa geli mendengarkan curhatan kekasihnya mengenai kakaknya itu.
"Hey, bersifat sopan lah kepada kakakmu, lagipula aku tidak seburuk itu !!" Ujar Davide dengan cemberut dan kesal akibat ucapan adiknya yang seakan menggambarkan jika Davide adalah orang paling dan sulit di hadapi.
"AkU tIdAk SeBuRuK iTu." Darel menirukan perkataan kakaknya di bagian akhir dengan nada mengejek.
"Tidak buruk apanya ?! Mira sampai menamparku tiga kali, hanya karena perselingkuhan mu itu !! Dia bahkan menuding jika aku yang menyuruh mu berselingkuh ?! Kenapa kau malah menyeret ku dalam rumah tangga mu itu ?!"
"Itu bukan salahku, bukan aku yang menamparmu."
"See ?! Dan kau masih tidak terima dikatakan buruk ?! Oh Tuhan, bunuh saja aku !!"
Valen sudah tahu kelakuan kedua kakak beradik yang selalu bertengkar meskipun aslinya mereka saling menyayangi satu sama lain. Mereka memang selalu terlihat berbeda pendapat, dan terkadang Darel yang menangis akibat tingkah laku kakaknya itu, tapi dalam diri mereka sebenarnya saling melindungi satu sama lain.
"Jadi.. Ayah.. Kapan kau menikahi kakak itu ??" Ujar Nicholas di tengah pertengkaran ayah dan pamannya itu, dengan pertanyaan polos yang mana membuat kedua lelaki itu menolehkan ke arah anak lelaki itu.
"Astaga, jangan lagi Nicholas.." Ujar Darel dengan nada pasrah nya.
Berbeda dengan reaksi Davide yang menyeringai dan tersenyum licik, "Secepatnya, anakku."