
"Nona Kaylie, ide anda benar-benar sangat cemerlang dan cerdas."
"Terima kasih banyak."
Setelah meeting, Kaylie tidak henti-hentinya mendapatkan komentar serta pujian dari beberapa orang yang merupakan partner kerja dari Perusahaan Florian. Dan jujur sebenarnya itu hal yang membanggakan bagi Davide, tapi juga ada hal yang membuat lelaki itu kesal. Kenapa semua partner perusahaannya malah dekat dan berbicara kepada Kaylie seakan-akan mereka begitu dekat ?!
"Kau, Nona Kaylie Ava Clare, bukan ??"
"Benar."
"Sekretaris dari Perusahaan Florian, bukan ??"
"Tepat sekali, ada sesuatu yang ingin anda bahas ??"
Seorang lelaki dengan wajah tampan, tinggi menatap ke arah Kaylie dan tersenyum. Davide yang melihat itu semua hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kesal, kenapa semua lelaki malah caper kepada Kaylie ?! Sialan !! Kalau saja dia sudah berstatus sebagai suami Kaylie, maka Davide akan dengan senang hati mencongkel dan menusuk mata mereka menggunakan pisau lipatnya itu. Berani sekali, mereka memandang kagum ke arah Kaylie.
"Begini, saya CEO dari Perusahaan Tsania, perkenalkan nama saya adalah June Andrews. Saya begitu tertarik untuk bisa mengenal lebih dalam kerjasama ini."
"Begitu kah ?? Tentu saja, dengan senang hati."
Davide sepertinya tidak mau lelaki itu semakin dekat dengan Kaylie, lelaki itu segera mendekati Kaylie dan June yang berdiri dan saling berbicara itu.
"Ehm... Maaf menganggu, tapi.. Bolehkan aku ikut dalam pembicaraan ini ??"
"Ah, kebetulan Tuan Davide. Lelaki ini, dia adalah Tuan June. Dia bilang ingin bekerjasama dengan perusahaan kita." Ujar Kaylie dengan ramah dan tersenyum, tanpa sadar menarik perhatian June yang menatap ke arah perempuan itu, sementara Davide yang mengetahui itu semua, ingin sekali memukul wajah June dengan kepalan tangannya.
"Begitu ??" Davide berbicara ramah, seakan dia tidak merasa kesal atau emosi sedikitpun di sana.
"Iya, benar sekali, Tuan Davide. Jadi, apakah boleh ??"
"Tentu saja, kita bisa membahas semua ini lebih lanjut."
Davide dan June kemudian berbicara satu sama lain, sementara Kaylie yang menjadi pendengar kedua lelaki itu berbicara. Berkali-kali juga, Kaylie mengecek jam tangannya memastikan jika dia pulang tidak terlambat..
Tunggu.. Ini jam sepuluh malam ?! Kenapa Davide malah asyik mengobrol disini sih ?! Kaylie terkejut saat mengetahui jam saat ini, wanita itu rasanya ingin memberitahu Davide untuk mengajaknya pulang.
"Hey, Kaylie.. minumlah dulu."
"Davide.. ini sudah jam 10 malam !!" Kaylie berbicara dengan nada pelan kepada Davide yang membawakan sebuah minuman bersoda.
"Lalu ??"
"Apa maksudmu 'Lalu' ?! Bawa aku pulang !!"
"Nanti dulu, sayang."
"Kenapa harus nanti ?? Bagaimana putraku ?!"
"Tenang, Darel masih ada di sana dengan Alisha, adikmu. Sekarang minumlah dan nikmati suasana ini dulu."
Kaylie menerima segelas minuman itu dan menatap ke arah Davide dengan curiga.
"Ini bukan minuman beralkohol, kan ??"
Davide menggelengkan kepalanya, "Bukan sama sekali. Itu adalah minuman bersoda biasa."
Kaylie mengangguk dan meminum minuman itu dengan perlahan, sembari mencicipinya. Khawatir jika Davide menipunya, dan benar saja. Itu hanyalah minuman bersoda biasa. Tapi jujur Kaylie akui, itu adalah minuman yang enak.
"Enak."
"Tidak perlu, biar aku habiskan yang satu ini."
"Oke."
Kaylie mencoba untuk tetap tenang, meskipun tidak bisa. Dirinya masih memikirkan putranya yang berada di dalam rumah, dia tahu ada Darel yang melindunginya dan Alisha di sana, tapi tetap saja sebagai seorang ibu dia tidak bisa tenang begitu saja, meninggalkan putranya di rumah.
Kegelisahan membuat Kaylie meminum minuman hingga habis. Dan merasakan sesuatu yang salah pada tubuhnya dan dirinya sendiri, Kaylie melirik ke arah Davide dan memandang curiga kepada lelaki itu.
"Davide.."
"Ya ??"
"Kau tidak.. memasukkan apapun.. dalam minuman ini, bukan ??"
"Hmm, apa maksudmu sayang ??"
"Jujur saja !"
Bukannya menjawab, Davide terkekeh pelan dan menyeringai kecil, dia memeluk Kaylie dan berbisik lembut dengan nada yang berbeda dari biasanya.
"Apa yang kau rasakan, sayang ?? Ada sesuatu yang salah ??"
"Kau-"
Kaylie merasakan tubuhnya menjadi lemah dan lemas di sana. Wanita itu memegang pundak Davide sebagai pegangan, dan menatap tajam ke arah lelaki itu, sementara sang lelaki membalas dengan senyuman miringnya. Sepertinya julukan brengsek akan menjadi nama bagi lelaki itu, dari Kaylie.
"Kau tampak lemas sayang, biarkan aku menggendong mu."
Davide menggendong tubuh Kaylie yang sudah lemah, wanita itu tidak bisa memberontak apapun karena merasakan sensasi tidak biasa dari tubuhnya sendiri, sensasi yang membuatnya lemah dan tidak berdaya.
"Obat apa yang kau masukkan ??"
"Obat perangsang."
"Dasar brengsek !!"
"Sstt tenang, aku akan menolong mu, sayangku."
Kaylie tidak bisa menjawab apapun lagi sementara Davide segera membawa Kaylie pergi dari sana. Oh iya, aku lupa bilang. Meeting mereka berada di sebuah hotel, dan mereka berada di ruangan VIP yang sengaja dipesan untuk meeting, ruangan mereka berdekatan dengan taman hotel yang juga di sewa sebagai acara penutupan meeting yang berisikan pesta kecil di sana.
Rupanya semua sudah di rencanakan oleh lelaki gila itu, dia bahkan sudah menyewa kamar yang memang kedap suara dan berada di kamar VIP juga. Davide sengaja memasukkan obat perangsang ke dalam minuman Kaylie, hanya saja itu obat perangsang dengan dosis yang ringan, hanya bekerja untuk melemahkan tubuh Kaylie.
Setelah sampai kamar yang di tuju, Davide masuk ke dalam kamar, menguncinya dan memastikan tidak akan ada yang menganggu mereka nantinya. kemudian menaruh Kaylie di atas tempat tidurnya dengan perlahan, sembari menatap wanita itu berbaring lemah di sana, meskipun Kaylie mencoba untuk bisa memberontak.
"Davide.. Kau.. tidak akan melakukan.. ini, bukan ??"
"Terlambat, aku menginginkan ini sejak awal." Davide melepaskan pakaiannya dan sedikit dingin di sana. Membuat Kaylie semakin ketakutan, karena tingkah Davide yang benar-benar berubah dari lelaki mesum yang menggodanya, hingga lelaki brengsek dingin yang hendak memperkosanya.
Davide kemudian berada di atas tubuh Kaylie, seperti menindihnya meskipun tidak benar-benar menindih tubuh perempuan itu, tatapannya begitu mengintai dan menginginkan tubuh perempuan di bawahnya, sementara Kaylie berusaha untuk bisa memberontak tapi sia-sia saja, Davide terlalu kuat untuknya.
Davide kemudian mencium bibir Kaylie dengan kasar awalnya, membuat wanita itu menahan tubuh Davide dengan menahan kedua bahunya meskipun itu tidak berguna, malahan Davide semakin memperdalam ciuman, mendorong bibirnya ke arah bibir Kaylie. Tangannya kemudian berusaha untuk bisa melepaskan pakaian dari tubuh Kaylie.
Kaylie awalnya menangis, tapi dia tidak bisa melakukan apapun, karena obat perangsang itu bekerja padanya. Meskipun tidak benar-benar merasa kepanasan, tapi sentuhan dari Davide dan ciumannya membuat tubuhnya melemah dan tidak berdaya, dia tidak kuasa untuk bisa melepaskan dirinya sendiri dari tangan Davide.
Lelaki itu menyeringai licik dalam hati, melihat Kaylie sama sekali tidak berdaya di tangannya, sepertinya malam ini akan menjadi malam paling menyenangkan bagi Davide. Entah apakah besok wanita itu akan membencinya atau tidak, itu urusan belakang.