
Kaylie berjalan mondar-mandir sembari kebingungan, dan gelisah. Hari ini persidangan pertama dari Davide mengenai tuduhan kematian ayahnya sendiri Martin. Memang Davide mengatakan memiliki bukti kuat, tapi tetap saja hatinya merasa sangat gelisah. Di rumah hanya ada Kaylie, Alisha, Nicholas dan Drowny.
Tapi kemudian muncul Putra dan Meghan datang untuk menemani Kaylie dan Alisha. Ditambah penembakan mendadak kemarin, menjadi bahaya jika meninggalkan Kaylie dan Alisha seorang diri. Jadilah Meghan berfikir untuk menemani mereka di kala Davide sedang melalukan persidangan.
“Tenanglah, Kaylie.. Semua akan baik-baik saja..” Ujar Meghan menenangkan istri Davide itu, dia terlihat gelisah.
“A..aku takut.. Aku khawatir..”
“Tidak perlu takut, justru Davide sudah menemukan bukti yang lebih akurat.” Ujar Putra menjelaskan.
“Tapi bagaimana jika mereka menjebak Davide ??”
“Mustahil, aku yakin tidak mungkin mereka mampu menjebak Davide.. Lagipula, nanti akan mendapatkan sebuah kejutan yang menyenangkan.” Ujar Meghan dengan senyuman misteriusnya.
“Eh.. Apakah.. Kalian.. ??”
“Ya, kami secara diam-diam menyelidiki semuanya, kau tenang saja, tidak akan ada yang bisa menyakiti kalian.” Ujar Meghan tersenyum sembari menenangkan Kaylie, agar gadis itu menjadi lebih tenang.
“Dan... Itu artinya.. ??”
“Setelah ini, Davide tidak harus mengurus begitu banyak urusan dengan mereka.” Ujar Putra yang sepertinya menyembunyikan sesuatu.
...
Disisi lain..
“Kau mau kemana ??”
“Ada sedikit urusan, dari kedua orang tuaku.” Ujar June membenahi beberapa barang miliknya, membuat Mira penuh tanda tanya, bukankah dia bilang akan menghadiri dan membantu persidangan, tapi kenapa lelaki itu malah bersiap-siap seakan hendak pergi jauh ??
“Apakah lama ??”
“Tidak, panggil nomerku jika ada masalah, oke ?? Aku akan membantu kalian.” Ujar June memasukkan kopernya ke dalam mobilnya sendiri, dan kemudian berpamitan dengan Mira untuk pergi.
Mira sendiri berfikir ingin sekali menghadiri persidangan ini, dia berfikir akan menemani Marlina yang sudah lebih dulu berada di persidangan dengan pengacaranya mengurus semuanya. Karena Mira sendiri belum bisa menyetir mobil, dia akhirnya memutuskan untuk menaiki ojek online. Lagipula mobil June sudah menjauh dan pergi, dirinya tidak memiliki pilihan lain, selain menaiki ojek online berupa mobil dari aplikasi berwarna hijau.
Tidak butuh waktu lama, mobil itu datang menjemput Mira.
“Sesuai lokasi ya..”
“Ya, bisakah kita sedikit lebih cepat, aku ada keperluan mendadak.”
“Tentu saja.”
Setelah itu, mobil berwarna abu-abu itu berangkat dari rumah menuju ke sebuah tempat persidangan. Sang sopir cukup cerdas, memilih jalan alternatif sekaligus jalan sepi yang bisa membuat mereka lebih cepat daripada jalan utama yang mengalami macet.
Handphone Mira berdering, membuat wanita itu menerima telfon dari Marlina.
“Halo ??”
“Mira, kau ada dimana ?? Persidangan akan segera di mulai.”
“Tunggu sebentar, aku di perjalanan.”
“Baiklah.. Nanti masuklah, menyusul.”
“Oke..”
Telepon kemudian di matikan, mobil masih berjalan dengan lancar, Mira menyuruh sang sopir untuk sedikit lebih cepat, membuat laju kendaraan itu semakin cepat, tapi kemudian sebuah motor dengan sembarang menyerang di depan mereka, membuat sang sopir berusaha menghindarinya, dan malah membuat mobil mereka menabrak mobil dari arah berlawanan yang juga memakai kecepatan tinggi, hingga..
Duarr !!!
Kecelakaan tidak bisa di hindari, karena kedua mobil dengan kecepatan tinggi, membuat bagian depan kedua mobil rusak parah, bahkan Mira dan sopirnya tidak sadarkan diri dengan wajah dan tubuh penuh luka akibat pecahan kaca depan mobil mengenai mereka.
...
“Baiklah.. Persidangan di mulai.. Dengan kematian dari Martin Florian, yang di duga telah meninggalkan di rumah sakit ***** dengan yang tertuduh adalah Davide Enzo Florian, yang merupakan putranya sendiri. Bisakah dari pihak masing-masing memberikan bukti dan kesaksian ??” Ujar sang hakim yang memulai persidangan untuk kali ini. Sebelum persidangan ini berlanjut tiba-tiba saja, layar LCD yang memang di sediakan untuk memutar rekaman bukti entah video atau rekaman berupa suara kemudian tiba-tiba menyala dan memberikan sebuah video tanpa gambar tapi percakapannya sangatlah jelas di sana.
Seorang lelaki yang merupakan suara dari June dan juga dua saksi yang mengaku sebagai orang yang di suruh oleh Davide di rumah sakit.
Dan kebetulan dua orang itu juga di bawa ke persidangan sebagai saksi. Dua orang itu terlihat panik setelah rekaman suara itu terdengar di seluruh ruangan
“Lakukan saja sesuai perintah Mira..” - June
“Apa yang harus kita lakukan ??” – Orang 1 (yang menyamar menjadi OB)
“Tapi, bagaimana jika kita ketahuan ??” – Orang 2 ( yang menyamar menjadi perawat)
“Jangan khawatir, Mira sudah menyewa orang untuk merusak cctv.”
“Baiklah, tuan..”
“Dan satu lagi, jika sampai kalian tertangkap, sebutkan nama Davide.. Davide Enzo Florian, jangan pernah sebut namaku, atau nama Mira di depan semua orang.”
Lalu rekaman berhenti dalam percakapan membuat kedua lelaki yang ada di sana langsung pucat seketika, Davide menyeringai licik mendengarkan percakapan tersebut, semua yang ada disana hanya bisa terpaku dan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar dari rekaman.
“Apakah aku harus memberikan bukti lagi, pak hakim ??” Ujar Davide sedikit tersenyum puas di sana, semua yang ada di sana kemudian menatap ke arah kedua lelaki sanksi itu dengan penuh curiga.
“It..itu hanya rekaman palsu.. Tidak mungkin-”
“Jika begitu, kenapa Mira dan June tidak datang ?! Kemana mereka ?? Bukankah, di rekaman ini terdapat nama keduanya ?? Apakah mereka terlalu pecundang untuk mengklarifikasi rekaman ini ?!” Potong Davide dengan kesal, membuat semua yang ada di sana menatap ke arah Marlina.
“Aku akan menelfonnya.”
Marlina kemudian mencoba menghubungi nomer dari Mira tapi tidak diangkat sama sekali, kemudian sambungan telepon itu di angkat tapi bukan Mira.
“Maaf, nyonya.. Apakah anda mengenal saudara Mira ??”
“Be..benar, ini siapa ??”
“Saya hanya ingin memberitahukan jika saudara Mira saat ini, mengalami kecelakaan dan masuk rumah sakit ****”
Marlina terdiam sejenak, “Ba..baiklah, terima kasih atas informasinya.. Aku akan segera ke sana, setelah menyelesaikan urusanku..”
Lalu telefon di matikan, Marlina menatap ke arah hakim itu, dan berbicara kepadanya.
“Maaf, Mira tidak bisa hadir...”
“Tapi kita membutuhkan kesaksiannya, seperti ucapan tuan Davide.”
“Mira.. Dia mengalami kecelakaan.”
Davide memutar matanya malas, sementara yang lain di sana hanya bisa terkejut dan merasa sangat bingung, tapi Davide menanggapinya dengan santai.
“Setelah ini jangan salahkan aku, atas kecelakaan dari Mira jika kau tidak punya bukti kuat, aku benar-benar lelah dengan semua omong kosong ini.” Ujar Davide memutar matanya malas dan bersandar pada kursi.
Davide tidak terlihat takut atau panik sedikitpun, di tambah dia memiliki bukti kuat untuk bisa bertahan atau bahkan memasukkan ibunya dan Mira ke penjara atas tuduhan yang tidak masuk akal dan tidak ada bukti.