
“Jadi ini, saudara kamu ??”
“Iya, Ma.. Dia bakalan bantuin perusahaan Florian.”
June tersenyum mengangguk, memberikan kesan yang begitu sopan. Dia datang bersama dengan Mira, menemui ayah dan ibu Davide, yaitu Tuan Martin dan Nyonya Marlina. June melihat sekeliling, betapa indahnya rumah itu, tentu saja siapa yang membangun ?? Davide memang cerdik dalam mencari arsitektur seperti ini, bahkan dialah yang merombak perusahaan Florian hingga memiliki lantai 8. Benar-benar luar biasa, sayangnya kedua orang tua dan istrinya begitu bodoh.
“Begitukah ?? Siapa namamu ??”
“June, panggil saja June.”
“Kalau begitu masuklah, kita bisa mengobrol lebih lanjut.”
“Terima kasih banyak, Tuan dan Nyonya.”
...
“Mama Kaylie ?!”
Kaylie mendengar suara Nicholas dari arah pintu depan, Kaylie sudah tahu jika ini adalah waktu pulang Nicholas, karena itu dia sengaja menunggunya di ruang depan sembari memangku Drowny kecil dengan kedua tangannya. Kaylie melihat anak itu berlari ke arahnya membawa plastik dan juga tas di belakang tubuhnya.
Nicholas segera duduk di sebelah Kaylie yang berada di sofa panjang, anak itu menatap ke arah Kaylie dan tersenyum dengan riang.
“Belajar apa tadi di sekolah, sayang ??” Tanya Kaylie membelai kepala dan rambut Nicholas dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya menahan Drowny kecil.
“Belajar banyak, dan aku tadi mendapatkan banyak teman di sekolah !!”
“Benarkah ?? Hebat !!”
Tidak lama, Davide pun masuk ke dalam mobil dan melihat kebersamaan Nicholas dan Kaylie di sana, dia tersenyum senang. Dia bersyukur mendapatkan dan bertemu dengan Kaylie, meskipun awalnya dia harus menggunakan pemaksaan, tapi bersyukurlah semua berakhir dengan baik, dia bahkan membangun keluarga kecilnya sendiri, tanpa membutuhkan bantuan kedua orang tuanya.
Davide mendekati Kaylie, dan melihat ke arah Drowny kecil. Tangan Davide melambai ingin menyentuh bayi mungil itu.
“Bolehkah aku menggendongnya ??” Tanya Davide, dia akan terus meminta ijin Kaylie jika ingin menyentuh Drowny, karena perempuan itu bertingkah seperti induk singa yang akan mencakar siapapun yang berani menyentuh putranya itu.
“Tentu saja.”
Dengan perlahan Davide menggendong Drowny, bayi itu terlihat tidak rewel atau merasa takut, justru dia senang dengan sentuhan dari Davide.
“Aa...aa..pa...pa...”
“Eh ?? Dia bicara ??” Ujar Davide dengan perasaan terkejut, dan juga senang saat bayi itu berbicara menyebutnya papa. Kaylie yang mendengar itu juga senang.
“Dia memang terkadang menyebutkan sesuatu yang mudah, seperti mama dan papa. Hanya itu.” Ujar Kaylie menjelaskan.
“Apa kalimat pertama yang dia ucapkan ??” Tanya Davide.
“Mama. Itu kalimat yang sempat dia ucapkan.” Ujar Kaylie menjelaskan sembari mengingat kejadian beberapa hari lalu.
“Tapi kok, adik belum manggil kakak.” Ujar Nicholas dengan sedikit sedih, dia ingin jika Drowny memanggilnya dengan sebutan kakak, Kaylie membelai rambut anak itu.
“Drowny masih terlalu kecil sayang, kalau udah besar nanti.. Baru, Drowny bakalan panggil Nicholas kakak ya..”
“Beneran mah ??” Perkataan Kaylie membuat ekspresi Nicholas langsung berubah dan terlihat senang, Kaylie mengangguk.
“Iya sayang.” Ujar Kaylie dengan terlihat sangat senang.
...
“Jadi.. Mereka sempat kemari ??”
“Kenapa tidak langsung menghubungi nomer Kak Davide aja sih, ribet banget.”
Darel sedang mampir di rumah paman dan bibinya yaitu, Meghan dan Putra. Kedua pasangan itu sempat menceritakan kedatangan kedua orang tua Davide dan Darel ke rumah mereka, bersama dengan Mira. Dan seperti apa ucapan dari keduanya, yang membuat Darel sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran kedua orang tuanya itu.
“Kak Martin dan Marlina itu adalah orang yang gengsian. Mereka ingin bertingkah seolah acuh, tapi sebenarnya mereka penasaran dengan kehidupan Davide saat ini.” Ujar Putra menjelaskan mengenai perilaku kakaknya sendiri.
Darel menghela nafasnya dengan sangat berat, dia tidak tahu bagaimana dia dan Davide bisa lahir dari kedua orang tua toxic yang begitu gila itu, bahkan paman dan bibinya saja jauh lebih baik daripada kedua orang tuanya.
“Oh iya.. Besok, Yudha akan datang, aku harap kau, Davide dan lainnya bisa datang.” Ujar Meghan dengan senang.
Yudha, adalah anak dari pasangan Meghan dan Putra, sosok yang merupakan model ternama yang memilih bekerja dengan majalah luar negeri itu, jarang sekali pulang. Sosok lelaki ramah, baik dan rendah hati, Darel masih ingat saat tahun lalu dia datang kemari dan membawakan banyak hadiah untuk semua orang, benar-benar hebat. Model ternama dengan nama yang begitu bersinar tapi tetap rendah hati dan sopan.
“Apakah ayah dan ibu akan ikut datang ??”
Meghan menggelengkan kepalanya, “Aku ingin bilang, tapi karena dia begitu sibuk dengan urusan Davide... Aku menjadi malas mengundangnya. Lebih baik, undang saja Kaylie dan adiknya itu.”
Meghan sepertinya lebih tertarik dengan Kaylie, dia juga sempat bertemu adik Kaylie yang begitu sopan dan juga baik itu. Rasanya akan sangat cocok jika berpasangan dengan Yudha, ya anak lelakinya memang model ternama tapi hingga sekarang dia masih belum menemukan pasangan yang cocok. Tidak, Meghan bukan orang sombong yang memandang kasta dan harta seseorang, dia lebih memilih sifat dan karakter, karena itu dia lebih memilih Kaylie daripada Mira.
“Tentu saja, pastinya mereka akan datang.” Ujar Darel tersenyum senang, ya setidaknya ada hiburan dan kesenangan tersendiri jika Yudha datang kemari.
...
“Jadi, begitu ?? Aku bisa mengatasinya.” Ujar June tersenyum senang.
Dia, Mira, Martin dan Marlina malah asyik berbicara di sebuah ruang tamu, dan di sanalah Martin membicarakan apa yang terjadi, dan kekacauan setelah Davide keluar dari perusahaan.
Hebat Davide.. Kau benar-benar sangat gila Batin June mendengarkan semua pembicaraan dari Martin. Astaga, untuk saja June sudah mempersiapkan semuanya, jadilah dia tidak terlalu kaget dengan apa yang harus dia lakukan.
“Benarkah ??”
June mengangguk, “Saya kebetulan juga memiliki perusahaan sendiri.”
“Perusahaan ?? Sendiri ?? Hebat !!” Ujar Martin mendengarkan perkataan dari June.
“Berapa usiamu ??” Tanya Marlina menatap ke arah wajah June yang masih sangat muda, bahkan lebih muda daripada Davide.
“28 tahun.” Ujar June dengan sopan.
Lalu pembicaraan mereka kemudian berlanjut hingga sebuah suara dari depan rumah terdengar seakan memanggil mereka. Marlina menyuruh salah satu pelayan datang keluar untuk memeriksa siapa yang ada di sana.
“Siapa yang bertamu saat seperti ini ??” Ujar Marlina dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.
Lalu tidak lama, sang pelayan datang ke arah mereka sembari membawa sebuah surat dengan amplop berwarna cokelat, lalu menyerahkannya kepada Marlina.
“Nyonya.. Ada surat untuk Nona Mira.”
Mira yang merasa terpanggil sedikit bingung dan penasaran, “Siapa ?? Dari siapa ??”
Hati Mira sepertinya sudah mengetahui apa yang akan terjadi, dan June sendiri hanya menyeringai licik. Jika memang ini adalah rencana baru dari Davide, maka dia bisa menggunakan kesempatan emas meraih keuntungan Keluarga Florian lebih banyak lagi.