Mistress And Jerk Boss

Mistress And Jerk Boss
chapter 61



“Dari siapa bunga dan surat itu, Kaylie ??”


Kali ini, wanita itu tidak bisa mengelak lagi, saat suaminya kini mempertanyakan masalah bunga dan juga surat di meja nakas. Sudah pasti, Davide membaca isi surat itu juga, karena Kaylie begitu sibuk mengurusi Drowny dan Nicholas membuatnya lupa menyimpannya dan terlambat saat suaminya mengetahui dan membaca semuanya.


Davide kini bertanya di hadapannya dan menatapnya dengan tajam, seakan tidak menyukai Kaylie yang berusaha menghindari pertanyaan dan tatapan mata darinya. Tapi Kaylie benar-benar tidak bisa menghindar lagi, wanita itu akhirnya membuka suaranya.


“Sebenarnya.. Tadi siang aku mendengarkan suara bel berbunyi.. Pelayan mengatakan ada yang mengirimkan bunga dan catatan di dalamnya.”


“Siapa yang mengirimkan bunga itu ??”


“Pelayan itu mengatakan, petugas dari sebuah toko bunga mengirimkan buket bunga kepadaku, dari.. Dari Tuan June.”


“June.. ?? June Andrews ??”


Kaylie mengangguk, membuat Davide benar-benar merasa geram untuk saat ini. Dia geram dengan June bukan dengan istrinya.


Harus berapa kali aku katakan pada bajingan itu untuk tidak menganggu istriku ?! Batin Davide dengan kesal, Kaylie melihat itu menundukkan wajahnya merasa takut dan tidak enak, karena telah menerima bunga dan surat dari seorang lelaki lain.


“Maafkan aku.. Tapi.. Aku merasa tidak nyaman dengan surat yang dia kirimkan. Davide.. Bisa kau berbicara kepadanya untuk tidak lagi mengirim surat dan bunga ?? Aku..”


“Aku tahu, aku minta maaf, tapi aku tetap merasa cemburu dan tidak suka.”


Kaylie mengangguk, “Aku tahu, maafkan aku.”


Davide kemudian mendekati Kaylie, duduk di atas kasur. Dia memegang pundak istrinya dan berbicara kepadanya.


“Tidak apa, bukan salahmu.”


Kaylie mengangguk, meskipun Davide adalah sosok pencemburu, tapi dia bukan lelaki kasar yang akan melampiaskan emosi dan cemburu kepada dirinya langsung, ada orang yang cemburu dan langsung melampiaskan emosi mereka kepada kekasih mereka. Davide masih menjaga perilakunya terhadap istrinya, dan tidak bermain tangan sendiri.


“Baiklah, kalau begitu aku akan-”


Sebuah suara terdengar dari handphone Davide. Lelaki itu kemudian mengambil handphone dari sakunya, dan melihat sebuah nama yang menelfonnya, ternyata adalah Valen. Merasa ada sesuatu yang aneh, karena tidak biasanya sekretarisnya menelfonnya saat malam seperti ini, maka Davide langsung mengangkat sambungan telfon itu.


“Halo, Valen ?? Ada apa ??”


“Tuan.. Gawat.. Aku baru saja mendengar sebuah kabar, dan kemungkinan ada seseorang yang sedang menfitnah anda.”


“Apa maksudmu.. ?? Bisa kau jelaskan ??”


“Nyonya Marlina baru saja menelfonku dengan penuh emosi, dan dia... Dia menyebut anda seorang pembunuh.”


“Tunggu.. Sebentar.. Aku tidak mengerti..”


“Tuan Davide.. Tuan Martin mati dalam kondisi mengenaskan, awalnya dia hanya koma. Tapi.. Kemudian di kamarnya dia di temukan meninggal dalam kondisi dadanya tertikam oleh pisau, dan polisi mencurigai anda sebagai dalang yang melakukannya.”


Davide terkejut bukan main, “Tunggu.. Apa ?? Bagaimana ayah berada di rumah sakit ?? Dan kenapa ??”


“Apakah Nyonya Marlina tidak mengatakan apapun kepada anda ??”


“Dia hanya marah tanpa menjelaskan apapun. Aku benar-benar penasaran, kenapa semua orang berfikir akulah sosok penjahat disini ?? Sementara aku hanya sibuk dengan usahaku !!”


“Tuan Davide... Dua hari yang lalu, Tuan Martin di periksa di rumah sakit, dia di diagnosa memiliki penyakit jantung. Sebelumnya ada polisi yang datang ke perusahaan Florian, dan menyebutkan bahwa anda telah menuntut Perusahaan Florian atas dasar pencurian ide bisnis.”


“A..apa ?? Aku tidak pernah melakukan itu ?! Sungguh, bagaimana para polisi itu bisa melakukan dan bahkan menuntut orang atas namaku ?!”


“Aku yakin, ada orang yang melakukan ini semua, untuk menghancurkan anda.”


“Mira... Pasti dia !!! ****** bedebah itu !! Tidak puaskah dengan rumah dan perusahaan yang aku tinggalkan kepadanya ?!” Davide terlihat sangat kesal dan emosi, sementara Kaylie yang mendengarkan semuanya hanya bisa menatap dengan penuh tanda tanya. Sepertinya ada sesuatu yang buruk yang terjadi, hingga Davide terlihat sangat kesal di sana.


“Entahlah Tuan, aku sudah berusaha mencari tahu mengenai semuanya. Dan sekarang, sosok yang membunuh Tuan Martin juga di todongkan kepada anda sebagai pelaku pembunuhan.”


“Valen, cari tahu semuanya. Jika perlu, kau sewa pengacara untuk menyelesaikan masalah ini, aku akan menyelesaikannya di pengadilan jika mereka mau.”


“Baik, tuan.”


Davide menutup telfonnya, dan membanting handphone dengan kesal, membuat Kaylie semakin merasa kaget dan bingung, apa yang sebenarnya terjadi saat ini ?? Apakah Davide benar-benar dalam masa emosi yang tinggi ??


“Davide.. ??”


“Kaylie, aku harus berbicara dengan Darel terlebih dulu.”


“Baiklah.”


Davide kemudian segera keluar dari kamarnya, beruntung Darel masih sering tidur di rumah Davide, karena lelaki itu terkadang memerlukan Davide untuk membahas masalah perusahaan, dan terkadang dirinya membantu Alisha untuk bisa membantu mengurus Nicholas dan Drowny jika Davide dan Kaylie sedang sibuk. Jadilah, Davide tidak perlu repot-repot untuk menelfon, dirinya hanya perlu berjalan menuju ke arah kamar Alisha yang di sana terdapat Nicholas dan Drowny.


Davide mengetuk pintu kamar, dia tetap harus menjaga etika meskipun dengan adiknya sendiri.


“Masuklah.”


“Kak.. Davide.. ?? Ada apa ??”


“Keluarlah dulu, aku harus berbicara penting denganmu.”


“Baiklah.”


Darel berpamitan sebentar dengan Nicholas yang sedang bermain dengan mainan barunya.


“Nicholas, aku keluar dulu sebentar ada urusan dengan ayahmu.”


“Oke Paman.”


Barulah, Darel mengikuti Davide keluar dari kamar. Davide bahkan mengajaknya berbicara di ruangan depan, selama melangkah menuju ruang depan, Davide tidak mengatakan apapun dan hanya memberikan ekspresi khawatir dan panik, membuat Darel merasa was-was dan bingung, hingga keduanya sampai di ruang depan.


“Duduklah, ada banyak hal yang harus kita selesaikan.”


“Mengenai ??”


“Banyak hal, pertama ayah jatuh sakit.”


Mata Darel membulat sempurna, “Jangan bilang, saat aku menjenguk Kaylie dan bertemu mereka, itu saat ayah sedang sakit ??” Tanya Darel mengingat kejadian sebelumnya.


Davide kemudian mengingat waktu Kaylie sakit, dan berada di rumah sakit. Tapi kakak beradik itu tidak menyangka ayah mereka jatuh sakit di rumah sakit, dan ibu mereka sama sekali tidak menelfon atau setidaknya memberikan kabar apapun, bahkan Davide baru mengetahuinya dari Valen.


“Kemungkinan besar, iya.”


“Dan kenapa ??”


Davide menghela nafasnya perlahan, lalu dia menjelaskan semuanya secara jelas dan gamplang, mulai dari fitnah yang diberikan mengenai tuduhan kepada ibunya, dan juga pembunuhan yang baru saja terjadi kepada ayahnya, dengan perkataan yang menfitnah Davide. Darel membulatkan matanya dengan kaget dan bingung.


“Itu berarti ada seseorang yang berusaha menfitnah mu.”


“Benar.”


“Dan.. Siapakah orang yang kau curigai ??”


“Ada dua orang.”


“Siapa ??”


“Mira, dan June.. June Andrews..”