Mistress And Jerk Boss

Mistress And Jerk Boss
chapter 76



Author minta maaf, kalau cerita ini bakalan di percepat untuk endingnya.. Karena Author udah nyiapin cerita baru untuk sekuel dari cerita ini 😅😅


Dimana itu bakalan nyeritain Drowny ( Anak Kaylie dan Damian) dan Nicholas ( Anak Mira dan Davide). Dan lagi, Author gak suka cerita terlalu ribet dan bulet, di tambah cerita itu jauh lebih menarik dan unik...


Diperkirakan chapter 80 itu udah endingnya.. Okee sekian dari Author.. Happy reading 😄😄


 


Karena, Mira sendiri pasrah, tidak berusaha mencari pengacara. Dia akhirnya terpaksa harus kembali duduk di meja hijau, dengan tuntutan Kaylie, dan Davide atas pembunuhannya terhadap Damian, suami Kaylie, dan juga penyiraman air keras terhadap Drowny. Memang Davide bisa saja mencari siapa orang yang telah melakukannya dan menghabisinya, tetapi Davide memilih untuk langsung menghukum dalang di balik semua kejahatan yang terjadi.


Mira duduk di kursi sebagai pelaku dari kejahatan yang terjadi, sementara hakim mulai membacakan beberapa kejahatan yang dilakukan oleh Mira di masa lalu. Suasana awalnya sangatlah tegang dan begitu sunyi, hanya ada suara hakim yang sedang membacakan hukuman bagi Mira di sana, hingga sebuah kejadian pun menimpa mereka.


Tiba-tiba terdapat serangan di gedung itu, bahkan Mira sendiri tertembak oleh si penyerang itu, beberapa orang berlarian dan panik, Davide langsung menyembunyikan Kaylie ke bawah meja, hingga suasana begitu kacau. Mira yang sempat mendapat satu tembakan masih berhasil bertahan, dia melihat sosok yang masuk dan sepertinya merencanakan penembakan. Mira menatap sosok itu tidak percaya.


“Ju...June... ?? A..apa yang kau lakukan ??” Ujar Mira dengan bingung tapi menahan rasa sakit, beberapa anak buah June juga memberikan penembakan hingga beberapa orang berhasil melarikan diri dari sana.


Sayangnya Davide dan Kaylie masih bersembunyi di sana, dan memilih untuk tidak melakukan pergerakan apapun, Davide secara diam-diam menghubungi anak buahnya untuk datang ke pengadilan, dia mungkin berfikir ini akan menjadi sebuah kesempatan untuk menyelesaikan semua masalah, dengan June.


Kembali kepada June dan Mira, lelaki itu terlihat tidak memperdulikan perkataan Mira sama sekali dan memilih untuk melihat keadaan dan kondisi yang terjadi di sana.


“Ka..kau.. Kau sengaja melarikan diri agar aku yang terkena masalah, bukan ?? Apa-apaan itu ?! Kau membunuh Martin, dan sengaja mencantumkan namaku !!” Ujar Mira dengan penuh emosi, dia kesal. Dia memang bersalah dalam membunuh Damian, karena rasa cemburu yang buta, dan tidak terima karena telah di putuskan oleh lelaki yang sangat dia cintai, melihat keluarga Damian dan Kaylie yang bahagia, membuat Mira merasa sangat sakit.


Tapi Mira tidak sekalipun berencana untuk membunuh mereka, bahkan meskipun wanita itu hanya menginginkan harta, tapi dia tidak menginginkan pembunuhan yang terjadi kepada Martin.


June hanya menyeringai licik di sana, “Kau baru menyadarinya sekarang ??”


“Ka..kau tidak.. Mencintaiku ??”


“Sedikitpun tidak. Sama seperti kau dekat dengan Tuan Martin dan Nyonya Marlina, kedua orang tua Davide yang sangat menyayangimu tapi kau hanya menginginkan harta mereka. Begitu pula dengan aku.” Celetuk June, membuat Mira hanya bisa berdiam, terpaku, tapi hatinya begitu kecewa dan juga marah di sana.


Davide melihat June tampak sibuk dengan Mira, berbisik lembut bahkan menggunakan kode tangannya, untuk bergerak berjalan secara perlahan melewati meja-meja untuk keluar dari sana, apalagi anak buah dari Davide sudah berada setengah perjalanan kesana, tidak menunggu lama mereka pasti akan datang.


Kaylie memberikan kode kepada Davide untuk memberikannya satu pistol untuk berjaga-jaga, jikalau June mengetahui keadaan atau kondisi mereka. Dengan perlahan mereka bergerak menuju ke arah pintu keluar. Sementara June masih berdiam fokus ke segala arah, untuk memeriksa apakah masih ada orang atau tidak.


Beberapa orang mendatangi June, dan berbicara kepada lelaki itu.


“Tuan, orang yang anda cari tidak ada disini.” Ujar lelaki itu.


“Siapa.. ?? Siapa yang kau cari ??” Ujar Mira dengan sedikit bingung dan penasaran, karena sepertinya beberapa orang, yang merupakan anak buah dari June merasa bingung karena tidak menemukan sosok yang di cari oleh June.


“Wanita cantik itu, Kaylie.” Ujar June menyeringai.


“Tunggu.. Apa ?? Kau.. ??”


“Heh, ya... Aku jatuh hati kepada wanita itu, sejak meeting malam dengan Davide, aku bertemu Kaylie.” Ujar June mengingat kenangan saat dia bertemu dengan Kaylie dulu.


“Kau mampu mendapatkan gadis perawan, dan kau memilih seorang janda ?!”


“Kau pikir kau perawan ?? Oh aku lupa, akulah yang pertama mendapatkan tubuhmu, hingga kau hamil anakku.” Ujar June dengan sedikit nada menghina di bagian akhirnya.


“Well, tidak salah jika Damian melepaskanmu, demi Kaylie. Aku juga akan melakukan hal yang sama, jika aku menjadi dirinya.”


“Cukup !! Kenapa semua begitu menggilai wanita itu ?! Apa yang dia miliki, sementara aku tidak ?! Damian, Davide, dan bahkan kau !!! Kalian begitu tergila-gila padanya ?! Sihir apa yang sebenarnya dia pakai ?!”


June hanya mengangkat bahunya acuh, “Well, bukan sihir.. Hanya wajah cantik, dan perilaku sopan lebih baik darimu, dan rendah hati.”


Ditempat persembunyian, Kaylie menatap ke arah Davide, dengan tatapan terkejut bukan main, seakan berkata tunggu.. Dia menyukaiku ?? Davide memandang datar ke arah istrinya itu, kau baru menyadarinya ?? Dasar tidak peka !!


Well, Kaylie tidak pernah menyangka jika June juga memiliki hati kepada Kaylie secara diam-diam, dan tentu saja itu adalah hal baru yang di ketahui oleh Kaylie sendiri. Nyatanya, banyak lelaki menaruh hati kepadanya, hanya saja Kaylie bukan tipe perempuan yang begitu peka, dan berfikir positif mengenai kebaikan para lelaki kepadanya.


Setelah bertahan sekitar setengah jam, mereka akhirnya mendengar suara dari June berbicara kepada beberapa anak buahnya.


“Karena aku masih belum menemukannya, aku akan mengubah rencana semula. Kita pergi dari sini.” Ujar June berfikir untuk merubah rencana semulanya, karena merasa masih belum bisa meraih apa yang dia inginkan.


“Tu..tunggu.. June.. Bagaimana denganku ??”


“Itu urusanmu, lagipula hakim itu belum memberikan vonis kepadamu. Ada perempuan lain yang harus aku kejar.” Ujar June menyeringai licik, dan pergi meninggalkan Mira di sana, yang dimana dirinya masih terluka akibat tertembak dari senjata June.


Melihat suasana begitu sepi, barulah Kaylie dan Davide keluar, melihat Mira yang tidak berdaya, dan suasana sepi. Tidak lama, beberapa perawat dari ambulan datang, bersama dengan para polisi masuk ke dalam. Mereka kemudian memastikan Davide dan Kaylie baik-baik saja.


“Apakah kalian terluka ?? Kalian membutuhkan bantuan ??”


Kaylie menggeleng, “Tidak, kami berhasil bersembunyi, tapi sayangnya.. Wanita itu tertembak.” Ujar Kaylie menunjuk Mira yang sudah di angkut oleh perawat dengan tempat tidur berodanya.


Perawat itu mengangguk, “Keluarlah, ada banyak polisi yang berjaga. Kalian sudah aman.”


“Baiklah.”


Davide kemudian mendapatkan telepon dari anak buahnya, yang baru saja datang. Astaga, rasanya dia ingin marah tapi juga merasa tenang. Karena jika anak buahnya datang lebih awal, maka terjadi aksi tembak menembak, dan itu sangat tidak baik untuk Kaylie yang sedang hamil. Tapi jika mereka tidak bersembunyi bisa bahaya, June bisa menemukan mereka.