Mistress And Jerk Boss

Mistress And Jerk Boss
chapter 42



Maaf sebelumnya, ada adegan mengandung sedikit kekerasan dan darah !!


 


“Ugh !! Akhh !!”


 


“Tuan, dia masih belum mau berbicara..”


 


Lelaki itu duduk menyeringai melihat seseorang tersiksa di depan matanya, bisa dia lihat lantai di bawah orang itu sudah penuh dengan genangan darah. Sudah hampir berjam-jam, lelaki itu melihat proses yang sangat menyeramkan, orang itu di siksa di cambuk dan tubuhnya di sayat, tapi tidak sampai mati, hanya di berikan sedikit peringatan. Tapi sayangnya, dia tetap teguh dengan pendiriannya.


“Aku penasaran berapa banyak uang yang kau terima darinya, hingga kau tetap menutup mulutmu.” Lelaki itu, Davide mematikan sebatang rokok yang dia sudah habis, sembari menikmati pemandangan berdarah dengan santainya.


Orang yang sudah berdarah itu terlihat sangat lemah dan lemas di sana, dia sudah kehilangan banyak darah, tapi orang di sana enggan untuk membuka mulutnya dari pertanyaan yang diberikan.


“B..bunuh... Bunuh saja aku.. Tapi.. Aku tetap.. Tidak akan.. Mengatakan apapun..”


“Heh, kau berfikir aku berharap besar pada mulutmu ?? Aku sebenarnya sudah memiliki banyak bukti, dan beberapa temanmu sudah berbicara kepadaku. Well, aku tidak bisa menyiksa mereka yang sudah mengatakan jujur kepadaku. Dan disinilah kau, yang tetap teguh pada pendirian gila itu, makanya aku menyiksamu.” Ujar Davide dengan santai mendekati orang yang sudah diikat dan hampir sekarat itu memandang ke arah Davide yang di dekatnya dengan sedikit pandangan buyar.


“A..apa ??”


Davide terkekeh pelan, “Aku menyiksamu hanya untuk melihat sebuah pertunjukan, dan aku menyukainya. Aku akan membebaskanmu dari rasa sakit.”


“Ka..kau... Biadap !!”


Davide terkekeh geli mendengarkan umpatan itu, “Aku sangat menyukai umpatan, tapi aku lebih suka dengan umpatan dari perempuan daripada lelaki.”


Terutama umpatan dari Kaylie terdengar lebih manis dan menyenangkan Batin Davide melanjutkan ucapannya sendiri, dia kemudian berbalik melangkah membelakangi orang yang sudah sekarat itu, menuju ke sebuah pintu, tapi sebelum benar-benar keluar dia memberikan perintah tanpa membalik badan.


“Aku sudah tidak membutuhkannya, bunuh dia.”


Lalu Davide keluar, dia sempat mendengarkan orang itu menyumpahinya sebelum dia di eksekusi mati. Davide hanya memutar matanya malas, seorang pembunuh menyumpahinya, dan dengan membawa nama Tuhan. Apakah dia gila ?! Davide memang gila dan tidak waras, tapi dia tidak pernah sekalipun menyumpahi siapapun yang menyakitinya. Sepertinya orang itu benar bodoh.


“Bagus Valen, aku sangat senang dengan hasil kerjamu.” Ujar Davide berbicara pada Valen.


“Terima kasih tuan.”


“Kau lebih cocok dan terlihat cerdik dalam pekerjaan kotor seperti ini, daripada pekerjaan kantoran di perusahaan kemarin.” Ujar Davide, membuat Valen terkekeh pelan.


“Bagaimana pernikahan anda dan Kaylie ??”


“Berjalan dengan baik, oh iya.. Aku akan memgirimi surat perceraian dengan Mira. Aku yakin, satu rumah akan gempar dengan surat perceraianku ini.” Ujar Davide terkekeh, dia tidak bisa membayangkan ekspresi kedua orang tuanya itu saat Davide benar-benar serius dalam perceraian.


Hingga sebuah suara terdengar, membuat Davide mengeluarkan handphone dari sakunya. Lelaki itu memutar matanya malas membaca nama yang tertulis di layar handphonenya. Davide memberikan handphone kepada Valen.


“Terima, dan katakan aku sedang sibuk. Jangan katakan apapun mengenai bisnis rahasia kita.”


Valen mengangguk, dia menerima handphone dan segera mengangkat sambungan telepon itu.


“Davide !!!”


“Maaf, Nyonya Marlina.. Tuan Davide sedang sibuk saat ini.”


“Valen ??”


“Iya, Nyonya.. Tuan Davide sudah menyerahkan handphonenya kepada saya, agar tidak menganggu kesibukannya.”


“Valen.. Dimana Davide sekarang ??”


Valen menatap Davide, tapi lelaki itu menggelengkan kepalanya, artian untuk tidak memberitahukan apapun kepada ibunya.


“Tuan Davide sedang pergi, dan saya tidak tahu kemana dia sekarang. Anda bisa menghubunginya nanti.”


“Ugh !! Baiklah.”


Davide menatap Valen, dan memberikan sebuah ide.


“Valen.. Jika aku memberikanmu tugas, apakah kau akan menerimanya ??”


“Tentu saja, Tuan. Tugas apa itu ??”


Davide menyeringai licik, “Menjebak orang bodoh dalam perangkap.”


 


...


 


“June !! Kau tidak percaya ini !! Davide benar-benar menikahi Kaylie, dan dia-”


“Tidak bisakah kau diam !!! Kau benar-benar menganggu hari ini !!”


Mira memandang ke arah June, “Ada apa denganmu ??”


“Ada apa denganku ?! Seharusnya aku yang bertanya, kau mengulang pernyataan yang sama setiap harinya, membuatku benar-benar jenuh !! Jika kau benar-benar menyukainya, pergilah cari suami mu itu !!” Ujar June dengan sangat kesal.


“June.. Apakah.. Kau cemburu karena aku terus membahas masalah Davide ??”


“Tentu saja !!”


Mira tersenyum dan memeluknya membuat June memberikan ekspresi sedikit tidak suka. Di tambah perkataan dari Mira yang membuat June memutar matanya malas tapi dia menutupinya dengan membalas pelukan Mira.


“Jangan cemburu sayang, aku hanya khawatir jika Davide menceraikanku, maka aku tidak mendapatkan apapun darinya. Percayalah aku hanya mencintaimu.”


Aku cemburu sama Kaylie, dasar wanita bodoh !! Lagian ini kesempatan emas buat dia ngambil hartanya Davide, eh malah sibuk ngurusin pernikahan Davide sama Kaylie. June memutar matanya malas, dia memang cemburu dengan Kaylie dan juga Davide, tapi June memiliki keinginan yang pertama yaitu membuat perusahaan Florian hancur, dan jika dia mengikat Mira maka June bisa dengan mudah mengambil harta Keluarga Florian juga.


Barulah, June memikirkan cara agar bisa mendapatkan hati Kaylie, dan membuang Mira secepatnya. Tapi rasanya sangat lambat, dan ini semua karena ulah Mira yang terlalu lambat berfikir. Tapi June tidak akan kehabisan ide, dia kemudian melepaskan pelukan dan berbicara kepada Mira.


“Maaf ya sayang, aku udah ngomong kasar sama kamu. Aku hanya gak suka kamu ngomongin Davide terus di depanku.” Ujar June dengan manisnya.


“Iya gak papa kok sayang, aku ngerti.”


“Oh iya.. Berarti perusahaan Florian kan kosong ya ?? Emang gak berantakan semua ??”


Mira mengangguk, “Berantakan pakai banget, setengah pekerja di sana mengundurkan diri, dan beberapa sudah di pecat sama Davide sebelum dia keluar dari perusahaan.”


“Mereka tahu tentang aku gak ??”


“Gak sayang, Davide dulu gak pernah ngomongin mengenai partner kerjanya dulu.”


Kesempatan emas tiba.. Harus aku akui sih, kedua orang tua Davide itu bodohnya bukan main, sama kek Mira. Manfaatin ajalah. Batin June terkekeh licik dalam hatinya, padahal Davide dan Darel saja sepintar itu, tapi kedua orang tuanya malah berbeda jauh dengan kedua anaknya.


“Gini aja, aku bantuin itu perusahaan daripada ujung-ujungnya malah tumbang, kalian malah gak dapat apa-apa nanti.”


“Hah ?? Caranya ??”


“Gampang, kita pakai alasan aja. Kalau aku bagian dari keluarga kamu, terus aku bantuin perusahaan itu supaya menjadi perusahaan yang besar, gimana ??”


“Boleh deh.”