
“Mah, kau tenang saja.. Aku akan mengurus semuanya dan-... Mah ??”
Mira melihat Marlina memegang kepalanya, wanita itu merasa sedikit tidak enak di bagian kepalanya karena terlalu banyak pikiran.
“Pusing..”
“Mah.. Kenapa ?? Mah !!!”
Tiba-tiba saja, Marlina kehilangan kesadarannya, dia terjatuh pingsan, Mira segera menekan bel memanggil perawat, dia sendiri tidak bisa berjalan keluar dari ranjang karena kondisinya yang begitu cukup parah untuk saat ini, Mira sendiri merasa sangat bingung dan dilema akan keadaan dan kondisinya itu. Tapi beruntung beberapa perawat langsung tanggap masuk ke dalam kamar, kemudian memanggil bantuan perawat lain, dan membantu Marlina yang sudah lemah tergeletak di atas lantai.
...
Disisi lain, Rendra selaku pengacara itu juga masih sering datang ke rumah untuk membicarakan masalah bukti persidangan, dan seperti biasa malam setelah makan malam, mereka berkumpul membahas beberapa masalah bukti lainnya, Alisha dan Darel sedang asyik berjalan-jalan sembari mengajak Nicholas bersama mereka, agar anak itu tidak menganggu waktu Davide dan Rendra.
Sementara Kaylie beberapa kali ikut dalam pembicaraan selaku istri dari Davide, dan menggendong Drowny dengannya. Dan saat ini, Rendra memandang Drowny di gendongan Kaylie dengan penuh tanda tanya, seakan dia pernah melihat anak kecil yang sama itu entah dimana.. Hingga akhirnya dia menemukan sesuatu hal, dan matanya membulat kaget mengingat siapa anak di gendongan itu.
“Anak dalam gendonganmu.. Bukankah dia adalah anak dari Damian ??” Tanya Rendra dengan penuh tanda tanya, Kaylie terkejut bukan main.
“Kau.. Mengenal Damian ??”
Sementara Davide hanya bisa terdiam, dia tahu siapa nama yang di sebutkan oleh Kaylie.. Dia adalah nama mantan suami Kaylie yang sudah meninggal, Err sebenarnya bukan mantan.. Karena Kaylie dan Damian tidak pernah bercerai, hanya maut yang memisahkan mereka saja. Apakah bisa dikatakan sebagai mantan suami ?? Atau suami pertama ?? Mungkin Davide harus menyebutnya sebagai suami pertama Kaylie.
Rendra mengangguk mendengarkan perkataan dari Kaylie.
“Aku adalah sahabat terdekat Damian, dia sering menunjukkan foto istri dan anaknya.. Err tunggu sebentar..”
Rendra juga mengingat foto perempuan yang pernah di tunjukkan oleh Damian. Lelaki itu mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan sebuah gambar, dia lalu memperlihatkan handphone itu kepada Kaylie.
“Ini adalah foto yang pernah di tunjukkan Damian kepadaku.. Sebelum dia meninggal..” Ujar Rendra dengan nada sedih di bagian akhir, Kaylie memandang foto itu dengan sendu, dia teringat akan suaminya itu, mendiang suaminya yang telah meninggalkannya.
“Ehem.. Sepertinya kita melupakan hal penting disini.. Dan bukannya waktu untuk mengingat masa lalu.”
Kaylie terkekeh mendengarkan suara dari Davide, “Cemburu ?? Kan Damian udah gak ada ngapain cemburu ?? Oh iya, aku hampir aja lupa, besok aku ke pemakaman Damian.”
“Siapa juga cemburu ?! Udah besok aku anterin.”
“Bener gak cemburu ??”
“Gak.”
Kaylie hanya bisa tertawa geli, padahal sudah jelas kalau Davide itu cemburu, tapi dia tetap mengelak nya. Astaga lelaki mengerikan ini sangat lucu kalau cemburu. Rendra hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia kemudian bertanya kepada Kaylie, sebenarnya ini adalah hal yang ingin dia tanyakan sejak meninggalnya Damian dulu itu.
“Sebenarnya aku ingin menanyakan ini sejak dulu.. Tapi aku tidak mengenal anda saat itu, dan.. Apakah Tuan Davide keberatan jika aku membahas sahabat lamaku, Damian ??”
“Hmm..” Ucapan singkat dari Davide, Kaylie kemudian menatap Rendra dengan penuh tanda tanya.
“Tentu saja, tanyakan saja.”
“Perihal kematian Damian... Ini bukan kecelakaan, bukan ??” Rendra bertanya tetapi sedikit memberikan penekanan, bahwa apa yang dia pikirkan dan dia selidiki ini benar, tapi dia tidak mengetahui kejadian asli mengenai apa yang sebenarnya terjadi di malam itu, dia yakin Damian meninggal bukan karena kecelakaan semata.
Kaylie terdiam sejenak, raut wajahnya berubah sedih tapi dia tidak menangis. Dia sudah merelakan kepergian suaminya, hanya saja kejadian malam itu membuat Kaylie juga bingung dan penuh tanda tanya, apa dan mengapa itu selalu ada dalam benak dan pikirannya.
“Bukan.. Itu bukan kecelakaan.. Ada.. Ada yang mengirim beberapa orang menyerang kami.” Ujar Kaylie mengingat kejadian malam itu dia kemudian menceritakan sedikit demi sedikit peristiwa malam yang sangat menegangkan itu.
Meskipun hanya singkat, tapi Rendra sudah mengetahui maksud dan menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Dia kemudian menjelaskan sebuah fakta yang tidak pernah di duga sebelumnya.
“Kaylie.. Aku sudah menyelidiki bahkan pelakunya.. Tapi aku masih belum bisa melakukan tindakan tegas, atau melaporkan kepada polisi karena hanya kau saksi kejadian itu.. Orang-orang itu.. Memiliki hubungan.. Dengan Mira.”
Kaylie dan Davide membulatkan mata mereka mendengarkan semua yang terjadi, dan apa, serta bagaimana bisa ini terjadi.
“Tunggu.. Mira.. Mantan istriku ??”
Rendra mengangguk, “Ya..”
Kaylie terdiam sejenak, memikirkan semua yang telah terjadi, dan apa yang terjadi.. Kaylie tidak boleh tinggal diam untuk saat ini, pasti Rendra bisa membantunya.. Dia tidak peduli jika dirinya harus kembali berurusan dengan Mira untuk kesekian kalinya. Di tambah Drowny putranya menjadi korban juga, suaminya, keluarganya hancur dalam satu malam itu, dia tidak akan berdiam seperti orang lemah.
“Rendra, setelah membantu persidangan Davide.. Aku ingin kau membantuku..”
“Tentu saja, masalah kematian Damian, bukan ??”
“Ya, dan juga kebutaan putraku akibat peristiwa itu, aku tidak akan tinggal diam.” Ujar Kaylie penuh dengan penekanan, Davide menyadari jika Kaylie marah, dia bukan perempuan yang marah cerewet dan terus berbicara, melainkan Kaylie akan berbicara dengan tegas dan bahkan menatap tajam dan mengimindasi orang yang menjadi korban emosinya.
Davide tersenyum, “Aku akan membantumu.. Dan Rendra, aku akan membayarmu 10 kali lipat, jika kau berhasil menangani 3 kasus ini.”
Rendra membulatkan matanya, “Tidakkah itu terlalu berlebihan ??”
“Dua korban kekejaman akibat kelicikan ular busuk itu, dan membayar 10 kali lipat tidak akan cukup, tapi lebih dari cukup untuk memasukkan ular itu ke penjara.”
“Tentu saja, Tuan Davide..”