
Kondisi Kaylie kembali membaik, dirinya hanya berada di rumah sakit sekitar 3 hari saja, karena kondisi sudah kembali pulih. Maka Kaylie bisa kembali ke rumah, di bantu dengan Davide, dan Alisha yang menggendong Drowny dan menggandeng Nicholas, mereka akhirnya sampai di rumah mereka.
Beruntung, sang sopir juga ikut membantu membawakan beberapa barang, saat mereka mulai memasukkan beberapa barang ke dalam rumah, tiba-tiba sebuah suara memanggil nama Davide. Awalnya Davide berfikir jika itu adalah Darel, karena itu lelaki itu merasa heran, padahal Darel sedang sibuk menggantikan pekerjaan Davide saat ini, kenapa Darel sudah kembali ke rumah ?? Tapi saat berbalik, Kaylie yang masih ada di luar merasa kaget dengan kehadiran sosok itu.
Segera Kaylie memberikan kode kepada Alisha untuk segera membawa Nicholas masuk ke dalam rumah, dan menjaga Drowny juga di dalam. Setelah itu, Kaylie masih berjaga di tempat dia berdiri, antara bingung haruskah dia ikut mendatangi mereka atau lebih baik masuk ?? Davide sempat melirik ke arah Kaylie dan menyuruh wanita itu untuk masuk ke dalam rumah.
Davide kembali menghadap sosok yang datang, dan memberikan ekspresi marah kepadanya. Tapi Davide hanya membalas dengan tatapan datar dan acuh tanpa memperdulikan kekesalan sosok di depannya.
“Ada apa ??”
“Kau benar-benar keterlaluan Davide ?! Kau membuat ayahmu masuk ke dalam rumah sakit ?! Dan kau tahu apa, kaulah penyebab dari semua ini ?!”
Davide sebenarnya merasa penasaran, apa maksud Marlina datang dan menyalahkannya ?! Dia bahkan tidak tahu apapun.
“Apa maksudmu ?! Ayah di rumah sakit ?! Dan aku penyebabnya ?! Omong kosong macam apa ini.” Ujar Davide memutar matanya malas, tapi Marlina semakin kesal dengan tingkah putranya.
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu ?! Pertama meninggalkan Mira begitu saja dan meminta cerai, kedua kau menuntut perusahaan ayahmu ke pihak kepolisian ?!”
Davide semakin merasa bingung.
“Hah ?! Kau bicara apa ?! Aku memang menceraikan Mira, dan itu sudah pasti !! Tapi aku tidak pernah menuntut perusahaan ?!”
Marlina langsung mengeluarkan sebuah surat dari pihak kepolisian dari tasnya, dengan emosi.
“Lalu apa ini ?! Pernyataan darimu, yang menuntut Perusahaan Florian atas tuduhan pencurian bisnis ?! Jelas-jelas pihak kepolisian yang mengeluarkan surat ini kepadaku !!”
Ekspresi Davide terdiam sejenak, lalu kemudian tertawa kecil. Seakan meremehkan surat kepolisian tersebut.
“Woah.. Hebat sekali.. Membayar polisi untuk menfitnahku, lalu apalagi ?? Menyebarkan berita pernikahan keduaku kepada publik ??”
“Davide !!”
Plak
Satu tamparan dari Marlina di berikan kepada putranya itu, dia benar-benar merasa sangat kecewa dan marah kepada putranya, bagaimana bisa Davide begitu berubah 180° dari sebelumnya.
“Kau dulunya adalah anak penurut, kau bahkan tidak pernah membantah kepadaku, tapi lihatlah sekarang ?! Apa yang sebenarnya wanita itu lakukan kepadamu ?! Bagaimana bisa ****** itu-”
“Jangan menyebut Kaylie dengan sebutan kasar !!” Ujar Davide memotong ucapan dari Marlina begitu saja.
“Kau boleh menamparku, memukulku, menghinaku di depan Mira ?! Kau boleh membela menantu kesayangmu, dan terus menyalahkan putramu !! Lakukan saja apapun !! Tapi.. Jika kau menghina Kaylie, maka aku tidak akan segan-segan untuk memotong lidahmu !” Ujar Davide dengan nada pelan tapi penuh penekanan di bagian akhirnya, Davide bahkan tidak memperdulikan tamparan yang terasa sangat sakit di bagian pipinya.
“Aku selalu menurut padamu, aku bahkan menangis di bawah kakimu, aku mengalah pada keinginanku agar bisa membuat kalian bangga ?! Aku mendirikan perusahaan, aku berusaha menjadi pemimpin sukses di perusahaan, tapi apa ?? Ha ?! Hanya karena perkataan kecil Mira, kau menamparku, kau menganggap putramu sebagai suami yang tidak bertanggung jawab, suami yang kejam ?! Aku menurutinya sekarang !!”
Perkataan panjang dari Davide benar-benar dalam kondisi emosi, dia tidak tahu lagi harus bagaimana melampiaskan semua emosinya. Kemarahannya benar-benar sudah membuatnya tidak bisa berfikir jernih, jika perempuan di depannya adalah ibu yang sudah melahirkannya, tidak bisa di bendung. Semua dia lakukan hanya demi membela orang yang dia sayangi, tapi Davide sendiri tidak pernah dia bela sedikitpun ?!
“Dengan aku keluar dari perusahaan, keluar dari Keluarga Florian, bahkan aku mengatakan kepada Mira,’ ambil saja bagian harta warisanku', apa itu kurang cukup untuk membuka mata kalian ?!”
“Tapi ini bukan tentang-”
“Ya !! Ini tentang Mira, ini tentang ayah, ini tentang apapun ?! Dan sekarang.. Katakan padaku, jika kau benar ibuku, kenapa kau tidak mengenaliku ?? Jika kau mengenaliku, maka kau tidak akan selalu curiga dan berfikir negatif hanya kepadaku.”
“....”
“Kau tidak bisa menjawab, bukan ?? Baiklah jika memang masalah ini terjadi.. Maka aku tidak masalah, kau menuntut balik kepadaku, karena fitnah ini. Tidak masalah.. Katakan pada Mira, aku akan mengundurkan sidang perceraiannya untuk mengurus kasus ini.”
Flashback
“Davide.. Apa-apaan ini, kau seharusnya tidak membiarkan Mira sendirian ?!”
“Ibu, aku sedang bekerja..”
“Tapi Mira istrimu, kau seharusnya mengutamakan keluargamu !!”
Davide mematikan telepon itu, dan kemudian kembali berbicara dengan Darel, membahas beberapa permasalahan yang sedang terjadi di perusahaan.
“Siapa ??” Tanya Darel.
“Ibu. Oh, aku akan memesankan makanan lewat online. Tunggu sebentar.”
Setelah memesankan melalui aplikasi di handphonenya, Davide kemudian kembali melanjutkan meeting pribadi dengan Darel, mengenai beberapa hal yang mungkin harus segera mereka selesaikan hari ini juga. Davide benar-benar merasa frustasi karena perusahaan mengalami kerugian yang membuatnya kehilangan beberapa pemasukan, dan tentu saja itu berdampak sangat buruk terhadap perkembangan perusahaan seterusnya.
“Aku akan menggunakan uang pribadiku, untuk menutupi beberapa kerugian.”
Darel membulatkan matanya, “Apa kau yakin ?? Itu terlalu banyak jumlahnya.”
“Percayalah, jika ini berhasil maka perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar, dan mungkin bisa mengembalikan uangku kembali.”
“Baiklah, jika itu yang kau pikirkan.. Tapi tidak mungkin akan secepat, itukan ??”
“Memang.”
“Apa.. Kau yakin bisa ?? Mira tidak mungkin akan bertahan dengan beberapa lembar uang saja.”
“Beberapa lembar uang yang kau maksud itu, masih lebih dari cukup untuk kehidupannya !”
“Iya.. Kehidupanku, kehidupanmu cukup, tapi untuk wanita matre itu ??”
Davide menghela nafasnya kasar, memang ucapan Darel ada benarnya juga. Untuk dirinya atau Darel masih lumayan cukup, tapi untuk Mira ?? Hah.. Entahlah..
Beberapa menit kemudian handphone dari Davide kembali berbunyi, saat Darel dan Davide sedang menghitung dan memperkirakan keuntungan yang di dapat jika mereka berhasil. Davide mengangkat sambungan telefon itu sembari menulis di kertas.
“Iya, ibu ?? Ada apa ??”
“Davide !! Kau benar-benar keterlaluan ?! Kenapa kau hanya memesankan sedikit makanan untuk istrimu ?!”
“Ibu, sedikit yang aku pesankan itu 5 jenis makanan dengan porsi besar !” Ujar Davide kesal sembari menekan bolpoinnya di atas kertas.
Darel mengangkat tangannya sembari berbicara tanpa suara, ‘Sabar.. Sabar..’.
Darel tahu, bagaimana emosi kakaknya jika sedang bekerja selalu diganggu dengan telfon atau sesuatu hal yang tidak penting, itu benar-benar membuatnya muak.
“Davide, kau tahu seperti apa istrimu, dan kau seharusnya mengenal lebih dalam Mira itu ?! Bagaimana bisa kau tidak mengenali istrimu sendiri ?! Davide aku tidak pernah mengajarimu untuk menjadi suami yang buruk !!”
Suami yang buruk, hah ?! Asal dia tahu saja, aku sedang gila karena pekerjaan dan dia terus saja memanjakan menantu sialannya itu Batin Davide memaki dalam hatinya, tapi dia mencoba untuk tetap sabar.