
Kaylie benar-benar merasa sangat khawatir dan was-was, dirinya bahkan membicarakan masalah rencana ini dengan Alisha, entah bagaimana caranya akhirnya adiknya menemukan cara agar bisa ijin untuk beberapa minggu, agar tidak di curigai oleh para dosen di kampusnya.
Kedua perempuan itu memikirkan keadaan yang sepertinya semakin sulit dan semakin terjepit seperti ini.
“Aku tidak menyangka, jika semua terjadi begitu mendadak... Dan kenapa istri Davide malah melakukan hal yang akan membahayakan anaknya sendiri ?! Apa dia tidak memikirkan Nicholas ?!” Ujar Alisha membicarakan mengenai Mira, istri dari Davide, atau mungkin lebih tepatnya mantan istri.
Kaylie hanya menghela nafasnya, dia tahu jika Alisha akan sangat marah mengenai masalah yang sebenarnya terjadi, apalagi sampai Nicholas akan terlibat masalah ini, tapi dalam hati Kaylie berfikir apakah benar ini Mira ?? Atau hanya rencana dari June ?? Tapi.. Darel berkata jika dirinya melihat Mira dan June bersama, apakah itu artinya.. ?? Ah sudahlah, kenapa malah semuanya terlihat sangat rumit dan semakin tidak menentu.
“Entahlah, Alisha. Tapi yang jelas, kau bisa membantuku, bukan ?? Mengurus Drowny dan Nicholas ??”
“Tentu saja !! Aku akan selalu siaga membantumu.” Ujar Alisha dengan semangat.
Kedua gadis itu, berbicara satu sama lain, kebetulan rumah begitu sepi, karena Darel dan Davide sedang pergi mempersiapkan semuanya. Bahkan Alisha dan Kaylie tidak diijinkan keluar rumah, untuk barang dan perlengkapan kedua perempuan dan anak-anak itu semua di siapkan oleh Darel dan Davide sendiri. Karena kedua lelaki itu takut, June dan Mira akan membuat masalah baru lagi atau bahkan merencanakan untuk mencelakai kedua perempuan dan kedua anak itu. Di tambah Kaylie sedang hamil saat ini, bisa-bisa semuanya semakin rumit.
Keduanya saat ini, di ruang tamu, Nicholas masih sekolah, dan Alisha menggendong Drowny yang tertidur setelah menyusu dengan Kaylie. Sembari menunggu Nicholas kembali pulang sekolah, juga menunggu Darel untuk datang kembali. Jam menunjukkan pukul 9 pagi, dan masih belum ada telfon masuk dari Darel di handphone Alisha. Biasanya jika sudah menuju perjalanan berangkat menjemput, Darel akan memberikan kabar dari nomernya.
“Nyonya Kaylie, dan Nona Alisha.. Maaf menganggu kenyamanan kalian.”
Keduanya menolehkan kepala mereka melihat salah satu anak buah, atau bodyguard dari Davide datang kepada mereka, membuat keduanya sempat terkejut tapi kemudian kembali tenang karena mereka mengenali sosok itu, Reo.
“Oh.. Astaga.. Reo, kau mengejutkan kami.” Ujar Kaylie mengelus dadanya.
“Maafkan aku, Nyonya.”
“Tidak apa, jadi ada apa ??”
“Aku hanya ingin menyampaikan saja, jika..”
“Jika apa ??”
Ucapan Reo terpotong, setelah lelaki itu menatap ke arah sekitarnya di luar, melalui jendela kaca besar itu, matanya terus mengamati hingga mendapati sesuatu, dan kemudian berbicara kepada mereka.
“Nyonya.. Nona... Bisakah, kalian menunduk.”
“Tidak ada waktu menjelaskan.”
Lalu keduanya menunduk, begitu pula dengan Reo, setelah satu detik mereka menunduk, benar saja kaca di depan mereka pecah karena adanya tembakan entah dari mana, dan membuat kedua wanita itu hampir terkena pecahan beling, beruntung mereka begitu dekat dengan sofa.
Byar !!
Dor !!
Dor !!
Dor !!
Dari tempat persembunyian, Reo mengeluarkan senjata dan menembak ke arah yang menjadi prediksinya sebagai posisi si penembak misterius itu, hingga tembakan Reo di arahkan ke arah semak-semak.
Dor !!
“Akh !!!”
Tembakan Reo benar-benar tepat sasaran, membuat si penembak itu berteriak kesakitan, saat itu juga anak buah lainnya yang mendengar suara berisik itu keluar dan langsung menuju ke arah halaman tempat dimana arah suara itu berasal. Reo melirik ke arah Alisha yang mendekap Drowny dengan kuat, dan juga Kaylie. Keduanya memang panik, tapi beruntung mereka tidak menangis, mereka hanya shock.
“Nyonya Kaylie.. Nona Alisha.. Selamat datang di dunia mafia.. Itulah kenapa Tuan Davide benar-benar khawatir membiarkan kalian sendiri, karena hal sepele seperti ini akan sering terjadi.”
“Hal.. Sepele ??” Tanya Alisha dengan tatapan kaget dan horor.
Reo mengangguk, “Ya.. Terkadang di restoran kita harus selalu waspada, terkadang musuh bekerja sama dengan pelayan untuk memasukkan racun ke dalam makanan, atau mereka bisa saja melakukan penembakan liar di restoran.”
Lagi-lagi Reo mengangguk, menanggapi jawaban dari Kaylie.
“Oh astaga.. Beruntung aku bisa melindungimu, sayang.” Ujar Alisha memeluk Drowny dengan erat dan kuat di gendongannya.
Kaylie hanya bisa terdiam, bahkan kaca pecah itu masih terlihat berada di hadapannya. Benar-benar menyeramkan, tapi ada ketakjuban dalam diri wanita itu, bagaimana Reo bisa mengetahui semuanya dan bisa memperkirakan waktu hingga tidak membuat keduanya celaka ??
“Bagaimana bisa.. Kau menyadari si penembak itu ??”
“Nyonya Kaylie.. Saya sudah ikut dengan Tuan Davide selama hampir 5 tahun, bagaimana mungkin saya tidak mengetahui semuanya ?? Dan ini yang terjadi hari ini, hanyalah latihan kecil untuk bisa masuk sebagai bodyguard seorang mafia.”
Kaylie kembali membulatkan matanya, ternyata demi uang bahkan seorang rela mempertaruhkan nyawa mereka, seperti Reo yang rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk mendapatkan uang. Kaylie menjadi merasa minder, padahal banyak orang di luar sana harus bekerja hingga mempertaruhkan segalanya, bahkan dirinya sendiri demi bertahan hidup.
Para pelayan perempuan mulai membereskan semua kekacauan yang terjadi, dan beberapa bodyguard lainnya bahkan bertanya kepada Kaylie dan Alisha mengenai keadaan dan kondisi mereka, beruntung semuanya bisa kembali dengan normal.
“Nyonya Kaylie..” Seorang lainnya kemudian mendatangi Kaylie dan Alisha yang kini bangkit berdiri dan melihat seperti apa sosok yang menembak mereka, tapi rupanya sosok itu sudah di bawa pergi ke ruang bawah tanah, dan yang tersisa hanyalah beberapa lainnya memeriksa tempat lokasi, jangan sampai ada penembak lain yang bersembunyi.
“Ada apa ??”
“Ada surat yang diberikan penembak itu, kepada anda. Dia bilang, sebuah salam dari si pengirim nya.” Ujarnya menyerahkan sebuah kertas yang mereka temukan dari tubuh si penembak.
“Baiklah.. Terima kasih..”
Lalu orang itu pergi dari sana, Kaylie membuka sebuah kertas itu dan membaca tulisan di sana, dengan tatapan kaget dan hampir tidak percaya.
Ini belum seberapa.. Kaylie... Aku tidak akan tinggal diam setelah kau berhasil merebut suamiku.
Mira.
“Tidak mungkin.. Gila.. Ini gila..” Celetuk Kaylie berbisik kepada dirinya sendiri, Alisha yang melihat itu kemudian mengambil kertas itu dan membaca tulisan di sana, Alisha terlihat geram, dan kesal dengan apa yang terjadi kepadanya. Sialan sekali sih, perempuan itu Batin Alisha dengan geram.
Kaylie berfikir, haruskah dia berkata kepada Davide mengenai semua ini ?? Tapi bukankah ini akan membuat suasana akan semakin ricuh dan tidak menentu ?? Tapi, Reo dan anak buah lainnya pasti akan berbicara dengan Davide. Tidak mungkin, Kaylie bisa menyembunyikan semua itu, termasuk sebuah kertas yang di tangan Alisha.