
“Jadi kau akan tinggal disini, bersamaku.”
Davide menunjukkan sebuah rumah cukup besar dan mewah, Kaylie menggendong Drowny, sembari menarik kopernya. Davide mengajak Kaylie, Alisha, dan Darel untuk pergi membantu Kaylie pindah dari rumah kontrakan ke rumah yang sudah Davide beli. Tidak hanya Kaylie, tapi Alisha juga ikut pindah ke rumah yang baru, karena Davide khawatir jika Mira dan kedua orang tuanya akan mengetahui keberadaan Kaylie dan Alisha.
“Ini.. Disini ??” Tanya Kaylie hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat, rumah besar dan indah itu.. Akan menjadi tempat tinggalnya.
Rumah berwarna putih mirip mansion, dengan halaman yang di penuhi rumput dan juga, beberapa tanaman. Betapa indahnya rumah itu, Kaylie tidak tahu selera rumah Davide benar-benar indah dan menakjubkan.
“Iya sayang, Alisha juga akan tinggal disini.” Ujar Davide menjelaskan.
“Ta..tapi ini cukup jauh dari kampusku.” Ujar Alisha sedikit bingung, di rumah sebelumnya dia selalu jalan kaki, tapi sekarang jarak rumah yang jauh, bagaimana dia bisa ke kampus ?? Ya, Alisha tahu ada banyak kendaraan online yang cepat, tapi.. Biaya disini cukup mahal, apakah bisa dia membayar ojek online setiap hari ?? Mungkin Alisha harus bekerja untuk itu.
“Tidak perlu khawatir, aku setiap pagi selalu melewati kampusmu. Bagaimana jika aku mengantarkanmu ??” Ujar Darel secara tiba-tiba, membuat Alisha menatap ke arahnya.
“Ba.. Baiklah.. Tapi.. Aku harus mencari pekerjaan terlebih dahulu.”
“Untuk apa ??”
“Kau mengantarkanku setiap hari, tidak mungkin mobilmu hanya membutuhkan air saja. Aku tahu kau kaya, tapi aku bukan tipe orang yang memanfaatkan orang begitu saja. Aku akan membayar untuk pengeluaran bensinmu, karena itu aku akan mencari pekerjaan.” Ujar Alisha menjelaskan, membuat Darel sempat terkejut, kemudian tersenyum.
Tidak heran, dia yakin ini adalah didikan dari Kaylie. Benar-benar kakak yang hebat, bisa mendidik adiknya itu. Darel dan Davide menjadi sangat penasaran, bagaimana karakter kedua orang tua wanita itu, sehingga membentuk karakter mandiri kepada kedua anak perempuannya. Perempuan ini, bayangkan jika memiliki saudara lelaki, mungkin akan menjadi pribadi yang tangguh, tidak pantang menyerah, dan juga pelindung bagi kedua saudara perempuannya.
“Aku tidak bisa menolak, karena kau pasti akan memaksaku. Tapi aku tidak akan terlalu menekanmu, fokus dulu pada kuliahmu, untuk masalah pekerjaan dan uang, kau cari dengan berjalannya waktu. Setelah kau mendapatkan pekerjaan, baru kau membayarku, bagaimana ??”
Alisha me pertimbangan ide dari Darel, dan mengangguk, “Baiklah.”
“Kapan kau berangkat kuliah ??”
Alisha menepuk keningnya, dia mengambil kelas malam, dan Darel berangkat pada pagi hari ?? Tidak mungkin bisa, dia melupakan hal penting itu, dia mungkin bisa menukar jam kuliahnya.
“Aku lupa, aku mengambil kelas malam saat kemarin, karena Kak Kaylie bekerja. Aku tidak tahu, apakah bisa mengganti jadwalnya ??” Ujar Alisha.
“Baiklah, begini saja setelah membereskan semuanya ini, dan selesai pindahan. Aku akan mengantarkanmu ke kampus. Untuk malam ini, kau masuk ke kelas, besok baru kau mengambil kelas pagi. Aku akan mengantarkanmu, karena malam tidak baik untuk perempuan.”
Alisha mengangguk, tanpa di sadari Davide dan Kaylie memandang interaksi keduanya. Kaylie sepertinya sudah mendapatkan kode dan sinyal dari Darel, yang berusaha untuk mendekati adiknya itu, Davide pun sama. Dia tidak keberatan jika Darel dan Alisha bisa menjadi satu dan menikah nantinya, dia sama sekali tidak keberatan. Davide bahkan tersenyum melihat adiknya begitu cerdik mendekati seorang perempuan, sepertinya Darel lebih lembut dan perlahan dalam mendekati perempuan, daripada Davide yang frontal di hadapan perempuan.
...
Saat masuk, ruangan di dalamnya sudah tertata rapi, meja, kursi, lemari, lukisan, hiasan dan lainnya. Bahkan rumah itu seperti rumah baru yang sudah di bersihkan, bahkan tidak ada debu sedikitpun di sana.
“Kau menyiapkan ini semua sejak pertama ??” Tanya Kaylie menatap ke arah Davide.
“Ya.. Kau pasti sangat suka.. Nicholas, berhati-hati !!”
“Iya, ayah !!”
Nicholas terlihat senang, tidak jarang dia melompat masuk ke atas sofa, dia juga masuk ke beberapa kamar dan melihat terdapat tempat tidur dengan ukiran kayu, dan spring bed, yang di berikan sprei yang terlihat sangat indah. Di dalamnya, terdapat lemari kayu yang di berikan ukiran dan juga cermin yang cukup besar, jendelanya di lengkapi dengan korden yang indah, semua benar-benar menakjubkan.
Karena Kaylie dan Alisha hanya mengontrak, mereka tidak memiliki barang apapun di rumah lama mereka, kecuali pakaian, surat berharga yang mereka simpan. Jadilah, Davide menyediakan semuanya, bahkan di dapur perlengkapan memasak sudah komplit dan terlihat sangat bersih. Di sana terdapat lebih dari dua kamar, Alisha bisa memilih kamar lainnya yang cocok dengannya, dan Kaylie sendiri sudah di pilihkan kamarnya oleh Davide.
“Bolehkah aku.. Menggendongnya ??” Tanya Davide melihat Drowny di tempat tidur yang berbaring menggerakkan tangannya, menandakan dia tidak tertidur.
“Tentu saja.”
Davide mendekati Drowny, tangan mungilnya kemudian menyentuh tangan dewasa milik Davide. Seakan sedang meraba dan memeriksa tangan siapakah itu, Davide secara perlahan berbisik dengan lembut ke arah bayi itu.
“Jangan takut, Drowny kecil.. Ini aku.. Ayahmu.”
Drowny kecil tersenyum, dia memegang erat kedua tangan Davide. Membuat lelaki itu sedikit terkejut, dia berfikir Drowny masih belum mengerti bahasanya, tapi ternyata anak itu seperti sudah membaca dan mendengarkan perkataannya.
“Aku sering berbicara dengannya. Asalkan kau menggunakan bahasa lembut, maka dia akan menyukainya. Tapi jika kau membentaknya maka dia akan menangis dengan sangat keras.” Ujar Kaylie dengan mengeluarkan pakaian dari koper dan menaruhnya di lemari, sembari berbicara kepada Davide.
Lelaki itu mengangguk, “Kapan.. Kapan anak boleh mendapatkan operasi ??”
“Kenapa ??”
Davide tersenyum miris, “Aku ingin dia bisa kembali melihat dunia. Bayi malang ini tidak pantas mendapatkannya.” Ujar Davide kemudian mulai menggendong pelan Drowny, sebisa mungkin membuat anak itu merasa tenang dan aman.
“Dokter bilang, tunggu hingga beberapa tahun, dia masih di bawah satu tahun. Sangat berbahaya melakukan operasi kepada anak di usia rentan.”
Davide mengangguk, tidak lama Nicholas masuk ke dalam kamar, dia melihat ayahnya menggendong Drowny, Nicholas mendekati ayahnya.
“Aku juga ingin melihat adik..” Ujar Nicholas.
“Baiklah, tapi sebelumnya kita membawanya ke tempat yang lebih nyaman. Sayang, kau tidak keberatan, jika aku membawa Drowny keluar sebentar.”
“Tentu, asal kau membawanya dengan hati-hati dan perlahan.”
Davide mengangguk, lalu dia membawa dan menggendong Drowny ke depan, dengan Nicholas juga. Sementara Kaylie berfikir untuk membereskan pakaiannya dan pakaian milik Drowny ke lemari. Wanita itu tidak menyangka, jika pakaiannya dan putranya begitu banyak, bahkan dia membawa hampir 3 koper, itupun masih ada tas besar milik perlengkapan bayi. Kaylie terpaksa harus menyelesaikannya hari ini.