
Sudah empat hari Azka berada jauh di Sulawesi. Keduanya pun hanya bertukar kabar secukupnya saja, mau bagaimana lagi Azka dituntut untuk sempurna dalam menangani proyek besar ini karena tidak sedikit jumlah uang yang dikeluarkan oleh perusahaan ayahnya. Sehingga Azka maupun Bima tak ingin mengecewakan snag ayah.
Lain halnya dengan Arin yang terlihat sangat uring-uringan, baik dirumah maupun dikampus. Raganya di dalam kelas namun pikirannya jauh melayang bersama sang suami.
Bagaimana tidak sudah 24 jam ini sang suami belum memberi kabar padanya, jangankan telfon ataupun video call, pesannya pun belum dibaca dari kemarin.
"Emang bener ya awas aja kalau pulang gak bakal aku kasih jatah". Kata Arin lirih dengan kesalnya
"Idih mainya jatah sekarang ya". Kata Misya yang sendari tadi ternyata disamping Arin
"Eh, kamu dengar Sya?". Kata Arin yang menjadi malu sendiri.
"Ya ampun Rin, gue disini dari tadi kali". Kata kesal Misya
"Santai aja kali, mungkin pangeran kamu emang sibuk". Sambung Misya
"Tapi masa iya 24 jam loh Sya, telfon gak pesan aja boro-boro dibales dibaca aja gak". Keluh kesal Arin
"Utu utu utu sayangnya akoh yang lagi di mala rindu". Kata Misya memeluk sang sahabat.
"Udah ah bete gue jadinya". Kata Arin langsung beranjak dari tempat duduknya
"Eh mau kemana loe Rin? sebentar lagi mata kuliah mau mulai ini". Teriak Misya
"Pulang". Jawab enteng Arin
"Eh buset nih anak, sejak kapan dia suka bolos". Kata Misya heran
"Siapa yang bolos?". Tanya Raka yang baru masuk kelas
"Tuh Arin tiba-tiba mau pulang aja tuh bocah". Kata Misya sambil melihat punggung Arin yang semakin menjauh
"Lah tumben dia bolos". Kata Raka yang juga heran
"Lagi di mala rindu dia gara-gara gak dikasih kabar suaminya, marah-marah gak jelas tadi pakai ngancam gak dikasih jatah lagi ha ha ha". Kata Misya dengan tertawa mengingat umpatan Arin kepada sang suami
"Gila mainnya jatah sekarang dia". Kata Raka
**********
Arin memutuskan untuk pulang ke rumah, ini pertama kalinya ia berani bolos selama kuliah. Tapi mau gimana lagi ikut mata kuliah toh percuma saja mesti tidak bisa fokus.
"Loh kok sepi sih pada kemana, Ibu? Bi Susi?". Teriak Arin
"Ah mungkin lagi pada keluar". Kata cuek Arin dan langsung mengarah ke kamarnya
Namun sebelum tangan Arin memutar handle pintu kamarnya, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menutupi matanya.
Deg
"Si-siapa?". Tanya Arin dengan sedikit takut, pasalnya dirumah saat ini tidak ada orang sama sekali
"Udah pintar bolos sekarang hem?". Tanya orang tersebut sambil mengigit leher Arin sehingga tanpa sengaja Arin melenguh lirih
"Siapa sih kurang ajar main sosor-sosor aja, gini-gini gue udah punya suami ya walaupun gue lagi kesal karena doi gak ngabari gue seharian". Kata Arin meluapkan emosinya
Orang tersebut hanya terkekeh melihat Arin yang sedang meluapkan emosinya.
"Maaf". Kata orang tersebut yang tak lain adalah Azka dan langsung mencium pipi kiri Arin dari belakang
Arin pun kaget setengah mati setelah sadar suara yang baru didengar itu. Ia pun langsung membalikkan badannya.
"Loh?". Kata kaget Arin melihat orang yang dirindukannya berada tepat didepan dirinya
"Maaf gak ngabarin kamu sayang, aku lagi kejar deadline biar bisa pulang cepat". Kata Azka langsung memeluk Arin dengan erat
Arin dengan senang hati menerima pelukan hangat dari sang suami untuk meleburkan rasa rindunya itu
*****************
•`Jangan lupa selalu support Othor ya guys dengan cara:
👍🏼 Like
📝 Coment
❤️ Vote
Sebanyak-banyaknya. Terimakasih ✨
BERSAMBUNG....